Hari Minggu datang kembali. Muthia bangun siang kali ini. Tidak ada yang spesial hari ini, namun dia merasa seperti melupakan sesuatu. Kali ini dia lupa meminta ayahnya untuk libur hari ini.
Dengan lesu, Muthia segera beranjak dari tempat tidurnya. Dia melihat ke arah jam dinding, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, seharusnya ayahnya sudah pergi bekerja.
Muthia membuka pintu kamarnya, dan disambut dengan ruangan yang kosong, tidak ada siapa siapa, hanya ada dirinya yang baru saja bangun.
“Ibu,” panggil Muthia. Tidak ada sahutan.
Muthia berkeliling rumah mencari ibunya, namun hasilnya nihil. Rumahnya benar-benar kosong kali ini, tidak ada siapapun.
Muthia pun pasrah, dia memutuskan ke ruang tengah setelah selesai minum di dapur. Dia segera menyalakan televisi untuk mengusir rasa sepi. Benda itu menyalaz namun Muthia tidak melirik sama sekali. Itu karena matanya terfokus ke arah layar ponsel. Tayangan dalam televisi tidak ada yang menarik bagi Muthia.
Muthia akhirnya menyerah, dia meletakkan ponselnya di atas meja. Isi ponselnya tak kalah membosankan dengan yang ada di televisi. Rasanya benar-benar bosan. Dia langsung merebahkan dirinya di atas sofa, melamun memikirkan hal hal seru yang bisa dia lakukan di rumah.
Tak lama setelah melamun, tiba-tiba terdengar suara motor yang khas di telinga Muthia. Itu suara motor ayahnya. Muthia segera berlari ke pintu depan dan melihat ayahnya yang baru saja pulang berbelanja dengan ibunya.
“Sudah bangun, Mut?”
Mata Muthia berbinar saat melihat sosok yang duduk di depan sambil memegang stang motor adalah ayahnya. Putra segera berpose layaknya anak muda yang masih eksis dengan motor kebanggaannya.
“Sudah.” Muthia menjawab dengan semangat. Rasa senangnya sudah tidak terbendung lagi.
Muthia menghampiri orang tuanya, berinisiatif untuk membawa barang belanjaan.
“Ayah libur?” tanya Muthia.
“Iya. Ayah sekarang sudah minta untuk menukar hari libur ayah menjadi Hari Minggu,” jawab Putra. “Gimana? Kamu senang?”
Muthia mengangguk sambil tersenyum. Putra yang tadinya ia kira sudah pergi bekerja ternyata memutuskan untuk mengambil libur di setiap hari Minggu.
“Padahal ibu yang ngasih saran buat libur setiap hari Minggu, tapi senyumnya ke ayah doang,” sindir Fidel.
“Hehe, iya deh, Bu.”
Mereka bertiga pun masuk, membawa barang belanjaan yang cukup banyak.
“Kenapa tiba-tiba belanja banyak?” tanya Muthia penasaran. Sepertinya banyak sekali yang ingin di tanyakan oleh Muthia.
“Kita mau pesta kali ini,” jawab Putra.
“Pesta?”
“Bakar bakar aja. Masa di rumah nggak berbuat apa-apa? Harus ada kegiatan dong.”
Mereka bertiga mulai bekerja sama menyiapkan alat dan bahan untuk bakar-bakaran.
Semuanya berlalu dengan penuh senyuman. Putra dan Fidel tampak ceria, begitu juga dengan Muthia. Muthia senang keluarganya bisa berkumpul selengkap ini di hari Minggu. Rasanya dia tidak ingin hari ini berlalu dengan cepat.
Tak terasa hari sudah mulai terang. Mereka berencana untuk melaksanakan acara bakar-bakaran pada malam hari.
Muthia merebahkan dirinya di atas sofa, lalu mengecek ponselnya. Belum ada semenit dia mengecek ponselnya, sudah ada panggilan masuk dari Fuse.
Muthia segera mengangkat telepon itu dan berbicara dengan Fuse,” ada apa?”
“Kenapa malah kamu yang nanya ada apa? Harusnya aku yang bertanya ada apa,” tutur Fuse.
“Bagaimana keadaan hari ini? Sudah membaik?” tanya Fuse basa basi.
“Aku baik-baik saja,” jawab Muthia singkat.
“Maaf baru mengabari lagi, aku sedikit sibuk di sini,” balas Fuse.
“Tidak apa-apa, lagi pula Kak Epa sering mengirim pesan kepadaku,” jawab Muthia.
“Oh begitu,” gumam Fuse. “Kau ada waktu besok sepulang sekolah?”
“Ada apa?”
“Cuma mau mengundangmu ke markas,” kata Fuse singkat.
“Kalau kamu sudah tidak sekolah mungkin aku akan mewajibkan untuk selalu ke markas tiap hari, tapi kamu masih bersekolah, jadi sudah pasti sekolah yang akan jadi prioritas.”
“Akan kuusahakan jika memang senggang,” jawab Muthia.
Telepon pun tak lama dimatikan. Muthia meletakkan ponselnya di atas meja. Rumah terasa sedikit sepi. Ayahnya pergi berbelanja kebutuhan untuk bakar-bakaran malam nanti.
Muthia berjalan ke dapur, berniat untuk menemui ibunya yang sedang menyiapkan bumbu untuk ayam bakar.
Saat sudah dekat dapur, Muthia mendengar ibunya sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
“Saya ingin merubah jadwal saya untuk beberapa waktu ke depan.” Muthia mendengar Fidel seperti memohon.
Muthia menguping pembicaraan ibunya. Dia tau dia salah, tapi dia masih tetap berdiri di sana, ingin mengetahui lebih banyak tentang ibunya.
“Tidak ada. Saya hanya ingin sedikit istirahat saja. Apalagi Minggu kemarin saya sudah lembur untuk mengerjakan proyek penting itu,” ucap Fidel.
Muthia yang mendengar ucapan Fidel terdiam beberapa saat. Dia sedang berpikir haruskah dia tetap diam dan mendengarkan obrolan ini atau pergi menghampiri ibunya.
“Saya tau yang saya ajukan ini adalah bentuk keegoisan saya, tapi saya juga punya hak untuk kepentingan saya sendiri. Saya sangat memohon untuk ini. Bagi saya beberapa waktu ini akan menjadi waktu yang cukup senggang, makanya saya memilih untuk beristirahat sejenak. Saya juga akan jamin hal ini tidak akan menganggu proyek yang sedang saya usahakan.”
Fidel diam sebentar. Muthia yang melihat semakin penasaran dengan perkataan yang sedang didengar Fidel dari lawan bicaranya.
Tak lama Fidel langsung menutup teleponnya. Ponselnya diletakkan di atas meja dan tangannya memegang kepalanya seperti orang frustrasi.
Muthia yang melihat hal itu segera menghampiri ibunya. Gerak geriknya seakan-akan baru sampai di dapur dan tak mendengar pembicaraan tadi.
“Ibu lagi apa? Nggak jadi bikin bumbu bakar?” tanya Muthia.
“Jadi kok jadi,” jawab Fidel.
“Terus kok malah diam, Bu?”
Fidel terdiam sejenak. Dia tidak mau memberitahu putrinya apa yang sebenarnya terjadi.
“Ibu Cuma sedang berpikir bagaimana harus mengatur kerjaan Ibu di kantor.”
“Kenapa harus dipikirin sekarang?”
*Karena Kerjaannya kali ini cukup sulit, jadi Ibu berusaha agar bis menyusunnya agar mudah dikerjakan saat Ibu masuk lagi.”
“Tapi kan Ibu sekarang sedang libur. Kenapa harus pusing-pusing mikirin kerjaan?”
Fidel terdiam. Yang dikatakan oleh anaknya ada benarnya. Kenapa dia harus memikirkan soal kerjaan padahal dirinya sedang ada di rumah. Ini seperti bekerja secara pasif, bekerja ketika sedang di luar waktu bekerja.
“Kamu mau apa, Mut? Kenapa ke sini?” tanya Fidel mengalihkan pembicaraan.
“Aku mau bantu Ibu untuk membuat bumbu bakar,” jawab Muthia polos.
Fidel tersenyum, dielus rambut anak semata wayangnya itu. “Kalau begitu bantu Ibu kupas bawang ini.”
∆∆∆
“Kalau begitu akan saya pikirkan tentang pengajuan cutimu. Besok akan saya beritahu apakah bisa atau tidak.” Ridwan segera menutup teleponnya secara sepihak.
Dia berjalan menuju ruang kerjanya. Di atas meja kerjanya terdapat banyak sekali tumpukan buku.
Diambilnya salah satu buku yang ada di sana. Di sampul buku itu tertulis kata ‘kekuatan’ dalam Bahasa Inggris
Dia membuka lembar demi lembar. Di dalam buku itu terdapat berbagai nama serta foto orang yang namanya tertera di sana. Semua nama yang ada terdapat tanda silang berwarna merah, dilengkapi dengan tulisan ‘mati’ yang menandakan bahwa orang-orang di dalam buku itu sudah meninggal.
Ridwan lalu berhenti membalik halaman buku itu. Di halaman yang terbuka terdapat sebuah nama dan foto yang masih belum dicoret sama sekali. Ridwan tersenyum melihat halaman itu. Dia pun meletakkan buku itu dengan halaman terbuka, lalu meninggalkan ruangan itu kembali.
Di halaman itu, selain nama di sana juga tertulis profil lengkap dari orang yang tercantum di sana, dan nama yang tertulis di sana adalah Muthia Simamora.
∆∆∆
“Fuse!”
Epa meneriaki nama Fuse dari ruang tengah. Fuse yang masih tidur pun terpaksa bangun karena merasa dipanggil. Dia segera menyahuti balik Epa yang masih tidak berhenti meneriaki namanya.
“Ada apa?”
Posisi tidur Fuse sedikit rumit. Dia tidur di kamar bersama Bintang. Setengah tubuh Fuse tertimpa tubuh Bintang, sementara wajah Fuse sendiri sudah ditempeli telapak kaki Bintang. Dengan kasar dia menggeser kaki serta tubuh Bintang yang menimpa dirinya. Dia mengutuk ide Epa untuk menginap di markas semalam. Jika jadinya seperti sekarang, dia akan lebih memilih untuk tidur di sofa.
“Kemari,” titah Epa.
Fuse segera keluar kamar setelah merenggangkan tubuhnya, menghampiri Epa yang sudah sibuk dengan laptopnya. Epa terlihat sedang mengetik sesuatu hal yang teramat penting.
“Aku sudah menyelidiki tentang masa lalu Muthia,” kata Epa. “Dan aku rasa ada sesuatu yang aneh dengan orang tua dia.”
“Aneh bagaimana?” tanya Fuse.
“Ibunya, Fidel Simamora. Orang keturunan Batak asli, berusia 36 tahun. Profesinya adalah karyawan swasta dari perusahaan yang menjalankan sebuah aplikasi pembelajaran. Dia juga merangkap sebagai pengajar di sana,” ucap Epa.
“Lalu apa yang aneh?” tanya Fuse.
“Yang aneh adalah yang diceritakan Muthia padaku,” jawab Epa.
“Waktu kita pergi bersama Muthia Kamis kemarin, dia sempat cerita kepadaku bahwa orang tuanya super sibuk. Bahkan ibunya tetap bekerja di hari Sabtu dan Minggu.”
“Lalu, anehnya di mana?”
“dia karyawan swasta, juga termasuk pengajar. Apakah masih termasuk wajar jika dia masuk hari minggu?”
Fuse tampak berpikir sebentar, lalu dirinya tersadar dengan perkataan Epa. Sepertinya efek baru bangun tidur membuat otakny berpikir sedikit melambat.
“Kamu benar. Aku juga baru merasa aneh antara Ibu Muthia dan dua hari itu,” kata Fuse.
“Lalu ayahnya, Tri Putra Simamora. Pria keturunan suku Minang yang mendapat marga Simamora karena menikahi istrinya, merupakan seorang karyawan swasta juga.”
“Sekarang aku tau di mana letak keanehannya,” cetus Fuse.
“Ayahnya pekerja swasta, bukan di bidang wisata atau sejenisnya yang bisa membuat karwayan wajib masuk di hari Minggu, tapi ayahnya lebih sering untuk libur di hari kerja sedangkan masuk di akhir pekan, aku benar kan?” kata Fuse.
“Kamu benar. Tidak seharusnya sebuah perusahaan memperkerjakan karyawannya di akhir pekan jika perusahaannya tidak bergerak di bidang yang kamu bilang tadi,” tambah Epa.
“Sepertinya itu bisa jadi bahan penyelidikan kita,” tutur Fuse sambil duduk di sebelah Epa.
“Kebetulan sekali. Aku baru saja mau meminta Muthia datang ke sini nanti, jadi kita bisa langsung tanyakan saja kepada dia.”