UNDANGAN KE 2

1165 Words
Muthia sampai lagi di sekolah sama paginya dengan kemarin. Kali ini, dia menunggu Laila di dalam kelas. Muthia duduk tertunduk di meja, menaruh kepalanya di atas tangan yang sudah terlipat di atas meja. Tanpa terasa, ternyata Muthia sudah tertidur lelap. Laila yang datang dan melihat Muthia yang sudah tertidur hanya tersenyum ke arah temannya itu. Dia menaruh tasnya dan segera duduk di samping Muthia. Sampai bel berbunyi dan guru sudah masuk ke dalam kelas, Laila masih tidak membangunkan Muthia. "Mut, bangun. Guru sudah masuk," panggil Laila saat dia merasa sudah cukup membiarkan temannya tertidur. Muthia mengangkat mukanya perlahan. Dilihatnya guru sudah mulai mengajar dan tak menyadari bahwa dirinya sudah tertidur sejak dia datang ke sekolah. "Laila?" panggil Muthia dengan wajah tidurnya. "Iya?" “Apa kamu malaikatku?” “Iya tentu saja.” Laila menahan tawanya mendengar pertanyaan Muthia. Muka tidur milik Muthia membuat Laila ingin mencupit pipi temannya itu, tapi dia menahan rasa gemasnya. “Kalau kamu malaikatku, biarkan aku tidur sampai guru yang mengajar masuk ke kelas.” Laila lebih sulit lagi menahan tawa. Laila hanya menunjuk ke depan tempat guru yang sedang mengajar sedang duduk di bangku guru. Muthia mengangkat kepalanya perlahan. Dengan samar dia melihat guru yang sedang duduk manis di bangkunya. Karena tidak percaya, Muthia mengucek matanya dan kembali melihat ke arah yang sama. Bertapa terkejutnya dia saat melihat gurunya sendiri. "Guru sudah masuk!" pekik Muthia kaget. "Kenapa kamu tidak membangunkanku dari tadi?" Muthia mengusap wajahnya yang terlihat seperti bangun tidur. Laila yang melihat muthia pun mengambiol botol minumnya dari tas. "Kamu masuk hari ini?" "Iya aku masuk hari ini," jawab Laila singkat. "Baguslah," ucap Muthia singkat. Muthia merasa masih mengantuk. Baru saja dia ingin meletakkan kepalanya kembali ke atas tangannya, Laila langsung mencegahnya. "Guru sudah mulai mengajar, Mut," kata Laila berusaha menyadarkan Muthia. Laila membuka botol minumnya dan sedikit menyipratkan air ke arah Muthia, dan sekali lagi Muthia harus mengelap wajahnya yang basah karena Laila. Dengan seketika penglihatannya sedikit lebih segar. “Kamu kenapa tidak bangunin aku dari tadi.” Muthia bertanya saat dia sadar dia sudah tidur selama sejam bel masuk sudah berbunyi. Laila mengangkat bahunya. "Aku sengaja, soalnya kamu terlihat kelelahan sekali, aku juga senang melihat wajah tidurmu." Muthia memasang wajah marah. Segera dia memperbaiki rambutnya yang berantakan ketika dia tidur tadi. "Aku marah," ketus Muthia sambil mengambil buku pelajarannya. "Jangan marah dong, Mut," bujuk Laila sambil tersenyum jahil. "Bodo!" Muthia tidak mempedulikan bujukan Laila, sementara itu Laila masih berusaha membujuk Muthia meskipun sedang berada di tengah jam pelajaran. ∆∆∆ Muthia sampai di rumah lebih cepat dari kemarin. Kali ini dia tidak ingin memperlama jam pulangnya, setidaknya agar tidak bertemu dengan Ridwan lagi. Dia mengecek ponselnya. Dilihatnya sebuah nomor tidak dikenal yang masuk ke daftar panggilan tidak terjawab. Cukup lama dia memperhatikan nomor tak dikenal itu. Ragu dalam dirinya untuk mengirim pesan atau menelepon balik nomor tersebut, karena jika tidak waspada bisa-bisa Ridwan lah yang merima panggilan tersebut. Mungkin itu parno yang berlebih, tapi siapa yang tau. Muthia memutuskan melempar ponselnya ke kasur dan meninggalkannya di kamar. Tak jauh setelah dia beranjak dari kasurnya, ponsel itu berbunyi menerima panggilan lagi. Muthia segera mengambil ponsel itu dan mengangkat telepon itu. "Halo?" "Halo. Benar ini Muthia?" Muthia terdiam sebentar saat "Benar, ini dengan siapa ya?" tanya Muthia balik. "Ini saya Fuse." Muthia tediam sebentar. Dia bingung harus memanggil Fuse apa, karena fakta bahwa Fuse hanya berbeda beberapa tahun dengannya adalah alasan dia tidak bisa memanggil Fuse dengan sebutan ‘Pak’. “Muthia? Kamu kenapa?” “Nggak kok, nggak ada apa-apa, Kak Fuse.” Terdengar sebuah tawa yang tertahan dari Fuse. Wajah muthia mendadak berubah jadi merah saat mendengar kekehan dari Fuse. “Tumben kamu manggil saya ‘kak’. Ada apa ini?” “Tidak, tidak ada apa-apa.” Muthia menahan rasanya malunya sekuat tenaga. Tidak dia sangka dia akhirnya memilih kata ‘kak’ untuk memanggil Fuse. “Jadi ada apa, Kak Fuse nelpon aku?” “Tidak ada alasan khusus. Aku baru saja mendapatkan nomormu jadi aku ingin tes apakah ini nomor yang benar.” ‘Oooohhh.” Muthia berpikir apakah orang yang sedang berbicara dengannya ini sedang tidak ada kerjaan sampai harus melakukan tes terhadap nomor teleponnya. “Oiya, kamu tidak bawa ponsel ke sekolah ya?” “Iya. Ada larangan untuk siswa membawa ponsel ke sekolah,” jawab Muthia singkat. ‘‘Jika tidak ada lagi, aku akan mematikan....” “Tunggu dulu dulu.” “Ada apa?” Muthia segera menjawab semua perkataan Fuse dengan cepat. Rasanya seperti ingin segera mematikan telepon dari seseorang yang tidak memiliki kerjaan. “Aku ingin mengundangmu untuk datang ke markasku.” “Markas?” Muthia mengkerutkan dahinya saat mendengar kata markas. “Iya markas. Kamu tahu kalau setiap tim pasti memiliki sebuah markas?” “Iya-iya aku tau, Kak.” “Kamu mau datang?” “Tidak.” “Kenapa?” Muthia menghela nafas panjang. Bukannya dia tidak mau, tapi pergi ke tempat orang yang isinya tidak ada yang dia kenal? Itu bukan rencana yang bagus. Apalagi kata markas ini membuat Muthia semakin tidak yakin. “Aku kan tidak bergabung dengan Proteen, kenapa aku harus datang ke markas Proteen?” “Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku tidak bisa membicarakannya di telepon karena ini bersifat rahasia.” Muthia terdiam sebentar, berpikir apakah dia harus terpaksa datang ke tempat Fuse atau berusaha mencari alasan yang lain agar dia tidak perlu datang ke Markas Proteen. “Harus?” tanya Muthia tidak yakin. “Tentu saja.” Muthia berpikir kembali. Rasanya Fuse bukanlah orang yang gampang menyerah untuk mendapatkan sesuatu. Daripada pembicaraan ini berakhir dengan perdebatan panjang, Muthia memutuskan untuk mengikuti perkataan Fuse. “Baiklah, aku akan datang ke markas Proteen.” Muthia memilih mengalah. Fuse yang mendengar hal itu berteriak penuh kemenangan. Tanpa perlu banyak bujukan dia sudah berhasil membuat Muthia pergi ke Markasnya. “Bisa beri tahu aku alamatnya agar aku bisa ke sana sepulang sekolah? Terutama juga aku harus mempelajari rute ke sana karena aku pergi menggunakan angkutan kota.” ‘Oh, itu tidak perlu.” Muthia mengkerutkan keningnya. “Tidak perlu?” “Iya tidak perlu. Nanti akan ada orang yang datang menjemput, jadi kamu tidak perlu repot-repot keluar uang untuk ongkos.” “Serius?” Muthia tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Dia akan dijemput dengan orang asing lagi, ketempat orang yang juga sama asingnya dengan Fuse saat pertama kali bertemu. “O... Oke. Apa aku akan aman? Karena rasanya semuanya menjadi asing bagiku.” Muthia mulai mengkhawatirkan dirinya sendiri secara berlebihan. Fuse yang sudah menyadari hal itu sedari tadi pun akhirnya menenangkan Muthia. “Mut, percaya sama aku. Meskipun kamu asing atau aku dan teman-temanku asing bagi kamu, tapi kami bukan orang yang buruk untuk dijadikan kenalan baru. Tenang saja, semua akan aman.” Muthia yang mendengar itu pun merasa sedikit tenang, meskipun dirinya masih akan tetap waspada. “Baiklah, aku akan coba untuk percaya. Kuharap, Kakak tidak mengecewakanku.” Fuse pun setuju. Mereka berdua pun mengakhiri panggilan dan segera kembali ke aktifitas masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD