HARI PENCULIKAN

1514 Words
7 Hari Lalu Laila bangun dengan keadaan badan kurang sehat. Badannya terasa hangat bahkan dia seperti tidak sanggup untuk bangun dari tempat tidur. “Laila, ayo bangun,” panggil Ibu Laila dari luar kamar. Laila melirik ke arah kamar. Bahkan bersuara pun dia tidak mampu. Akhirnya dia memaksakan diri untuk menjawab panggilan ibunya meskipun dengan suara yang terdengar lemah. “Ibu... Aku libur dulu ya hari ini.” “Kamu kenapa?” Dengan seketika, Ibu Laila langsung masuk ke dalam kamar. Laila yang melihat ibunya membuka pintu dengan kencang menganggapnya seperti Putri Fiona, cantik namun memiliki tenaga yang besar. Paras Ibu Laila memang terlihat masih cukup cantik meskipun usianya sudah menginjak kepala tiga. Dengan memiliki darah campuran Jepang Jawa, membuatnya terlihat begitu menawan dengan mata sipit dan kulit kuning langsat. “Putri Fiona, aku sedang sakit. Bisakah aku tidak sekolah hari ini?” Ibu Laila hanya diam, dia menyentuh kening Laila yang terasa cukup panas. Dia pun tersenyum sambil beranjak berdiri. “Oke, kamu boleh nggak masuk sekolah hari ini. Tapi berhenti manggil aku Putri Fiona ya. Aku tidak sejelek itu.” Laila hanya tertawa kecil mendengar celotehan ibunya yang secara tiba-tiba mencubit pipinya dengan gemas. Laila pun dengan sekuat tenaga berusaha untuk melepas cubitan ibunya. “Ibu sakiiitt...” Ibu Laila melepas cubitannya lalu meletakkan tangannya di pinggang. Melihat keadaan Laila dengan seksama lalu memintanya untuk bangun. “Kamu turun langsung mandi ya. Biar Ibu urus dulu soal rencana liburan kita. Kayaknya harus diundur dulu karena kamu sakit.” “Ibu, temenin aku turun.” “Nggak mau. Putri Fiona tidak sebaik itu.” “Ibuuuu, tungguuuu...” Ibu Laila pun pergi meninggalkan Laila. Laila yang masih di atas kasur pun mau tidak mau harus turun sendiri ke lantai bawah. Dia turun dengan perlahan dari atas kasur lalu berjalan dengan susah payah keluar kamar. “Huft, kenapa harus sakit sekarang sih,” keluh Laila. ∆∆∆ Hari sudah mulai siang. Laila duduk di meja makan. Dia duduk dengan lesu tidak tahu harus melakukan apa. Selama dia sakit tubuhnya sangat lemah sehingga untuk melakukan apa pun Laila harus pikir dua kali, kecuali untuk makan dan menonton televisi. Sayangnya siaran televisi sekarang sedang tidak ada yang seru membuat Laila semakin bosan. Di tengah lamunan Laila, terdengar suara ketukan tongkat dari ruang tengah yang masuk ke ruang makan. Laila menggerakkan sedikit kepalanya dan melihat ke arah Kakaknya. Nama kakaknya adalah Ridho. Ridho berjalan menggunakan tongkat, mengetuk-ngetuk tongkat agar bisa mengetahui ke mana arah dia berjalan. Laila yang melihat Kakaknya ingin sekali membantunya, tapi kondisi badannya sendiri sudah sulit jadi daripada menambah susah Laila lebih memilih untuk tidak melakukan apa-apa. Ridho sendiri memakai tongkat karena matanya buta. Konon katanya matanya buta secara tiba-tiba tanpa ada penyebab. Ayah dan Ibu Laila sendiri sebenarnya heran dengan kejadian itu, tapi saat mendengar matanya buta, Ridho seperti sudah menerimanya dengan ikhlas. “Kamu lagi sakit ya, Lai.” Laila melirik ke arah kakaknya. Dia hanya mengangguk meskipun dia tahu kakaknya tidak bisa melihat reaksinya. Ridho terlihat tersenyum kecil. Laila yang melihat hal itu hanya merasa