Sehari setelahnya
Laila bangun dengan keadaan badan kembali segar. Setelah istirahat penuhnya kemarin rasanya sakit yang dia alami kemarin seperti angin lalu saja.
Laila yang merasa sudah sehat segera turun dari tempat tidurnya. Dengan cepat dia segera menuruni anak tangga dan mencari orang tuanya.
Laila berbelok ke arah ruang makan, di sana dia hanya menemukan kakaknya yang sudah duduk dengan anteng di sebelah meja makan.
“Kak, tadi Ibu atau Ayah ada di sini?”
Laila bertanya kepada Ridho. Ridho yang mendengar pun sedikit menggerakkan kepalanya menuju sumber suara. Dia mengenali suara itu dan segera menjawab pertanyaan Laila.
“Kalau Ayah nggak ada di sini dari tadi. Tapi kalau Ibu tadi ke sini. Ibu bilang kalau Ibu sama Ayah ingin keluar sebentar untuk mengambil uang.”
Laila hanya mengangguk paham, lalu mengambil posisi agar duduk di sebelah Ridho. Ridho yang merasakan Laila ingin duduk di sampingnya segera menggeser kursinya memberikan ruang untuk adiknya.
Laila duduk dalam diam, memperhatikan kakaknya yang melihat lurus ke depan, seolah-olah menatap dinding yang berhadapan dengannya.
Ridho memiliki postur tubuh yang cukup tinggi, sekitar 180 cm, rambut sedikit berantakan karena memang dia tidak pernah merapihkan nya, kulit sedikit putih menurun dari Kakek dari ibu mereka.
Sebenarnya Laila masih cukup penasaran dengan apa yang terjadi dengan kakaknya. Banyak hal yang ingin Laila tanyakan, terutama soal kebutaannya yang tiba-tiba dan soal dirinya yang bertingkah seolah-olah masih bisa melihat dengan normal.
Ingin sekali Laila menanyakan semua itu, tapi Laila menahannya karena masih ingin menjaga perasaan kakaknya. Tapi semakin ke sini rasa penasarannya makin memuncak.
Rasa ingin tahunya makin memuncak. Laila pun memutuskan untuk menanyai kakaknya, namun saat kalimat tanya akan keluar dari mulutnya tiba-tiba Ibu Laila sudah datang memanggil mereka berdua.
“Laila, Ridho, kalian sudah siap?”
Ridho hanya mengangguk, namun Laila pun menggelengkan. Dia pun memberitahu kalau dirinya baru saja bangun.
“Laila, cepat beres-beres. Kita akan berangkat setelah kamu siap,” ucap Ibu Laila.
Laila hanya mengangguk. Dia pun segera beranjak. Dia sedikit tidak memperhatikan wajah ibunya, tapi dia sedikit merasakan ada sesuatu yang aneh dengan ibunya.
Laila tidak menghiraukannya, paling itu hanya perasaannya. Tapi Ridho yang sedari tadi hanya diam pun melakukan hal yang sebaliknya.
Ridho masih tetap diam sampai akhirnya Laila memasuki kamar mandi. Ibu Laila masih berdiri di tempatnya. Sementara Ridho mulai menanyai sesuatu.
“Kamu... bukan Ibu kan?”
Sosok yang berdiri itu pun hanya tersenyum. Wajah yang sedari tadi terlihat datar dengan mata yang memiliki rona hitam di sekitarnya pun menyunggingkan bibirnya, mengisyaratkan sesuatu dari pertanyaan Ridho tadi.
“Kamu tahu sesuatu rupanya. Kamu pasti memiliki sesuatu ya.”
Suara yang terdengar dari Ibu Laila pun terasa lebih berat dari biasanya. Ridho yang mendengar perubahan suara itu pun hanya tersenyum sambil menjawab opini yang dilemparkan kepadanya.
“Tidak ada. Aku hanya orang buta biasa. Aku hanya bisa merasakan sesuatu yang tidak normal. Kamu tahu kan kalau yang kamu gantikan posisinya Ibuku sendiri? Sudah pasti aku tahu kalau ada yang berubah dari ibu kandungku sendiri.”
Sosok itu pun tersenyum mendengar Ridho. Ridho pun melanjutkan jawabannya yang masih belum selesai.
“Tadinya aku tidak yakin kamu sosok yang merasuki tubuh ibuku atau seseorang yang menggantikan ibuku. Tapi ketika adikku menurut saat kamu suruh, itu artinya kamu yang merasuki tubuh ibuku kan?”
“Jawabanmu benar. Aku cukup terkejut kamu memiliki insting yang tajam. Tapi aku tidak akan menghiraukanmu, lagi pula kamu juga buta kan?”
Ridho hanya tertawa kecil mendengar ujaran itu. Dia memegang tongkatnya dengan kedua tangannya secara horizontal. Cukup lama mereka berdiam diri sampai akhirnya Laila selesai bersiap-siap.
“Aku sudah siap,” ucap Laila sambil berdiri di sebelah Ridho.
“Ya sudah, ayo kita ke mobil. Mobilnya sudah siap.”
Laila hanya mengangguk. Dia segera ingin melangkah pergi saat tiba-tiba Ridho menahan tangannya.
“Tunggu aku. Kamu jalan bareng aku.”
Laila yang tertahan pun memaklumi kondisi kakaknya. Dia pun membantu kakaknya berdiri dan menuntunnya dengan pelan menuju pintu depan, sementara ibu mereka sudah pergi mendahului mereka menuju mobil.
“Laila,” panggil Ridho.
Laila yang dipanggil hanya bergumam pelan menanggapi Ridho. Ridho masih diam hingga tongkatnya sudah mengetuk lantai tiga kali semenjak dia memanggil Laila.
“Aku benar-benar minta maaf untuk hari ini.”
Laila yang benar-benar tidak mengerti dengan ucapan kakaknya pun memilih untuk membantah permintaan maaf Ridho.
“Kak, jangan kebanyakan minta maaf, terutama untuk hari ini. Kita baru saja memulai hari ini dan belum terjadi sesuatu, jadi berhentilah meminta maaf seolah-olah kakak bersalah karena adanya hari ini.”
Ridho terdiam. Mendengar adiknya yang menentang permintaan maafnya pun terasa seperti diingatkan akan sesuatu yang tidak terlihat. Memang benar hari ini baru di mulai, tapi di perasaan Ridho dia benar-benar tidak ingin hari ini dimulai, bahkan hari-hari selanjutnya.
“Kamu tidak menulis surat izin ke sekolah?”
Ridho mengalihkan topiknya, tidak ingin membuat adiknya lebih marah lagi dan meninggalkannya begitu saja.
“Tidak. Aku berencana untuk menulisnya setelah liburan kita.”
Laila hanya menjawab singkat. Akhirnya pun mereka sampai di pintu luar. Laila yang sedari tadi fokus menuntun kakaknya terkejut saat yang dia takutkan kemarin menjadi kenyataan. Ridwan sudah ada di depan pintu rumahnya, menggunakan seragam yang sama persis dengan yang dikenakan supir yang kemarin menghampiri rumahnya.
“Selamar pagi, Kak, mobil sudah siap di sana. Kakak langsung saja masuk, orang tua kakak sudah ada di dalam duluan.”
“Makasih ya, Pak,” jawab Ridho singkat.
Laila yang mengetahui orang yang ada di hadapannya pun hanya diam. Dia dengan terpaksa berjalan dan masuk ke dalam mobil.
“Kak, aku takut.” Laila mengeratkan pegangannya pada Ridho. Ridho pun balas memegang tangan Laila.
“Kakak tau.”
Tak lama, Ridwan pun ikut masuk ke dalam mobil. Dia segera mengunci pintu mobil dan menyalakan mesin. Melirik sebentar ke arah belakang dari kaca spion lalu memutar badannya dan melihat ke arah Laila.
“Kamu tidak mau dihipnotis dan dirasuki seperti orang tuamu kan?”
Laila terkejut mendengar perkataan Ridwan. Orang tuanya tanpa sepengetahuan dirinya sudah terkena hipnotis dari Ridwan. Laila yang semakin takut pun semakin mengeratkan lagi pegangannya. Ridho yang merasakan pegangan Laila pun angkat bicara.
“Apa yang mau kamu lakukan kepada adikku?”
“Oh tenang saja Kakak yang baik. Aku tidak akan melakukan apa-apa terhadap adik kesayanganmu. Aku hanya memastikannya saja. Lagipula dia masih ada kan selama masih ada kamu wahai kakak yang punya insting tajam?”
Ridho hanya dia mendengar ucapan Ridwan. Ridwan pun membalikkan kembali badannya. Mobil pun melaju di jalanan.
Tangan Laila masih memegang erat tangan Ridho. Bahkan sampai mobil berhenti di suatu tempat yang tidak Laila ketahui pun tangan Laila dan Ridho masih tidak melepas.
“Kita ada di mana, Kak Ridwan?” tanya Laila saat tiba-tiba Ridwan turun dari mobil.
“Kamu tidak mau dikendalikan kan? Diam dan ikuti saja.”
Ridwan pun pergi meninggalkan mereka. Laila hanya diam sambil tetap memegang tangan Ridho. Tak lama kemudian pintu mobil terbuka dan terlihat beberapa orang dengan setelan jas hitam mengarah kepada mereka dan menarik mereka dengan paksa.
Ridho yang merasa badannya ditarik pun mulai sedikit melakukan perlawanan. “Aku akan berjalan dengan adikku, jadi cukup tuntun aku saja.”
Dua orang berjas itu tadinya berniat ingin memukul Ridho, tapi aksi mereka ditahan oleh Ridwan yang segera datang menahan mereka berdua.
“Jangan lukai mereka, aku tidak ingin ada memar sedikit pun pada mereka.”
Kedua orang itu hanya saling bertatapan, lalu berjalan mundur dua sampai tiga langkah. Kini posisi dua orang itu digantikan oleh Ridwan. Ridwan pun menuntun mereka masuk ke dalam.
“Ikuti aku, akan aku jamin kalian berdua tidak akan di hipnotis seperti kedua orang tua kalian.”
Laila hanya diam. Mereka pun berjalan mengikuti Ridwan masuk ke dalam ruangan yang cukup terawat, setidaknya terlihat seperti sebuah penginapan yang masih lawak untuk ditempati.
“Kalian akan tinggal di sini sampai rencanaku berjalan sempurna. Saat semua itu sudah selesai, kalian bisa menagih untuk dibebaskan. Tenang saja, itu tidak akan lama.”
Ridho dan Laila masuk ke dalam. Tak lama orang tuanya muncul dan ikut masuk ke dalam. Setelah dirasa cukup, Ridwan pun keluar sambil menutup pintu ruangan itu.
“Nikmatilah liburan kalian,” ucap Ridwan sambil menutup pintu.
Suara pintu terdengar bergema. Laila yang mendengar itu melirik ke arah pintu, lalu melihat ke sekeliling ruangan itu. Ruangan itu terbilang cukup lengkap, kamar tidur, kamar mandi dan juga meja makan. Rasanya mereka seperti bukan diculik, melainkan liburan gratis.
“Jangna khawatir, kita pasti akan keluar sebentar lagi.”
Laila hanya mengangguk. Dalam hatinya dia bersyukur telah meninggalkan pesan untuk kepada tetangganya. Dia berharap ada yang datang ke rumahnya dan menerima pesan yang dia tinggalkan, terutama Muthia yang sepertinya tidak akan tahan jika dirinya tidak masuk sekolah dalam waktu cukup lama.