HILANG

1283 Words
Muthia berjalan keluar sekolah Dengan lesu. Sudah kesekian kalinya Laila tidak masuk sekolah dan. Mungkinkah dia sakit? Atau mengalami kecelakaan yang membuatnya tidak masuk? Muthia tidak tahu harus bagaimana. Bahkan nomor Laila pun tidak bisa dia hubungi. Dalam lamunannya, tiba-tiba dia ingat sesuatu yang bisa membantunya agar mengetahui kondisi Laila. Muthia lalu mengutak-atik jam tangan pemberian Fuse. Dia sudah mencoba jam tangan itu sebelumnya setelah diberikan kertas tentang fitur jam tangan tersebut. Muthia asik sekali menekan tombol yang bisa dia tekan, sambil sesekali melihat ke depan karena dia mengoperasikan jam itu sambil berjalan. Muthia pun tersenyum, karena dia sudah menemukan apa yang dia cari. Dia pun menekan tombol ‘OK’ dan menunggu sesuatu. Tak lama terdengar bunyi seperti telepon diangkat. Ternyata dia menelepon Fuse. “Halo, ada apa, Mut?” tanya Fuse saat telepon terhubung. Muthia tersenyum saat dia berhasil menelepon fuse menggunakan jam itu. Dia pun langsung mengutarakan keinginannya untuk datang ke markas Proteen dan meminta bantuan. “Aku mau datang ke markas hari ini bisa?” “Kamu datang bukan untuk latihan kan?” “Iya, nggak kok. Malah aku mau minta tolong sesuatu.” Fuse terdiam sejenak. Tidak biasanya Muthia datang ke markas atas kemauannya sendiri, apalagi untuk minta tolong sesuatu. “Boleh saja. Tapi sepertinya kamu akan sendirian di sana. Aku dan Epa masih ada di sekolah, sementara Bintang masih ada urusan di luar. Yanti juga masih belum datang sampai sore nanti. Kamu nggak apa-apa sendirian?” Muthia berpikr sejenak. Sendirian di tempat orang? Sepertinya bukan ide buruk. Lagipula bukan ditemani beberapa orang yang benar-benar asing baginya. “Iya nggak apa-apa,” jawab Muthia. “Kunci rumahnya ada di siapa?” “Oke, kalau begitu aku akan sampai setengah jam setelah kamu sampai di depan rumah. Untuk kunci....” Fuse terdiam sejenak. Tidak ada suara dari arah Fuse. Muthia masih menunggu jawaban Fuse. Kali ini Muthia berdiri dan berhenti di depan gerbang sekolah. “Itu soal gampang. Kamu datang saja dulu, nanti telepon lagi kalau sudah sampai di depan pintu.” Telepon kemudian terputus. Fuse langsung mematikannya secara sepihak. Muthia menghela nafasnya dan bergumam sendiri. “Belum selesai ngomong udah dimatiin.” Muthia tidak mengerti apa yang sebenarnya direncanakan oleh Fuse, tapi Muthia tidak ada pilihan lain selain datang dan menelepon Fuse kembali. Dia pun segera memesan layanan Ojek Online dan mengarahkannya ke markas Proteen. Saat sampai di depan pintu. Sesuai instruksi Fuse, Muthia menelepon Fuse lagi. Sebelumnya dia sempat memutar kenop pintu beberapa kali namun pintunya benar-benar terkunci. Cukup lama Muthia menunggu Fuse untuk mengangkat teleponnya. Setelah tiga kali ditelepon akhirnya Fuse mengangkat teleponnya. “Maaf, aku sedang buru-buru. Akan segera aku buka dari sini.” Muthia hanya terdiam. Tak lama kemudian ada sesuatu seperti kamera berukuran kecil mencuat dari pintu. “Arahkan wajah kamu ke kamera itu.” Muthia mengernyitkan dahinya, tapi dia hanya menurut. Didekatkan wajahnya dan menunggu arahan selanjutnya. Cukup lama, namun setalah itu terdengar suara kunci pintu terbuka. “Sudah dibuka ya. Aku segera ke sana biar kamu nggak terlalu lama sendirian. Sampai jumpa nanti.” Telepon lagi-lagi terputus secara sepihak. Muthia merasa mulai terbiasa dengan telepon yang tiba-tiba mati tesebut. Muthia pun membuka pintu dan benar saja kali ini pintu sudah terbuka. Muthia pun masuk dan memilih untuk menunggu di ruang tengah sampai Fuse datang. ∆∆∆ Ridwan memasuki ruangan pribadi di kantornya. Dengan pikiran sedikit kacau dia mengacak-acak rambutnya lalu membanting tubuhnya langsung duduk di kursinya. Ridwan dengan cepat langsung membuka buku catatannya yayng sebelumnya berisi tentang orang-orang yang menjadi targetnya termasuk Muthia. Dia sedikit lebih lama melihat foto Muthia. Pikirannya berpikir sedemikian rupa berusaha memperbaiki rencananya yang sebelumnya sempat berantakan dikarenakan Fidel-Ibu Muthia-memilih untuk mengambil cuti setelah lembur saat Muthia berencana untuk berkumpul keluarga. Dia pun menutup buku itu, lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dari jendela dia bisa meliat banyak hal. Dalam pandangannya dia tidak sengaja melihat sepasang siswi yang berjalan bersama dan terlihat sangat akrab. Tanpa sadar, ternyata Ridwan melamun memikirkan rencana pengganti agar rencana awalnya tetap berjalan sukses. Dia melihat pasangan siswi yang sudah cukup menjauh dan terbesit sebuah ide yang cukup gemilang bagi dirinya. Senyumnya terukir lebar. Dia cukup puas dengan hasil pemikirannya yang cukup singkat itu. Dia pun kembali membuka buku yang tadi sudah dai tutup sambil sedikit bergumam ke arah foto Muthia. “Kamu tetap akan berada dalam bayangku Muthia, baik cepat atau lambat kau akan menjadi kaki tanganku.” ∆∆∆ “Hei, Muthia. Sudah menunggu lama?” Fuse masuk ke dalam rumah dengan tiba-tiba. Muthia yang sedang asik minum dan membaca bukunya pun tesedak karena terkejut dengan keharidan Fuse yang tiba-tiba. Muthia tersedak sambil terbatuk-batuk. Fuse yang melihat hal itu tertawa sebentar sambil menanyakan keadaan Muthia. “Kamu nggak apa-apa?” “Jangan bertanya saat sedang tertawa,” jawab Muthia sambil memberikan tatapan sinis. Fuse pun masih tetap tertawa kecil dan duduk di sebelah Fuse. Muthia sedikit menggeser posisi duduknya dan memberikan sedikit ruang untuk Fuse agar bisa duduk. “Jadi kamu ingin minta tolong soal apa?” Fuse langsung menanyakan tentang kehadiran Muthia datang ke markas Proteen. Muthia yang merasa tenggorokannya masih tidak enak pun masih memegangi lehernya saat menjelaskan tentang Laila yang mulai sering tidak masuk sekolah. “Jadi intinya kamu ingin meminta aku untuk melacak keberadaan Laila?” Muthia sedikit mengernyitkan dahinya, merasa bukan itu yang dia inginkan. Tapi setelah berpikir sebentar Muthia mengiyakan apa yang dikatakan Fuse. “Iya, bisa jadi seperti itu.” Fuse hanya tersenyum ke arah Muthia. Dia beranjak sebentar dan kembali dengan membawa sebuah laptop dan menyalakannya. Dengan cepat Fuse mengutak-atik laptop itu dan berusaha mencari keberadaan Laila. “Kamu tau di mana rumahnya?” Muthia hanya menggelengkan kepala. Dia sama sekali belum pernah pergi ke rumah sahabatnya itu, begitu pun sebaliknya. Karena itulah alasan kenapa dia minta tolong ke Fuse agar dia bisa sekalian mengetahui alamat rumah Laila. Fuse hanya tersenyum melihat jawaban Muthia. Dia masih sibuk dengan laptopnys sampai akhirnya dia selesai dan memperlihatkan hasilnya kepada Muthia. “Dia di sini kok. Aku sudah memastikan kalau tempatnya sekarang adalah rumahnya. Kalau dia nggak masuk mungkin karena lagi sakit, kamu nggak usah overthinking gitu lah.” Fuse berusaha menenangkan Muthia. Muthia yang kini sudah tau alamat serta kondisi temannya pun merasa lega. Kini sudah tidak ada lagi yang perlu untuk di khawatirnya. Fuse hanya tersenyum melihat raut wajah Muthia yang mulai senang karena tau posisi Laila. Dia pun berdiri dan mengambil dua botol minuman dari arah kulkas. Dengan santai pun dia menaruh salah satunya di atas meja. “Aku nggak bisa tahu ya dia lagi ngapain di rumahnya?” “Aku nggak bisa sedetail itu. Ada batasan privasi untuk mengulik informasi seseorang.” Fuse menolak permintaan Muthia. Muthia tidak memaksa, karena itu benar adanya. Muthia pun memilih untuk berdiri dan bersiap untuk pulang. “Kalau begitu aku pulang dulu.” “kamu nggak mau nunggu Epa dulu?” Muthia berpikir sejenak. Tapi saat dia melihat jam dan menghitung lamanya perjalan dari markas Proteen yang cukup lama, dia pun memutuskan untuk pulang lebih dulu. “Tidak, Kak. Aku mau pulang duluan saja.” “Mau diantar?” Muthia menggeleng. “Aku sudah memesan ojek online. Jadi tidak apa-apa kok.” Fuse hanya tersenyum. Padahal baru kemarin dia datang ke sekolahnya untuk mengajaknya bergabung lalu ditolak, sekarang orang yang menolak itu bergabung sendiri dengan timnya secara sukarela. “Hati-hati.” Fuse melambai kecil saat Muthia melewati pintu dan segera dibalas juga oleh Laila. Dari jendela dia bisa melihat Muthia yang sudah duduk di jok motor sang driver. Momen ini momen yang tidak mudah terulang. Setelah Muthia menghilang dari jendela, dia segera membuka laptop itu kembali dan menemukan sesuatu yang aneh. “Eh, eh. Itu kenapa posisi Laila berubah? Apa dia berniat untuk pergi atau rekreasi keluarga?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD