Selama perjalanan mereka tidak melakukan perbincangan yang terlalu heboh seperti saat mereka berada di markas. Sesekali Epa dan Fuse membuka topik tapi itu hanya untuk mengulangi apa yang sudah mereka rencanakan di markas.
Muthia yang duduk di depan di samping Bintang hanya diam sambil terus berharap teman serta keluarganya masih aman dan belum mengalami sesuatu yang lebih mengerikan lagi.
Bintang yang melihat Muthia merasa gelisah berusaha menenangkan Muthia dengan membisikan suatu kata penenang.
“Kamu jangan khawatir, mereka pasti akan baik-baik saja. Kita akan datang dan segera mengembalikan mereka kembali ke rumah.”
Muthia hanya tersenyum mendengar ucapan Bintang. Dia pun mengungkapkan terima kasih kepada Bintang. Bintang pun hanya membalasnya dengan memberikan senyuman juga.
Mereka akhirnya sampai di suatu kawasan yang bernama Palem Semi. Nama itu terpampang jelas di papan nama tepat di gerbang masuk. Daerah ini merupakan kawasan yang penuh dengan ruko yang cukup dekat dengan pintu masuk tol, seperti yang dikatakan Bintang sebelumnya.
“Mut, nyalakan jam tangan kamu sekarang.”
Muthia yang sedari tadi menatap keluar kaca langsung menoleh ke arah Bintang dan memberi tatapan seolah bertanya ‘bolehkah sekarang dinyalakan?’
Bintang pun mengangguk. Muthia yang paham pun langsung menekan satu tombol. Layar jam tangannya seketika berubah menjadi sebuah map berbentuk radar. Tepat di tengah radar itu adalah posisi mereka.
“Kalau ada titik hijau cepat beritahu aku ya,” kata Bintang.
Muthia hanya mengangguk. Titik hijau yang dimaksud Bintang adalah posisi Ridwan sekarang. Jadi jika titik hijau itu mulai terlihat, artinya Ridwan sudah dekat dengan mereka.
Muthia terus memperhatikan jam tangan itu, sampai akhirnya muncul sebuah titik hijau yang cukup jauh dari tengah radar. Muthia segera memberitahu Bintang, dan Bintang pun dengan sigap langsung tancap gas, menaikkan kecepatan agar bisa segera ke posisi Ridwan.
Setelah cukup lama mereka berkeliling karena ini pertama kalinya mereka menggunakan radar untuk mencari sesuatu, mereka pun akhirnya sampai di titik yang ditunjukkan oleh radar.
“Ketemu,” kata Muthia dengan semangat.
Sekarang mereka berempat sudah berhadapan dengan sebuah ruko yang tertutup rapat. Ruko itu terdapat di ruko Madrid, salah satu deretan ruko yang ada di Palem Semi.
Bintang yang turun belakangan memberikan perlengkapan kepada Fuse dan juga Epa. Fuse diberikan pistol yang memiliki kaliber kecil dan juga rompi anti peluru. Perlengkapan itu sudah ada di mobil sebelumnya dan memang disiapkan untuk kondisi seperti ini.
“Ingat ya, Bin, gunakan pistolnya kalau memang terdesak. Jangan sampai asal tembak,” titah Fuse.
Bintang hanya memberikan jempolnya seolah mengerti ucapan Fuse. Mereka berempat pun tampak sudah siap untuk masuk menerjang ke dalam markas musuh.
“Kalau begitu aku akan masuk duluan,” ucap Muthia dengan semangat. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan sahabatnya.
“Muthia tunggu,” cegah Epa, namun terlambat.
Muthia merenggangkan tangannya, bergerak sedemikian rupa seakan-akan membuka rolling door yang tertutup itu.
Fuse menepuk pundak Epa. “Biarkan dia berusaha. Setidaknya kalau masih di depan sini aku masih bisa melindunginya jika ada serangan kejutan.”
Bintang mengeluarkan pistol dari dalam tas kecilnya, bersiap untuk keadaan tak terduga lebih baik ketimbang mengatasinya.
Fuse dan Epa juga sudah bersiap. Sementara itu Muthia berhasil membuka sedikit pembatas yang memisahkannya dengan bagian dalam ruko.
“Fuse, Kak Epa bersiap.”
Mereka bertiga mendekati celah yang diciptakan Muthia. Perlahan tapi rolling door itu dibuka semakin lebar. Muthia sengaja membukanya perlahan agar semuanya tetap waspada.
Saat sudah terbuka semua, cahaya mulai masuk ke dalam. Terlihat sudah ada 5 orang dengan senjata di tangan mereka.
Dengan cepat Fuse mengambil sebuah pulpen dan menekan tombol khusus. Pulpen itu berubah menjadi tameng yang cukup luas untuk melindungi mereka bertiga.
Saat itu juga dengan bersamaan kelima orang itu menghujam mereka dengan peluru bertubi-tubi. Fuse yang tidak kuat menaruh tameng pelindung itu di tanah sebagai tumpuan.
Muthia tidak ikut berlindung, karena dia tidak berada di depan pintu, dia berada di samping pintu.
“Muthia, senjatanya,” teriak Fuse.
Muthia mengerti maksud Fuse. Dia mengangkat lagi tangannya dan berusaha menarik senapan yang digunakan lima orang itu ada terlepas dan berhenti menembak. Namun karena cepatnya peluru, bukannya berhasil Muthia justru kesakitan karena getaran dari senjatanya.
Muthia mengalihkan pandangannya. Dia melihat seperti ada kayu di belakang musuh. Muthia pun memutuskan untuk mengendalikan kayu itu.
Kayu itu terangkat, tanpa disandari oleh musuh. Satu persatu mereka semua berhasil ditumbangkan setelah dipukul belakang lehernya menggunakan kayu.
“Tadi itu hampir saja,” ujar Bintang.
“Siapa yang nyuruh kita langsung menghadang musuh seperti tadi?” tanya Fuse.
“Tidak ada. Kita sendiri tadi yang secara tak sadar berdiri di sini,” jawab Epa.
“Padahal Muthia aja bukanya dari samping,” kata Bintang sambil menunjuk ke arah Muthia.
Muthia tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka bertiga. Dia hanya bergerak ke samping karena dia ingin memberi ruang untuk mereka beraksi.
“Tidak apa-apa. Itu improvisasi.”
Mereka pun masuk. Suasana ruko itu kosong. Tidak ada siapa-siapa, maupun sesuatu. Hanya seperti ruko yang ditinggalkan.
“Apa kita salah tempat?” tanya Epa saat sadar bahwa tempat itu kosong.
“Tidak.” Fuse menekan sebuah saklar. “Hanya saja ini seperti di tempat kita.”
Bintang yang masih tetap waspada pun dengan diam diam menutup matanya sebentar. Dia ingin menggunakan kekuatannya untuk mendeteksi orang-orang yang ada di sekitar ruko itu. Setelah lumayan lama, Bintang membuka matanya kembali dan mendapati ketiga temannya menatap seolah mempertanyakan apa yang dia lakukan.
“Ehem, mereka ada di di bawah kita. Aku lupa menghitung jumlah mereka, tapi yang memiliki kekuatan super hanya ada dua orang.”
Semuanya tersenyum. Dengan cepat semuanya merespon jawaban itu dengan membuka semua pintu yang bisa dijadikan tangga atau lift menuju bawah tanah, seperti layaknya markas yang mereka punya.
Fuse yang mencari Pintu rahasia sampai ke kamar mandi pun merasa ada sesuatu yang aneh dengan pintunya. Dengan cepat, Fuse menendang pintu kamar mandi itu dengan kuat. Pintu kamar mandi pun terbuka, namun saat dilihat ternyata itu adalah lift. Mereka pun masuk ke dalam dan turun ke bawah.
“Mut,” panggil Fuse. “Bisa kamu hentikan liftnya sekarang?”
“Kurasa bisa.”
Muthia dengan sekuat tenaganya berusaha menahan laju turunnya lift. Awalnya tidak ada perubahan, karena selain bobot lift, dia juga harus ikut menahan bobot 4 orang sekaligus.
“Beraaatt!” Muthia berusaha menurunkan tangannya kembali. Semakin turun tangannya, semakin melambat laju liftnya.
“Bagus. Sekarang, Bintang, tolong buka pintu liftnya.”
Bintang menurut. Dia membuka paksa pintu lift yang masih tertutup. Ternyata saat dibuka, mereka sudah sampai di ruang bawah tanah yang jika dilihat dari bawah maka yang terlihat dari mereka berempat hanyalah lututnya saja.
“Mut, kurasa kamu sudah bisa melepasnya.”
Muthia yang terlihat kesusahan mulai melepasnya perlahan. “Oh iya ya, sudah tidak bergerak lagi.”
Fuse mengajak Muthia untuk jongkok. “Mut, liat itu. Mereka banyak. Tolong jauhkan senjata mereka.”
Muthia mengangguk. Dalam sekejap semua senjata api maupun tajam sudah berterbangan. Fuse pun menekan tombol di lift itu dan mereka bergerak turun lagi.
Kali ini pintu sudah terbuka dengan sempurna. Semua orang yang masih bingung kenapa senjata mereka melayang dikejutkan dengan kehadiran Fuse dan kawan-kawan.
Bintang keluar pertama, dia menodongkan senjata ke arah musuh. Fuse keluar setelahnya sambil menyeret tameng yang tadi dia pakai. Tameng itu berat. Sementara itu Epa dan Muthia berada di belakang.
“Pintu lift masih terbuka. Yang masih mau selamat bisa segera pergi dari sini,” ucap Fuse.
Tapi tidak ada yang bergeming. Semuanya hanya diam memelototi Fuse dan tim.
“Ini menyusahkan,” umpat Bintang.
“Mut, aku minta salah satu senjata yang kamu kendalikan.” Muthia menurunkan salah satu senjata itu.
Fuse menarik penahan dan mengarahkan senjata itu ke atas sambil menarik pelatuknya.
“Jika tidak ada yang keluar, akan kuarahkan senjata ini ke kalian!”
Semua langsung berlari keluar, memenuhi lift yang baru saja digunakan oleh Fuse. Melihat ruangan yang sudah kosong, Muthia memutuskan untuk menurunkan semua senjata itu.
“Kerja bagus, Muthia,” puji Bintang sambil memberikan jempol.
“Baiklah, kurasa itu sudah yang terakhir. Sekarang tersisa Ridwan untuk kita be...” Fuse tiba-tiba terjatuh.
Muthia terkejut ketika tiba-tiba Fuse terjatuh. Tidak hanya Fuse, Epa dan juga Bintang juga sudah terkapar lemah.
“Kerja bagus, Muthia.”
Muthia mendengar namanya disebut. Muthia segera menoleh ke sumber suara, tapi tidak ada siapa-siapa. Tapi dia yakin bahwa suaranya tepat berada di hadapannya.
“”Ridwan memiliki kemampuan untuk menghilang.” Begitu bukan yang kamu dengar?”
Perlahan, mulai terlihat wujud seseorang di hadapan Muthia. Sosok tubuh tinggi yang sudah tidak asing lagi di mata Muthia.
“Kak Ridwan?”
Ridwan tersenyum saat Muthia menyadari kehadirannya. “Selamat datang, Muthia.”
Muthia melihat ke sekeliling. Hanya tersisa mereka berdua, dan juga Fuse dan yang lainnya sudah tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Berarti dia harus melawan Ridwan sendirian.
“Jadi benar, Kak Ridwan menculik Laila?” tanya Muthia.
“Jika itu yang kamu yakini, silahkan percaya,” ucap Ridwan. “Tapi tenang saja, Laila dan keluarganya justru lebih nyaman berada di tempatku ketimbang di rumah mereka sendiri.”
“Jangan seenaknya ngomong begitu.” Muthia mengamuk.
Emosi Muthia meningkat. Suasananya sama seperti saat dulu dia mendengar kakeknya meninggal. Semua barang di sana mulai terangkat seiring emosi Muthia meningkat.
Ridwan tersenyum saat melihat Muthia emosi. “Bagus Muthia. Lagi, tingkatkan lagi kekuatanmu.”
Fuse yang masih setengah sadar merasakan kekuatan Muthia. Dia berusaha mengangkat kepalanya, tangannya berusaha untuk menjangkau Muthia.
“Mut-Muthia. Ja-jangan.”
∆∆∆
“Kamu gelisah banget keliatannya,”ketus Ridho saat merasa adiknya mondar-mandir tidak jelas.
“Tentu saja, aku berpikir bagaimana caranya untuk keluar dari sini,” jawab Laila.
“Kenapa kamu pusing soal itu? Biarin aja dulu kita di sini. Lagian di sini juga cukup enak,” ujar Ridho.
“Kenapa, Kak Ridho menurut begitu saja?” tanya Laila.
“Tidak ada alasan khusus. Hanya bersyukur karena kita tidak ikut di hipnotis seperti orang tua kita.”
Laila berdecak kesal. “Kenapa, Kakak selalu santai soal ini?”
“Laila,” ucap Ridho. “Percaya sama kakak, kita akan baik baik saja. Jika kamu ingin pulang, sebentar lagi kita juga akan pulang.”
Laila hanya terdiam mendengar kata-kata Ridho. Kini, Ridho tedengar sedikit berubah semenjak Laila menolak permintaan maafnya minggu lalu. Sekarang Laila sendiri pun rasanya ingin menarik kata-kata yang sudah dia ucapkan minggu lalu.Laila mendekat ke Ridho dan memilih duduk dekat kakaknya.
“Apa, Kak Ridho kenal sama yang namanya Ridwan?”
Ridho diam. Tidak menjawab pertanyaan Laila. Pandangannya kosong ke arah depan. Ketukan tongkat jalannya mulai terdengar berirama, mengisi keheningan yang ditimbulkan keduanya.
“Kak Ridho!” teriak Laila.
“Hah? Apa, Laila?”
“Ridwan. Kakak kenal nama itu nggak?”
“Tidak. Tentu tidak,” jawab Ridho.