CULIK

1702 Words
“Muthia,” panggil Bu Sri yang sedang mengajar. Muthia yang sedang melamun pun terkejut dan segera melihat ke arah Bu Sri. Bu Sri yang melihat Muthia pun memberi isyarat untuk maju ke depan, ke meja guru. “Iya, Bu?” Muthia langsung berdiri dan menghampiri meja guru. “Kamu tau kemana Laila selama seminggu ini?” tanya Bu Sri. Muthia terdiam sebentar. Bu Sri bertanya soal Laila. Benar juga, ini sudah lebih dari seminggu semenjak dia meminta bantuan Fuse untuk melacak keberadaan Laila. Sampai sekarang pun Muthia juga belum pergi berkunjung ke rumah Laila. Dia merasa berkunjung tanpa memberitahu terlebih dahulu adalah tindakan tidak sopan. “Tidak tau Bu. Dia juga tidak ada kabar sama saya.” Muthia menjawab apa adanya. Dia bisa saja berkata kalau Laila sakit, tapi sejujurnya dia pun tidak tahu sakit apa yang diderita Laila sampai harus tidak masuk lebih dari seminggu. “Ya sudah, kamu boleh duduk lagi.” Muthia hanya mengangguk lalu kembali duduk. Dia tidak tau kemana temannya pergi, jadi dia rasa dia harus kembali lagi ke Proteen dan meminta bantuan Fuse kembali. ∆∆∆ “Fuse, kamu sudah siap semuanya kan?” tanya Epa. “Sudah,” jawab Fuse singkat. Mereka sedang berada di rumah Epa. Sekarang masih pukul enam kurang dan sekarang mereka bersiap pergi ke sekolah. Fuse dengan semua barangnya yang cukup banyak terlihat kerepotan. Epa yang melihat hal itu pun hanya menggelengkan kepala dan mengambil salah satu barang Fuse. “Bilang kalau butuh bantuan.” Fuse hanya terkekeh kecil. Epa pun bersiap menaiki motor Fuse. Belum juga Epa naik, tiba-tiba ponsel Fuse berdering. Fuse segera mengangkat telepon itu yang ternyata berasal dari Bintang. “Halo?” ucap Fuse begitu panggilan terhubung. “Kamu di mana?” “Baru aja mau jalan ke sekolah. Ada apa, Bin?” “Pagi ini bisa ke markas nggak?” tanya Bintang lagi. “Hari ini aku ada praktek, Bin.” “Jadi nggak bisa ya?” “Iya.” Jawab Fuse singkat. Bintang pun terdengar sedang berpikir. Fuse juga berpikir, namun dengan cepat dia segera memberikan usulannya. “Bagaimana kalau selesai praktek aku langsung ke markas?” “Memangnya bisa begitu?” tanya Bintang ragu. “Urusan sekolah mah gampang. Lagi pula kita punya Yanti. Nanti aku suruh dia untuk pergi ke sekolah menggantikanku,” balas Fuse. “Kalau Epa?” “Aku tidak mau bolos hari ini,” Epa menolak ajakan Bintang. Lagipula, jika dia pergi maka tidak ada yang menggantikan dirinya di kelas karena Yanti sudah dipakai duluan oleh Fuse. Bintang yang mendengar jawaban Epa pun menghela lemas. “Kalau begitu hanya ada aku,” sambung Fuse. “Ya sudah, tidak apa-apa.” “Ada hal yang penting memangnya?” tanya Fuse khawatir. “Nanti saja kita bicarakan di markas,” jawab Bintang yang disusul dengan pemutusan telepon secara sepihak. “Ada apa?” Kali ini Epa yang bertanya. “Entah. Dia bilang nanti aja ngomong di markas, berarti itu sesuatu yang penting.” “Begitu,” gumam Epa. “Ya udah kalau begitu naiklah. Nanti kita terlambat.” Epa pun menaiki motor Fuse dan akhirnya mereka melaju menuju sekolah. ∆∆∆ Fuse segera memacu kendaraannya begitu dia sudah selesai dengan urusan sekolahnya. Sisa jam pelajaran yang berikutnya hanya sekedar teori belaka. Dia yakin Yanti pasti bisa menggantikan dirinya sementara waktu setidaknya sampai jam pulang sekolah. “Ada apa, Bin?” tanya Fuse begitu memasuki ruangan markas. “Berita buruk,” ucap Bintang begitu Fuse masuk. “Buruk?” “Iya buruk, bahkan tidak ada kabar baik,” tambah Bintang. “Memangnya ada apa.” Fuse pun mendekat ke arah Bintang. Bintang sedang mengoperasikan komputernya, dan di monitornya terlihat sebuah sistem yang cukup rumit sedang dijalankan Bintang. “Masih ingat dengan teman Muthia yang tidak masuk sekolah Minggu kemarin?” Fuse mengangguk pelan. Samar-samar dia mengingat anak itu. Muthia pernah memintanya untuk melacak temannya karena tidak masuk beberapa hari. Padahal menurutnya itu hal yang wajar jika dia sedang istirahat di rumah karena sakit. Bintang memutar bangkunya menghadap Fuse. Fuse yang sedang melihat monitor merubah fokusnya ke arah Bintang. “Ridwan berulah,” ujar Bintang tiba-tiba. Fuse memiringkan kepalanya. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan Bintang. “Jadi semalaman aku melacak keberadaan Laila karena aku iseng. Yang membuat ku terkejut adalah saat aku juga iseng melacak keberadaan Ridwan dari titik kemunculannya di sekitar sekolahmu dulu. Aku yakin kau akan terkejut setelah melihat catatan keberadaan keduanya selama seminggu terakhir.” Fuse memperhatikan layar monitor. Matanya tiba-tiba membulat dengan apa yang terpampang di monitor. Ternyata selama seminggu ini Ridwan berada di sekitar Laila. Bahkan saat Laila di rumahnya pun Ridwan berada tak jauh dari rumah Laila. “Ini terjadi seminggu yang lalu,” ucap Bintang. “Sepertinya secara kebetulan dia mulai membututi Laila setelah kau selesai melacak karena diminta Muthia. Kamu juga belakangan ini tidak berusaha melacak keberadaan Ridwan kan?” Fuse hanya mengangguk. Dia lupa akan hal itu. Selama ini fokusnya hanya merekrut orang dan melatih Muthia. Selebihnya dia lupa soal berusaha memperhatikan langkah Ridwan. Sekali dia lengah Ridwan pun terasa semakin berulah dan menjauh darinya. “Aku merasa dia memang sudah menunggu momen ini. Soal pembicaraan tentang pemicu kekuatan, sepertinya semenjak saat itu orang tua Muthia juga sudah mulai sering di rumah. Sepertinya pengaruh Ridwan kepada orang tua Muthia mulai dikurangi dan kini berganti ke temannya.” Badan Fuse seketika menjadi melas. Dia menopang badannya pada meja menggunakan tangan kanan, sementara tangan kirinya memegangi kepala seolah-olah sedang sakit kepala karena terlalu banyak berpikir. Ridwan, sekalinya tidak diperhatikan maka langkah yang dia ambil seperti seperti semakin tidak mudah untuk ditebak. Sekarang pun dia sudah berada di sekitar teman Muthia. “Tunggu, Bin. Itu bukan berarti Laila sudah diculik oleh Ridwan kan?” Bintang hanya terdiam, tidak menjawab apapun. Fuse yang melihat reaksi Bintang pun tahu jawaban apa yang ingin dikatakan Bintang. Badannya semakin lemas yang membuatnya pun terduduk di dekat meja. “Tidak hanya Laila, tapi seluruh keluarganya.” Mata Fuse terbelalak. Bagaimana bisa Ridwan menculik satu keluarga sekaligus. Fuse pun mempertanyakan kemungkinan hal itu terjadi. “Aku juga tidak percaya, tapi itu benar-benar terjadi. Seolah-olah mereka di hipnotis untuk mau sukarela masuk ke dalam mobil yang menculik mereka.” Fuse terkejut mendengar jawaban Bintang. Dia pun kembali melihat monitor yang secara kebetulan memperlihatkan rekaman cctv dekat rumah Laila yang memperlihatkan Laila sekeluarga masuk ke dalam mobil sambil membawa barang bawaan yang cukup banyak, seperti ingin pergi berlibur atau pergi keluar kota. “Mereka dijebak?” tanya Fuse dengan heran. “Sepertinya begitu. Kejadiannya dua hari setelah kamu yang melacaknya. Aku sempat mencari info tentang tujuan mereka, sepertinya mereka akan pergi di hari pertama Laila tidak masuk. Tapi saat itu Laila sakit dan akhirnga menunda hari keberangkatan mereka.” Fuse memukul meja, ekspresinya terlihat sangat marah. Dengan cepat dia segera mengontrol kembali amarahnya sebelum terjadi sesuatu. Dengan suara yang lembut dia meminta sesuatu kepada Bintang. “Bin. Sepertinya aku harus keluar sebentar. Sampai Epa kembali bisa kamu Carikan lokasi keluarga Laila? Aku harap kamu bisa menemukan semuanya saat Epa kembali, atau dia juga akan kecewa.” “Baiklah, akan aku lakukan, Fuse.” Fuse pun mengangguk, lalu meninggalkan Bintang yang bekerja sendirian. ∆∆∆ “Muthia,” panggil seseorang saat Muthia sedang menunggu angkot. Muthia menoleh, dan ternyata itu adalah Kak Ridwan. Muthia hanya tersenyum kecil sambil sedikit menganggukkan kepalanya. “Kamu sendiri? Laila mana?” tanya Ridwan basa-basi. “Aku juga kurang tau, Kak. Dia tidak masuk sekolah hari ini.” “Tidak masuk?” Muthia mengangguk. Ridwan bergumam. Dia melihat ke sekitar. Jalanan masih sepi, tidak ada angkot yang lewat satu pun. “Mut,” panggil Ridwan. “Mau mampir dulu ke minimarket terdekat buat beli minum?” Muthia mendengar ajakan Ridwan. Dilihatnya kondisi jalanan, hanya ada mobil pribadi yang berlalu lalang, ditambah kondisi hari yang sedang terik-teriknya. “Boleh.” Muthia menyutujui ajakan Ridwan. Mereka pun menyebrang, memasuki minimarket yang tepat berada di depan mereka tadi. “Jadi apa yang mau, Kak Ridwan bicarakan denganku?” tanya Muthia saat mereka selesai membayar. “Wah, niatku terbaca ya,” ujar Ridwan sambils sedikit tertawa. “Tidak ada hal yang penting sih, hanya sebuah obrolan kecil aja.” Muthia terdiam, matanya fokus ke arah jalanan. Muthia duduk di bangku yang sudah disediakan pihak minimarket. “Kamu tau alasan kenapa Laila tidak masuk sekolah?” Ridwan memulai obrolan. “Tidak tau,” jawab Muthia singkat. “Tidak tau? Sudah berapa hari dia tidak masuk sekolah?” “Seminggu?” “Bukankah itu sudah termasuk aneh? Kenapa kamu tidak cek saja ke rumahnya?” “Aku tidak bisa,” tolak Muthia. “Kenapa? Kamu temannya kan?” Ridwan terus mendesak Muthia. “Ya aku tidak bisa ke rumah dia,” ucap Muthia tegas. “Kenapa tidak bisa?” “Sekarang aku tanya balik, kenapa rasanya aku seperti dipaksa untuk merubah jawabanku?” tanya Muthia balik. Ridwan terdiam. Dia seperti sudah terpukul dengan keras dengan kata-kata Muthia. Muthia benar, dirinya seperti memaksa Muthia untuk merubah jawabannya. “Maaf kalau aku terlalu memaksamu,” ucap Ridwan. Suasana pun berubah menjadi canggung. Tidak ada yang berbicara semenjak penolakan keras dari Muthia. “Sebenarnya aku tidak tau di mana rumah Laila. Aku juga tidak tau kenapa dia tidak masuk seminggu sampai tidak ada kabar begini. Aku ingin sekali berkunjung, tapi tidak bisa.” Muthia meremas botol minumannya. Benda di sekitarnya tampak mulai bergetar tanpa sebab. Semakin kuat remasannya, tampak semakin kencang getaran benda di sekitar Muthia. Muthia menyadari bahwa kekuatannya aktif. Muthia berhenti meremas botol yang dia pegang. “Oh begitu,” balas Ridwan. Ridwan yang melihat kejadian tadi tampak tersenyum. “Oiya, sekarang kan hari Senin. Kenapa kamu pulang cepat? Sekarang kan masih jam satu siang.” “Aku izin. Kondisi kesehatanku menurun, aku memilih untuk pulang. Tapi tadi aku udah minum obat jadi sudah rada baikan.” Ridwan hanya mengangguk. Ridwan pun merogoh kantongnya, berusaha mengambil sesuatu dari dalam. “Ini, alamat rumahnya Laila,” kata Ridwan sambil memberikan kertas bertuliskan alamat Laila. “Kamu sudah baikan kan, jadi seharusnya tidak apa-apa jika mengunjunginya hari ini. Tapi jika tidak kuat jangan dipaksakan.” Muthia menyambut kertas. Dilihatnya kertas itu. Di sana tertulis sebuah alamat. Muthia melihat kertas itu dan wajah Ridwan bergantian. “Dimana, Kak Ridwan dapat alamat Laila?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD