MENYUSUN RENCANA

1726 Words
Dalam waktu singkat mereka sudah kembali dari rumah Laila dan duduk menyusun rencana di ruangan markas. Karena suasananya tidak sesuram sebelumnya, saat Muthia datang di jemput Bintang tadi siang. Sekarang Muthia sudah bisa melihat retakan yang terletak di dinding markas. Muthia ingat waktu dia latihan kemarin dia tidak sampai merusak sesuatu. Retakan itu membuat Muthia cukup penasaran dan menanyakna hal itu kepada Fuse. “Itu dindingnya kenapa bisa retak? Seingat aku dinding itu nggak retak sewaktu aku datang untuk latihan.” Fuse hanya diam mendengar perkataan Muthia. Bintang yang mendengar pertanyaan segera menjawab dengan singkat. “Itu ulahku. Kalau nggak salah aku melempar barbel ke situ saat kesal kemarin. Kamu merasa aneh ya sama retakannya?” Muthia hanya mengangguk pelan. Dia tidak mengerti apa itu barbel. Epa dan Fuse yang melihat Bintang berbohong hanya bisa diam. Sepertinya mereka masih ingin merahasiakan kejadian kemarin kepada Muthia. “Muthia, boleh aku minta jam tangan kamu?” Muthia hanya menurut dan melepas jam tangannya lalu diberikan kepada Fuse. Fuse menerimanya dan melihat jam tangan yang sepertinya sudah di atur beberapa kali oleh Muthia agar sesuai dengan tangan Muthia. “Kamu me-Setting sendiri jam tangan ini ya semenjak aku kasih kamu kertas fitur waktu itu?” Muthia mengangguk. “Aku sedikit merubahnya agar aku bisa leluasa memakainya di ruang kelas dan tidak mengganggu orang lain. Suara panggilan teleponnya sangat kencang, bikin telingaku sakit.” Fuse tertawa terpaksa, reaksi yang diberikan agar Muthia tidak terlalu khawatir dengan bekas retakan di dinding. Mereka pun duduk mengelilingi meja yang tadi juga mereka pakai sebelum pergi ke rumah Laila. Fuse dan Epa duduk bersebelahan sementara Muthia dengan Bintang. Yanti yang sedari tadi ada di markas hanya memerhatikan dari jauh. “Baiklah, kalau begitu kita harus mengatur ulang lagi jam tangan ini agar bisa melacak Ridwan.” Fuse segera berdiri lagi dan mengambil laptop serta beberapa peralatan yang cukup banyak dari sebuah rak di Pantry. Dia duduk kembali, memandangi sebentar jam tangan Muthia, lalu membukanya dengan obeng. Fuse terlihat cukup asik dengan pekerjaannya, sementara itu tiga orang lainnya sibuk sendiri membicarakan hal lain. “Kak Epa, kenapa dia jarang gabung dengan kita?” Muthia bertanya sambil sedikit menggerakkan jarinya ke arah Yanti. Epa sedikit melirik sebentar ke arah Yanti lalu berbalik kembali ke arah Muthia. Epa tersenyum sambil menjawab pertanyaan Muthia. “Dia itu member spesial,” jawab Epa singkat. Muthia menaikkan alisnya. Dia masih tidak mengerti dengan jawabn Epa. Bintang pun menyahut menambahkan jawaban Epa. “Kalau kamu tahu jawabannya kamu harusnya nanya ke Fuse, tapi dia lagi sibuk jadi kamu nanyanya nanti saja ketika dia sudah selesai.” Muthia masih kebingungan. Di lihatnya Fuse yang masih sibuk dengan jam tangan miliknya yang sudah dibongkar. Dia sedikit menyetel komponen jam dan memasangnya kembali agar bentuknya kembali seperti sedia kala lagi. “Sudah selesai, sekarang tinggal menyetel ulang di laptop ini.” Fuse bergumam sendirian. Bintang, Epa, dan Muthia yang melihat Fuse sedang asik kini merubah posisi duduk mereka dan mengerumuni Fuse yang masih asik bekerja. Fuse yang merasakn sesak pun mengeluhkan udara disekitarnya yang mulai terasa panas. “Kalian kenapa tiba-tiba nempel semua ke aku sih?” keluh Fuse. Ketiganya hanya saling bertatapan, lalu dengan sengaja semakin mendekatkan badan mereka ke badan Fuse yang membuat Fuse memberontak dan menggerakkan badannya sehingga ketiganya memberi jarak. “Risih amat deh.” Epa dan Muthia hany tertawa mendengar reaksi Fuse. Bintang yang masih ingin menjahili Fuse menempelkan badannya lagi. “Kita kan sahabat, benar kan, Fuse?” Fuse langsung menyerah. Jika sudah Bintang yang jahil dia tidak bisa menghentikannya sampai Bintang puas. Fuse hanya memasang wajah datar membiarkan Bintang yang sibuk mengganggunya sementara tangan dan matanya masih terus bekerja di laptop. ∆∆∆ Ridho hanya diam duduk di kursi berhadapan dengan Ridwan. Kali ini dialah yang dipanggil oleh Ridwan. Entah apa tujuan memanggil Laila dan Ridwan untuk berbicara secara empat mata. Sepertinya ada sesuatu yang menarik perhatian Ridwan bahkan sampai rela tidak membuat Ridho dan Laila dihipnotis. “Saya cukup tertarik dengan kamu. Refleks kamu terbilang seperti sudah dengan apa yang akan terjadi kedepannya. Saya rasa ketimbang membiarkanmu berlama-lama di dalam sana, bagaimana kalau kamu bergabung saja dengan saya, dengan tim saya yang akan saya buat.” “Apa tujuan dari tim yang mau kamu buat?” Ridwan tersenyum lebar, dia kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya berkeliling di sekitar Ridho. “Saya sendiri tidak tahu kekuatan apa yang kamu miliki, tapi saya tahu kalau kamu pasti tahu tentang manusia super. Akan saya beritahu, bahwa saya memiliki kekuatan untuk menghilang. Dengan kekuatan ini, dan tim yang sudah saya bentuk dari lama ini, saya akan menguasai seluruh dunia dan membuat seluruh manusia tunduk takut dengan kekuatan yang kami miliki.” Ridho hanya diam mendengar penjelasan Ridwan. Dia mengetuk tongkat jalannya beberapa kali ke lantai memecah keheningan. “Kamu mempunyai kekuatan apa? Saya jadi penasaran.” Ridho hanya diam. Dengan tetap mengetukkan tongkat jalannya secara teratur, senyumnya perlahan terukir dan menjawab pertanyaan Ridwan. “Aku tidak tahu apa yang kamu ucapkan. Tentang manusia super, kekuatan, atau apapun itu. Aku juga tidak berminat untuk masuk ke dalam kelompok yang sudah berusaha untuk membahayakan orang yang aku kenal dan aku sayang, jadi kamu bisa katakan itu kepada orang lain yang berminat.” Ridwan tersenyum mendengar jawaban Ridho. Jawaban yang cukup berani. Ridwan sangat tertarik sekali dengan sesuatu yang disembunyikan oleh Ridho. Meskipun Ridho berkata kalau dia tidak memiliki kekuatan, tapi Ridwan sangat yakin kalau sebenarnya Ridho memiliki sebuah kekuatan. Ingin sekali Ridwan mengetes apakah Ridho memiliki kekuatan atau tidak dengan menyentuh dan melihat reaksi Ridho. Namun belum sempat Ridwan melancarkan aksinya, Ridho sudah berdiri dan pamit untuk segera kembali ke tempat Laila. “Aku ingin pergi. Aku rasa tidak ada alasannya aku di sini lebih lama lagi. Lagi pula orang seperti apa yang mewawancarai korban penculikannya sendiri.” “Anda cukup berani juga.” Dengan tiba-tiba Ridho berjalan mendekat ke arah Ridwan dan menyentuh pundaknya. Dia mendekatkan mulut ke telinga Ridwan dan membisikkan sesuatu. “Aku tidak suka dianggap terlalu muda. Perlu kamu ketahui, aku sudah melewati waktu lebih lama dari siapa pun.” Ridwan tertegun mendengar ucapan Ridwan. Dia berbalik melihat yang berjalan sendiri menuju pintu yang masih dijaga oleh anak buahnya sendiri. Dia memegang telinganya dengan kondisi yang tidak percaya dengan apa yang barusan dia alami. ∆∆∆ “Selesai!” Fuse bersorak lagi, mengagetkan tiga temannya yang sedari tadi sudah bersandar pada tubuhnya. “Kamu sudah selesai dengan jam tangan itu?” tanya Epa. Fuse hanya mengangguk, lalu menjauhkan badannya dan berdiri agar bisa menjauh dari teman-temannya. “Jadi... maukah kamu menjelaskan apa yang sudah kamu rubah dari jam tangan itu, Fuse?” “Iya, jadi jam tangan ini sudah aku rubah dan aku design agar dia mampu mencari orang dengan lebih spesifik, tidak hany memberitahu bahwa disekitarnya ada manusia super, tapi juga dengan namanya. Untuk kali ini aku sudah memberikan data DNA Ridwan sehingga jika diaktifkan...” Fuse menekan sebuaj tombol yang ada di sana. Lalu tiba-tiba jam tangan itu bereaksi lalu dalam sekejab kembali seperti sedia kala. “...dia tidak akan menganggap kita sebagai manusia super yang asing!” Epa yang seperti paham dengan penjelasan Fuse menganggukkan kepalanya. Sementara Muthia dan Bintang hanya diam tak mengerti dengan apa yang mereka dengar. “Jadi maksudnya gimana, Kak?” “Jadi, jika sebelumnya kalau kamu di sekolah kamu akan mendapat pemberitahuan kalau ada manusia super di dekat kamu, sekarang jam ini tidak akan mendeteksi apapun jika itu bukan Ridwan yang berada di dekat kamu.” “Oooohhhh....” Kini gantian Muthia yang menganggukkan kepalanya. Bintang yang masih tidak mengerti meminta penjelasan lagi kepada Fuse yang tampaknya masih mampu untuk menjelaskan sesuatu. “Jadi maksudnya itu jam dikhususkan untuk mencari Ridwan saja? Bagaimana dengan manusai super lainnya? Kita membuat perangkat itu sebelumnya untuk membuat Muthia waspada dengan manusia super lainnya kan?” “Memang benar jam ini ditugaskan untuk hal itu. Tapi untuk kondisi sekarang kita harus mengfokuskan kepada pencarian Ridwan. Aku juga ingin membuat jam ini bisa mendeteksi kekuatan dan juga nama sang pemilik kekuatan, tapi untuk memberitahu nama setidaknya kita harus memiliki akses satelit. Bahkan kita pun tidak punya akses ke satelit mana pun, jadi hal itu masih kuusahakan. Untuk kali ini aku menggunakan DNA Ridwan sebagai fokus kita kali ini.” Fuse menjelaskan panjang lebar, setelah itu baru Bintang tampak setuju dan memaklumi yang Fuse jelaskan. Setelah penjelasan yang panjang itu pun mereka menyusun strategi untuk mencari Ridwan dan menyelamatkan Laila sekeluarga. “Jadi nanti setelah kita ketemu tempat persembunyian mereka, kita harus apa?” Muthia bertanya tepat setelah Fuse menjelaskan. Dia pun tampak berpikir lalu mendapatkan sebuah ide yang cukup bagus. “Karena Muthia masih cukup baru dan masih dalam pengawasan kita, maka Muthia harus kita tempatkan di posisi belakang. Aku harap aku bisa memberikan tanggung jawab itu kepadamu Epa.” Epa hanya mengangguk sambil merangkul tubuh Muthia. “Tenang saja. aku akan jadi dinding terakhir jika ada yang ingin menyakiti Muthiaku.” “Kalau begitu aku akan mengantar kalian dan menunggu kalian di minimarket terdekat.” “Kamu dan aku akan berada di garis depan melindungi mereka berdua, Bintang.” Bintang langsung terlihat lesu setelah mendengar posisinya sebagai tameng untuk dua wanita yang jelas-jelas salah satunya memiliki kekuatan yang besar. Dengan berat hati pun Bintang hanya mengangguk menyetujui rencana Fuse. “Lalu setelah itu?” tanya Epa lagi. “Nanti Bintang yang akan mendeteksi ada berapa saja orang di dalam dan apakah mereka juga memiliki kekuatan,” jelas Fuse singkat. “Aku lagi,” keluh Bintang. “Lalu Bintang akan menjemput keluarga Laila, menuntun keluarga Laila keluar dan setelah itu mengantar mereka kembali ke rumah mereka,” tambah Epa. “Lalu setelah itu Kak Bintang kembali lagi dan menjemput kita setelah kita mengalahkan Kak Ridwan,” tambah Muthia. Bintang hanya menarik nafas panjang lalu menghembuskannya perlahan sambil mengucapkan keluhannya lagi. “Aku lagi...” Muthia dan Epa tertawa mendengar keluhan Bintang. Bintang hanya memutar bola matanya melihat dua perempuan yang sedang menertawakannya. Fuse pun berdiri lagi dan menepuk tangannya beberapa kali. “Oke, rencana singkatnya seperti ini. Muthia dengan Epa, aku dengan Bintang, aku akan berusaha mengalihkan perhatian Ridwan dan di saat itu kalian harus mencari dan menyelamatkan keluarga Laila. Setuju?” “Setuju!” serentak semuanya bersorak menyetujui ide Fuse. “Untuk rencana cadangan kita akan imporvisasi saja di tempat kejadian.” Semuanya mengangguk setuju. Dengan begini, mereka semua pun segera beranjak untuk mencari keberadaan Ridwan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD