“Jadi, kekuatan yang kamu, aku, dan Fuse miliki ada memiliki beberapa faktor sampai kekuatan itu aktif dan berkembang,” jelas Epa.
“Jadi sebenarnya aku tidak memiliki kekuatan ini?”
Muthia bertanya dengan polosnya. Fuse yang mendengar itu pun segera memotong pertanyaan Muthia dan memberikan penjelasan.
“Tidak, bukan seperti itu. Gampangnya dari awal kamu sudah memiliki kekuatan itu. Tapi sampai kekuatannya muncul harus ada sesuatu yang jadi pemicu agar kekuatan itu keluar dan bisa digunakan sampai sekarang.”
“Pemicu?”
“Iya pemicu. Seperti kompor gas, gampangnya kompor bisa menyala karena kenopnya diputar. Itu yang membuat kompor menyala. Kurang lebih seperti ini.”
Muthia hanya mendengar, berusaha untuk mengerti informasi yang sedang disampaikan oleh Fuse dan juga Epa.
“Karena butuh pemicu, biasanya orang-orang yang memiliki kekuatan khusus ini tidak sadar kalau mereka memiliki kekuatan itu sampai kekuatan itu sendiri muncul dari dalam diri mereka. Contohnya yang dialami Epa dan juga aku.”
“Jadi maksudnya aku termasuk orang yang tidak mengetahui tentang kekuatan ini?” tanya Muthia.
“Tergantung dari kamu sendiri. Apakah kamu mengetahui kalau kamu mempunyai kekuatan itu atau kamu baru tahu saat kekuatan itu keluar ketika terjadi sesuatu hal?”
Muthia sedikit berpikir untuk menemukan jawabannya. Sedikit samar, tapi sepertinya yang dia pikirkan kali ini adalah jawabannya yang tepat.
“Aku rasa aku ingat sesuatu. Sekitar tiga tahun yang lalu, saat aku kecelakaan di daerah sekitar Bandung aku merasakan sesuatu seperti ada yang kukendalikan tapi tidak jelas itu apa. Tapi saat itu aku juga jadi korban, jadi aku kurang mengingat kejadian setelah itu dengan jelas.”
Epa terdiam mendengar jawaban Muthia, sedangkan Fuse membandingkan seberapa jauhnya Kota Bandung.
“Kalau seperti itu berarti aku termasuk yang tidak menyadari kekuatanku?”
“Iya, kurang lebih seperti ini,” jawab Epa. “Apa kamu ingat kapan terakhir kali orang tuamu bekerja normal sebelum seperti ini?”
Muthia terdiam, berusaha mengingat kapan terakhir orang tuanya bersikap seperti yang dia inginkan.
“Kurasa sejak kecelakaan itu,” jawab Muthia.
“Semua berawal dari Bandung ya,” gumam Fuse.
“Iya, waktu itu kami sekeluarga sedang pergi rekreasi. Bisa dibilang itu liburan bersama kami yang terakhir,” jawab lagi Muthia.
“Setelah kecelakaan itu entah kenapa ibu jadi semakin sering bekerja, ayah juga jadwal kerjanya semakin banyak.”
“Ngomong-ngomong kamu banyak terlibat kecelakaan ya?” tanya Epa.
“Entahlah. Sudah terlalu sering aku kecelakaan, tapi kurasa yang terparah adalah tiga tahun lalu dan dua bulan lalu, bahkan aku sampai dilarikan ke rumah sakit. Selebihnya hanya kecelakaan kecil.”
Muthia menjelaskan riwayat hidupnya yang terdengar sedikit berbahaya. Rasanya kesialan di jalan raya semuanya tertuju kepada Muthia. Untuk saja dia diberkahi banyak keberuntungan. Setidaknya dia masih hidup sampai sekarang.
“Lalu kapan pertama kali kamu sadar kalau kamu mempunyai kekuatan telekinesis? Seharusnya tak butuh waktu lama semenjak kecelakaan itu agar kekuatan itu aktif.”
“Kekuatan ya,” kata Muthia terpotong. “Setelah kuingat ingat lagi, aku bisa menggunakan kekuatanku saat kelas 3 SD.”
“Tunggu dulu,” potong Fuse.
“Kamu kecelakaan tiga yang tahun lalu kan? Berarti itu sekitar kelas lima SD. Kenapa bisa kamu menggunakan kekuatan telekinesis saat kelas tiga SD?”
“Kalau tidak salah saat itu kakekku meninggal. Beliau orang yang paling dekat denganku dulu,” jawab Muthia.
“Aku menangis seharian di kamar. Lalu saat aku membuka mataku, ternyata benda benda di sekitarku sudah melayang. Karena tidak tau itu apa jadi aku memutuskan untuk menutup wajah dengan bantal dan berusaha melupakan kejadian itu.”
“Jadi begitu ya,” ucap Epa pelan.
“Kekuatan sebenarnya muncul saat perginya orang yang disayang. Lalu tiga tahun yang lalu ada yang tau kamu kecelakaan dan itu dimanfaatkan melalui orang tuamu.”
“Tunggu dulu. Aku masih tidak paham, kenapa melalui orang tuanya?” protes Fuse tidak paham.
“Kamu tau kan kalau faktornya tidak hanya satu. Bahkan setelah kekuatan itu muncul pun sebenarnya itu bukan kekuatan yang sebenarnya, seperti hanya sebagian kecil yang baru keluar. Saat ada faktor lain yang mendukung bisa jadi kekuatan yang sesungguhnya itu muncul.”
“Faktor apa?”
Muthia dan Fuse bertanya serentak, Fuse lebih terlihat bersemangat seolah-olah tidak mengetahui hal itu. Epa yang melihat raut Fuse memalingkan wajah Fuse yang terasa begitu dekat.
“Fuse, bisa tidak dihilangkan dulu sifat tidak sabaranmu. Aku berniat untuk memberitahu Muthia tapi kenapa kamu yang antusias,” kata Epa mulai jengkel.
“Oke oke, aku akan diam,” jawab Fuse.
Muthia tertawa kecil melihat wajah Fuse yang dipegang asal oleh Epa. Semakin ke sini interaksi ke duanya semakin dekat.
“Faktor lainnya itu apa, Kak Epa?”
“Yang paling umumnya biasanya emosional. Penyebab emosional sendiri bermacam-macam. Kalau dilihat dari kasus kamu, sepertinya ada yang memanfaatkan pekerjaan orang tuamu agar kamu merasa kesepian dan memancing peningkatan kekuatan itu.”
“Tunggu dulu.”
Fuse memotong ucapan Epa. Epa yang dipotong penjelasannya merasa tidak senang. Dia melipat tangannya di d**a sambil memasang wajah tidak senang ke arah Fuse.
“Berarti kamu pindah setelah kecelakaan itu?” tanya Fuse. Kini fokusnya sudah kembali ke arah Muthia.
“Iya. Kata ayah dia pindah tugas dan itu juga bersamaan dengan ibu.”
“Apa hubungan dengan itu wahai tuan pemotong pembicaraan.”
Epa menyindir Fuse. Fuse tidak peduli dengan ucapan Epa lalu memberikan alasannya menanyakan hal itu.
“Kalau saat itu dia pindah sekolah, otomatis dia akan kehilangan teman sekolahnya, lalu orang tuanya pindah tugas dan jadwal pekerjaan makin banyak sehingga jarang di rumahz kurang kasih sayang, lalu kesedihannya semakin menumpuk semenjak hari kepindahan sampai sekarang.”
“Dan kalian menduga-duga hal itu di depan orangnya langsung. Padahal kalian sendiri bisa menanyakannya. Kenapa harus susah susah seperti itu.”
Bintang datang memotong pembicaraan antara Fuse dan Epa. Dia tidak terlihat senang karena ketimbang mendengarkan cerita Muthia, dua orang rekannya malah lebih memilih untuk menduga-duga seolah-olah narasumber mereka tidak ada di sana.
“Tidak apa-apa, Kak Bintang. Aku juga sepertinya lebih suka melihat mereka terus menebak-nebak seperti itu. Lagian juga sebagian besar yang mereka ucapkan adalah benar. Aku pindah sekolah, aku kehilangan teman-temanku dan waktu bersama orang tuaku. Semenjak kecelakaan itu entah kenapa aku semakin ahli dalam menggunakannya meskipun hanya untuk hal hal kecil.”
“Tapi tetap saja, itu terdengar tidak sopan.”
“Jadi sekarang bagaimana?” kali ini Muthia bertanya.
Semuanya terdiam. Epa menengok ke arah Fuse, berharap Fuse sudah mendapatkan jawaban atas pertanyaan Muthia.
“Sebaiknya kita harus meningkatkan kewaspadaan kita,” jawab Fuse singkat.
Epa terkejut. Dia menunjukan ekspresi tidak puas ke arah Fuse, berharap masih ada kelanjutan dari jawaban menjengkelkan itu.
“Muthia, mulai sekarang kamu mungkin harus memperhatikan orang tuamu dari sekarang,” kata Fuse mulai menjelaskan.
“Perhatikan setiap tingkah laku mereka. Jika ada sesuatu yang aneh atau ada suatu kejadian dan kamu butuh pertolongan, kamu bisa menghubungi nomor ponselku.” Muthia mengangguk paham.
“Karena Ridwan juga sudah muncul kembali, aku yakin pasti dia punya suatu rencana, meskipun aku tidak tau apa tujuannya kali ini, tapi tujuan kita tetap sama untuk menangkap Ridwan.”
Epa mengangguk setuju. Sudah lama dia tidak bertemu dengan temannya yang suka menghilang itu.
“Ada lagi?” tanya Muthia. “Kalau tidak ada lagi aku rasa aku mau pulang. Orang tuaku belakangan sering pulang cepat jadi aku mau memanfaatkan momen ini.”
“Belakangan ini?”
“Iya, biasanya mereka selalu sibuk,” jawab Muthia.
“Apa ada yang aneh dari tingkah mereka?”
Fuse kembali menyelidiki. Rasanya sifat ingin tahunya tidak bisa berkurang sedikit pun. Bintang yang melihat hal itu pun hanya menggelengkan kepalanya.
“Kurasa tidak,” jawab Muthia. “Ah, tapi kurasa ini bisa aku katakan kepada kalian.”
“Ibuku kemarin di telepon sama seseorang. Aku tidak tau itu siapa, mungkin saja atasannya. Tapi dalam obrolan mereka membahas soal kebersamaan keluarga, dan juga ibuku akan mengambil cuti.”
Fuse dan Epa segera tahu apa yang dimaksud Muthia. Fuse dan Epa saling berpandangan, seakan-akan saling berbicara melalui raut wajah.
“Kamu memikirkan apa yang kupikirkan?” tanya Fuse.
“Sepertinya iya,” jawab Epa.
“Ada apa? Kenapa dengan kalian?” tanya Bintang.
“Sepertinya kita harus segera bertindak, karena tampaknya dalang yang membuat orang tua kamu sibuk sudah mulai bergerak,” ucap Fuse.
“Berarti yang ditelepon ibu kemarin adalah orang yang membantuku tiga tahun lalu?”
“Iya. Dan kemungkinan dia akan mulai bergerak, karena orang tuamu juga sudah mulai sering di rumah,” jawab Fuse.
“Kita harus menyusun rencana, mencegah kejadian terburuk sekali pun. Bagaimana pun juga mencegah lebih baik dibanding memperbaiki.”
∆∆∆
“Muthia,” panggil Laila.
Muthia yang baru memasuki kas segera menghampiri Laila. Dia duduk tepat di sebelah Laila yang sedang mengerjakan pr.
“Tumben datangnya siang,” ucap Laila basa-basi.
“Iya. Tadi ayahku ada sedikit masalah, untung aja belum terlambat,” jawab Muthia singkat.
“Mut,” panggil Laila lagi. Kali ini matanya memberikan kode untuk meminta pr Muthia.
“Huh, pagi-pagi sudah minta pr lagi,” gerutu Muthia.
Muthia membuka tasnya, lalu diberikannya buku itu ke Laila. “Makasih Muthia.”
Muthia hanya bergumam membalas Laila. Laila pun segera mengerjakan soal mengikuti jawaban yang tertera di buku Muthia.
“Oh iya, Mut,” panggil Laila lagi.
“Apa lagi,” jawab Muthia ketus.
“Kemarin aku ketemu Kak Ridwan, dia nanyain soal kamu.”
“Apa?”