CURIGA

1577 Words
“Dimana, Kak Ridwan mendapat alamat Laila?” Muthia mulai mencurigai Ridwan, bagaimana mungkin bisa Ridwan tau dan memberikan alamat Laila begitu mudah. “Dimana? Tentu saja diberitahu Laila,” jawab Ridwan. “Sudah lah, nggak usah pikirin itu. Sekarang kamu sudah dapat alamat Laila, tergantung bagaimana kamu akan menggunakannya.” Muthia terdiam, memikirkan yang dikatakan Ridwan barusan. Seingat dia Laila tidak mungkin memberikan alamatnya secara sembarangan, bahkan dirinya pun tidak diberitahu oleh Laila soal alamat rumahnya. Semakin ke sini Muthia merasa Ridwan semakin mencurigakan. “Kalau gitu aku pergi dulu, aku masih ada urusan,” pamit Ridwan. “Tunggu,” tahan Muthia. “Aku selalu penasaran, apa, Kak Ridwan tidak sekolah? Karena seingatku, Kak Ridwan bilang kalau kakak selisih dua tahun. Bukankah itu artinya, Kak Ridwan masih SMA?” “Gimana ya?” Ridwan menahan ucapannya. “Rahasia.” Ridwan pun melambai dan segera pergi meninggalkan Muthia yang masih duduk. Muthia hanya balas melambai. Kemudian dia melihat alamat di kertas itu. Alamat yang dia pegang persis seperti yang pernah dia lihat saat meminta Fuse untuk melacak Laila. Dia pun kembali menyebrang dan kebetulan ada Angkutan umum yang mengarah ke rumah Laila. Tanpa pikir panjang Muthia segera menaiki angkot itu. Tak butuh waktu lama, Muthia segera turun dari angkot. Sekarang dia hanya perlu berjalan sedikit agar bisa sampai ke rumah Laila. Pikiran Muthia memikirkan banyak hal. Apa yang akan dia katakan saat bertemu temannya nanti, bagaimana sikapnya, itu semua dipikirkan Muthia. Muthia lalu sampai di sebuah rumah yang cukup sederhana. Catnya berwarna hijau dengan daun pintu berwarna coklat. Kesannya seperti rumah yang sudah ditinggali cukup lama dan lama tak direnovasi, tapi kondisinya masih bagus. Saat sudah di depan pagar, Muthia bingung apa yang harus dia katakan saat Laila bertanya dari mana dia mendapatkan alamat rumahnya. Hal itu menambah beban pikiran Muthia. Tapi setelah pikir panjang Muthia pun menghilangkan semua ragu dan mulai memanggil nama Laila. “Laila,” panggil Muthia keras. Tak ada sahutan. Muthia memanggil lagi untuk ke dua kalinya dan tidak ada sahutan. Begitu pun juga yang ke tiga kalinya. Muthia mulai putus asa. Tampaknya Laila dan seluruh keluarganya tidak ada di rumah. Muthia memutuskan untuk pulang saat tiba-tiba ada orang yang menyapanya. “Temannya Lela ya?” tanya orang itu. “Lela?” “Laila maksudnya.” Ibu itu tiba-tiba mengeluarkan sebuah amplop dan memberikannya kepada Muthia. “Ini titipan Laila. Katanya kalau ada yang datang pakai seragam sekolah kayak dia suruh kasih surat ini.” Muthia menerima amplop itu. Masih rapi dan belum ada robek sedikit pun. “Memangnya Laila ke mana, Bu?” “Ibu tidak tau. Tau tau dia sudah menitipkan surat itu dan langsung pergi sama keluarganya.” Muthia melihat ke amplop itu. Lagi lagi dirinya menerima sebuah surat, pertama dari Ridwan dan sekarang dari Laila. “Kalau begitu makasih ya, Bu.” Ibu itu pun hanya tersenyum dan pamit untuk pergi. Muthia pun memutuskan untuk pulang dan membuka surat itu di rumah. Dia penasaran, bukan hanya tentang isi amplop itu tapi juga dengan keadaan temannya. ∆∆∆ “Jadi bagaimana sekarang?” tanya Epa begitu mendapat penjelasan dari Fuse. Fuse hanya dia tak bersuara, sementara itu Bintang hanya mengangkat bahunya. “Jadi makin sulit,” ucap Fuse pelan. “Entah kenapa