BANGKIT

1470 Words
"Ayah mulai sekarang libur setiap hari Minggu." "Maafkan ibu atas kejadian Minggu lalu." "Kamu ayah tunggu di stan makanan ya." "Kita hari ini akan bakar-bakar." Ibu minta maaf atas kepergian Ibu Sabtu lalu." "Jaga diri baik baik ya." "Aku yakin kamu pasti bisa mengatasi masalah keluargamu." "Hati-hati ya, Muthia." ∆∆∆ Ridwan berjalan menjauhi Muthia. Dia tidak mempedulikan orang-orang yang sudah rubuh di belakangnya. Rencana cadangannya sedikit berubah sekarang. Tadinya dia rencana dia adalah membuat Muthia mengeluarkan kekuatannya secara maksimal. Tapi karena Muthia sudah pingsan duluan, dia pun berencana untuk membawa kabur dan melatihnya sendiri sampai kekuatannya sendiri keluar dan bisa dipergunakan untuk keperluannya sendiri. Belum jauh Ridwan berjalan, tiba-tiba sebilah pisau menancap di pundak Ridwan. Ridwan meringis kesakitan. Dia berbalik dan melihat tangan Muthia yang terangkat. "Aku," ucap Muthia terpotong, "aku tidak akan membiarkan kau mengatur orang-orang kesayanganku." Perlahan Muthia berdiri. Sambil terbatuk akibat tercekik tadi, Muthia masih terus berusaha berdiri, menjaga tangannya agar tetap mengendalikan pisau yang tertancap di pundak Ridwan dan membuatnya menusuk lebih dalam lagi. Ridwan mencari pisau yang tertancap di pundaknya. Dia berusaha mencabutnya sambil meringis kesakitan. Namun nyatanya mencabut pisau itu tidak mudah, karena masih dalam kendali Muthia. Dengan sekuat tenaga, Ridwan berusaha melawan kekuatan Muthia dan akhirnya berhasil melepas pisau itu meskipun sudah banyak darah yang keluar. "Dan aku tidak akan membiarkan kau mengambil kenangan yang sudah kunantikan!" Muthia berteriak saat mendekati akhir kalimat. Aura kekuatannya terpancar jelas, rambutnya yang panjang tergerai seperti tertiup angin. Semua senjata yang ada di dekat Muthia meluncur seketika ke arah Ridwan. Ridwan yang melihat hal itu tak sempat menghilang. Dengan cepat dia berlutu sambil melindungi kepalanya. Sebanyak 20 benda yang mengarah ke arah Ridwan, lima diantaranya adalah pisau yang ditinggalkan anak buah Ridwan tadi. Semua serangan Muthia mengenai Ridwan. Setelah serangan berhenti Ridwan dengan cekatan mengambil salah satu barang yang mengenainya dirinya tadi dan dilempar ke arah Muthia. Muthia segera menahan serangan itu. Namun tanpa sadar ternyata Ridwan mengambil pistol dan ditembakkan ke arah Muthia. Muthia tak sempat menghindar. Namun tiba-tiba tubuh tertarik ke belakang dan didepannya sudah ada Bintang yang menghadang peluru yang datang. "Tidak apa-apa, ada aku," ucap Bintang sambil tersenyum. 12 peluru ditembakan dan tidak ada yang meleset. Bintang tumbang kembali tepat setelah peluru terakhir ditembakkan. Melihat Bintang yang tumbang, Ridwan dengan cepat mengisi ulang pistolnya. Emosi Muthia semakin memuncak. Dia mengarahkan tangannya ke pistol yang sudah diisi ulang. Dia mengendalikan pistol yang di pegang oleh Ridwan. Ridwan yang merasa kendali atas tangannya sudah mulai hilang berusaha agar bisa mengambil kendali kembali, tapi itu semua sia-sia. Kekuatan Muthia sudah sampai batas maksimalnya sekarang. Digerakkannya pistol itu ke paha kanan Ridwan, setelah itu dengan kekuatannya Muthia menarik pelatuk itu menggunakan tangan Ridwan sendiri. Ridwan mengerang kesakitan. Dia tidak bisa menggerakkan kedua tangannya. Seluruh tubuhnya sudah dalam kendali Muthia, dia kalah dari segi kekuatan. Dengan cepat peluru yang baru diisi itu dihabiskan oleh Muthia. Targetnya adalah paha kiri dan kanan, dengan masing-masing paha menerima 6 peluru. Muthia masih merasa tidak cukup. Dia ingin membalaskan yang sudah diperbuat Ridwan kepada Bintang. Tiba-tiba, senapan yang ada ikut melayang dan mengarah ke arah Ridwan. Sembari mempersiapkan senapan yang ada di sekitarnya Muthia mengecek seluruh kantong Ridwan untuk mencari peluru cadangan yang tersisa. "Tunggu dulu, kau yakin mau melakukan ini?" tanya Ridwan dengan nada ketakutan. Gagang pisau langsung terbang dan menyumpal mulut Ridwan. "Diamlah. Tadi kau bilang ingin melihat kekuatanku kan? Kalau begitu lihat dan nikmatilah." Pengaman senapan sudah ditarik. Yang terisa tinggal menarik pelatuk dan menuntaskan target yang ada di depan mata. Kini Muthia sudah terlihat tidak seperti Muthia. Hawa kehadiran sosok orang kedua muncul dari dalam diri Muthia. Rasanya seperti dua orang yang sedang memegang senjata secara bersamaan, yang satu mengarahkan senjata dan yang satunya lagi seperti bersiap menarik pelatuknya. Ridwan yang melihat hal itu menutup matanya. Dia terlalu takut untuk melihat nasib yang akan menimpa dirinya. Ditembaki ribuan peluru yang akan menghujamnya tanpa ampun. Wajah Muthia mulai terlihat datar. Sudah tidak ada lagi amarah yang terlukis di wajahnya. Yang terlukis sekarang adalah rasa tidak peduli. "Jangan lakukan!" teriak Fuse. Secara tiba-tiba Fuse sudah berdiri menghadang di depan Ridwan, menghalangi Muthia yang sudah siap menembak. "Minggir, kau menghalangi targetku," ucap Muthia datar. "Tidak! Kamu kira sudah seberapa susah kita mencari Ridwan? Dan sekarang saat sudah bertemu kamu ingin membunuhnya?" "Minggirlah, aku ingin membalaskan semua dendamku." "Semua tidak akan selesai jika hanya begini." "Menyingkirlah dari sana, aku harus menuntaskan dendamku pribadi dan dendam Bintang," potong Muthia. "Mut," bisik Bintang pelan. "Aku tidak apa-apa." "Lihat? Tidak ada yang harus dibalas kan dendamnya. Bagaimana dengan kenangan, kenangan keluarga? Bukannya kamu ingin merasakannya?" Fuse masih berusaha menyakinkan Muthia agar tidak memulai aksi brutalnya. "Percayalah, jika kamu melakukan ini, semuanya akan jauh berbeda dari yang kamu bayangkan," ucap Fuse meyakinkan. Muthia mulai terdiam, semua senjata yang sudah siap menembak tadi dengan perlahan turun dan tergeletak di tanah. Muthia yang tadi sudah berdiri tegap kini berlutut dan tertunduk. Hawa mengerikan yang muncul dari Muthia perlahan menghilang seolah-olah pergi begitu saja. Mata Muthia berkaca-kaca. Perlahan air matanya mulai mengalir. Setiap kenangan dan setiap dukungan yang diberikan sahabatnya mulai memenuhi kepalanya. "Tenang saja, nggak harus seperti ini kok." Bintang mendekat, mengusap pundak Muthia. Muthia mulai mengurangi efek kekuatannya. Gagang besi yang ada di mulut Ridwan sudah terlepas, namun kekuatan untuk menahan tubuh Ridwan belum melonggar. "Perlahan Muthia, perlahan." "Hei," panggil Muthia. "Dimana kau sekap temanku?" Mata Ridwan hanya melirik ke pintu yang berada di sebelah kanannya. Tanpa basa-basi Muthia langsung mengarahkan senapan ke pintu itu kan menembakkan semua pelurunya sampai pintu itu terbuka. Muthia terdiam, menunggu seseorang keluar dari pintu itu. Perlahan pintu itu mulai bergerak, dan keluar seseorang dari pintu itu. Muthia melihatnya, melihat sahabatnya keluar dari pintu itu. Senyum bahagia mengetahui sahabatnya selamat terukir di bibirnya. Matanya berkaca-kaca, perlahan pipinya mulai basah dengan tangis haru yang pelan mengalir. Sahabatnya selamat, dan sepertinya tidak ada yang luka dari sahabatnya. Dia cukup senang namun juga kelelahan. Tiba-tiba Muthia kehilangan kesadaran, tubuhnya ambruk diikuti semua benda yang tadi dia kendalikan juga ikut jatuh, begitupun dengan tekanan pada tubuh Ridwan. Bintang dengan reflek segera menangkap tubuh Muthia yang jatuh. "Tenang, aku menangkapnya." Fuse yang merasa efek kekuatan Muthia mulai menghilang dengan cepat segera meringkus Ridwan, tidak ingin membiarkan targetnya pergi dan menghilang kembali. "Lepaskan aku," ucap Ridwan kesal. "Tidak akan. Setelah ini ada banyak hal yang ingin aku tanyakan soal dirimu," jawab Fuse. "Muthia!" teriak Laila saat melihat Muthia terjatuh. "Temanmu baik-baik saja," ucap Bintang. "Iya, dia pasti baik-baik saja," balas Laila. "Dia kuat, pasti baik-baik saja." Laila memeluk tubuh Muthia, lalu mulai menangis sambil memeluk tubuh Muthia. "Epa?" panggil Bintang saat melihat Epa perlahan mulai bangun. "Kamu baik-baik aja?" "Tidak apa-apa. Hanya saja, rasanya tidak kuat berdiri." Langkah Epa terhenti saat dirinya berlutut. Rasanya sakit sekali. "Kondisi tubuh kamu memang lemah ya." Bintang pun membantu Epa untuk berdiri. Kemudian ada orang lagi yang keluar dari pintu yang sama dengan Laila. Orang itu adalah Ridho. Ridho melihat sekitar, namun tidak ada yang terlihat, tapi dia bisa merasakan hawa lega yang kebanyakan keluar dari setiap orang yang ada di ruangan itu. Dia pun mengetukkan tongkat jalannya lagi memberitahu yang lain kalau dirinya juga jadi korban penculikan. "Ridho, kamu juga di sini? Jadi kamu Kakaknya Laila?" tanya Fuse saat melihat kakak Laila. "Ya begitulah. Bukannya aku sudah pernah cerita soal adik perempuanku?" jawab Ridho singkat. "Tapi kamu tidak pernah menyebutkan namanya. Matamu sehat kan? Keliatannya jalannya normal normal aja." "Jangan meledek," ucap Ridho sambil tertawa. Fuse juga sedikit tertawa mendengar balasan Ridho. Ridho juga teman seangkatan Fuse. Namun setelah kejadian buta mendadaknya, dia memutuskan untuk putus sekolah dan melakukan homeschooling. "Ah Ridho, kebetulan," ujar Bintang. "Bisa bantu kami? Sepertinya kami kekurangan orang untuk membawa mereka ke atas." Bintang juga mengenal Ridho, karena Ridho merupakan teman Fuse dan Fuse juga beberapa kali memperkenalkan Ridho dengan Bintang. "Maaf, tapi aku harus mengurus orang tuaku," kata Ridho sambil menunjuk ke arah dalam. “Bintang, jangan begitu. Dia juga jadi korban. Ngomong-ngomong mereka kenapa?" tanya Fuse. "Orang yang kamu borgol menghipnotis mereka saat bertamu Minggu lalu. Jadi mereka sekarang seperti memiliki dunia sendiri, tak peduli jika kami teriak di telinga mereka sekalipun." "Kalau begitu sebaiknya aku meminta bantuan saja ke ayah untuk bersih bersih di sini," kata Fuse. Mereka pun beranjak pergi ke atas. Mereka pergi secara berpasang-pasangan. Fuse dengan Ridwan, Bintang menggendong Muthia yang masih pingsan, dan yang terakhir Laila yang membantu Epa. Ridho ditinggal di bawah karena masih harus menunggu bala bantuan persoalan orang tuanya. "Kalau aku tidak serakah, aku pasti akan membantu kalian," ucap Ridho saat semuanya akan menaiki lift. "Aku sendiri masih bingung dengan kata-katamu, Ridho. Tapi tidak apa-apa, lain kali kita akan bertemu lagi." Ridho hanya tersenyum. Rasanya dia cukup bersyukur mempunyai teman lama seperti Fuse. Semua yang bisa melambai pun melambai. Lambaian yang diberikan bukanlah lambaian perpisahan. Suatu hari nanti mereka semua akan berkumpul. Pasti, pasti akan berkumpul kembali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD