Suasana markas kini hening, hanya tinggal Muthia dan Bintang yang masih terlihat aktif latihan.
Epa dan Fuse duduk di pantry tak jauh dari tempat Muthia dan Bintang latihan. Pantry itu sudah lama ada di sana dan sampai sekarang masih terlihat rapih. Sepertinya hanya tempat itu satu-satunya bagian dari markas yang tidak disentuh oleh Bintang.
Epa menutup pintu kulkas, mengambil 2 botol minuman dingin dan memberikannya kepada Fuse. Fuse pun dengan santai menerima minuman itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Muthia dan Bintang.
“Bagaimana menurut kamu soal dia?”
“Muthia?”
Epa mengangguk pelan. Matanya kini juga ikut tertuju kepada Muthia.
“Aku rasa dia cukup hebat.”
“Alasannya?”
“Entah. Aku hanya asal bunyi.”
Epa memukul pelan pundak Fuse. Fuse yang merasakan sedikit pukulan pun hanya bisa menyeringai sambil sedikit meminum air miliknya.
“Aku tidak terlalu bisa menilainya sekarang. Tapi aku rasa, dia cukup hebat dalam hal mental. Kamu sudah lihat biodatanya kan?”
Muthia terdiam sambil mengingat-ingat soal biodata Muthia. Berusaha menebak apa yang menarik perhatian Fuse dari sebuah hasil pengamatan dan pengumpulan data.
“Soal dia anak tunggal?”
Fuse hanya tersenyum kepada Muthia. Dia kembali menegak minumannya sampai habis, lalu menjelaskan apa yang menarik perhatiannya terhadap Muthia.
“Bisa dibilang itu salah satu alasan.” Fuse meletakkan botolnya di atas meja, lalu merubah posisi duduknya menghadap Muthia.
“Tapi alasan utamanya adalah di hubungan yang dia jalin.”
Epa tertegun mendengar jawaban Fuse. Dia masih diam sambil Fuse kembali melanjutkan kalimatnya.
“Mental dia, aku merasakan sesuatu yang begitu kuat, seperti ada teriakan dalam dirinya yang membuatnya mampu bertahan sampai sekarang. Hubungannya dengan orang tua yang terbilang cukup renggang padahal dia sendiri adalah anak tunggal adalah kuncinya.”
Muthia terdiam sejenak, berusaha mencerna kalimat yang berusaha diucapkan oleh Fuse.
“Jadi maksud kamu, meskipun statusnya sebagai anak tunggal, tapi sifat dan gaya hidupnya tidak seperti anak tunggal lainnya?”
“Benar. Coba kamu bayangkan, bagaimana biasanya pandangan orang terhadap anak tunggal?”
Fuse balik bertanya. Muthia pun sedikit memikirkan yang terlintas dipikirannya.
Yang dia tahu biasanya anak tunggal akan bersikap lebih manja dari anak yang memiliki saudara, dari tariknya kepada orang tua akan lebih menonjol daripada ke orang lain. Anak tunggal juga biasanya akan lebih menempel kepada orang tuanya.
Epa pun memberitahu apa yang ada dipikirannya. Fuse pun tersenyum mendengar jawaban itu. Sebuah jawaban yang cukup lumrah untuk diucapkan oleh Epa.
“Kamu tidak salah. Itu adalah sebuah penyataan yang sudah melekat di masyarakat. Tapi pernyataan itu sendiri tidak selamanya benar. Contoh kecil yang bisa kamu lihat adalah Muthia.”
Epa melihat Muthia berlatih sangat keras, berusaha mengikuti instruksi Bintang sesulit apapun itu. Rasanya dia tidak seperti melihat Muthia yang seorang anak tunggal, melainkan seperti melihat seseorang yang sedang memperjuangkan yang dia percayai.
“Sudah hampir dua jam dia berlatih, dan hanya beberapa kali dia istirahat. Itu pun sebenarnya Bintang lah yang meminta dia untuk istirahat.”
“Kamu serius?”
Fuse hanya mengangguk. Muthia sungguh terkejut dengan yang diucapkan Fuse. Tidak percaya dia jika sampai Bintang yang meminta Muthia untuk istirahat.
“Tidak ada kesan yang memperlihatkan dia seperti anak manja. Mungkin cara dia mengatasi hubungan di dalam keluarganya dan teman dekat yang dia miliki di sekolah lah yang membuatnya seperti ini, seperti tidak terlihat kalau dia adalah ‘ tunggal manja.’”
Muthia mengangguk setuju. Sepertinya yang dikatakan Fuse tentang Muthia ada benarnya. Tidak peduli bagaimana status itu bekerja pada masyarakat, tapi proses selama kamu di dalam status itu lah yang membentuk diri selama hidup. Bagaimana cara menghadapi orang lain, masalah yang ada, dan status itu sendiri ditentukan oleh masing-masing individu.
Mereka pun kembali melihat ke tempat latihan, namun sepertinya Muthia sudah selesai dan sedang berjalan menuju tempat mereka. Bintang mengikuti Muthia tepat di belakangnya.
“Huuh, capenya latihan.”
Muthia langsung duduk di kursi dekat dengan Epa. Epa pun segera memberikan botol minumannya yang baru diminum sedikit. Bintang datang dan melihat yang dilakukan Epa. Dia duduk di sebelah Fuse dan meminta minum untuk dirinya, tapi Fuse malah memberikan botol yang sudah kosong.
Bintang berdecak kesal. Mau tidak mau dia harus ke kulkas dan mengambil minumnya sendiri. Mereka duduk berempat, berlingkar mengitari meja. Tak ada suara obrolan yang terdengar. Hanya ada suara nafas yang berhembus karena kelelahan.
“Kapan aku akan latihan lagi seperti ini?”
Fuse memandang Epa sebentar, memberikan lirikan singkat ke arah Muthia memberitahu bahwa kalimat tadi tidak akan diucap jika bukan Muthia yang duduk di kursi itu sekarang. Epa paham maksud Fuse dan hanya tersenyum.
“Kamu bebas datang ke sini untuk latihan. Tapi aku kasih kamu batasan minimal dua kali . Jika kurang dari itu, maka nanti Bintang akan datang menculik kamu seperti tadi siang.”
“Kok aku?” Bintang bertanya tak terima.
“Karena cuma kamu yang punya SIM mobil. Aku dan Epa masih sekolah, jadi belum cukup umur untuk mengendarai mobil.”
“Tapi kamu kan tadi bawa mobil buat jemput dia.”
“Itu pengecualian. Aku tidak mau capek capek buat atur markas jadi arena latihan.”
Bintang mengepalkan tangannya. Dia memalingkan wajahnya dengan cepat. Muthia dan Epa yang melihat hal itu pun hanya tertawa kecil. Fuse yang menjadi biang keladi hanya mengangkat bahunya tak mau tau.
“Seminggu dua kali..., sepertinya bagus juga. Kalau begitu boleh aku pamit? Aku mau pulang.”
Muthia segera berdiri dari kursinya. Dia menaruh kembali botol milik Epa, namun Epa memberi tanda untuk membawanya saja. Muthia pun kembali menggenggam bolong itu dan beranjak pergi.
“Ah, tunggu Muthia.”
Fuse mencegah Muthia pergi. Muthia yang baru beberapa langkah segera berbalik dan menaikkan sebelah alis kepada Fuse.
“Aku akan mengantarmu.”
Muthia tersenyum mendengar ucapan Fuse. Fuse segera berdiri dan berjalan di samping Muthia. Bintang yang melihat hal itu tidak percaya dengan yang diucapkan Fuse kepadanya barusan.
“Dia antar Muthia pakai?”
“Motorny sendiri.”
“Motornya sendiri... Ok.”
Suara Bintang mengecil, seperti sudah menemukan jawaban yang membuatnya lega. Dia pun meregangkan badannya, merasakan rasa lelah saat melatih Muhtia.
∆∆∆
“Bagaimana menurutmu soal Muthia?”
Bintang melirik sebentar ke arah Fuse, lalu kembali fokus kepada ponselnya. Sekarang mereka sedang berada di sebuah food court. Mereka memesan beberapa minhman dan makanan ringan, sementara pandangan mereka sendiri fokus dengan game yang sedang mereka mainkan.
“maksudmu?”
“Saat latihan tadi. Kamu merasakan sesuatu atau apa gitu?”
Bintang terdiam sebentar, lalu berdecak kesal saat karakter gamenya mati. Fuse hany tertawa kecil melihat ekspresi Bintang yang sedikit frustasi.
“Muthia ya. Aku merasa sedikit ada yang berbeda darinya, seperti ada sesuatu kekuatan yang terpendam dalam dirinya.”
“Tidak berusaha menggunakan kekuatanmu untuk mencari tahu?”
Bintang hanya diam. Pandangannya sudah kembali fokus ke dalam ponselnya. Dia minum sedikit air dan perlahan menjawab pertanyaan Fuse.
“Aku bisa aja mencari lebih dalam, tapi aku harus benar-benar fokus, a... apalagi rasanya ini seperti a ... ada orang lain di dalam diri MUHTIA!!!”
Bintang berteriak menyebut nama Muthia. Ekspresinya kembali ke beberapa saat lalu, saat karakternya mati di dalam game. Fuse hanya menggelengkan kepalanya saat mendengar teriakan Bintang.
“Lagipula kekuatan pendeteksi ini baru bisa kupakai kalau aku menyentuh tubuh target. Aku sempat memegang bahunya saat membantunya berdiri, tapi itu hanya sekilas dan aku tidak bisa merasakan lebih dari itu.”
Fuse hanya mengangguk. Dia menghabiskan minumannya dan berdiri. Ponselnya juga sudah dimatikan. Sepertinya dia sudah selesai bermain.
“Aku juga merasa begitu. Rasanya ada sesuatu yang lebih dari Muthia, tapi aku masih belum tau apa itu.”
Bintang ikut berdiri. Dia menatap ke arah Fuse dan mengucap dengan begitu yakin tentang Muthia.
“Aku yakin sesuatu itu pasti akan mendukung kita sepenuhnya.”
Fuse menngangguk setuju. Semua harapan itu diharapkan terjadi oleh keduanya. Jika itu terjadi, maka kelompok Proteen akan dipastikan mendapat kekuatan tambahan yang cukup besar dari Muthia.