“siapa?”
Epa dan Fuse serentak. Tampaknya mereka mulai tertarik. Melihat tingkah partnernya mulai tertarik, Bintang memasang senyum yang tadi sempat dia tampilkan.
“Oh, begitu rupanya. Sekarang kalian mulai tertarik.”
“Lagian kamu kan kadang suka bohong, bilangnya punya berita penting tapi sebenarnya nggak begitu penting,” ucap Epa.
“Tapi kali ini beneran kan kamu tau siapa dalam dibalik sikap orang tua Muthia berubah?” Tanya Fuse memastikan.
“Iya beneran kok, tenang saja,” jawab Bintang.
“Jadi siapa?”
Bintang menahan kalimatnya sejenak, memastikan diri dan temannya siap mendengar jawaban yang akan dia berikan. Dengan satu tarikan nafas dia memberitahu namanya.
“Ridwan,” jawab Bintang cepat.
Suasana tiba-tiba menjadi sepi. Tidak ada reaksi dari Epa maupun Fuse. Bintang juga ikut terdiam setelah menyebut nama Ridwan.
“Kenapa kalian malah diam?” Bentak Bintang setelah cukup lama mereka diam.
“Kamu perusak Bintang,” komentar Fuse.
“Iya kamu perusak,” tambah Epa.
“Apa maksudnya?”
“Kamu merusak momennya. Kamu terlalu gampang menyebut namanya, rasanya jadi gk spesial,” komentar Epa.
“Harusnya ditahan sedikit supaya terasa lebih misterius gitu,” tambah Fuse.
“Setuju. Bintang kalau disuruh mendongeng pasti hancur parah sih. Rasa spesial dari dongengnya hilang kalo Bintang yang ceritain.”
Bintang hanya diam melihat Fuse dan Epa saling bercanda. Wajah yang tadinya terlihat bersemangat berubah menjadi datar.
“Hei, kalian,” panggil Bintang. “Kenapa kita jadi bahas yang lain?”
“Memangnya tadi kita bahas apa?” tanya Fuse balik.
“Iya bahas apa?” Epa menambahkan.
Wajah Bintang mulai tertekuk ke bawah. Dia terlihat sedikit menahan emosinya atas perlakuan yang di terima. Fuse dan Epa yang melihat hal itu mulai menahan tawa. Keduanya terlihat senang sekali setelah menjahili Bintang dengan drama yang mereka buat.
Bintang sekarang terlihat kebingungan. Kenapa dua temannya tiba-tiba malah tertawa.
“Kenapa kalian tertawa?” tanya Bintang lagi.
“Nggak nggak, kami Cuma nggak menyangka aja rencana kami bisa berhasil,” jawab Epa masih tertawa.
“Rencana?” tanya Bintang heran.
“Menjahilimu. Rasanya sudah lama sekali semenjak kami berdua menjahili kamu.” Fuse tertawa semakin kencang. Terlihat sekali dialah yang sangat puas menjahili Bintang.
Fuse dan Epa masih tertawa. Cukup lama tawa mereka bisa bertahan. Setelah 5 menit berlalu, akhirnya mereka berhenti tertawa dan memulai obrolan serius.
“Sebenarnya kami sudah menduga kalau Ridwan lah yang membiayai pengobatan Muthia tiga tahun yang lalu,” kata Epa mulai menjelaskan.
“Semuanya mulai terasa masuk akal saat kami pertama kali mengenal Ridwan saat SMP dulu. Mulai dari kepindahannya ke Kota ini sampai mengapa dia mendekati Muthia.”
“Yang jadi masalah adalah kami tidak tau dana dari mana sampai dia mampu membayar pengobatan Muthia,” sambung Fuse.
“Jadi kamu tau tidak dimana sumber uang Ridwan? Atau kamu hanya sebatas tau soal Ridwan yang menolong Muthia?”
“Tentu saja aku tau,” pamer Bintang.
“Wow, bagus kalau begitu. Jadi bagaimana caranya?” tanya Fuse.
“Nggak ah, nanti kalian malah menjahiliku lagi,” tolak Bintang.
“Nggak kok, Bin. Kali ini kamu tidak ada niat untuk menjahilimu lagi,” ucap Fuse meyakinkan.
Bintang terdiam sebentar, melihat ke arah dua temannya yang tampaknya sudah mulai penasaran akan apa yang akan dia sampaikan.
“Baiklah akan kujelaskan,” ucap Bintang.
“Jadi sebenarnya aku tidak tau pasti soal dia. Sama seperti waktu SMP, identitas dia sangat sedikit yg bisa kudapatkan. Tapi ada satu hal yang membuatku mampu menemukan informasi tambahan.”
Bintang berjalan ke arah komputer dan menunjukkan kepada teman-temannya. Dia memutar sebuah rekaman yang memperlihatkan kejadian saat tiga tahun yang.
“Video ini kuambil dari salah satu cctv yang ada di rumah sakit tempat Muthia dirawat. Bisa kalian lihat apa yang dia kenakan?”
Fuse dan Epa menajamkan penglihatan mereka. Gambar yang diperbesar oleh Bintang tampak buram, tapi masih terlihat sedikit apa yang dikenakan Ridwan.
“Setelan jas,” ucap Fuse.
“Kalian merasa aneh dengan yang dia pakai?”
“Iya juga. Kalau dihitung tiga tahun yang lalu dari sekarang seharusnya dia masih berada di kelas delapan,” ujar Epa.
“Tanggal berapa kecelakaan ini, Bin?” tanya Fuse.
“28 Juni 2017,” jawab Bintang.
“Tepat saat libur kenaikan kelas,” sambung Fuse.
“Berasal dari Bandung, lalu kembali ke Bandung dengan setelan jas. Apa tidak aneh menurut kalian seukuran anak SMP menggunakan jas serapih itu? Apalagi di rumah sakit?”
Epa melemparkan opininya. Bintang dan Fuse berusaha memikirkan beberapa hal yang kemungkinan terjadi.
“Jangan jangan selama ini dia menyamar menjadi anak sekolahan?” ujar Bintang.
“Nggak mungkin. Kalau menyamar seharusnya tingginya tidak berubah. Tapi dari kelas satu sampai lulus tingginya selalu naik, seolah-olah kalau dia juga sama dengan kita dan juga ikut bertumbuh dengan kita,” bantah Epa.
“Bintang ini kalau ngasih ide suka nggak jelas,” keluh Fuse.
“Lalu apa dong? Kamu sendiri belum bersuara dari tadi.”
“Mungkin dia anak dari orang yang memiliki jabatan penting, lalu kembali ke Bandung karena ada beberapa urusan lalu tidak sengaja bertemu Muthia yang baru saja kecelakaan.”
“Opini Fuse lebih masuk akal,” komentar Epa.
“Tapi kalau begitu yang jadi masalahnya adalah, siapa orang tua Ridwan yang sebenarnya?” tambah Epa.
“Benar juga ya. Kasus dua tahun lalu itu bisa jadi dia membunuh orang tua palsunya, atau bisa jadi yang membunuh itu bukan Ridwan tapi orang lain.”
Bintang menambahkan pendapatnya. Fuse yang tampak masih berpikir pun bersuara lagi. Kali ini kalimat yang dia berikan lebih ke arah memberi tanda tanya tambahan dan sedikit menuju jejak kepada masa lalu Ridwan.
“Jika kita bisa tahu hubungan keluarga yang terbunuh di kejadian itu dengan Ridwan, dan juga mengetahui keluarga asli Ridwan, mungkin kita bisa mengetahui siapa Ridwan yang sesungguhnya.”
Mereka semua terdiam. Terlalu banyak hal yang masih kelabu. Yang mereka ucapkan hanyalah kemungkinan dan opini yang belum tentu benar.
Mereka sendiri tidak tau yang pasti tentang Ridwan. Ridwan sendiri tidak pernah menceritakan tentang dirinya sendiri kepada orang lain, jadi cukup sulit untuk mendapatkan informasi tentang Ridwan.
“Jadi bagaimana sekarang?” tanya Bintang. “Lagi-lagi kita selalu buntu saat sedang membahas Ridwan.”
Epa dan Fuse terdiam. Mereka terlihat terpukul. Pasalnya Ridwan adalah teman seangkatan mereka, tapi justru mereka sendiri yang tidak mengetahui apa-apa tentang teman mereka satu itu.
“Fuse, ayahmu tidak ada informasi tentang organisasi atau tentang ayahnya Ridwan atau apalah gitu yang bisa membuat kita lebih dekat dengan Ridwan?” tanya Epa.
“Entahlah. Ayah selalu mengalihkan pembicaraan saat sedang berbicara serius. Dia ingin membuatku mengerjakan ini semua sendirian tanpa bantuan dia.”
“Bagaimana kalau kita ke Bandung? Kita pasti bisa mendapatkan beberapa informasi,” usul Bintang.
Epa dan Fuse saling berpandangan. Seketika Epa menggeleng saat Fuse tiba-tiba mengangguk. Mereka seperti sedang melakukan telepati batin. Fuse pun diam saat Epa meletakkan jari telunjuknya di depan mulut seperti menyuruh Fuse untuk diam.
“Tidak bisa. Aku dan Fuse masih harus bersekolah sampai Jumat nanti,” tolak Epa.
“Sabtu pasti terlalu lama, sekarang masih hari Selasa. Untuk sekarang kita kumpulkan informasi yang bisa kumpulkan terlebih dahulu, lalu kita tarik kesimpulan.” Fuse pun membuka mulut memberi solusi.
“Ya sudah kalau begitu,” ucap Bintang sambil mematikan komputer. “Kalau mendadak ingin ke Bandung kalian tau aku ada di mana.”
“Iya-iya kami tau.”
Bintang pun keluar dari ruang markas, meninggalkan Fuse dan Epa yang masih duduk di bangku mereka masing-masing.
“Jadi gimana sekarang Fuse? Kita sudah tidak ada informasi lagi tentang Ridwan,” kata Epa. “Ini seperti kita mengulangi kejadian yang sama.”
Fuse terdiam. Dia juga sama bingungnya dengan Epa, tapi sepertinya Epa lebih terlihat tidak sabar. Itu terbukti dari kalimat yang dia lontarkan untuk Fuse berikutnya.
“Kenapa kamu tidak menggunakan kekuatanmu saja untuk memancing Ridwan muncul? Ridwan pasti mengincar kekuatan yang unik juga, buktinya dia mengincar Muthia.”
Fuse masih terdiam. Perlahan tangannya mulai mengepal, menahan suatu hasrat yang ingin keluar dari dalam tubuhnya. Dia pun menarik nafas yang dalam, lalu menghembusnya setelah beberapa saat.
“Aku, sudah berjanji hanya menggunakan kekuatanku ini di saat saat penting.”
Epa terdiam, dia sedikit bingung dengan yang diucapkan oleh Fuse barusan. Bukankah ini termasuk kondisi yang penting. Epa pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Fuse sendirian.
“Terserah deh,” Epa pun beranjak dari tempatnya. Dengan cepat dia berjalan menuju kamarnya meninggalkan Fuse.
“Maaf, tapi aku tidak mau membuatmu terluka dengan kekuatan monster ini.”
Fuse tertunduk, meratapi dirinya yang kini kembali menemui jalan buntu untuk mencari temannya. Ruangan yang sepi itu kini mulai menyatu dengan Fuse.
∆∆∆
Muthia datang ke sekolah saat sudah hampir siang. Dia duduk di bangku tempat biasa dia duduk. Pandangannya tertuju kepada sebuah bangku kosong tempat biasa Laila duduk. Muthia dan Laila sebenarnya tidak satu meja, melainkan terpisah. Terkadang Laila meminta teman semejanya untuk bertukar tempat duduk agar Muthia bisa duduk di sebelahnya.
Jarak tempat duduk Muthia dan Laila tidak jauh,bisa dibilang cukup dekat. Jika Muthia berada 2 meja dari paling belakang, maka meja Laila berada di paling kanan dari barisan meja, tiga meja ke depan lalu dua meja ke samping kanan, persis seperti langkah kuda pada papan catur.
Muthia terus memperhatikan kursi itu. Sesekali dia melihat ke arah pintu dan jam di dinding depan kelas. Sudah semakin mendekati jam bel berbunyi, tapi tempat Laila duduk masih belum terisi tas maupun Laila sendiri.
Semakin ditunggu, semakin Muthia berdebar-debar. Dan akhirnya bel pun berbunyi. Guru sudah masuk dan memulai pelajarannya. Muthia pun menyerah, temannya itu kini sudah dipastikan tidak masuk sekolah. Dia seyakin itu karena Laila tidak akan membiarkan dirinya terlambat. Pilihannya hanya masuk atau tidak. Laila tidak pernah memilih opsi untuk terlambat.
“Yah.... Tidak masuk lagi,” keluh Muthia pelan.