LATIHAN

1053 Words
Mereka akhirnya sampai lagi di markas Proteen. Setelah dua kali ke tempat ini, rasa seperti pergi ke suatu markas tidak pernah terbesit sama sekali. Malah rasanya seperti pergi ke rumah teman. Mungkin itu adalah efek dari markas yang berada di bawah rumah warga. Muthia masih bingung kenapa mereka ke sini lagi, dan juga apa yang terjadi dengan Bintang. Muthia tidak mendapat jawaban apapun semenjak mereka berangkat dari sekolah. Rasanya seperti ada sesuatu yang mereka sembunyikan dari dirinya. Mereka berempat pun memasuki rumah itu dengan diam, bahkan sampai masuk ke koridor di balik kulkas pun mereka masih tetap diam. Muthia berada paling belakang, dia masih mengikuti sampai akhir bertanya saat mereka akan membuka pintu markas. “Hei, kenapa sedari tadi kita hanya diam-diam aja?” Mereka bertiga pun melirik ke arah Muthia secara bersamaan. Mereka saling berpandangan satu sama lain lalu tersenyum ke arah Muthia. “Sebenarnya ini rencana Fuse. Dia bilang kalau kamu nanya soal Bintang kita semua harus diam dan nggak ada yang boleh jawab.” Epa menjelaskan sambil menunjuk Fuse dengan jempolnya. Fuse yang ditunjuk pun hanya tetap tersenyum dengan wajah bodohnya. Muthia menaikkan sebelah alisnya. Dia bingung dengan grub yang ada dihadapannya. Rencana macam apa itu, hanya diam saat ada orang bertanya. Dan dimana Bintang, dari depan pintu rumah dia sama sekali tidak melihatnya. “Apaan sih? Kalian aneh.” Keluh Muthia. Dia memasang wajah datarnya sambil menatap tajam ketiganya. “Maaf deh kalau begitu. Maaf kalau rencanaku tidak jelas dan terlihat aneh.” Muthia tidak mengindahkan perkataan Fuse. Muthia melangkah maju dan menuju pintu markas Proteen. Fuse dan Epa yang melihat Muthia bergerak maju pun berusaha menghentikan Muthia dengan mengatakan yang sebenarnya. “Tunggu, Muthia. Sebenarnya Bintang....” Muthia tidak mendengarkan. Dia tetap maju lalu membuka pintu markas. Cahaya yang menyilaukan mata menyambut Muthia yang dengan sesaat membuatnya buta, lalu bisa melihat lagi dengan normal setelah beberapa saat. Namun Muthia tertegun, markas yang sebelumnya terlihat rapih dan bersih kini terlihat berantakan dengan batu yang menumpuk dan beberapa benda yang sebelumnya tidak ada di sana. Muthia tidak mengenali tempat itu, namun itu semua sudah terlambat saat tiba-tiba ada sebuah bola yang menabrak wajahnya. “Selamat datang di tempat pelatihan khusus Muthia.” Bintang berteriak dari dalam. Muthia yang tak bisa menghindar pun merasakan sakit dari bola yang dilempar Bintang. Bola yang dilempar hanyalah bola plastik, tapi rasa sakitnya lumayan dan malunya lebih dari rasa sakit. “Bintang, kamu lemparnya terlalu kencang. List tu Muthia jadi kesakitan?” “Eh serius? Mana mana coba liat mana yang sakit.” Bintang dengan langkah mengjingkat guna menghindari batu pun perlahan mendekati Muthia. Fuse, Epa, dan Yanti pun ikut mendekati Muthia. Muthia yang masih mengusap wajahnya yang terkena bola pun hanya diam, terlihat seperti menunggu mangsanya mendekat. Setelah beberapa saat, Bintang sudah semakin dekat dengannya, dengan sekuat tenaga dia melempar bola itu ke arah Bintang. “Kena kau.” Dengan wajah yang tersenyum dari Bintang, dan wajah jahil dari Fuse, dengan cepat suasana markas berubah jadi arena tempur untuk saling melempar. Epa yang hanya mendekat untuk melihat keadaan Muthia pun ikut tersenyum, sementara Yanti dengan cepat segera menghindar agar tidak ikut menjadi korban serangan. ∆∆∆ Keempatnya menarik nafas kelelahan. Fuse dan Bintang yang benar benar aktif pun sampai merebahkan badan di lantai, sementara Muthia dan Epa hanya duduk tak jauh dari Fuse. Yanti kemudian datang membawakan minuman dingin. Memberikan kepada semuanya secara berurutan dari Muthia sampai ke Bintang. Mereka pun meminumnya dan dengan bersamaan tenggorokan mereka merasa lebih baik. Suasana masih sedikit riuh, dengan tawa yang sesekali terdengar saat mereka saling pandang. Muthia pun memecah tawa itu dengan bertanya soal Bintang. “Jadi sebenarnya Kak Bintang itu kenapa?” Epa dan Fuse saling pandang, sementara Bintang memberikan raut wajah tidak percaya. “Kamu masih menanyakan pertanyaan itu?” Muthia mengangguk. Entah kenapa dia merasa baru saja dia mengatakan hal yang aneh. “Fuse, jangan bilang kamu melakukan rencana aneh yang kamu bilang kemarin.” “Seperti yang kamu lihat dan kamu tebak.” Bintang menepuk jidatnya. Sesaat dirinya merasa malu punya teman seperti Fuse. Ide ide anehnya terkadang membuatnya tidak ingin beteman dengan Fuse. “Maaf, Muthia, dia terkadang suka seperti ini. Aku sebagai temannya, atas nama dirinya mohon maaf atas keanehan yang terjadi.” Muthia hanya mengangguk. Rasanya jika dia berlama-lama dengan mereka, dia bisa sama gilanya dengan mereka semua, tak terkecuali dengan Yanti, yang sedari tadi hanya diam saja tidak bicara. “Jadi, kenapa di sini berantakan?” “Kamu banyak tanya ya, aku suka orang yang seperti ini,” puji Fuse sambil berdiri membenarkan pakaiannya. “Kalau kamu dengar, sebelum kamu tertimpuk bola, Bintang bilang kalau ini adalah tempat latihan khusus untuk kamu. Jadi markas kami sudah kami rubah agar kamu bisa melatih kekuatan Telekinesis kamu.” Muthia melihat sekeliling. Tempat yang memang kemarin rapih rasanya terlihat berantakan, apalagi setelah mereka bermain lempar-lemparan. “Maksud lemparan Bintang tadi adalah agar kamu menahannya menggunakan kekuatanmu. Tapi seperti dugaanku, kamu belum mahir menggunakannya.” Muthia hany mengangguk mendengar penjelasan Fuse. Fuse pun berdiri, diikuti ketiga temannya, sementara Muthia berdiri dengan urutan paling terakhir. “Di sini Bintang lah yang akan mengajarimu, karena dia punya cita-cita jadi guru olahraga makanya....” “Ah sudah! Kalau, Fuse yang ngasih tau dia bisa ngomong kesana kemari tanpa dosa.” Bintang memotong ucapan Fuse. Fuse yang melihat Bintang kesal hanya bisa terkekeh kecil. Puas sekali rasanya setelah menjahili 2 orang sekaligus. “Aku yang akan mengajarimu, setidaknya sampai kamu benar benar lancar menggunakannya. Setiap kekuatan dan orang memiliki batasan masing-masing, jadi jangan sungkan saat kamu sudah merasa tidak kuat.” Muthia hanya mengangguk sambil tersenyum. Sekarang dia paham kenapa banyak batu dan barang-barang aneh di sini. Dalam pikirannya pasti semua benda ini akan dilempar ke arahnya atau mungkin disuruh angkat semuanya secara sekaligus. Bayangan itu muncul sendiri dalam benaknya, seperti mempersiapkan untuk segala kemungkinan terburuk. “Jadi, latihannya mulai dari sekarang?” Mereka saling berpandangan, namun dengan wajah jahilnya, Fuse dengan tiba-tiba langsung melempar batu yang cukup kecil sambil berteriak ke arah Muthia. “Lempar ke atas!” Muthia yang terkejut pun dengan refleks menunduk lalu menggerakkan tangannya dari bawah ke atas. Batu yang tadinya meluncur ke arah wajahnya pun berelok menuju ke atas dan jatuh entak kemana. Fuse, Epa, dan juga Bintang pun tersenyum melihat refleks Muthia yang cukup cepat. “Dengan begitu, latihan dimulai.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD