Rahes mematut dirinya di depan cermin usai membersihkan diri. Ia akan makan bersama Anna malam ini. Jadi, ia mau sedikit rapi dan wangi. Senyum pria itu tak luntur sedikit pun. Entah hal apa yang membuatnya sangat bersemangat malam ini. Padahal, ini hanya makan malam biasa dan hanya dengan menu yang biasa juga. Tak lama kemudian, Rahes terdiam. Pria itu melindapkan senyum dan mulai menyadari apa yang ia lakukan. Rahes mengusap wajahnya dengan gusar, lantas menggeleng lemah. “Enggak-enggak. Aku enggak punya perasaan apa pun ke Anna. Dia itu musuhku. Harusnya aku enggak begini,” katanya. Sejenak, Rahes mulai memikirkan semuanya. Namun, ketika suara Anna terdengar memanggil dari depan kamarnya, hati Rahes malah berbunga-bunga. “Iya, Nona.” Rahes bergegas membuka pintu. Tampak Anna membaw

