MENCARI

1861 Words
“ka-kamu serius?” tanya Epa. Bintang mengangguk tanpa bersuara. Dia berjalan menuju mejanya dan segera mengoperasikan komputernya, mengetik beberapa kata di keyboard lalu menunjukkan layar monitor kepada semuanya. “Coba kalian perhatikan baik baik dari surat itu,” kata Bintang. Epa dan Fuse menurut. Muthia pun juga ikut mendekatkan pandangannya menuju monitor. “Di sana dia menulis tanpa menggunakan aturan menulis yang benar, itu udah terlihat dari huruf kapital yang ngacak.” Epa dan Fuse bergumam. “Dari situ coba kalian susun huruf yang dijadikan kapital dan kata apa yang terbentuk.” “Tasukete?” jawab Fuse. “Benar. Dan tasukete dalam bahasa Jepang artinya adalah ‘tolong’.” Epa dan Fuse terdiam. Sementara Muthia yang tadinya masih yakin dengan teori ‘berlibur’, mendadak mematung tak bersuara. Dia sadar bahwa ternyata surat itu adalah sebuah surat minta tolong dari Laila untuk dirinya. “Mut?” panggil Epa. “Ja-jadi Laila benar-benar diculik?” tanya Muthia terbata-bata. Tangannya ikut gemetar sambil mengucapkan kata-kata tadi. “Iya, dan aku sekarang sedang mencoba untuk mencari Laila lagi.” Bintang mengetik dengan cepat, tatapan matanya tak perpindah sedikit pun dari monitor. Mata dan jarinya bergerak dengan selaras dan sangat cepat, sehingga tidak ada yang berani untuk mengangguk konsentrasi Bintang. “Jadi Laila beneran diculik?” Muthia mengulang lagi kata-katanya barusan. Muthia masih shock dengan kabar temannya diculik. “Iya. Sepertinya Laila menggunakan kertas itu untuk memberitahumu. Mungkin dia menggunakan bahasa Jepang agar tidak diketahui orang lain,” jelas Epa. “Tapi dia bisa menitipkan surat itu ke tetangganya. Kenapa dia sampai harus membuat kalimat seperti? Aku merasa seperti...” Muthia menutup wajahnya dengan tangan, berusaha menahan isak tangis. Perlahan tapi pasti, air matanya tak mampu dibendung di lagi. Epa mendekat, menghampiri Muthia. Epa menarik tubuh Muthia dan memeluknya. Pelukan Epa sontak membuat Muthia terkejut sedikit, namun langsung dibalas peluk oleh Muthia. Tangisnya pun mulai pecah. “Laila pasti punya alasan tersendiri kenapa harus menulis begitu. Untuk menulis surat itu pasti sudah diawasi oleh yang menculik mereka.” Epa mengusap kepala Muthia, berusaha menenangkan Muthia yang masih larut dalam kesedihannya. “Tapi aku bingung, kenapa rasanya seperti mereka terlalu longgar dalam pengawasan,” ujar Fuse tiba-tiba. Kepalanya masih tertunduk menandakan dirinya masih berusaha berpikir. “Maksudku bahkan Laila bisa menitipkan surat, bukan meninggalkan surat. Aku merasa itu sudah cukup aneh.” Epa yang mendengar hal itu juga berpikir demikian. Sambil tetap mengusap kepala Muthia, Epa berpikir bagaimana bisa Laila menitipkan surat tanpa ketahuan. “Aku tidak bisa menemukannya,” ucap Bintang tiba-tiba. “Lagi?” tanya Epa langsung. “Bukan berarti aku tidak berusaha,” bela Bintang. “Aku selalu kehilangan mereka dekat terowongan dekat gerbang tol. Di sana jarang ada cctv yang terhubung ke internet.” “Ya, aku tau kamu sudah berusaha, Bin,” tambah Fuse. “Jadi sekarang apa?” tanya Epa. Muthia masih terisak. Tapi tidak seperti tadi, sekarang sudah mulai tenang. Dengan perlahan Muthia melepaskan pelukan Epa. “Aku ke rumah Laila,” kata Muthia. “Tapi aku belum masuk ke dalam. Apa kita bisa masuk rumahnya?” Epa, Fuse, dan Bintang saling bertukar pandang. Fuse mulai tersenyum, diikuti Epa yang tampaknya mulai mengerti dengan yang ada di pikiran Fuse. Suatu ide yang cukup memungkinkan mereka lakukan tiba-tiba terbesit setelah mendengar pernyataan Muthia. “Lihatlah, Muthia. Mereka berdua sudah tersenyum. Itu artinya ada sesuatu yang mereka pikirkan agar keluar dari masalah ini,” ujar Bintang. Fuse semakin melebarkan senyumannya. Kini dia sudah terlihat seperti orang yang menemukan ide untuk menjahili orang. Fuse pun menjelaskan ide yang juga dipikiran oleh Epa secara bersamaan. “Iya, Muthia.” Fuse berdiri dari tempat duduknya. “Kita bisa masuk ke dalam rumah Laila.” Muthia hanya diam, berusaha menangkap apa yang dikatakan oleh Fuse. Apakah itu artinya mereka akan menjadi maling di rumah temannya? ∆∆∆ “Kenapa kamu menculik kami?” teriak Laila saat bertemu dengan Ridwan. Ridwan yang baru saja memasuki ruangan pertemuan pun langsung menutup telinganya. Kalimat yang sama yang sudah dia dengar beberapa kali dari mulut yang sama pun membuatnya merasa bosan. Dia pun juga memberikan jawaban yang sama persis seperti yang sudah dia ucapkan sebelumnya. “Kenapa? Padahal kamu sudah tidur di kasur empuk, makan enak nan teratur, dan kamu masih tanya kenapa? Tidak tau terima kasih.” Laila semakin kesal mendengar jawaban Ridwan, jawaban yang sama yang dia dengar seminggu terakhir, namun itu semua fakta. Dia tau yang dikatakan Ridwan ada benarnya. Dia tidur di kasur empuk, makan enak dan teratur, ada televisi, bebas ngapain aja di kamar itu. Tapi kalau terkurung di sana tanpa keluar sama sekali selama seminggu lebih bukankah itu sama saja seperti penjara? “Jadi kenapa kamu membawa ku kemari? Bukankah bisa mengobrol seperti tadi melalui speaker?” Laila bertanya sambil berusaha menahan emosinya. Ridwan yang mendengar pertanyaan baru pun membuka telinganya lagi. Dia benar-benar tidak ingin mendengar lagi pertanyaan yang sama berulang-ulang kali. “Tidak kenapa-kenapa. Aku hanya ingin menguji temanmu, itu saja,” jawab Ridwan enteng. Dia melipat tangannya di depan d**a, menunjukkan seberapa berkuasanya dia kepada Laila. “Kalau begitu kenapa kami? Dan kenapa harus Muthia?” “Umpan yang kupasang sebelumnya sudah memberontak, bahkan sudah bisa dibilang rusak. Jadi aku mengganti umpan, aku bertaruh untuk menculikmu apakah hasilnya memuaskan atau tidak. Dan tentu saja aku berharap hasil yang positif bagi diriku.” “Kau menganggap kami barang?” Emosi Laila semakin meningkat. Tangannya mulai mengepal dan dengan seketika membanting meja dengan kepalannya. Ridwan hanya sedikit terkejut, lalu kembali tenang. “Memangnya apa lagi? Mau kuanggap lebih rendah lagi di bawah barang?” Dengan seketika Laila melempar gelas berisi yang disediakan untuknya kepada Ridwan. Laila sudah mulai kehabisan kesabaran untuk meladeni Ridwan. Tak mampu menghindar, Ridwan pun terkena cipratan air dan bajunya pun basah. Ridwan yang merasa tidak terima segera menggunakan kekuatannya. Dia menghilang dan bergerak ke belakang Laila. Laila terkejut saat Ridwan tiba-tiba menghilang dari hadapannya. Dengan cepat, tanpa dia sadari Ridwan sudah menekan kepalanya ke atas meja dan mengunci pergerakan tangannya agar tidak melawan. “Kamu kira kamu sedang berbicara dengan siapa sampai berani bertindak seperti tadi?” Ridwan terlihat kesal. Dia semakin menekan kepala dan tangan Laila sampai batas yang dia mau. Laila meringis kesakitan. Tangannya tidak bisa digerakkan sama sekali dan kepalanya tak bisa diangkat. Kekuatan dia dengan Ridwan sudah tidak bisa disandingkan lagi. “Aku sudah baik memberimu tempat yang layak, membawamu serta keluargamu dengan layak, bahkan tidak membiarkan kalian terluka sedikit pun, tapi ternyata seperti ini balasannya.” “Kalau begitu kenapa kamu menculik kami? Kenapa memperlakukan kami seperti itu?” Dengan susah patah Laila berusaha bertanya lagi kepada Ridwan. Pipi kirinya yang tertahan meja membuatnya sedikit sulit untuk bicara. Bahkan untuk kalimat tadi dia harus sedikit melawan tekanan tangan Ridwan yang diberikan kepada kepalanya. “Singkatnya aku tidak seperti orang b***t yang menaruh orang di gudang pengap. Aku punya standarku sendiri. Dan juga, tujuanku bukan kalian tapi Muthia.” Ridwan melepasnya pegadangan dari Laila, dan menyerahkan Laila kepada anak buahnya. Laila yang baru bisa bernafas normal lagi pun langsung ditangkap dan dibawa oleh anak buah Ridwan. “Bawa kembali dia ke ruangan mewah itu. Dan ingat pesan saya, jangan ada lecet sedikit pun!” Kata Ridwan memberi perintah. Dia masih mempertahankan agar Laila tidak memiliki luka sedikit pun saat dibawa oleh anak buahnya. “Dan satu lagi Laila,” ucap Ridwan. “Cobalah seperti abangmu yang tetap nurut meskipun tidak ku hipnotis. Aku sudah baik membebaskan kalian berdua dari pengaruh perintahku.” Laila berjalan keluar sambil memandang Ridwan. Tatapannya sama sekali tidak ada rasa senang. Dalam benaknya dia akan segera menghancurkan kepala Kakak alumninya itu. Ridwan yang melihat hal itu pun tidak bergeming sama sekali. Dia kembali duduk sambil tetap menatap ke arah Laila yang perlahan menghilang dari hadapannya. “Tentu tidak ada hubungannya jika aku melukai mereka sekarang. Tapi setelah Muthia datang melihat mereka sendiri, melukai mereka semua sudah termasuk dalam hubungan yang spesial antara kekuatan dan emosional." ∆∆∆ “Ternyata benar bisa,” kagum Muthia saat dia sudah masuk ke dalam rumah Laila. Tidak salah dia meminta bantuan kepada Fuse. “Kalau begitu kita berpencar. Siapa tau Laila meninggalkan sesuatu lagi untuk Muthia.” Epa, Bintang, dan Muthia mengangguk menyetujui perintah Fuse. Mereka mulai menelusuri setiap ruangan yang ada. Mereka semua berpencar ke seluruh ruangan lantai satu. Tak berselang lama mereka tidak menemukan sesuatu dan kembali ke titik kumpul. Setelah memberikan laporan, keempatnya sepakat untuk naik atas bersama-sama. Fuse berjalan di depan memimpin timnya, sampai akhirnya mereka menemukan pintu pertama di lantai dua. “Ini kamar Laila,” ujar Muthia saat melihat pintu yang bertuliskan nama Laila. Epa dan Muthia memasuki kamar Laila. Sementara fusa dan Bintang kembali ke lantai satu untuk mencari hal lain yang cukup menarik perhatian mereka. Rumah Laila terbilang bersih untuk sebuah rumah yang sudah ditinggalkan selama seminggu. “Sepertinya mereka memang sudah bersiap untuk liburan, tapi siapa sangka kalau ternyata mereka tidak benar-benar sampai ke tujuan,” ujar Epa. Mereka berdua mulai mengecek setiap sudut di kamar Laila. Muthia menemukan surat izin tidak masuk untuk beberapa hari yang tergeletak di atas meja. “Kurasa, Kak Epa benar,” kata Muthia sambil menunjukan surat itu kepada Epa. Epa pun mengambil surat itu dari Laila dan membacanya. Epa hanya tersenyum. Dia cukup senang setelah melihat Muthia sudah kembali semangat untuk mencari temannya. “Hei kalian, coba ke sini,” panggil Bintang dengan suara keras. Muthia dan Epa yang sedang berada di kamar segera keluar menghampiri Bintang yang sedang mengutak-atik laptopnya kembali. “Aku sudah berhasil mendapatkan rekaman cctv di rumah ini,” ujarnya saat semuanya sudah berkumpul. “Kenapa baru sekarang kamu mendapatkannya?” protes Epa. “Cctv di rumah ini tidak terhubung ke internet. Jadi aku cukup sulit untuk mendapatkan rekamannya. Aku harus bisa terhubung dengan pusat data cctv di rumah ini,” bela Bintang. “Kalau begitu ini juga sama dengan terowongan yang kamu bilang tadi di markas?” tanya Fuse. “Kurasa kali ini tidak sulit. Aku baru ingat di dekat sana ada sederetan ruko yang cukup besar yang bisa dipakai untuk menyekap orang. Aku rasa kita bisa mengecek ke sana untuk memastikan, tapi aku harus melacak cctv di sana dulu agar kita tau ruko mana yang dipakai Ridwan untuk menahan keluarga Laila.” “Kalau begitu kita sudah tau kan kemana Laila dibawa. Kita langsung ke sana saja,” ketus Muthia semangat. “Tidak semudah itu, Muthia,” kata Epa. “Kita tidak bisa mendatangi daerah itu sekarang. Lagi pula jika datang ke daerah musuh tanpa persiapan apapun, itu bukanlah skenario yang baik.” “Dan di sana juga terlalu banyak ruko, aku juga tidak mau ambil resiko sembarangan memasuki toko orang.” Mereka semua berpikir keras. Lagi-lagi mereka menemukan jalan buntu dalam pencarian Ridwan. “Bagaimana kalau kita menggunakan alatku?” tanya Fuse memberi harapan. “Benar juga, kancing baju,”ujar Epa. “Jam tangan,” kata Muthia sambil menunjukkan jam tangan yang ia kenakan. Sesaat semuanya diam, saling menatap satu sama lain lalu menatap jam tangan yang dikenakan oleh Muthia. Semuanya tampak menunjukkan senyum tanpa mengetahui sesuatu. “Idemu cemerlang juga fuse,” puji Bintang. “Kalau begitu, sudah tidak ada halangan lagi. Ayo kita cari dan selamatkan Laila.” “Ayo!!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD