“Non Anna enggak apa-apa?” tanya Rahes usai berhasil menarik tubuh sang majikan menghindari truk yang lewat.
Anna masih belum menjawab. Napasnya putus-putus karena ia begitu terkejut dengan semuanya. Pertama karena keadaan orang tuanya dan klakson truk yang berbunyi nyaring. Ketika kemudian, ia sadar jika sedang berada dalam dekapan seseorang.
“Rahes.”
“Iya, Nona. Nona enggak apa-apa, kan?” tanya pria itu kemudian.
Tangis Anna kembali pecah. Gadis itu teringat dengan percekcokan orang tuanya barusan. Bagaimana dengan sadar papa dan mamanya telah membuat mimpi buruk Anna terjadi. Ya, sejak dulu keluarga mereka sangat bahagia. Namun, karena nafsu semata, Anna harus menerima kenyataan jika papa dan mamanya sudah tidak bisa disatukan.
Karena gadis itu terus menangis, Rahes buru-buru mengajaknya berteduh. Namun, Anna menggeleng lemah. Ia menolak masuk ke kediaman Sanjaya untuk saat ini.
“Bawa aku ke mana pun, Rahes. Asal tidak di rumah. Aku tidak mau bertemu dengan Papa dan Mama,” jelas Anna.
“Tapi, Non–”
“Kalau kamu enggak bisa, aku akan pergi sendiri,” sahut gadis itu.
Rahes tak punya pilihan. Mana mungkin ia bisa membiarkan Anna pergi dengan emosi yang meluap-luap seperti itu. Namun, harus ia bawa ke mana anak majikannya itu. Aah … ia terlalu memakai hati. Harusnya, biar saja Anna tertabrak truk tadi, atau menangis di bawah hujan. Nyatanya, Rahes tidak sekejam itu.
Pria itu kemudian membantu Anna naik ke mobil yang tadi belum sempat ia masukan ke garasi. Lantas, melajukannya keluar dari kediaman Sanjaya. Saat itu, Sanjaya dan Melisa melihat mobil itu berjalan. Namun, tidak ada yang bereaksi. Pasti Anna mau menenangkan diri dulu saat ini.
“Maafin Papa, Anna,” bisik Sanjaya kemudian.
Mata pria itu memanas. Ia tak menyangka jika anak gadisnya akan sekecewa itu. Andai saja Anna tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pasti ia akan mengerti mengapa Sanjaya melakukannya.
Sementara Melisa hanya bisa diam. Ia tak peduli jika sang anak marah pada suaminya. Bukankah memang sepatutnya demikian. Ia juga tahu Anna butuh tempat lain untuk bisa mencerna bagaimana hubungannya dengan Sanjaya saat ini berjalan. Jadi, ia akan membiarkannya pergi sejenak.
Sanjaya menoleh ketika mobil yang ditumpangi Anna dan Rahes sudah benar-benar berlalu. Pria itu memutar badan dan berhenti tak jauh dari hadapan Melisa.
“Pastikan sopir itu menjaga Anna dengan baik,” kata Sanjaya kemudian.
Pria itu kemudian berlalu ke kamar dan mengambil kunci mobil tanpa menunggu jawaban dari sang istri. Ia juga butuh menenangkan diri setelah semua yang ia tutup-tutupi diketahui oleh sang anak. Sementara Melisa memilih masuk ke kamarnya.
***
Hujan belum juga reda saat ini. Rahes masih melajukan mobilnya dan tidak tahu ke mana harus membawa Anna pergi. Sisi melankolisnya mendadak muncul karena melihat gadis itu masih terisak. Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk mencari penginapan.
Sesampainya di sana, Rahes meninggalkan Anna yang masih terisak dan masuk untuk menyewa sebuah kamar. Namun, ia hanya mengambil selimut di kamar itu dan kembali ke mobil dengan segelas teh hangat yang ia beli di restoran.
“Non Anna. Silakan diminum,” katanya seraya mengangsurkan teh itu kepada sang majikan.
Anna menoleh ke arah Rahes dengan mata sembabnya. Gadis itu menerima gelas yang diangsurkan Rahes dengan tangannya yang gemetar. Tatapannya masih sayu. Namun, ia mencoba menghormati usaha pria itu menolongnya.
“Terima kasih, Rahes,” katanya lirih.
“Iya, Nona.”
Saat tangan Anna sibuk memegang gelas berisi teh itu, Rahes menyematkan selimut di tubuhnya dengan hati-hati.
“Non Anna harus ganti baju. Kalau tidak bisa masuk angin,” katanya lagi.
Anna hanya mengangguk. Namun, ia tidak berniat beranjak dari dalam mobil. Sementara Rahes memilih keluar dan menyulut rokok demi menghangatkan dirinya. Pakaiannya juga basah. Namun, mana bisa ia meninggalkan Anna ada di sini seorang diri.
Setelah menenggak sedikit teh yang Rahes bawakan, Anna menoleh ke luar. Di sana, tampak Rahes sedang bersedekap, sedangkan mulutnya terus menyesap tembakau. Jika dipikir-pikir, Anna menjadi iba pada pria itu. Ia yang kecewa dan marah pada papa dan mamanya, tapi Rahes yang harus menenangkannya. Jadi, apakah sebaiknya ia menyudahi semua ini?
Anna membuka pintu mobil tak lama kemudian. Rahes yang awalnya fokus pada jalanan sontak berdiri. Ia membuang rokok yang masih separuh dan menginjaknya. Lantas, mendekati Anna yang keluar dengan selimut membungkus tubuhnya.
“Non Anna.”
“Kamu dapat selimut ini dari mana?” tanya gadis itu.
“Dari penginapan ini, Non. Tadi saya pesen kamar. Jadi, ambil selimutnya di dalam,” kata Rahes.
“Ya, sudah. Kita masuk saja. Kamu juga pasti kedinginan,” ucap Anna.
“Ya, Non. Saya akan pesan satu kamar lagi.”
Pria itu hendak berjalan lebih dulu, tapi Anna mencegahnya dan meminta Rahes untuk berhenti.
“Satu kamar saja, Rahes. Kita hanya butuh tempat hangat, kan?”
Anna kemudian berjalan lebih dulu. Dengan sedikit bingun, Rahes pun mengekor pada gadis itu dan menunjukkan di mana kamar yang ia sewa. Anna langsung masuk ke kamar mandi setelah Rahes membukakan pintu. Gadis itu memilih mengganti pakaiannya dengan piyama mandi dan keluar dengan baju basahnya.
Rahes yang berdiri di balkon tentu saja terkesiap. Pria itu memutar tubuh demi memastikan jika ia yang lihat memanglah Anna anak Sanjaya.
“Ganti baju kamu juha dengan piyama mandi. Biar nanti kita pakai layanan kamar untuk mengeringkan pakaian kita,” jelas Anna.
“Baik, Nona.”
Rahes pun bergegas. Ia menuruti apa yang dititahkan oleh Anna dan keluar dengan piyama mandi yang sama dengan gadis itu. Setelah menyerahkan pakaian kotor mereka pada binatu, Rahes kembali masuk ke kamar. Anna tampak duduk dengan memeluk lututnya yang tertutup selimut. Gadis itu menatap hujan yang masih mengguyur melalui balkon kamar.
Rahes tidak berani mendekat. Ia tidak mau ikut campur. Nyatanya, Anna yang menyadari pria itu sedang kebingungan menoleh, lalu mengulas senyum kecil.
“Duduklah di sini, Rahes. Di sini lebih hangat,” kata Anna.
“Emm … iya, Nona.”
Pria itu pun mendekat. Ia dengan hati-hati mengempaskan bokongnya agak jauh dari Anna perlahan. Ketika kemudian gadis itu membuka suara.
“Aku enggak tau apa aku berlebihan atau tidak? Aku benar-benar merasa kecewa kepada Papa, Rahes,” kata Anna saat itu.
Matanya jauh menatap hujan yang terus membasahi bumi.
“Maaf, Nona. Tapi, ada baiknya Non Anna bertanya pada Tuan Sanjaya. Apa yang mendasari Tuan Sanjaya melakukan itu. Semua pasti ada alasannya,” kata Rahes.
“Iya, mungkin kalau aku enggak pulang, aku enggak akan pernah tau kalau keluargaku sudah berada di ambang kehancuran,” ucap gadis itu lagi.
Kali ini, diselingi tawa getir yang membuat Rahes mendadak iba. Ya, Tuhan. Ia tak seharusnya merasa demikian. Anna adalah anak dari musuhnya. Mengapa harus merasa iba.
“Non Anna pulang juga bukan karena ingin melihat hal itu, kan? Jadi, Walaupun Non Anna misal memilih bertahan di Amerika, jika sudah waktunya terbuka pasti Non Anna akan tetap mengetahuinya,” jelas Rahes.
Anna menoleh ke arah sang sopir, gadis itu tersenyum mendengar penuturan Rahes yang begitu logis. Ya, tentu saja. Semua mungkin akan tetap terjadi walaupun ia ada di Amerika saat ini. Kecuali pertemuannya dengan Rahes.
“Ya, kamu benar, Rahes. Mungkin semua memang sudah waktunya terjadi. Seperti kehadiran kamu saat ini. Terima kasih, ya. Mungkin kalau enggak ada kamu … aku enggak tau, deh, jadi gimana,” kata Anna manja.
Rahes hanya mengangguk. Kali ini, dadanya berdebar dengan keras karena Anna menggenggam tangannya dengan erat. Sampai akhirnya ponsel Rahes berdenting. Satu pesan masuk dari Darman yang kemudian membuat Rahes sadar.
“Fokus dengan tujuan kamu, Rahes,” tulisnya.