SELAMAT DATANG

1644 Words
“Baiklah, sampai di sini pelajaran hari ini. Kalian boleh pulang sekarang.” Pelajaran terkahir hari ini sudah berakhir. Mendadak suara derit kursi memenuhi kelas. Semua siswa mulai bergegas meninggalkan kelas. Muthia yang masih dengan santai duduk sambil merapihkan bukunya dihampiri oleh Laila. Wajah Laila tampak berseri sambil menatap Muthia. Sadar dengan yang dilakukan oleh Laila, Muthia pun menanyakan maksud kedatangan Laila. “Ada apa, Lai?” “Tidak ada. Cuma mau pulang bareng aja. Bisa kan?” Muthia terdiam sejenak. Dia ingat bahwa hari ini sudah ada janji dengan Fuse agar datang ke Markas Proteen. Niat ingin ingkar pun muncul di kepala Muthia. “Iya aku bisa. Ayo berangkat....” Muthia menghentikan kalimatnya. Sejenak dia teringat akan satu hal. Fuse berkata kalau akan ada orang yang datang untuk menjemputnya. Raut Muthia yang tadi semangat pun berubah sedikit lesu. “Maaf, Laila. Hari ini aku sudah ada janji.” Laila yang mengerti perkataan Muthia pun tersenyum ke arah Muthia. “Tidak apa-apa. Ayo kita pulang sekarang, aku antar sampai gerbang sekolah kalau misalnya kamu sudah dijemput.” Laila menjawab seakan-akan tahu kalau Muthia akan dijemput. Mendengar jawaban Laila yang begitu baik hanya bisa membuat Muthia tersenyum. Muthia jalan berdampingan dengan Laila. Keduanya bercanda sambil berjalan menuju gerbang sekolah. Di depan gerbang sudah ada mobil sedan yang tampaknya menunggu seseorang. Mereka berdua sampai di gerbang. Muthia melihat ke arah mobil itu dan mengingat yang dikatakan Fuse kemarin. Muthia menepuk pundak Laila memberitahu kalau dia sudah dijemput. “Laila, aku sudah ada yang jemput. Aku duluan ya.” Muthia berkata sambil menunjuk mobil yang sepertinya sedang menunggu seseorang. Laila yang melihat mobil itu merasa asing. Ingin sekali dia bertanya itu milik siapa, tapi dia tidak ingin menahan temannya lebih lama lagi. “Ya sudah kalau begitu. Aku duluan ya.” Laila tersenyum sambil berjalan mendahului Muthia. Muthia melambaikan tangannya sambil melihat Temannya jalan menjauh. Setelah dirasa cukup jauh, Muthia menghampiri mobil sedan itu, mengetuk kaca mobilnya. Kaca mobil itu turun dan memperlihatkan pengemudinya. “Apa ini punya, Kak Fuse?” Orang yang mendengar perkataan Muthia pun tampak kebingungan, tapi dia tidak sendiri. Muthia sendiri pun tidak mengerti dengan apa yang dia katakan barusan. Dia tidak tau lagi bagaimana cara agar orang ini mampu mengenali kalau dirinya adalah Muthia. “Kamu, Muthia ya?” Muthia hanya mengangguk saat orang itu menyebut namanya. Dia pun menutup kaca mobil dan diganti dengan pintu mobil yang terbuka. “Masuklah ke dalam,” titah orang itu. Muthia hanya menurut. Dia membuka pintu belakang dan masuk ke dalam mobil dan menaruh tas disebelahnya. Sementara orang itu membenarkan posisi kaca belakang mobil, menatap Muthia penuh kebingungan. “Kamu tidak mau duduk di depan? Padahal aku membuka pintu yang sebelah sini.” “Tapi bukankah lebih baik aku di sini. Kalau di depan rasanya seperti dikhususkan untuk orang yang sudah saling kenal.” Muthia menolak tawaran itu. Orang yang duduk di depan itu pun menghela nafas mendengar penolakan Muthia. Dia pun berbalik dan menatap Muthia langsung. “Begini, aku tau kalau aku memang asing bagimu. Tapi tolong jangan membuat aku terlihat menyedihkan. Aku memang disuruh untuk menjemputmu, tapi bukan berarti aku supirmu. Jadi aku minta tolong untuk pindah dan duduk di sini.” Orang itu menunjuk bangku yang berada di samping pengemudi. Muthia diam seribu bahasa. Rasanya enggan sekali pindah ke tempat itu, tapi rasanya tidak sopan sekali menolak permintaan orang itu setelah dia berkata demikian. Muthia pun bergegas mengambil tasnya dan membuka pintu mobil lagi, tapi tindakannya itu ditahan sebentar oleh pria itu lagi. “Kamu bisa meninggalkan tas itu di bangku belakang. Tidak perlu repot-repot membawanya ke depan juga.” Muthia hanya mengangguk dan segera keluar tanpa membawa tasnya. Dia berputar mengelilingi mobil dan masuk tepat di sebelah bangku pengemudi. “Sudah?” Muthia hanya mengangguk diam. Pria itu pun mulai menjalankan mobil menjauh dari sekolah Muthia. Rasanya aneh sekali duduk di depan setelah di hujani kata-kata yang sedikit tidak enak di dengar. “Aku memang diberitahu kalau kamu sangat menjaga jarak dengan orang baru, tapi aku baru tau kalau kamu sampai segitunya dengan orang baru.” Muthia masih terdiam. Duduknya sampai terlalu tegak untuk sebuah bangku yang sudah didesign agar bisa bersandar dengan nyaman dan santai. Pria tadi yang melihat hal itu pun memberitahu agar tetap santai dan tidak perlu khawatir. “Tolong jangan duduk seperti itu. Aku tidak suka dengan sesuatu yang formal. Kamu bisa bersandar ke belakang seperti orang pada umumnya.” Muthia yang mendengar itu hanya menurut. Perlahan dia menurunkan punggungnya dan mulai bersandar. “Nah, begitu lebih baik,” kata pria itu. “Sebelumnya perkenalkan, namaku Bintang.” “Muthia.” “Aku cukup terkejut kalau kau yang akan menghampiriku terlebih dahulu,” kata orang yang bernama Bintang. “Di sekolahku jarang sekali ada yang dijemput dengan mobil, jadi aku cukup yakin bahwa mobil ini yang Kak Fuse bilang semalam,” jelas Muthia. “Kau cukup pintar juga,” puji orang itu. Setelah pembicaraan itu, sudah tidak ada lagi pembicaraan yang berarti. Cukup lama waktu yang sudah berlalu semenjak mereka berangkat dari sekolah. “Kapan kita sampai?” tanya Muthia. “Sedikit lagi,” jawab Bintang singkat. Muthia melihat sekeliling. Dia familiar dengan wilayah yang dia lewati. Rasanya dia pernah melewati kawasan ini beberapa kali dengan ayahnya waktu kecil dulu. Mobil itu kemudian berbelok ke komplek perumahan yang cukup elit. Rumah rumah yang ada disana berdiri cukup megah dengan ornamen ornamen mewah yang terpasang di setiap sudut rumah. “Baru pertama kali ke sini?” tanya Bintang. “Bisa dibilang seperti itu. Memasuki kawasan seperti ini rasanya seperti mimpi saja,” jawab Muthia. Matanya tak berhenti melihat ke arah luar jendela. Muthia mulai menikmati pemandangan di luar. Dirinya juga sudah mulai nyaman duduk disamping Bintang. Muthia mulai sedikit mempercayai dengan orang-orang yang baru dikenalnya ini. Mobil mereka berhenti di salah satu rumah yang terbilang cukup biasa saja dibandingkan dengan rumah disekitarnya. “Kita sudah sampai,” kata Bintang setelah mereka keluar dari mobil. Bintang jalan mendahului Muthia. Muthia yang masih keheranan hanya bisa mengekor dari arah belakang. Begitu dia memasuki rumah itu, isinya tidak ada yang berbeda. Sama persis seperti rumah pada umumnya, bedanya di sini hanya terdapat sedikit sekali perabot rumah. Bayangan Muthia tentang sebuah markas yang cukup besar dan berisi alat alat canggih yang belum pernah dia lihat langsung hancur seketika. Semua khayalan itu hancur setelah melalui perjalanan panjang. Muthia tidak percaya hal ini, bisa-bisanya dia membuang waktunya untuk pergi ke tempat seperti ini. “Anu, apa ini benar markasnya?” tanya Muthia yang masih mengikuti Bintang. “Tidak. Bukan di sini.” Muthia merasa keheranan. Kalau bukan mengapa dia dibawa ke sini? Apakah ini rumah Bintang. “Maksudku markasnya memang di sini, di rumah ini. Tapi lebih tepatnya bukan di ruangan ini.” “Masuklah,” perintah Bintang. Bintang menuntun Muthia menuju dapur. Di sana Bintang langsung menuju kulkas yang terlihat seperti menyatu dengan dinding dan membukanya. Dia mengambil beberapa botol minum dari dalam dan menutupnya kembali. “Dimana markasnya?” Bintang hanya tersenyum. Di pintu kulkas itu terdapat sebuah panel berwarna hitam. Bintang menyentuh panel itu dengan telapak tangannya, lalu muncul kotak kotak bernomor. Bintang mengetik beberapa angka. Angka-angka itu sengaja tidak ditutupi dari Muthia sehingga Muthia mengetahui deretan angka itu. “0-1-0-1-2-2,” gumam Muthia pelan. Bintang hanya tersenyum mendengar Muthia yang mengucapkan angka yang dia sentuh. Bintang pun kini membuka pintu kulkas itu lagi, namun yang terlihat kali bukanlah isi kulkas melainkan sebuah lorong yang mengarah ke bawah. “Markasnya lewat sini.” “Ini serius?” Wajah Muthia terlihat sedikit berbinar. Perlahan bayangan soal markas yang keren pun muncul kembali di kepalanya. “Pergilah dulu. Aku masih ada urusan sebentar. Setelah di bawa nanti akan ada orang yang sudah menunggumu,” ujar Bintang. Muthia hanya menurut, namun masih sedikit ragu tanpa menghilangkan rasa kagumnya. Setelah Muthia berjalan cukup jauh, Bintang menutup kembali pintu itu. Lorong yang tadinya sedikit terang kini mulai terlihat gelap. Muthia yang terkejut pun segera berbalik dan melihat pintu yang tertutup. Terdengar seperti sesuatu yang besar bergeser dan menutup pintu tadi. Muthia yang kini sudah berada di dalam pun kini mengerti. Kulkas yang tadi dia lihat pertama kali adalah gerbang menuju markas yang sesungguhnya. Lorong yang tadinya gelap kini mulai diterangi oleh cahaya lampu yang dipasang di lantai lorong itu. Dia masuk sampai ada sebuah pintu lagi. Kali ini pintunya terbuat dari kayu seperti pintu pada umumnya. Dia memegang kenop yang ada di pintu itu dan membukanya. Ternyata tidak terkunci. Dia pun masuk dan dia lihat sudah ada perempuan yang menunggunya. “Kamu Muthia ya?” Muthia hanya mengangguk diam. Muthia terpana dengan kecantikan wajah perempuan yang ada di hadapannya. Tanpa sadar Muthia bergumam mengagumi kecantikan perempuan itu. “Cantik sekali.” Perempuan itu hanya tertawa mendengar pujian Muthia. Dia pun tersenyum sambil memperkenalkan dirinya. “Terima kasih atas pujiannya. Namaku Epa, kamu bisa memanggilku Kak Epa atau apapun. Buatlah dirimu nyaman.” Muthia tersenyum malu saat menyadari dirinya menyebutkan hal bodoh. Muthia pun memperkenalkan dirinya juga meskipun perempuan tadi sudah mengetahui namanya. “Namaku Muthia,” ucap Muthia gugup. Sensasi malu masih memenuhi wajahnya. “Duduk di sini dulu, aku akan segera memanggil Fuse.” Muthia duduk di sebuah kursi di ruangan itu. Rasanya dia tidak asing dengan ruangan ini. Ruangan ini dipenuhi dengan alat elektronik. Rasanya seperti mimpi, dia berada di dalam ruangan markas seperti yang ada di film-film. “Apa rasa kecewamu sudah terobati?” tanya seseorang saat Muthia masih menikmati pemandangan di depannya. Muthia menengok, ternyata itu adalah Fuse, orang yang mengundangnya kemari. “Aku cukup kecewa saat berada di luar tadi,” ujar Muthia. “Benar kan, Epa. Dia pasti akan kecewa dulu saat memasuki markas kitai.” “Iya iya. Kamu yang paling tahu kok.” Fuse berjalan menghampiri Muthia, lalu duduk di depannya. “Selamat datang di markas Proteen, senang rasanya bisa mengundangmu kemari,” ucap Fuse dengan nada kencang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD