Bab 3. Pergulatan Batin

1225 Words
“Jadi, gimana? Suka sama suasana kampusnya?” tanya Vano. Anna yang telah selesai mendaftarkan diri mengajak Vano untuk minum di kantin. Gadis itu begitu senang karena akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan melanjutkan kuliah serta bisa dekat dengan papa dan mamanya. “Suka, Kak. Adem banget kampusnya,” kata Anna. “Bagus, deh. Kita akan sering ketemu setelah ini.” Vano menatap mata Anna dengan lekat. Sosok gadis yang sejak masa sekolah telah ia sukai kini ada di hadapannya. Perasaan pria itu sama sekali tak luntur sepanjang masa. Hanya Anna yang selalu ada di hatinya. Sekarang, ketika kesempatan mendekati gadis itu terbuka dengan lebar, Vano tidak akan menyianyiakannya. “Nanti kamu pulang sama aku aja, ya. Aku yang antar,” kata Vano kemudian. “Astaga, aku lupa kasih tahu sopir untuk pulang lebih dulu, Kak. Jangan-jangan Rahes masih ada di sana lagi,” ucap Anna. Gadis itu mendadak ingat dengan Rahes. Jadi, ia bergegas pergi ke halaman di mana tadi pria itu mengantarnya. “Kak, aku ke pergi dulu, ya,” ucap Anna yang kemudian beranjak. Vano mengiakan. Sikap Anna benar-benar tidak berubah sejak dulu. Ia tumbuh menjadi gadis yang sangat baik dan perhatian. Itulah sebabnya, Vano sangat mengaguminya. Rahes yang ada di dalam mobil segera keluar ketika melihat Anna berlari ke arah di mana ia memarkir mobil. Pria itu pikir, anak majikannya sudah selesai dengan urusannya di kampus dan hendak pulang. Jadi, ia menyambutnya. “Sudah selesai, Non?” tanya Rahes. “Ya ampun, kamu beneran nungguin aku dari tadi? Maaf, ya. Harusnya aku bilang kalau kamu enggak usah nunggu. Aku bisa pulang sama temenku,” ucap Anna seraya menetralkan napasnya yang ngos-ngosan. “Enggak apa-apa, Non. Sudah jadi tanggung jawab saya, kan,” kata Rahes. Anna menatap pria itu dengan nanar. Walaupun ini memang kewajiban seorang sopir, tapi tetap saja ia merasa bersalah. Pria di depannya terlihat sangat tulus. Jadi, ia benar-benar merasa bersalah. “Kalau begitu, kita beli makan dulu. Kamu pasti laper, kan, nungguin aku sejak tadi?” kata Anna. “Enggak usah, Non. Saya–” Krucuk! “Ha-ha-ha. Itu perutmu bunyi. Udah ayo, makan dulu.” Anna dengan sigap menarik lengan Rahes untuk diajaknya pergi ke kafe yang ada di depan area kampus. Gadis itu tanpa sungkan berjalan bersisihan dengan pria yang notabene adalah sopirnya. Keramahannya tentu saja membuat Rahes tak bisa menampik bahwa Anna sangat berbeda dengan para gadis anak orang kaya lainnya. Jadi, apakah pandangannya terhadap keluarga itu tetap sama? “Kita duduk di sini, ya,” kata Anna. “Non Anna mau semeja sama saya?” tanya Rahes kemudian. “Iyalah, masak kita duduk sendiri-sendiri?” sahutnya. Rahes hanya tersenyum kecil mendengar penuturan sang majikan. Yang benar saja? Mana bisa keduanya duduk bersama dalam satu meja. Namun, Anna tampak tidak risi sama sekali dengan kehadiran sopir yang semeja dengannya. “Kamu mau pesan apa?” tanya Anna. “Samain aja sama Non Anna.” “Em … oke.” Anna akhirnya memesan 2 menu yang sama pada waiters untuknya dan Rahes. Ketika makanan mereka datang, gadis itu juga tidak sungkan untuk langsung makan. Rahes menjaga sikapnya makan dengan tenang. Saat itu, Anna yang melihatnya mendadak tak yakin jika pria di hadapannya adalah seorang sopir. Cara Rahes menyuap lebih mirip seorang terpelajar daripada apa yang Anna tahu. “Kamu kuliah, Rahes?” tanya Anna kemudian. “Iya, Nona.” “Oh, iya. Di mana?” tanya Anna lagi. Rahes mendadak sadar. Harusnya tadi ia tak menjawab demikian. Namun, karena Anna tampak penasaran, pria itu akhirnya menimpali pertanyaannya. “Di Nusantara, Nona.” “Wow, itu, kan, universitas yang keren banget. Terus kenapa jadi sopir?” “Enggak apa-apa, Nona. Yang penting halal,” jawab Rahes. “Iya.” Rasa kagum Anna tiba-tiba bertambah. Ia tak menyangka jika ternyata pria di hadapannya ini bukan sopir sembarangan. Apa lagi, paras Rahes tidak bisa dibilang biasa. Kalaupun mereka jalan berdua, siapa yang akan menyangka jika ia adalah seorang sopir? “Setelah ini kita ke mana, Nona?” tanya Rahes kemudian. “Kita langsung pulang aja. Kayaknya hari mau hujan juga,” jelas Anna. “Siap, Nona,” jawab Rahes. *** “Anna ada di rumah. Jangan sampai dia tau kalau kita sudah tidak akur,” ucap Sanjaya siang itu pada Melisa. Wanita yang sedang sibuk dengan ponselnya itu hanya tersenyum kecil tanpa berniat menoleh ke arah sang suami. Sanjaya yang memulai, kenapa ia yang harus sibuk menyikapi. Memangnya kenapa jika Anna tahu? Gadis itu sudah dewasa. “Mel, kamu dengar apa yang aku katakan, kan?” sentak Sanjaya yang merasa terabaikan oleh istrinya sendiri. Kali ini, wanita itu mendongak. Ia meletakkan ponselnya di meja dan menatap Sanjaya sembari bersedekap. “Kenapa? Kamu takut Anna tau semua kebusukanmu? Kamu yang mulai berkhianat Sanjaya, jadi jangan minta aku menutupi semuanya. Anna berhak tau apa yang selama ini dilakukan oleh papanya yang selalu dia anggap seperti malaikat,” jelas Melisa. “Diam kamu, Melisa. Aku kaya, aku berkuasa. Aku berhak melakukan apa pun yang aku suka.” “Ya, sudah lakukan! Kalau Anna bertanya, aku pasti akan menjawab dengan sejujur-jujurnya. Bahwa papanya telah berselingkuh dengan sekretarisnya,” jawab Melisa. Sanjaya membuang napasnya dengan kasar. Ia melihat sang istri yang berlalu dari hadapannya dengan nyalang. Sekarang, apa salah jika ia mencari perhatian lain di luar sana, sedangkan istrinya terus sibuk dengan teman-teman sosialitanya? Namun, ia akan tetap terlihat buruk di mata Anna ketika gadis itu tahu yang sesungguhnya. Lantas, apa yang harus ia lakukan sekarang? Sementara itu, Melisa yang kembali ke kamarnya langsung membuang tubuhnya ke ranjang. Sejujurnya, ia bisa saja meminta cerai dari Sanjaya sejak lama. Namun, harta yang mereka miliki akan dibagi menjadi dua dan Melisa tak mau hal itu terjadi. Ia tak paham soal bisnis dan perusahaan. Melisa hanya tahu mengenai jual beli perhiasan yang juga menjadi bisnisnya dengan para rekan-rekan sosialitanya. Itulah kenapa, kemarin ia juga nekat memberikan obat perangsang kepada Rahes karena ia terlalu merindukan belaian seorang pria. Dan ia menemukan pria yang tepat. Sanjaya kemudian menyusul sang istri ke kamarnya. Ketika menyadari suaminya sudah berada di ambang pintu, Melisa bangkit dan membuang napasnya dengan gusar. “Mau apa lagi? Aku bilang, aku enggak mau menutupi semuanya dari Anna. Jangan memaksa aku membohongi Anna,” kata Melisa. “Jangan terus menyalahkanku, Melisa. Kamu tau pasti kenapa aku melakukannya. Semua karena kamu yang tidak pecus menjadi istri,” ucap Sanjaya dengan penuh emosi. “Apa? Kamu yang selingkuh, tapi kamu nyalahin aku? Berengsek kamu, Sanjaya.” Saat itu, keduanya tidak menyadari jika Anna mendengarkan pertengkaran mereka. Gadis itu baru saja sampai setelah makan bersama Rahes. Lantas, naik ke kamarnya. Namun, ketegangan yang terjadi antara Sanjaya dan Melisa menarik perhatiannya. Ia hampir menangis ketika mendengar semuanya. “Kamu gila, Mel. Aku–” “Hentikan! Jadi, selama ini Papa selingkuh?” tanya Anna yang sudah hampir terisak. Sanjaya yang menyadari kehadiran sang anak buru-buru mendekat. Namun, Anna langsung mundur sejengkal. Gadis itu menolak uluran tangan sang papa dan menggeleng lemah. “Aku kecewa sama kalian,” ucap gadis itu seraya berlari. Tangisnya pecah tanpa permisi. Hujan yang sudah mengguyur menemani tangis Anna yang makin deras. Anna berlari tak tentu arah dan tak menyadari ada truk besar menuju arahnya. Tiiin. Klakson dibunyikan dengan nyaring. Namun, Anna tak menggubris. Tepat saat kendaraan besar itu hampir menabraknya, sebuah tangan menarik tubuh gadis itu delam dekapan. “Awas, Non!” ucap Rahes.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD