MAAF

1235 Words
Muthia turun dari mobil dan melambai ke arah Bintang. Bintang hanya membalas dengan lambaian juga dan langsung memacu lagi mobilnya. Baru Muthia sadari, ternyata dia sampai di rumah cukup telat. Sekitar pukul 5.30 dia baru sampai rumah. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan dengan cepat masuk ke kamarnya. "Baru sampai, Nak?" tanya Fidel basa-basi. "Iya, Bu," jawab Muthia singkat. Muthia memang sudah tidak marah lagi dengan ibunya. Tapi rasanya canggung sekali jika harus berpapasan dengan ibunya. Fidel yang melihat tingkah aneh putrinya menyadari ada sesuatu yang mengganggu anaknya. Fidel segera menyelesaikan pekerjaannya dan menunggu putrinya di ruang tengah. Tak sampai setengah jam, Muthia sudah selesai mandi dan sudah berpakaian. Saat dia keluar dari kamar, Fidel segera memanggil namanya. “Fidel, ke sini sebentar.” Muthia terdiam. Dia berjalan menuju Fidel untuk menanggapi panggilan itu, mengambil sisi sofa yang sedikit jauh dari tempat Fidel duduk. "Ada apa, Bu?" tanya Muthia. "Nggak ada apa-apa. Duduk saja di sini," jawab Fidel. "Sudah lama kita tidak duduk bersama di sini kan." "Muthia." Muthia langsung menengok begitu namanya dipanggil. "Kamu belakangan ini kenapa?" tanya Fidel langsung. "Rasanya seperti ada yang terjadi sesuatu sama kamu. Kamu kena masalah di sekolah?" Muhtia hanya diam. Dirinya tidak ada apa-apa, terkena suatu masalah di sekolah pun tidak, yang menjadi masalahnya adalah ibunya sendiri. "Tidak, Bu, tidak ada apa-apa," jawab Muthia singkat. "Yakin?" tanya Fidel lagi. Muthia hanya menggeleng pelan. Sebenarnya dia ingin mengatakan apa yang membuatnya gelisah, tapi dia sungkan, tidak menemukan kata yang tepat untuk mengatakannya. "Kamu kalau ada masalah bisa cerita kok ke ibu. Ibu pasti akan mendengarkan." Muthia masih diam, tidak ingin mengeluarkan sepatah kata pun. Di sini Muthia benar-benar tidak ingin berkata sepatah kata pun. Dia tidak ingin menunjukkan dirinya yang emosial seperti Minggu lalu, tapi jika dia tidak mengatakannya rasa canggung yang dia alami tidak akan hilang. "Tidak, Bu, Muthia tidak ada masalah apa apa." Muthia memilih bungkam. Akan lebih baik jika ibunya sendiri yang membicarakan langsung perihal kepergiannya hari Minggu lalu. Mungkin itu akan lebih baik ketimbang dirinya yang memulai. "Ya sudah kalau tidak apa-apa, tapi kalau ada masalah jangan sungkan untuk cerita ya." Muthia mengangguk sambil tersenyum. Cukup lama mereka duduk berdua di sofa yang sama, sampai akhirnya Putra pulang dan memecah keheningan. "Oh kalian berdua sedang bersama, tidak biasanya," tutur Putra saat memasuki ruang tengah. "Kenapa begitu, Yah?" tanya Fidel sambil menengok ke arah Putra. "Biasakan kamu selalu sibuk dengan kerjaanmu sendiri di kamar," balas Putra yang lalu duduk di sebelah putrinya. "Nggak juga ah," elak Fidel. "Kamu juga nggak biasanya pulang cepat." "Aku pulang cepat demi putri tercintaku dong," tutur Putra sambil merangkum putrinya. Muthia tersenyum mendapat perlakuan yang sangat dia dambakan itu. rangkulan dari ayahnya sanggup membuat Muthia terbuai dalam setiap canda tawa yang terjadi setelahnya. Dia melihat ke arah jam, sudah menunjukan pukul sembilan malam, sudah memasuki jam dirinya untuk tidur. Tapi Muthia menolak untuk tidur. Momen seperti ini jarang dia dapatkan, dia ingin waktu lebih untuk dirinya merasakan momen ini sedikit lebih lama. "Mungkin harusnya inilah yang terjadi kemarin," gumam Muthia tanpa sadar. Fidel dan Putra mendengar gumam yang dilontarkan Muthia. Mereka sontak menatap Muthia yang masih tertawa bahagia. Muthia menyadari apa yang baru saja dia ucapkan. Suasana kembali canggung. Dia melihat jam dan ternyata sudah mau pukul 10 malam. "Ngg, aku masuk kamar dulu ya. Sudah malam, besok aku sekolah," pamit Muthia memecah keheningan. "Oh iya, tidur lah, Nak. Jangan sampai kesiangan besok," jawab Putra dengan nada riangnya. Muthia segera memasuki kamarnya, langsung melompat ke atas kasur dan menutup kepalanya dengan bantal. "Bodoh, kenapa aku keceplosan," ketus Muthia mengutuk dirinya. Momen tadi adalah momen langka baginya. Rasanya seperti momen langka yang akan terjadi setiap beribu-ribu tahun sekali. Muthia menenangkan dirinya. Setelah tenang dia mematikan lampu kamar dan memutuskan untuk tidur. "Semoga besok masih ada kesempatan," gumam Muthia pelan. ∆∆∆ Putra dan Fidel hanya diam setelah Muthia memasuki kamarnya. Suasana kembali terasa canggung bagi Fidel. "Kamu kenapa, Del?" tanya Putra membuka obrolan. "Tidak ada apa-apa," jawab Fidel singkat. "Yakin mau menjawab dengan jawaban yang sama dengan putrimu?" tanya Putra lagi. "Bagaimana kamu tau?" "Sederhana. Kalian berdua duduk bersama dan sama sama berdiam diri. Berarti kamu berusaha untuk menanyai keadaan Muthia kan?" "Yah, seperti itulah," jawab Fidel singkat. "Kamu tau dia kenapa?" "’Kenapa’ gimana maksudnya?" tanya Putra balik. "Maksudku belakangan ini bersikap aneh, berangkat terlalu pagi, pulang terlambat, tidak seperti biasanya." "Oh soal itu," gumam Putra. "Itu karena kamu." "Aku?" "Dia masih marah dengan keputusan kamu yang pergi hari Minggu kemarin," jelas Putra. "Tapi sepertinya bukan marah. Mungkin dia merasa canggung saja jika harus berpapasan dengan kamu, makanya dia selalu berusaha untuk menghindar," tambah Putra. Fidel hanya diam. Dia sedikit menyesali keputusannya waktu itu. Tapi mau bagaimana lagi, jika dia menolak pasti akan ada sesuatu yang terjadi nantinya. Fidel meletakkan kepalanya di pundak Putra. Rasa penat yang belakangan ini dia rasakan rasanya seperti tidak ada habisnya. Dan sekarang pun putri kesayangannya masih merajuk yang disebabkan oleh dirinya sendiri. "Minta maaf," jawab Putra, "minta maaf atas kepergianmu dan atas tindakanmu Minggu kemarin yang menamparnya. Sekarang sudah saatnya giliranmu.” Fidel kembali mengingat-ngingat kejadian Minggu lalu. Dia menyadari kesalahannya waktu itu. Mungkin seharusnya dia tidak semarah itu sampai menampar putri semata wayangnya. "Lain kali berusahalah untuk tidak emosi berlebih, Fidel," saran Putra. Fidel hanya mengangguk mendengar kalimat Putra. Dia mendekatkan diri ke tubuh Putra, lalu bersandar ke d**a suaminya. "Kenapa kamu bisa tau Muthia masih marah denganku, padahal kamu jarang sekali ada di rumah saat Muthia masih bangun?" "Cukup mudah. Aku kan mampu mengamati sesuatu lebih baik dari siapapun," jawab Putra sambil mengelus rambut istrinya. "Rasanya kamu seperti mengetahui semua hal di dunia ini," kata Fidel lagi. "Tidak. Aku tidak tahu segalanya, hanya tahu apa yang aku tahu," jawab Putra merendah. "Kamu selalu saja begitu, tidak pernah marah, selalu merendah, dan menghadapi semua dengan kepala dingin," puji Fidel. Putra hanya terdiam mendengar pujian istrinya. Dia senang sekali melihat tingkah istrinya yang manja ini, membuat dirinya semakin betah mengelus rambut istrinya. "Aku cinta kamu, Fidel." ∆∆∆ Hari sudah pagi, dan seperti hari sebelumnya Muthia bangun pagi sekali agar bisa berangkat lebih pagi lagi. Fidel yang sudah bangun lebih dulu dari Muthia melihat anaknya yang langsung berjalan menuju kamar mandi. "Muthia," panggil Fidel. Muthia yang baru saja ingin memasuki kamar mandi langsung mengurungkan niatnya begitu namanya dipanggil. "Ibu mau bicara sebentar," tambah Fidel. "Ada apa, Bu," balas Muthia mulai memperhatikan. "Begini," kata Fidel terpotong. "Ibu mau minta maaf soal ibu yang menampar kamu dan soal ibu yang pergi hari Sabtu kemarin." "Ibu tau Ibu, tidak seharusnya Ibu bersikap kasar seperti itu, jadi maaf." Muthia merasa lega. Ternyata ibunya mau membahas hal itu terlebih dahulu. Rasa canggung yang tadi membelenggu Muthia sekejap hilang tak bersisa. "Ibu juga minta maaf soal kepergian Ibu hari Sabtu. Mungkin seharusnya Ibu bisa lebih memohon untuk tidak lembur waktu itu." "Tidak apa-apa, Bu, Muthia paham kok. Ayah sudah menjelaskan kepada Muthia soal Ibu yang harus menerima kerjaan hari itu." Fidel tertegun mendengar jawaban anaknya. Tak terasa anaknya sudah tumbuh dewasa begitu cepat. Fidel segera memeluk tubuh Muthia. Dipeluk tubuh anaknya erat-erat. Muthia membalas pelukan Fidel. Rasanya sudah lama sekali bagi Muthia dipeluk seperti itu. Putra yang melihat kejadian itu pun hanya tersenyum melihat keduanya. Rasanya pekerjaannya sebagai Ayah bagi Muthia sudah terlaksana hampir dengan baik. Yang tersisa sekarang hanyalah soal rahasia yang mereka sembunyikan dari Muthia. Sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakannya. Dia tidak mau merusak kebahagiaan istri dan anaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD