Muthia melihat rumah yang kemarin sudah dia datangi. Dia datang lagi untuk latihan, dia terlihat sangat begitu berambisi agar bisa cepat menguasai kekuatannya.
Muthia mengetuk pintu dan tak lam kemudian muncul Fuse yang membukakan pintu untuknya. Fuse yang melihat Muthia pun terkejut karena Muthia datang sendiri ke markas Proteen.
“Wow, kamu datang lagi.”
“Tentu saja. Aku datang untuk latihan.”
Fuse memiringkan kepalanya sambil memberikan ekspresi kebingungan. Bukankah kemarin dia sudah latihan, kenapa Muthia datang sehari setelahnya lagi dan berniat untuk latihan.
“Ka... kamu serius?”
“Tentu saja. Tidak boleh? Jika tidak aku akan pulang kalau begitu.”
“Tunggu.”
Fuse menghentikan langkah Muthia yang sudah mulai berbalik. Muthia yang mendengar hal itu pun berhenti dan berbalik lagi menghadap Fuse.
“Tentu saja boleh. Kenapa kamu tidak masuk saja dulu. Kamu kan bisa bersantai dulu.”
Muthia hanya tersenyum dan masuk ke dalam. Dia duduk di sofa dan bersandar dengan santai. Fuse yang melihat itu pun hanya berjalan menuju dapur dan mengambil 2 botol minuman dingin. Muthia menerima satu dari Fuse.
“Kak Bintang kemana?”
“Bintang? Dia ada di bawah.”
Muthia mengangguk paham. Dia segera menghabiskan minumannya dan segera pergi menuju kulkas yang menjadi pintu markas Proteen. Fuse langsung mengikuti Muthia setelah melihat bahwa niatan Muthia tidak main-main.
“Kamu yakin? Kamu baru saja latihan kemarin. Apa kamu tidak mau bersantai dulu?”
Muthia menggeleng kepalanya. Dia pun memberitahu bahwa dia ingin cepat menguasai kekuatannya dan menjadi orang yang cukup kuat di dalam Proteen.
“Aku mau cepat menguasai kekuatan ini. Lagi pula untuk menjadi kuat aku harus rajin latihan, dan itu tidak lama. Aku ingin cepat maka latihanku harus lebih banyak. Lagi pula aku sudah bergabung dengan Proteen, aku harus bisa jadi kekuatan untuk tim ini bukan?”
“Pertama, terima kasih atas niatan baiknya untuk menjadi kekuatan kelompok ini, kuharap itu bukan sekedar jilatan. Yang ke dua, aku tahu kamu ingin segera menguasai kekuatan telekinesismu, tapi aku tidak mengira akan datang lagi untuk latihan di hari setelah kamu latihan di hari sebelumnya. Aku tahu kalau latihan kemarin sangat berat dan melelahkan, aku juga pernah mengalaminya.”
“Kak Fuse, aku datang dengan sukarela, jadi sedikit meringankan beban, Kak Fuse juga kan? Apalagi beban Kak Bintang yang harus menjemputmu. Bukankah, Kakak sendiri yang senang aku rajin latihan kemarin? Kenapa sekarang malah memintaku untuk tidak latihan?”
Fuse terdiam mendengarkan ucapan Muthia. Ucapannya benar, dia terlihat senang saat muthia terlihat sangat bersemangat latihan kemarin. Tapi masalahnya ini terlalu cepat, dulu dirinya latihan pun meminta selang 3 hari agar bisa mendapatkan istirahat yang cukup. Karena latihan yang dijalani memang cukup berat.
Fuse berpikir keras bagaimana agar Muthia mau mendengarkannya. Tapi dia tidak menemukan caranya. Dengan percakapan seperti ini saja Muthia seperti sudah tidak ingin merubah keputusannya. Satu-satunya cara adalah menggantikan posisi Bintang sebagai pelatih Muthia untuk hari ini.
“Baiklah, kamu boleh latihan. Tapi sebagai gantinya akulah yang akan melatihku hari ini.”
Muthi sedikit tidak percaya dengan ucapan Fuse. Fuse sendiri lah yang akan mengajarinya, tapi sebenarnya itu tidak masalah bagi Muthia selama dia masih bisa tetap latihan.
“Baiklah kalau begitu.”
Muthia pun mendahului Fuse menuju kulkas rahasia itu. Dia memberi kode meminta untuk dibukakan. Dengan terpaksa Fuse membuka kode rahasia agar pintu menuju markas terbuka.
Setelah masuk, keduanya masing-masing mengganti pakaian dengan celana olahraga dan kaos yang lumayan simpel. Muthia pun segera menempatkan diri di posisi yang sama dengan kemarin saat dia latihan.
Bintang yang tadinya masih bersantai pun terpaksa harus menyingkir ke pantry karena tempat bersantainya termasuk ke dalam wilayah yang digunakan untuk latihan. Bintang juga terkejut saat tahu kalau Muthia ternyata berniat untuk latihan, bedanya dia membiarkan Muthia untuk latihan.
Fuse pun mendekati Muthia, memberinya sedikit arahan tentang apa yang akan dilatih hari ini. Muthia mendengarkan dengan baik semu instruksi yang diberikan Fuse.
“Oke, dengarkan. Aku tidak akan melatih sesuatu yang sama seperti kemarin. Hari ini aku akan melatih sesuatu yang tidak kalah penting, yaitu emosional.”
Muthia hanya mengangguk mendengarkan penjelasan Fuse. Dia menganggap bahwa latihan hari ini termasuk mudah, hanya latihan emosional. Ini termasuk mudah, sehingga secara perlahan konsentrasi Muthia tidak lagi tertuju dengan apa yang diucapkan Fuse.
“Baiklah, sampai sini kamu mengerti?”
Muthia hanya mengangguk, meyakinkan Fuse bahwa dia mengerti setiap yang dikatakan Fuse, padahal sebenarnya tidak didengarkan sama sekali.
“Kalau begitu kita mulai dari yang paling mudah saja.”
“Aku mau dari yang paling sulit.”
Fuse mengernyitkan dahinya seolah-olah menanyakan keyakinan Muthia. Muthia hany tersenyum sambil terus mengangguk pelan.
Fuse pun menyerah. Dia pun menyuruh Muthia untuk membayangkan hal yang paling membuat Muthia marah. Muthia pun memilih untuk memikirkan perasaannya saat tahu ibunya tidak bisa ikut pergi dengan ayahnya Minggu kemarin.
“Sudah dibayangkan?”
Muthia hanya mengangguk. Lalu secara tiba-tiba Fuse menampar wajah Muthia.
“Aaauu!”
Tamparan itu mendarat di pipi kiri. Baru saja Muthia ingin bertanya kenapa dia ditampar, tapi Fuse sudah menamparnya lagi. Kali ini pipi kanan menjadi target tamparan Fuse.
Fuse memasang wajah marah. Muthia yang melihat itu merasa sedikit takut, sekaligus bingung. Kenapa Fuse terlihat marah.
“Kamu itu anak buangan, anak yang tidak berguna. Itulah alasan kenapa aku selalu kerja tidak ada di sisimu.”
Fuse mengeluarkan makiannya. Maki yang Fuse lontarkan secara asal itu perlahan mengubah rasa takut Muthia perlahan menghilang, malah berubah menjadi rasa tidak terima, rasa ingin memberontak karena sudah ditampar dan juga dimaki oleh Fuse.
Perlahan tapi pasti, yang ucapakan oleh Fuse semakin menyinggung soal status Muthia yang anak tunggal sambil sesekali tetap menampar Muthia.
“Kamh itu anak tunggal manja! Itulah kenapa aku harus susah patah mencari nafkah dengan istriku agar sifat manja kamu itu bisa terpenuhi.”
Muthia yang sudah muak pun mulai terlihat emosi. Wajahnya tertunduk, tangannya mengepal dengan penuh amarah. Fuse yang melihat hal itu tersenyum, dia tetap meneruskan ujaran kebenciannya.
“Kenapa? Kamu mau marah? Anak seperti kamu tidak pantas untuk marah.”
Fuse memegang wajah Muthia dengan kasar, mengangkatnya sampai mampu bertatapan dengan mata Fuse sendiri. Terlihat mata yang dipenuhi amarah dari wajah Muthia.
Dengan kasar Fuse memalingkan wajah itu kesamping, membuat Muthia tersungkur jatuh. Bintang yang melihat hal itu meringis ngeri sambil memegangi pipinya.
Muthia yang tidak tahan pun mulai membalas perkataan Fuse dengan beberapa kata saja. Sebuah kata yang menyangkal setiap perkataan yang barusan diucapkan Fuse.
“Selama ini aku sendirian, jadi... berhenti... menyebut aku... anak bungsu yang manja!”
Secara tiba-tiba, properti latihan kemarin yang masih ada di sana terangkat ke udara. Bersamaan dengan itu, Muthia juga ikut berdiri, membetulkan pakaiannya yang sedikit berantakan dan menutup Fuse dalam-dalam.
“Kak Fuse tidak tahu apa-apa tentang aku. Meskipun, Kakak sebenarnya sudah mencari semua informasi tentang aku, tapi, Kakak tetap tidak mengetahui segalanya! Tidak semua semuanya!”
Fuse yang mendengar hal itu berdigik ngeri. Rasanya seperti bukan Muthia yang dia tahu. Tanpa dia sadari, fenryata tubuhnya sudah mulai melayang di udara. Muthia yang tadi ada di hadapannya kini berada di bawah sambil tangannya bergerak ke arah dirinya, seolah-olah Muthia lah yang membuatnya terbang.
“Aku... hanya aku yang tau bagaimana rasanya menjadi diriku sendiri! Dan tidak ada yang boleh mengomentari bagaimana kehidupanku selama ini!”
Muthia menghempaskan tangannya ke samping kanan. Seketika Fuse terhempas mengikuti arah tangan Muthia dan terlempar sampai ke pojok ruangan. Bedan yang tadi berterbangan pun dengan cepat menyusul Fuse dan menghujaninya tanpa ampun.
Bintang yang melihat itu seolah tidak percaya. Muthia yang kemarin di bawah pengawasannya tidak mengeluarkan kekuatan sebesar itu.
Suara benda yang memukul Fuse terdengar sangat gaduh. Secara tiba-tiba pintu markas terbuka dan memperlihatkan Epa yang datang dengan terburu-buru. Dia terkejut saat ruangan markas sudah berdebu dan lebih berantakan lagi dari sebelumnya.
Epa melihat ke arah Muthia yang masih bernafas berat dan penuh emosi. Dengan segera dia menghampiri dan memeluknya. Epa mengelus kepala Muthia sambil menenangkannya. Sementara Bintang berlari menghampiri Fuse yang sudah babak belur karena dihajar Muthia habis-habisan.
Nafas berat Muthia perlahan menjadi ringan, amarahnya perlahan menghilang dibawah pelukan Epa. Fuse yang dibantu Bintang pun perlahan berdiri sambil sedikit membungkuk dan memegang punggungnya.
“Untung batu yang kamu bawa bukan batu kali. Kalau iya, aku pasti sudah mati kalau ditimpuk batu kali seperti tadi.”
“Untung saja aku cukup malas untuk membawa batu kali ke sini.”
Fuse hanya tertawa sambil meringis kesakitan. Seluruh tubuh terasa sakit, terutama bagian punggung setelah dilempar Muthia dengan begitu mudahnya.
“Fuse, jangan bilang kamu latihan emosional sama Muthia.”
Fuse hanya mengangguk pelan. Epa yang melihat Fuse tidak percaya dengan yang dia lihat.
“Nggak apa-apa, Kak. Aku sendiri kok yang minta untuk dilatih.”
“Aku sudah melarangnya.”
Fuse membela diri. Epa masih tidak terima, lalu semakin di dekap Muthia dalam pelukannya.
“Kak, aku mau istirahat dulu, aku mau minum.”
“Kalau gitu biar aku ambilin.”
“Nggak usah, Kak Epa, biar aku saja sendiri.”
Muthia pun berusaha untuk bangun. Namun saat dirinya mau berdiri, tubuhnya malah ambruk dan jatuh lagi ke dalam pelukan Epa. Tapi kali ini dia tidak sadarkan diri. Sontak semuanya dengan khawatir memanggil nama Muthia.
“Muthia!’
∆∆∆
Muthia membuka matanya. Saat dia sudah bisa melihat dengan jelas, yang dia sadari pertama kali adalah dia sudah tidak ada di markas Proteen lagi, melainkan sudah berada di dalam kamarnya sendiri.
Dia melihat sekeliling. Ini benar-benar kamar yang biasa dia pakai untuk tidur. Di dia pun berniat untuk beranjak dari kasur saat tiba-tiba kakinya secara tidak sengaja menendang seseorang yang tertunduk di sebelahnya. Itu adalah ibunya.
“Ibu,” panggil Muthia tiba-tiba.
“Iya?”
Fidel segera bangun. Ternyata dia ketiduran saat menunggu Muthia sadar.
“Kamu baik-baik, Mut?”
“I... iya.”
Fidel dengan sigap memberikan segelas air yang sudah dia siapkan. Muthia menerimanya dan segera meminum abis air itu, lalu diberikan lagi kepada Fidel.
“Aku masih ingat tadi aku masih ada di rumah temanku, Bu. Siapa yang antar aku ke sini?”
“Tadi Laila yang antar kamu ke sini, kamu diantar pakai taksi.”
Muthia memasang wajah heran. Laila? Taksi? Sepertinya itu dua hal yang mustahil. Laila yang dilihat oleh ibu mungkin Yanti yang menyamar, tapi sepertinya mustahil sekali rasanya menggunakan taksi. Tapi dengan cepat Muthia menepis pikiran itu. Yang sekarang diriny sudah ada di rumah.
“Kamu hari ini sepertinya sibuk sekali, sampai tadi Laila biang kamu pingsan pas kerja kelompok sama dia.”
Muthia hanya dia sambil sedikit tersenyum. Sebenarnya itu bukanlah kerja kelompok melainkan latihan di markas Proteen. Sepertinya Yanti sudah menyiapkan alasan yang pas agar dirinya tidak dicurigai yang aneh-aneh.
“Iya, sepertinya aku kelelahan, Bu.” Tambah Muhtia.
“Kalau begitu kamu istirahat aja dulu, kamu janga. Banyak gerak. Makanan ringan ada di sini. Kalau kamu sudah sedikit mendingan dan mau makan sesuatu yang sedikit berat, kamu ke bawah aja ya.”
Muthia hanya mengangguk. Fidel pun tersenyum dan meninggalkan putrinya sendirian. Perlahan air mata Muthia mulai mengalir. Rasanya seperti dia sudah melakukan kesalahan dengan membentak ibunya kemarin. Meskipun dia sudah meminta maaf, tapi rasa bersalah itu tetap ada. Bahkan ibunya sampai menunggu dirinya bangun tepat di samping kasurnya.
∆∆∆
“Aku pulang,” ucap Putra saat memasuki rumah.
Putra sampai di rumah larut malam. Memang sudah menjadi rutinitasnya sampai di rumah saat seisi rumah sudah hampir tidur.
Suasana rumah tampak sunyi. Putra berjalan mencari saklar dan menyalakan lampu. Ternyata Fidel sedang tidur di sofa ruang tengah.
“Del, Fidel. Bangun,” panggil Putra.
Fidel yang sedang tertidur langsung bangun begitu Putra membangunkannya. “Sudah pulang?”
“Iya,” jawab Putra. “Kenapa tidur di luar?”
“Ini, tadi abis baca majalah. Malah ketiduran deh.” Fidel menunjuk majalah yang sudah terjatuh di lantai.
“Ya sudah gih, masuk kamar.”
Putra berjalan menuju dapur, mengganti baju dan merapihkan semua barang bawaannya.
“Oiya, Del. Mulai besok aku kayaknya nggak pulang. Baru pulang lagi hari Sabtu. Minggu aku akan ambil libur lagi,” ucap Putra saat sudah memasuki kamar.
“Kamu ada dinas keluar kota?”
Putra menggeleng. “Ada proyek penting di kantor, jadi sepertinya aku nginap saja di kantor agar bisa cepat selesai dan bisa kembali libur.”
“Kamu jadi sering ambil libur sekarang, apalagi kemarin pulang lebih cepat,” ucap Fidel.
“Ya kan itu udah bagian dari kerjaan. Lagian aku juga sudah izin untuk ambil libur tiap Minggu. Itu sudah menjadi kewajiban kita.”
“Kamu juga Minggu lalu pergi, itu juga karena hal itu kan. Kamu tidak bisa mengelak meskipun ingin,” jelas Putra panjang lebar.
Fidel memilih untuk diam. Dia tidak bisa berbicara banyak karena memang tidak ada yang bisa ia katakan. Semua yang dikatakan Putra ada benarnya.
“Bagaimana dengan keadaan Muthia?”
“Dia sudah sempat bangun tadi. Dia juga sudah makan.”
Putra mengangguk paham. Sepertinya rasa khawatir selama perjalanan pulang tadi perlahan sirna. Putrinya sudah bangun dan seharusnya sudah tidur lagi.
Fidel pun menyandarkan kepalanya di bahu Putra sambil berkata lirih.
“Aku takut kejadian waktu itu terulang lagi.”
“Yang mana?”
“Yang tiga tahun lalu. Dulu juga Muthia sempat seperti ini dan menunjukkan sesuatu yang mengerikan.”
Putra paham istrinya ketakutan. Dia pun merangkul tubuh istrinya dan mengusap kepala untuk menenangkan.
“Tenang saja, dia akan baik-baik saja.”
Fidel terdiam. Dia kembali bicara membahas keadaannya yang tidak bisa banyak bicara di depan Muthia secara terang-terangan.
“Sampai kapan kita harus terus pura-pura tidak tahu dengan yang Muthia miliki?”
“Sabar lah. Orang itu berpesan agar jangan sampai Muthia tahu kalau kita tahu tentang kekuatannya. Sebentar lagi Muthia 16 tahun, seharusnya sebentar lagi kita sudah bisa memberitahu kepada Muthia apa yang sudah terjadi. Tenggat waktu yang diberikan orang itu sebentar lagi berakhir. Kamu mau kan bersabar sedikit lagi?”
Fidel hanya mengangguk pasrah. Putra benar, dia harus sabar sedikit lagi, atau dia tidak akan bisa bertemu putrinya untuk selamanya.