heran. Ridho mengambil posisi yang berhadapan dengan Laila, lalu menarik kursi yang ada di situ lalu duduk dengan perlahan. “Kamu tu, padahal tau Kakaknya buta tapi ngejawabnya cuma ngangguk doang. Tidak bisa apa kamu bilang ‘”iya” gitu.” Lail hanya diam. Dia berpikir bagaimana kakaknya bisa tahu apa saja yang dia lakukan dan dia gerakkan. Memang sejak Kakaknya buta, kelakuan Kakaknya semakin aneh dalam artian untuk orang buta. Kakaknya bertingkah dan berkata seolah-olah matanya masih tetap bisa dipakai untuk melihat. “Aku tu selalu mikir tau, Kak.” “Mikir apa?” “Kakak kan buta. Kenapa kakak bisa tahu kalau aku Cuma ngangguk doang? Sebelumnya juga sama seperti ini. Kakak tau semua yang dilakukan sama orang di sekitar, Kakak.” Ridho tersenyum sebentar, lalu menjelaskan sambil menggerakkan tangannya ke dekat telinga dan telapak tangannya sendiri. “Kakak kan masih punya telinga, dan kulit ini. Sekarang Kakak harus bekerja ekstra agar bisa memanfaatkan semua Indra yang kakak punya agar masih bisa beraktifitas sedikit normal. Lagian Kakak juga masih punya hati untuk bisa merasakan perasaan orang di sekitar Kakak.” Gerakan penjelasan Ridho berhenti dengan tangannya diletakkan di depan dadanya. Laila yang mendengar hal itu hanya mengerti ketika Ridho berkata soal hati dan perasaan, selebihnya tidak. Namun setidaknya Laila mengerti bahwa kakaknya begitu berperasaan, memang seperti itulah Kakaknya dari dulu. “Oiya, Kak. Kira-kira kita jadi berangkat hari apa?” Laila menanyai soal agenda berlibur mereka. Seperti pesan ibunya yang bilang untuk menunda agenda mereka, tapi sayangnya Laila tidak menanyai sampai kapan mereka akan menundanya. Ridho yang mendengar pertanyaan Laila, bukannya menjawab tapi malah meminta maaf kepada Laila. “Kakak minta maaf dulu ya, untuk kali ini Kakak nggak bisa menyelamatkan keluarga kita. Tapi nanti pasti akan ada yang datang menolong kamu kok.” “Apa sih, Kak. Aku kan cuma nanya sampai kapan liburan kita akan ditunda.” “Besok siang kita sudah berangkat.” Laila yang akhirnya mendapat jawaban tepat pun merasa puas, tapi dia merasa heran kenapa kakaknya meminta maaf kepadanya. Belum sempat dia menanyakan hal itu, tiba-tiba terdengar suara bel pintu yang berbunyi. Laila pun dengan sekuat tenaganya lagi, berjalan menuju pintu yang sudah berkali-kali dipencet belinya oleh sang tamu. Dengan langkah tertatih dia berjalan dan membuka pintu. Saat pintu terbuka, tampak seorang pria dengan pakaian seragam yang langsung mengucapkan salam saat pintu terbuka. “Selamat Siang, Mba. Kira-kira kapan ya barangnya mau dibawa?” “Loh, bukannya keluarga saya sudah memberitahu untuk undur perjalanan ya, Pak?” “Hah? Saya belum dapat info apapun, Mba.” Pria itu segera membuka ponselnya dan segera mengecek pesan. Ternyata benar saja. Ternyata konfirmasi untuk pengunduran sudah diberitahu sebelumnya. Pria itu pun segera menjelaskan kenapa dia bisa salah jadwal. Itu dikarenakan dirinya jarang melihat ponsel saat bekerja. Dia pun segera pamit dan tersenyum ke arah Laila. Laila pun ikut tersenyum dan menunggu sampai pria itu masuk kembali ke mobilnya. Saat mata Laila ikut melihat masuk ke dalam mobil, ada seseorang yang menarik perhatian Laila. Orang itu duduk di sebelah kursi pengemudi, wajahnya cukup familiar karena itu adalah wajah yang sering dia lihat dan belakangan ini berusaha untuk dia jauhi karena dia mulai merasa waspada dengan orang itu. Orang yang Laila lihat ternyata adalah Ridwan. Mata Laila melotot saat melihat Ridwan. Ridwan yang sedang duduk pun kemudian melihat ke arah Laila. Mata mereka sempat saling pandang dengan singkat, namun dengan cepat Laila segera memalingkan wajahnya dan menutup pintunya. Laila segera berpikir dengan cepat. Seingat dia liburan kali ini keluarganya hanya memesan satu mobil dan satu supir untuk ditumpangi. Tapi entah kenapa kali ini malah ada dua supir. Pasti besok kemungkinan Ridwan akan ikut dalam mengantar mereka liburan. Laila pun segera berlari pelan menuju kamarnya. Saat akan menaiki tangga dia berpapasan dengan Ridho yang tersenyum ke arahnya. Ridho pun dengan pelan menggerakkan bibirnya ke arah Laila. Rasanya gerakan bibir Ridho terlihat seperti mengucapkan kata “tolong”. Laila yang melihat hal itu pun hanya mengangguk. Sesampainya di kamar dia segera mengambil kertas dan pulpen, berniat menulis seuatu si kertas itu. Laila sempat bingung dengan apa yang akan dia tulis. Lalu dia ingat sebuah kata dari negeri asal ibunya yaitu Jepang yang masih dia ingat, yaitu tasukette, yang memiliki arti tolong. Karena ibunya mempunyai darah campuran Jepang sudah sewajarnya jika Ibu Laila mengerti bahasa Jepang. Laila pun juga sama, tapi itu hanya beberapa kata saja yang dianggao Laila penting. Itu karena Laila sendiri tidak begitu tertarik dengan bahasa Jepang. Laila pun. Juga ikut menyusun sebuah kalimat agar bisa menutupi kata sebenarnya yang ingin dia tulis. Dengan sedikit terburu-buru, surat itu pun akhirnya jadi. Meskipun ada coretan yang terlihat cukup banyak, tpi setidaknya masih bisa terbaca. Laila pun bergegas pergi keluar, menghampiri rumah tetangganya agar mau dititipi surat untuk teman sekelasnya. Dia tidak peduli siapa yang akan datang untuk mengambil kertas itu, yang terpenting adalah orang dari kelasnya lah yang akan datang dan mengambil surat itu. Laila berpesan agar surat itu diberikan kepada siswa yang berseragam sama dengannya dan datang untuk mencari dirinya. Setekah5 itu Laila pun segera pulang. Entah kenapa kali ini dia merasakan sesuatu yang tidak enak. Ridwan yang mulai bersikap aneh pun sudah membuatnya pusing, kini melihat sosok Ridwan yang berada di mobil yang dia pesan untuk berlibur pun rasanya seperti kepala yang dia kenakan ingin meledak. Laila pun juga tidak bisa meminta ibunya untuk membatalkan liburan hanya dengan alasan sepele seperti itu, karena ide liburan ini adalah dari dirinya sendiri dan tanggal untuk pergi pun Laila sendiri yang memilih. Jika dia membatalkan dengan alasan yang terkesan aneh pasti akan ditolak mentah mentah. Laila pun sudah minum obat penurun panas, ibunya pun sudah memprediksi Laila akan sembuh besok jadi itu semua sebenarnya sudah sulit. Bahkan dia pun tidak bisa berpura-pura untuk sakit karena berbohong dan akting bukanlah keahliannya. Melihat kondisinya yang sulit Laila hanya pasrah menunggu apa yang akan terjadi besok. Melihat Laila yang kesulitan, Ridho yang sedari tadi melihat tingkah Laila pun hanya bisa tersenyum menatap ke arah Laila. “Tenang saja, pasti akan ada yang menolong kita,” ucap Ridho pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD