“Kamu ketemu Kak Ridwan?” tanya Muthia.
Laila hanya mengangguk. Dia tau pasti reaksi Muthia akan sedikit terkejut. Dia kemudian mengobrol sambil menulis tugasnya.
“Kapan ketemunya?”
“Kemarin, tepat setelah kamu pergi dijemput ojek online,” jawab Laila. “Dia juga nanya kamu di mana?”
Muthia terdiam. Dimana? Berarti Ridwan belum tau bahwa dirinya sudah pergi lebih dahulu, berarti yang dilihat Ridwan adalah Laila yang hanya sendirian. Bulu kuduk Muthia berdiri, sekujur tubuhnya merinding mengetahui Ridwan berusaha mencari tahu tentang dirinya.
“Terus kamu jawab apa?” tanya Muthia selidik.
“Aku nggak mau ngasih tau. Dia nanyanya terlalu maksa. Takutnya pas dia udah tau kemana ternyata malah disamperin. Sifat orang kan nggak ada yang tau.”
Muthia menghela nafas lega. Tidak salah dirinya berteman dengan Laila. Temannya tau mana info yang harus diberitahu kepada orang lain dan mana yang tidak.
“Jadi, Mut,” panggil Laila sekarang. “Kenapa kamu selalu waspada saat ada Kak Ridwan?”
Muthia mengerutkan dahinya. “Kenapa? Jelas kan karena dia orang asing.”
“Maksudku bukan yang itu. Sifat kamu saat ketemu Kak Ridwan kelewat waspada, padahal dia juga termasuk alumni di sini.”
“Entah lah. Aku juga tidak tau,” jawab Muthia. “Tapi feelingku bilang kalau aku harus waspada terhadap Kak Ridwan.”
“Feeling feeling feeling. Kenapa kamu selalu menggunakan feeling wahai Muthia Simamora?”
Muthia hanya terdiam. Dia tidak tau jawaban apalagi yang harus diberikan kepada temannya. Laila menjadi sangat menakutkan di mata Muthia saat dia sedang tidak puas. Yang terlihat sekarang adalah Laila yang tidak ramah terhadap dirinya.
“Ya sudah deh, tidak apa apa. Lagian “feeling” kamu selalu benar, jadi aku sekarang percaya sama kamu aja,” sambung Laila.
Muthia hanya mengerutkan dahi, dia tidak paham dengan yang dibicarakan Laila. Laila terlihat seperti wartawan yang tidak laku, tanya sendiri jawab sendiri.
“Bagaimana kabar orang tuamu, Mut? Sudah baikkan?” Muthia merasa temannya sudah seperti wartawan sungguhan.
“Sudah baikan kok,” jawab Muthia. “Malah sekarang aku senang karena ayahku libur setiap hari Minggu.”
“Serius? Wah bagus dong,” komentar Laila.
“Tapi aku merasa ada yang aneh,” cela Muthia.
“Mut.”
“Hhmm?” Gumam Muthia.
“Jangan bilang yang “aneh-aneh” ini feeling lagi?”
“Ya begitu deh.”
Laila memasang wajah datar saat mendengar jawaban temannya. Muthia hanya tertawa saat melihat reaksi temannya yang seperti itu.
∆∆∆
Muthia sampai di rumah saat sore hari. Dia langsung menuju ke rumahnya saat bel pulang berbunyi. Dia tidak ingin menunda-nunda lagi kepulangannya karena sekarang rasanya sangat nyaman berada di rumah.
“Aku pulang,” ucap Muthia.
Muthia membuka pintu rumah, dan ternyata rumah masih kosong, tidak ada orang satu pun di dalam rumahnya.
Ini sama persis seperti kejadian beberapa hari lalu, pintu rumah tidak terkunci artinya ada orang yang sudah datang lalu pergi lalu.
“Ibu pasti keluar sebentar,” gumam Muthia.
Dia pun segera menaruh tasnya di kamar dan bergegas pergi mandi. Setelah mandi suasana masih sepi.
Muthia memilih untuk mengisi waktu luangnya untuk mengerjakan tugas, setelah itu makan.
Hari sudah malam, waktu menunjukan pukul tujuh malam dan ibunya masih belum pulang. Tersirat wajah khawatir yang ditunjukkan Muthia.
Muthia lalu mengambil ponselnya dan menelepon Fidel. Telepon itu tidak langsung terangkat. Cukup lama Muthia menunggu sampai telepon itu diangkat.
“Ya, Mut? Ada apa?” tanya Fidel saat tersambung.
“Ibu ada dimana?” tany Muthia langsung. Tanpa basa-basi rasa khawatirnya langsung dikeluarkan begitu saja.
“Ini di depan pintu.”
Muthia segera menengok ke arah pintu. Ternyata benar, ibunya sudah ada di ambang pintu.
Muthia segera berlari menghampiri Fidel dan langsung lompat memeluk ibunya.
Fidel terkejut dengan yang dilakukan Muthia. Tapi dia pun sama, tanpa pikir panjang langsung dibalas pelukan anaknya.
“Ibu kemana? Dari aku pulang ibu udah nggak ada di rumah. Udah itu rumah nggak di kunci lagi,” keluh Muthia dalam pelukan.
“Ibu Cuma pergi sebentar kok,” jawab Fidel singkat.
“Mana ada sebentar. Pergi sore pulang malam dibilang sebentar,” rajuk Muthia. Wajah cemberutnya terlihat imut, membuat Fidel sedikit menahan tawa.
“Iya deh iya, ibu pergi lama.” Fidel pun tertawa.
“Memangnya ibu kemana kok lama?” tanya Muthia lagi.
“Kemana ya?” Goda Fidel. “Rahasia.”
“Dih kok rahasia rahasiaan mainnya,” rajuk Muthia lagi.
“Ya pokoknya ada deh.” Fidel berusaha untuk tidak menjawab pertanyaan anaknya.
“Ya sudah, ayo makan, ibu udah laper nih.”
Muthia hanya bergumam menjawab ajakan ibunya. Mereka pun berjalan menuju dapur, dengan Muthia yang masih memeluk Fidel.
∆∆∆
“Akhirnya,” teriak Bintang. “Aku berhasil mendapatkan informasi tentang kecelakaan tiga tahun yang lalu.”
Tidak ada jawaban, karena di ruangan markas hanya ada dirinya seorang. Epa dan Fuse masih dalam perjalanan menuju markas mereka.
Bintang yang tadi sudah melompat sambil mengangkat tangannya, merasa bodoh setelah melakukan hal itu, apalagi sambil berteriak.
“Mungkin seharusnya aku tidak seheboh itu,” sesal Bintang.
Dia pun mengambil ponsel dan segera menelepon Fuse.
“Hei, kamu ada di mana?” tanya Bintang spontan.
“Ini sudah sampai.” Suara Fuse terdengar dari arah pintu. Dia datang bersama Epa dengan menggunakan seragam sekolah.
“Baguslah kalau kalian sudah datang, aku punya kabar gembira,” ucap Bintang saat melihat Fuse dan Epa.
“Kabar apa?” tanya Epa. Dia langsung berjalan menuju sofa dan merebahkan diri di sana.
Fuse yang mendengar itu segera melempar tasnya entah kemana, dan berjalan menuju kulkas.”Coba kasih tau beritanya.”
“Aku tahu tentang kecelakaan Muthia tiga tahun yang lalu.”
Tidak ada reaksi meriah. Semuanya terdiam, menghela nafas panjang.
“Hhmm, begitu ya,” komentar Fuse sambil menegak air dingin dari kulkas.
“Kok begitu sih reaksinya?” protes Bintang.
“Kami terlalu lelah untuk selebrasi, Bintang.” Epa pun mulai bicara.
“Tenaga kami sudah terkuras untuk mendorong motor Fuse dari gerbang perumahan, jadi tidak ada cukup tenaga lagi untuk terkejut dengan penemuanku.”
“Kalian pakai motor butut Fuse lagi?” tanya Bintang.
“Ya mau pake apa lagi, motornya kan Cuma itu,” jawab Fuse spontan.
“Kenapa nggak bawa mobil aja? Kalian kan bisa bawa mobil semuanya.”
“SIM-nya nggak ada, Bintang. Kalaupun ada, sekolah melarang membawa mobil,” sambung Epa.
“Payah. Kalian masih sekolah sih.” Bintang berbicara dengan nada bangga.
“Ya sudah. Maksudnya soal kecelakaan tiga tahun lalu itu apa? Aku dari tadi nungguin padahal,” kata Fuse sambil menyodorkan sebotol air dingin kepada Epa.
“Jadi,” ucap Bintang bersiap.
“Tiga tahun lalu, saat Muthia kecelakaan, dia ditabrak oleh mobil sedan yang sedang melaju pelan. Kasus ini murni kesalahan Muthia karena dia masuk ke jalan secara tiba-tiba.”
“Lalu?” Komentar Fuse.
“Muthia mengalami patah tulang di bagian kaki untuk kejadian ini, dan dia dirawat selama seminggu di rumah sakit.”
“Normal ya,” ucap Epa.
“Iya, nggak ada yang spesial,” tambah Fuse.
“Aku lanjutkan dulu,” sanggah Bintang. Fuse dan Epa pun kembali diam.
“Dirawat kan memang butuh biaya yang besar. Tidak mudah untuk mendapatkan dana yang cepat agar bisa melakukan operasi untuk Muthia.”
“Dari situ aku mencari data dari rumah sakit dan menemukan sesuatu yang menarik,” jelas Bintang.
“Sesuatu?” tanya Epa penasaran.
Bibir Bintang tersenyum lebar, wajahnya dibuat sedemikian mungkin agar membuat Epa dan Fuse penasaran. Melihat wajah Bintang yang terlihat akan menunda memberikan jawaban, ekspresi Epa dan Fuse pun berubah cemberut.
“Benar. Sesuatu yang aku dapatkan adalah nama orang yang membayar biaya rumah sakit Muthia.”