rasanya sulit sekali.” Epa kini sudah sampai di markas. Sekarang sudah menjelang sore yang artinya sekolah Epa sudah selesai. Sesampainya Epa di markas, bahkan belum sempat dia duduk dia sudah diberitahu berita yang tidak enak mengenai Laila, teman Muthia. Epa berusaha meredam emosinya. Fuse temannya yang sudah pergi ke markas terlebih dahulu dan mendengar informasi itu lebih dulu ternyata masih tidak melakukan apa-apa. Rasanya seperti tidak ada yang dilakukan oleh Fuse dengan benar. “Aku sudah berusaha mencari jejak mereka, tapi tetap saja sulit,” kata Bintang. “Selain itu ada lagi?” tanya Epa lagi. “Tidak ada,” jawab Fuse singkat. “Jadi sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan sedari tadi.” Nada Epa mulai meninggi. “Apa kamu tau kalau Laila itu teman baiknya Muthia, bagaimana kalau Muthia tau dan tiba-tiba kekuatannya meningkat seperti saat kakeknya meninggal?” “Epa cukup,” kata Bintang. “Kenapa untuk mencari Laila saja tidak bisa? Ke mana semua alat dan penemuan yang selama ini kamu rancang?” “Epa stop!” Titah Bintang dengan nada tak kalah dengan Epa. “Kenapa?” Bentak Epa. Tanpa Epa sadari, selama dirinya berteriak tadi ruangan tempatnya berkumpul ternyata bergetar. Kepala Fuse tertunduk, tapi dengan itu matanya pun melotot dan nafasnya pun terdengar seperti habis berlari, badannya juga bergetar hebat. Fuse terlihat shock setelah mendapat beberapa tekanan dari Epa. Bintang segera turun dari meja dan memeluk Fuse dengan , mendekap kepalanya, dan berusaha menenangkan Fuse yang sudah terlihat sangat tegang. Bintang melihat ke arah Epa dan bertanya mengenai Fuse. “Kamu belum diberitahu soal kondisi dan kekuatannya?” Epa hanya diam, tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Bintang. Kondisi apa? Bahkan dia sendiri pun tidak tahu apa kekuatan Fuse. Fuse sendiri tidak mau memberitahu apa kekuatan sebenarnya. “Melihat kamu yang diam, bisa aku artikan kalau dia belum memberitahu apapun kepadamu.” Epa masih diam. Setelah beberapa saat tubuh Fuse sudah berhenti bergetar. Epa pun berinisiatif untuk mendekati Bintang dan Fuse. “Fuse kamu baik-baik saja?” “Sebaiknya kalau kamu tidak mau terkubur hidup hidup di markas ini, segera kunci mulutmu dan pikirkan lain kali sebelum berbicara.” Epa berhenti melangkah, berusaha mencerna yang dikatakan Bintang barusan dan melihat ke sekitar. Dindingnya tampak mulai retak, seperti baru saja diterjang gempa dengan kekuatan tinggi. “Maaf Fuse, bukan maksudnya aku...” “Sudahlah. Biarkan dia tenang dulu,” ucap Bintang. Epa yang merasa bersalah segera berlari menuju pintu dan naik menuju rumah utama. Bintang yang masih bersama Fuse mengusap kepala Fuse. Pelan namun menenangkan. Perlahan nafas Fuse mulai teratur dan ketegangan tubuh Fuse yang masih terasa sedikit perlahan mulai menghilang. “Kamu sudah tidak apa-apa?” tanya Bintang saat Fuse sudah mulai sadar. Fuse hanya mengangguk. Diam mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya, berusaha untuk bernafas kembali dengan normal. “Epa kemana?” tanya Fuse saat melihat Epa tidak ada. “Dia naik ke atas,” jawab Bintang. Fuse hanya terdiam. Dia melihat ke sekeliling. Dinding yang mulai retak membuatnya semakin diam dalam kebisuan. Dia tahu itu adalah efek kekuatannya. “Sudah jangan dipikirkan,” ujar Bintang. Fuse hanya mengangguk. Dia pun bangkit dan berjalan menuju pintu dan bergegas ke rumah atas. “Kamu mau kemana?” tanya Bintang. “Menyusul Epa,” jawab Fuse singkat. Bintang tak mau melarang Fuse. Dibiarkannya Fuse menyusul Epa, sementara Bintang kembali ke mejanya, merapihkan barang barang yang berjatuhan akibat getaran hebat barusan. Fuse yang melihat Bintang tidak melarangnya segera berlari menuju ke atas. Tapi langkahnya tidak sempurna, karena tubuhnya sesekali masih bergetar dan beberapa kali juga dia hampir terjatuh. Tapi untungnya dia masih bisa menahan tubuhnya perpegangan pada dinding koridor. “Epa,” panggil Fuse. Epa hanya menengok. Dia tengah meminum segelas air putih berusaha menenangkan dirinya. Melihat Fuse yang sudah naik dari markas pun Epa langsung mengucapkan maaf. “Maaf soal tadi,” ucap Epa tiba-tiba. “Tidak apa-apa.” “Maaf. Aku tidak tau apa-apa tentangmu tapi aku malah membentakmu. Aku juga sudah menyuruhmu menggunakan kekuatanmu untuk memancing Ridwan, padahal aku sendiri tidak tau kekuatan apa yang kamu miliki.” Fuse duduk di sebelah Epa. “Memilih untuk merahasiakan kekuatanku darimu adalah keputusanku, jadi itu bukan salahmu. Lagi pula bukan hanya kamu, aku merahasiakan kekuatanku dari semua orang kecuali Bintang.” Epa hanya terdiam. Dia sebenarnya ingin menanyakan alasan Fuse menyembunyikannya, tapi Epa memilih untuk diam dan mendengarkan sampai Fuse selesai bicara “Dan soal tadi, itu aku hanya kehilangan kesadaran, tapi untungnya ada Bintang yang mau menenangkanku.” Epa hanya diam mendengar penjelasan Fuse. Dia masih tetap merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi. “Untuk Laila aku tidak tau harus bagaimana, tapi secepatnya aku akan bertindak,” ucap Fuse. “besok kita akan menemui Muthia.” “Besok?” tanya Epa. “Iya. Informasi yang kita punya sudah buntu. Sekarang sudah saatnya kita menanyai Muthia soal Laila. Muthia sahabatnya Laila kan?” Epa hanya mengangguk, dan beranjak pergi ingin menaruh gelasnya ke wastafel. Epa berniat untuk menanyai alasan Fuse menyembunyikan kekuatannya, namun saat Epa berbalik dan ingin bertanya, ucapannya terhenti oleh perkataan Fuse selanjutnya. “Kamu pasti ingin bertanya soal kenapa aku menyembunyikan kekuatanku kan? Aku memang sengaja, tapi kamu tenang aja. Suatu saat pasti aku akan memberitahumu semuanya yang ingin kamu ketahui.” Epa benar benar hancur, rasanya dia seperti tidak berguna setelah membentak Fuse di ruang markas tadi. Kini, Fuse yang ada dihadapannya seperti orang asing baginya. Terasa seperti orang yang baru saja dia kenal. ∆∆∆ hai muThia, ini aku lailA. Aku Sedang pergi berlibUr sama Keluarga, tapi sepertinya aku lupa mEmberitahumu dan pihak sekolah. bisa wakilkan aku memberiTahu mereka? Tolong ya, nanti aku bawa olEh oleh dari berlibur. ∆∆∆ Muthia menaikkan sebelah alisnya. Dia tidak mengerti sama sekali dengan kertas yang dititipkan untuk dirinya ini. “Kenapa” adalah kata yang paling banyak memenuhi kepala Muthia sekarang. Kenapa harus memberitahu sekarang? Kenapa tidak dia sendiri yang memberitahu? Kenapa dia tidak diberitahu? Semua itu memenuhi kepala Muthia, tapi sepertinya jawabannya sendiri tidak dapat dia ketahui. Lagi pula, cara menulis Laila terkesan berantakan. Seperti ada sesuatu yang ingin Laila sampaikan kepada dirinya,vtapi dia tidak tahu apa itu. “Besok sepertinya aku harus ketemu Kak Epa,” ujar Muthia. Dia pun menaruh surat itu di meja tak jauh dari tempat tidurnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD