PENYELESAIAN

1701 Words
“Muthia,” panggil Laila dengan nada ceria. Muthia yang baru saja pamit dengan ayahnya segera berbalik, dan mendapati temannya Laila yang berlari ke arahnya. Raut wajahnya yang tadi terlihat cukup datar kemudian terukir sebuah senyuman kepada temannya. “Laila,” panggil Muthia juga. Mereka berpelukan satu sama lain di depan gerbang. Putra yang melihat putrinya memiliki seorang teman bahkan sampai memeluknya pun hany bisa tersenyum. Baginya bisa memiliki teman sampai bisa berpelukan seperti itu adalah hal langka. Keduanya berpelukan cukup lama, seperti melepas rindu yang sudah lama terbentuk. Wajar saja, karena Laila sudah hampir dua Minggu tidak masuk sekolah dan bertemu dengan Muthia. “Aku kembali,” ucap Laila. “Welcome back, Laila.” Keduanya saling tersenyum. Mereka melepas pelukan lalu berjalan menuju ruang kelas. Suasana kelas masih sama seperti biasanya, tapi bagi Laila dan Muthia yang seperti ini bukanlah hal biasa. “Makasih ya kemarin sudah datang,” ucap Laila tiba-tiba, mengingatkan akan kejadian penyelamatan tempo hari. Muthia tersenyum ke hadapan Laila. “Aku datang karena kamu menitipkan surat liburan itu.” Laila tertawa mendengar balasan temannya. “Tadinya aku memang mau berlibur, tapi malah nyasar ke tempat orang.” Mereka pun tertawa bersama. Sudah lama sekali rasanya tidak seperti itu. Semenjak Laila menghilang hari-hari Muthia rasanya sangat hambar. “Kondisi kamu gimana, Mut? Sudah baikan?” tanya Laila. Muthia diam. Sungguh, sebenarnya dia ingin menyembunyikan soal kekuatannya dari teman dan orang tuanya, sehingga hanya dirinya yang tau. Tapi karena kejadian kemarin dan juga yang dia dengar dari Ridwan tentang orang tuanya, Muthia jadi tidak bisa mengelak jika ditanyai tentang kekuatannya. “Ya begitu lah, lebih baik dari kemarin,” jawab Muthia. Laila mengangguk paham. “Tidak apa-apa, Mut, aku bisa jaga rahasia kok.” Muthia hanya tersenyum kecil. Semuanya sudah terbongkar, termasuk kepada Laila. Kemarin setelah kejadian itu, Laila mendapat penjelasan dari Fuse dan Epa mengenai manusia super. Masih teringat di benak Muthia bagaimana raut wajah Laila saat diberitahukan semuanya oleh Fuse. Atas permohonan Muthia sendiri lah yang langsung berbicara dengan Laila untuk menjaga rahasia dari kekuatannya ini. Setelah kejadian itu Muthia jadi sedikit sensitif jika ada kata ‘kekuatan’ yang keluar dari mulut seseorang. Entah yang sedang di bahas kekuatan normal atau yang di luar nalar, Muthia tetap merasa risih. Sekarang yang bisa dia harapkan adalah Laila benar-benar mau menjaga rahasianya ini. Dia berharap Laila bisa berlaku sesuai yang dia harapkan sebagai seorang sahabat. Laila juga sudah dijelaskan mengenai akibat jika mencuatnya kasus yang dia alami ke publik. Dia juga sudah diminta pengertiannya agar mau tidak melaporkan kasus ini ke kepolisian biasa dan membiarkan Fuse yang menanganinya dan memastikan Ridwan mendapat ganjaran yang sesuai. Laila yang saat itu hanya diam tidak mengerti maksud dari Fuse pun hanya bisa mengangguk. Kakak Laila, Ridho pun juga setuju dan meminta Laila menyutujui hal itu juga. Laila sekarang tampak berdiam diri, sedikit terlihat sedang memikirkan sesuatu yang rumit. Kemudian dia mengatakan apa yang dia pikirkan kepada Muthia. “Eh iya, Mut, telekinesis ya? Bisa tunjukin ke aku nggak yang kamu bisa?” pinta Laila. Muthia yang mendengar permintaan Laila sedikit terkejut. Nunjukin kekuatan ke Laila? Apa maksudnya? Muthia sendiri tidak yakin mau melakukannya karena jika tidak hati-hati kekuatannya bisa ketahuan dan habislah riwayatnya. “Ini bukan dipakai untuk sembarang kondisi, Laila,” bisik Muthia. Dia berusaha membujuk Laila agar tidak menggunakan kekuatannya sekarang. “Sedikit aja.” Laila mengedipkan sebelah matanya sebagai senjata jitu agar Muthia mau mengabulkan permohonannya. Muthia menghela nafasnya. Sulit menolak permintaan Laila kalau sudah mengedip seperti itu. Dengan terpaksa Muthia harus meladeni permintaan Laila sambil memastikan bahwa tidak ada yang memperhatikan dirinya. Dengan hati-hati, Muthia mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke meja guru. Dengan sedikit menahan kekuatannya Muthia berusaha menggerakkan meja itu sepelan mungkin. “Lihat meja guru itu,” bisik Muthia. Laila segera melihat ke meja guru dengan seksama. Tiba-tiba meja guru itu bergerak mendekati pintu kelas dengan perlahan. Suara derit kaki meja yang menggesek lantai cukup menarik perhatian seluruh murid yang sudah hadir. Sontak semua siswa yang melihat hal itu tiba-tiba berteriak ketakutan, terutama anak perempuan. Suasana tiba-tiba menjadi heboh. “Itu tadi kamu yang lakuin?” Muthia hanya mengangguk pelan. Dalam hatinya ada sedikit terbesit rasa bangga karena mempunyai kekuatan ini. “Bagus dengan begini kita akan pindah kelas, atau setidaknya pelajaran pertama diganti acara rohani.” Muthia tertawa mendengar celetukan temannya. Hari-harinya bersama Laila sudah kembali. ∆∆∆ “Bagaimana dengan Ridwan?” tanya Epa saat melihat Fuse keluar dari ruang interogasi. “Dia tidak mau bicara,” jawab Fuse singkat. Dia mengacak-acak rambutnya mengingat hasil interogasinya jauh dari kata berhasil. “Interogasi memang bagian yang paling sulit,” ujar Epa. “Tapi setidaknya kita tahu kasus pembunuhan dua tahun lalu itu bukan dia pelakunya,” kata Fuse sambil berjalan. Epa segera menyusul yang berjalan menjauh. “Kamu serius?” Epa tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Rasanya seperti sia-sia melakukan penyelidikan mengenai kasus itu jika ujung-ujungnya tidak mengarah kepada Ridwan. “Iya. Dia bilang pada tanggal segitu dia sudah ada di Bandung. Berarti seharusnya dia sudah mengetahui soal Muthia sejak saat itu.” “Berarti bisa dibilang yang kasus orang tuanya Ridwan adalah kasus pembunuhan biasa?” tanya Epa lagi. “Belum bisa dibilang begitu,” jawab Fuse. “Nanti kita akan mencari informasi lagi soal kasus itu.” “Berarti harus berurusan lagi dengan kepolisian setempat ya,” keluh Epa sambil menghela nafas. “Iya, semua hasil olah TKP ada di sana. Padahal tim kita sudah sering membantu mereka, tapi kalau urusan begini pasti bakal dipersulit. Aku benci sama komisaris itu.” Epa hanya tertawa kecil mendengar keluhan Fuse dengan para polisi. Memang jika urusan yang seperti ini pasti tidak akan mudah, apalagi pada dasarnya itu masih masuk daerah yuridiksi mereka. Epa pun menepuk pundak Fuse agar makin sabar menangani kasus sekarang. Mereka pun berjalan menuju parkiran. Fuse dengan segera merogoh kantongnya untuk mengambil ponsel karena ada yang meneleponnya. “Ya? Halo?” “Kak Fuse, aku boleh ke markas?” tanya Muthia langsung. “Muthia? Sekarang bukannya masih jam pelajaran?” Fuse melihat jam tangan. Jam menunjukkan pukul 12 siang. “Sekolah pulang cepat, soalnya tadi ada kasus meja gerak sendiri,” jawab Muthia sambil menahan tawa. “Kamu memakai kekuatanmu ya?” “Bukan aku. Tadi Laila ingin aku menunjukkan kekuatanku, jadi kupakai saja sedikit.” “Maaf ya, aku ingin melihatnya sekali lagi,” ucap Laila tiba-tiba. Fuse menghela nafas. “Ya sudah duluan saja, aku masih ada urusan.” “Oke.” “Eh tunggu,” panggil Fuse saat teleponnya hampir dimatikan. “Ada apa?” tanya Muthia. “Bisa kamu ajak temanmu yang kemarin ke markas?” “Maksud, Kak Fuse aku?” Laila memotong pembicaraan lagi. Kali ini karena dia merasa ada yang membicarakannya. “Iya kamu, Laila. Ada beberapa hal yang ingin aku tanya.” “Oke, Kak Fuse,” jawab Laila dengan ceria. Setelah itu suara telepon kembali diambil alih oleh Muthia. “Ada lagi, Kak?” “Tidak ada.” “Baiklah.” Muthia segera mematikan teleponnya setelah berkata demikian. “Kenapa kamu ngundang Laila?” tanya Epa. “Ada sedikit hal yang ingin aku tanyakan. Tapi yang lebih tepat adalah aku ingin dia menjemput kakaknya dari markas.” “Oh iya, Ridho sedang ada di Proteen ya.” “Iya, katanya mau mampir hari ini,” jawab Fuse singkat. Mereka masuk ke dalam mobil. Fuse segera menyalakan mesin dan keluar dari parkiran. “Kamu mau sampai di markas jam berapa?” tanya Fuse. “Maksudnya?” “Cepat, sedang, atau lambat?” “Kalau ditentuin angkanya aja gimana?” “Kamu menantang aku?” tanya Fuse menyeringai. “Bagaimana kalau 30 menit?” tanya Epa menantang. “Boleh.” Fuse tersenyum. “Dari markas pusat sampai markas Proteen dalam waktu 30 menit sesuai aplikasi ya, Bu,” kata Fuse mengikuti driver online. “Kalau kelebihan semenit tarifnya saya potong ya.” “Ibu kok kejam.” Wajah Fuse memelas. “Jangan banyak memohon, cepat jalan.” Tanpa pikir panjang, Fuse langsung menginjak pedal gas dan melaju dengan kecepatan tinggi. “Fuse! Pelan-pelaaan!” teriak Epa terkejut. ∆∆∆ “Permisi.” Muthia masuk ke rumah utama. “Oh, Muthia. Masuk masuk,” sambut Bintang. Muthia dan Laila masuk ke ruang tengah. Di sana ada Bintang dan Ridho yang sudah duduk di sofa. “Kak Ridho? Kok ada di sini?” tanya Laila saat melihat kakaknya. “Oh Laila, kamu juga di sini,” sapa Ridho. “Aku di sini karena ingin mampir, mereka semua teman lamaku.” “Duduk lah. Epa dan Fuse sebentar lagi sampai, kita tunggu saja mereka.” Tak lama, suara deru mobil yang tiba-tiba berhenti terdengar. Suara langkah kaki yang bergerak cepat juga terdengar diikuti pintu yang dibuka dengan kasar. “Epa, pelan pelan atu buka pintunya,” ucap Ridho. “Bintang, lain kali jangan kasih mobilmu ke Fuse!” teriak Epa saat memasuki rumah. “Sensasi mobil balap?” tanya Bintang. “Pokoknya jangan kasih dia mobilmu lagi,” pinta Epa dengan wajah ketakutan. “Bintang, makasih ya mobilnya.” Fuse masuk dan melempar kunci ke arah Bintang. “Kamu,” potong Epa. “Aku nggak mau naik mobil bareng kamu lagi.” Epa langsung pergi meninggalkan ruang tengah. Semua yang melihat Epa langsung beralih pandang ke arah Fuse. “Epa kenapa Fuse?” tanya Ridho. Semuanya juga bertanya hal demikian dalam hati, sementara Bintang hanya tersenyum dalam diam seperti sudah mengetahui apa yang terjadi. “Dia minta perjalanan ke sini Cuma setengah jam, ya aku turuti,” jawab Fuse enteng. “Dari Kantor pusat ke sini?” “Iya. Memangnya kenapa?” Semuanya serentak melihat ke arah jam dinding. Jam masih menunjukkan pukul 12.25. “Jam berapa kamu jalan?” tanya Bintang lagi. “Setelah Muthia telepon tadi kami langsung jalan,” jawab Fuse. “Jam 12.” “25 menit dari Taman kantor pusat ke sini?” Fuse mengangguk bangga. “Mobil Bintang memang yang terbaik,” puji Fuse. “Pantas saja tidak ada yang mau kalau Fuse yang menyetir,” sindir Ridho. “Pantas aja masih jomblo sampai sekarang.” Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar celetukan Ridho. Fuse yang disindir pun hanya bisa ikut tertawa, mengikuti atsmosfer yang sedang dipenuhi dengan kebahagiaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD