“Selamat datang di markas Proteen.”
Epa dan Fuse bertepuk tangan setelah memberikan selamat. Muthia yang dengan kebingungan pun ikut tepuk tangan, tapi tidak sekencang Epa dan Fuse.
“Meskipun dia belum menjadi anggota kita, tapi dia mau untuk datang ke sini ya,” ucap Epa.
“Iya. Setelah beberapa kali nolak, akhirnya dia luluh juga. Jago juga kan jurus rayuanku.”
“Iya-iya yang demen merayu.”
Keduanya saling bercanda gurau, sementara Muthia hanya memperhatikan mereka sambil memberikan senyuman kecil, tanda tidak mengerti dengan keadaan sekarang.
“Jadi....”
Muthia memotong suasana tawa Epa dan Fuse.
“Kenapa aku harus datang ke sini?”
Epa dan Fuse saling berpandangan, saling memberi perintah dengan mata mereka siapa yang akan menjawab pertanyaan Muthia. Akhirnya Fuse pun mengalah, karena dia yang mengundang Muthia jadi dia sendiri lah yang harus memberitahu Muthia alasan dia harus ke sini.
“Pertama, untuk memperkenalkan anggota yang lainnya kepada kamu. Ya, kamu memang tidak termasuk anggota Proteen, tapi itu tidak apa-apa. Karena selain alasan itu ada keperluan lain yang lebih penting selain perkenalan ini.”
Muthia mendengarkan dengan seksama. Fuse pun beranjak dari tempatnya menuju suatu meja dan mengambil beberapa kertas yang sepertinya sudah dia siapkan. Tak lupa dia juga sambil menjelaskan beberapa kepada Muthia.
“Oiya. Di sini, termasuk yang tadi menjemputmu, mereka semua adalah orang dengan kekuatan super. Jadi seperti yang pernah aku jelaskan saat di sekolah, aku sedang membuat tim yang berisikan orang-orang super, dan baru mereka lah yang bisa aku dapatkan.”
"Isi anggotanya manusia super, tapi nama organisasinya tidak super," sambung seseorang dari arah lift. Ternyata itu adalah Bintang.
"Bintang... kamu terlambat. Kita sudah memberikan ucapan selamat ke Muthia.”
“Tidak apa-apa. Lanjutkan saja. Lagi pula aku sengaja berlama-lama di atas agar bisa melewati ucapan aneh itu. Harusnya kan kalian memberinya ucapan saat dia masih di atas.”
“Hahaha, tidak apa-apa. Tidak ada Bintang lebih baik.”
Fuse hanya tertawa melihat temannya berbicara. Bintang segera duduk di kursi yang berhadapan dengan Muthia, Fuse datang dan duduk di sebelah Bintangz sementara Epa masih berdiri namun kali ini di sebelah Fuse.
Formasi mereka duduk seperti sekelompok konsultan yang akan menerima keluhan dari client, lengkap dengan meja kaca yang tidak terlalu tinggi berada di tengah tengah mereka. Kertas yang tadi di bawa Fuse pun ditaruh di atas meja.
Muthia hanya dia melihat interaksi orang di hadapannya. Mereka semua tampak akrab, sepertinya mereka sudah kenal sejak lama. Terutama untuk Epa dan Fuse. Mereka terlihat sangat dekat. Apa mereka pacaran? Muthia yang melihat itu pun rasanya tak sabar untuk menanyakan hal itu.
"Jadi," ucap Fuse mulai fokus, "Mari kita lanjut ke topik selanjutnya."
Muthia kembali mengfokuskan pandangannya. Muthia menatap Fuse yang sepertinya ingin memulai obrolan serius.
"Yang ke dua ada ini." Fuse meletakkan sebuah jam tangan di atas meja.
Muthia melihat jam tangan itu. Benda itu terlihat seperti jam tangan pada umumnya, tidak ada bedanya seperti yang beredar di pasaran.
"Ini akan kuberikan kepadamu," kata Fuse, “sebagai gantinya berikan aku kancing baju yang waktu itu pernah kuberikan kepadamu."
Muthia hanya menurut, dia mengambil kancing yang dimaksud Fuse dari dalam kantong bajunya, lalu meletakkan kancing itu sambil mengambil jam tangan itu.
"Kali ini apa yang spesial dari jam ini?" tanya Muthia sambil memandangi jam itu.
"Tidak jauh beda dengan kancing yang sebelumnya," jawab Fuse. "Yang membedakannya adalah cara kerjanya."
Muthia menaikkan alisnya. "Apa jam ini akan menyala saat ada Kak Ridwan disekitarku?"
"Hebat, bagaimana kamu bisa tau?" tanya Fuse.
"Aku hanya menebak. Tidak ada tombol khusus di jam tangan ini yang bisa digunakan," jawab Muthia.
"Hampir sepenuhnya benar," jawab Fuse, "jam itu akan menyala jika ada orang yang memiliki kekuatan super disekitarmu."
"Apa hanya itu?" tanya Muthia lagi.
"Tidak. Radius dari sensornya diperluas, dan semakin dekat pemilik kekuatan super itu denganmu maka lampunya akan menyala semakin terang."
Muthia mengangguk paham dua melihat ke arah jam tangan itu sambil tersenyum.
"Boleh aku langsung memakainya?" tanya Muthia.
"Silahkan." Muthia segera memakai jam tangan itu. Dia tersenyum setelah jam tangan itu terpasang di lengan kanannya.
"Kamu suka?" Muthia mengangguk.
Dia tampak senang sekali dengan warna jam tangan itu. Berwarna putih dengan kilapan di sekitar jam tangan itu, menambah kesan elegan dari jam tangan itu sendiri.
"Bagus kalau kamu suka," ucap Fuse. "Kalau begitu lanjut ke informasi selanjutnya."
Muthia mulai kembali serius. Wajahnya yang tadi tampak senang sudah tersetel kembali ke mode dimana dia akan mendengarkan semua kalimat dengan jeli.
"Mungkin sebelumnya aku sudah pernah memberitahumu tentang Ridwan."
Muthia mengangguk paham. Fuse mulai mengacak-acak kertas yang tadi dia bawa, dibantu juga dengan Epa yang dengan spontan langsung membantu.
"Tapi kali ini aku akan memberitahu tentang Ridwan yang lebih rinci."
Fuse menarik selembar kertas, tampaknya di sana ada sebuah foto yang terpampang dengan beberapa tulisan. Fuse meletakkan kertas itu dekat dengan Muthia agar Muthia bisa membacanya.
"Jadi ini Ridwan, nama panjangnya adalah Ridwan Santoso. Di data ini dia tinggal di Tangerang sampai dua tahun lalu, setelah itu dia menghilang entah kemana."
Muthia memperhatikan kertas yang disodorkan Fuse. Dia melihat wajah yang ada di foto itu, persis seperti Ridwan yang dia temui beberapa waktu lalu.
"Lalu dia juga satu angkatan denganku, dan juga bersekolah di sekolah yang sama persis dengan tempat sekolahmu sekarang."
Fuse lalu mengambil selembar kertas lagi, kali ini terlihat beberapa foto di kertas itu. Muthia mengambil kertas itu dan melihatnya. Terlihat seperti sebuah foto yang diambil dari lokasi pembunuhan.
“Aku dan dialah yang berencana untuk membentuk kelompok ini. Lalu saat sudah mendekati hari kelulusan dia menghilang. Bahkan sampai hari kelulusan pun dia tidak ada.”
“Dia sakit?”
Muthia spontan bertanya. Dia mulai tertarik dengan yang diceritakan Fuse, apalagi soal Ridwan. Muthia merasa seolah-olah mendapatkan informasi tambahan tentang orang yang harus dia waspadai.
"Tadinya aku juga berpikir begitu, sampai seminggu setelah kelulusan muncul kabar kalau dia terlibat semua kasus," sambung Epa tiba-tiba.
"Kasus apa?"
"Pembunuhan. Orang tuanya terbunuh di dalam rumahnya dengan kondisi yang mengenaskan," sambung Bintang turut bergabung.
"Tubuh orang tuanya ditumpuk dan ditusuk dengan senjata sejenis golok, lalu adiknya terpenggal dengan tergantung di gantungan pintu."
Muthia berdigik ngeri mendengarnya. Tak disangka orang yang sudah dia kenal ternyata melakukan hal sekeji itu.
“Bahkan anehnya, saat kelulusan pun namanya tidak ada di daftar orang-orang yang lulus tahun itu. Bahkan untuk keluarga yang kita kira keluarganya, nama Ridwan tidak terdaftar dalam kartu keluarga.”
“Bagaimana bisa?”
“Aku melakukan penyelidikan, terutama untuk mencari Ridwan. Tapi yang kudapat adalah sebuah informasi yang awalnya tidak aku percaya.”
Muthia terdiam mendengar cerita dari Fuse. Fakta bahwa orang yang dia ketahui ternyata memiliki identitas yang buram pun mulai membuatnya takut.
"Sampai sekarang belum jelas siapa pelaku dari kejahatan itu," sambung Fuse lagi.
"Jadi alasan kalian mau mencarinya lagi adalah..."
"Kami ingin menanyainya tentang kejadian dua tahun silam, alasan dia pergi dan alasan kenapa dia melakukan hal itu," potong Fuse.
Muthia mengerti. Dilihatnya lagi kertas yang kembali disodorkan oleh Fuse. Di sana terdapat foto-foto yang menampilkan keadaan keluarga dari Ridwan saat ditemukan.
"Lalu setelah kalian selesai menanyainya?" tanya Muthia lagi.
"Mungkin kami akan mengajaknya bergabung kembali. Secara teknis dia dan aku adalah penggagas untuk membentuk tim ini, tapi itu kembali kepada dirinya. Yang pasti dia akan menjadi pusat perhatian kami."
Muthia melihat ke arah Bintang yang tiba-tiba menyahut. Sepertinya jawaban itu adalah sebuah jawaban yang sama yang akan diucapkan Fuse. Epa juga terlihat setuju dengan jawaban dari Bintang.
“Lagi pula keberadaan kita semua cukup riskan untuk diketahui masyarakat luas. Antara kita menjadi sorotan publik atau menjadi kelinci percobaan para ilmuwan
Epa ikut menimpali. Dia tidak mau terlihat tidak berguna dengan cara hanya berdiam dan tidak ikut bicara. Sekarang Muthia paham kenapa Fuse waktu itu bersikeras mengajaknya bergabung. Tidak hanya sekedar perkumpulan, tapi juga untuk perlindungan.
"Hanya itu saja yang ingin kami sampaikan, memang terkesan berlebihan tapi bagi kami itu sangat penting," kata Fuse lagi.
"Bintang akan mengantarmu lagi ke sekolah, mungkin juga ke rumah jika kamu menginginkan."
Epa melirik ke arah Bintang yang langsung menhela nafas setelah namanya disebut.
"Iya, aku akan mengantarnya lagi," ucap Bintang lagi.
Muthia diam, ada sesuatu yang ingin dia katakan tapi menunggu waktu yang tepat.
"Kamu mau diantar sekarang?"
Bintang langsung berdiri, menawari sesuatu yang sudah dia lakukan sebelumnya untuk Muthia. Dia masih menunggu jawaban Muthia sampai akhirnya Muthia mengucapkan kalimat tak terduga.
"Aku... Aku mau bergabung," ucap Muthia tiba-tiba.
"Maksudnya?"
“Maksudnya kamu mau bergabung dengan Proteen?”
Epa memotong ucapan Fuse. Muthia yang mendapat pertanyaan mengenai ucapannya pun hanya mengangguk. Anggukan itu pun disambut dengan gembira.
"Kamu serius?" tanya Fuse tidak percaya.
"Iya serius. Setelah kupikir-pikir lagi aku rasa aku mau bergabung dengan Proteen. Hitung hitung sebagai tanda terima kasih karena sudah mau melindungiku dan mengawasiku selama ini."
Suasana tiba-tiba hening. Tak ada yang berbicara satu pun.
"Ini serius dia mau masuk? Aku tidak tau harus bersikap seperti apa," tutur Bintang.
"Ya aku juga sama. Kita tidak menyiapkan formulir pendaftaran, aku jadi ikut bingung," timpal Fuse.
Epa tiba-tiba mengulurkan tangannya, meraih tangan Muthia dan menjabat erat tangan Muthia.
"Selamat, kamu sekarang sudah menjadi anggota Proteen," ucap Epa sambil menaikturunkan tangannya.
"Iya, makasih makasih," balas Muthia sambil tersenyum heran.
Fuse dan Bintang yang melihat itu juga ikut menyalimi tangan Muthia. Mereka tertawa melihat tingkah mereka sendiri.
Muthia juga ikut tertawa. Entah kenapa rasa khawatirnya perlahan hilang. Dia tidak khawatir lagi tentang mereka yang dihadapannya orang asing atau bukan. Hanya dengan melihat keakraban mereka, Muthia merasa aman. Sepertinya ini langkah yang benar, untuk bergabung dengan Fuse dan teman-teman.
∆∆