Bab 5. Alasan Menduakan

1388 Words
Naima menyibak gorden jendela rumahnya ketika mendengar deru mobil berhenti di halaman. Itu adalah mobil Sanjaya. Buru-buru Naima membukakan pintu karena tak biasanya sang bos datang tanpa memberitahu lebih dulu. “Ada apa?” tanya Naima ketika pria itu turun dari mobil. “Setidaknya, berikan aku minum dulu sebelum bertanya,” ucap Sanjaya. Naima mengangguk. Ia mempersilakan pria itu masuk dan menuju ke dapur untuk membuatkan jahe hangat untuk Sanjaya. Wanita itu bahkan sampai hafal apa kesukaan sang bos ketika hujan begini. “Ini, Mas. Minumlah,” ucap Naima. Sanjaya mengangguk, lalu dengan perlahan menyeruput jahe hangat kesukaannya. Lantas, meletakkan cangkirnya lagi untuk kemudian bercerita pada kekasih gelapnya. “Ada apa, Mas? Kenapa ke sini enggak kasih kabar dulu? Mas bertengkar lagi dengan Mbak Melisa?” tanya Naima saat ini. “Iya.” Naima ikut membuang napasnya. Janda tanpa anak itu pun menunduk dalam. Sudah berkali-kali ia mengatakan pada Sanjaya untuk meninggalkannya. Namun, pria itu tetap mencarinya. Bahkan ia sudah sempat resign dari kantor. Sayangnya, Sanjaya lagi-lagi mencegahnya. Alasannya, karena hanya Naima yang bisa mengerti dirinya. “Anna pulang dan mengetahui semuanya,” imbuh pria itu. “Astaga, Mas. Gadis itu pasti kecewa kepadamu. Sudahlah, kita akhiri saja semuanya. Aku enggak mau Anna membenciku,” jelas Naima. “Enggak, Ma. Aku masih mau sama kamu. Aku sudah tidak tahan dengan sikap Melisa,” kata Sanjaya. “Tapi semuanya akan berantakan, Mas. Hubungan baikmu dengan Anna juga. Dia sayang banget sama kamu, Mas.” ucap Naima. Sanjaya tak menimpali. Ya, ia akui jika ia juga sangat menyayangi Anna. Namun, meninggalkan Naima bukanlah keputusan yang tepat. Ia tak mau melakukan itu karena bagi Sanjaya, Naima adalah wanita yang sangat baik. Berbeda dengan Melisa. “Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan mengatakan semuanya pada Anna mengenai apa yang terjadi. Kamu jangan berpikir untuk pergi dariku,” kata Sanjaya. Naima hanya terdiam. Lantas, mengangguk lemah usai hening yang mencekam. Sebagai seorang wanita, Naima juga tahu bagaimana rasanya dikhianati. Namun, melihat sang bos sekaligus kekasihnya mengiba begini, ia tak bisa diam saja. Ya, ia akan bertahan. Sama seperti Sanjaya. Sementara itu di penginapan, Rahes masih asyik menyesap tembakau di balkon kamar. Sembari menunggu binatu selesai dengan pakaian mereka, pria itu memilih menenangkan dirinya di sana. Anna tertidur di ranjang. Tampak sekali jika gadis itu begitu lelah. Tadi, ia bercerita panjang lebar mengenai keluarganya. Yang tentu saja, Rahes sudah mengetahui semuanya. Namun, ia tetap mendengarkan demi menghargai gadis itu. “Sialan! Kalau terus begini, aku tidak akan bisa membalas dendam,” batinnya. Ia seharusnya tidak iba ataupun merasa kasihan pada siapa pun di keluarga Sanjaya. Sebab, mereka telah membuat hidup yang awalnya baik-baik saja menjadi penuh dengan kesedihan karena kehilangan kedua orang tua. Dan dengan kejamnya, Sanjaya dan Melisa mengambil alih semua yang menjadi haknya. Apakah ia bisa membiarkan mereka dan keturunannya hidup bahagia? Tidak, tidak akan pernah. Tok-tok-tok! Ketukan di pintu menarik Rahes dalam kelana angan. Pria itu melempar puntung rokok melewati balkon dan membuka pintu kamarnya. “Permisi, Pak. Ini pakaiannya sudah selesai,” kata seorang wanita paruh baya yang mengantarnya. “Oh, iya. Terima kasih. Berapa?” tanya Rahes kemudian. “Istri Anda sudah membayarnya tadi. Bahkan melebihkan uangnya. Dia sangat baik, Pak. Buat dia bahagia, ya,” kata wanita itu. Rahes hanya tersenyum kecil. Ia menoleh ke arah di mana Anna terlelap. Aah … entahlah. Makin banyak alasan Rahes untuk tidak membencinya. Namun, papa dan mamanya pasti akan sangat sedih jika ia sampai jatuh hati pada gadis itu. Tidak, jangan sampai. Setelah layanan binatu berlalu, Rahes membawa pakaian mereka yang bersih mendekati ranjang. Niat hati meletakan baju Anna di tepi ranjang, tapi gadis itu malah berubah posisi hingga selimutnya tersingkap. Rahes tertegun. Apa yang ia lihat sangat menakjubkan, tapi lagi-lagi ia menggeleng lemah. Ada banyak wanita yang bisa ia miliki selain Anna. Jadi, ia dengan cepat menutup betis indah gadis itu dengan selimut dan berlalu. Setelah pria itu pergi ke kamar mandi, Anna membuka mata. Senyum gadis itu terkembang ketika menyadari sikap santun Rahes barusan. Aah … andai ia pria tak tahu diri, pasti bisa dengan sengaja memanfaatkannya. Namun, tidak dengan Rahes. Ia malah menutup kaki Anna dengan selimut. “Manis sekali pria itu,” bisik Anna kemudian. Saat tak lama kemudian Rahes selesai mengganti pakaiannya, ia keluar dan melihat Anna sudah terjaga. Gadis itu duduk di tepi ranjang dan tersenyum pada Rahes yang merasa jengah. “Non Anna sudah bangun.” “Iya. Aku pakai kamar mandi dulu, ya. Setelah ini kita makan terus pulang,” ucap Anna. “Non Anna yakin sudah baik-baik saja?” tanya Rahes kemudian. “Iya. Aku enggak mau lari lagi. Seperti yang kita bicarakan tadi, semuanya pasti punya alasan yang jelas,” katanya. Anna tersenyum, lalu masuk ke kamar mandi meninggalkan Rahes yang masih terdiam. Entah kenapa, rasa kagum pada gadis anak Sanjaya itu makin besar. Nyatanya, ia memang bukan pihak yang bersalah di masa lalu. Lantas, apa bisa Rahes mengampuninya? *** Rahes dan Anna kemudian pulang usai makan bersama di restoran. Langkah gadis itu mulai goyah ketika Rahes membukakan pintu mobil setelah menghentikan kendaraan itu di halaman kediaman Sanjaya. Masih ada rasa kecewa yang terpendam di hati gadis itu. Itu yang membuat Anna ragu untuk melangkah. “Non Anna,” panggil Rahes. Pria itu ingin memastikan jika sang majikan sudah baik-baik saja saat ini. Ketika itu, Anna mendongak. Ia memaksakan senyum pada sang sopir yang sejak tadi terus menguatkan. “Iya.” Anna kemudian keluar. Ia mulai berjalan menuju ke pintu utama setelah menenangkan diri. Ketika ia menekan kenop dan mendorongnya, Sanjaya yang sejak tadi menunggu gadis itu di ruang tamu pun bangkit. Gegas ia mendekati Anna dan meminta ampunan pada anak gadisnya itu. “Anna, Papa minta maaf. Papa memang salah. Jadi, tolong dengarkan dulu penjelasan Papa, Anna,” katanya. Anna membuang napasnya dengan kasar. Sebelum bicara, ia menunduk. Lantas, menatap sang papa usai hatinya siap. “Jangan sekarang, ya, Pa. Lain kali saja jelasinnya. Anna capek. Anna mau istirahat,” katanya. Gadis itu masih diperam emosi dan kekecewaan. Jadi, tidak mau mendengar pembelaan dari sang papa untuk saat ini. Sanjaya memahaminya. Jadi, ia mengangguk dan melepas sang putri untuk masuk ke kamarnya. Saat itu, Rahes mengintip dari lorong yang menghubungkan dapur dan paviliun belakang. Entah kenapa, ada sesuatu yang tiba-tiba mengganjal. Wajah Sanjaya yang penuh penyesalan juga ingin ia lihat nanti ketika ia mendapatkan semuanya kembali. Dan itu akan segera terjadi. *** Pagi esoknya, Anna memutuskan untuk mengurung dirinya di kamar. Melisa yang kemudian menghampiri gadis itu ke ruangan pribadinya mendapati sang putri yang sedang demam. Ia mengecek kening Anna yang saat ini terbaring di ranjang. “Aku enggak apa-apa, Ma,” katanya. “Kamu demam, Sayang. Mama panggil dokter, ya.” “Enggak usah, Ma. Anna cuma butuh istirahat.” “Enggak, kamu sakit, Sayang. Ini semua pasti gara-gara Papa kamu. Jangan dipikirin, ya, Sayang. Mama sudah tidak peduli lagi dengan hal itu,” jelas Melisa. Anna menoleh ke arah sang mama. Melisa memang sudah tampak biasa saja. Bahkan, mungkin sudah tidak merasa apa-apa. Namun, tetap saja bagi Anna itu adalah hal yang sangat gila. “Oke, Kalau kamu enggak mau Mama panggil dokter, Mama akan belikan obat di apotek depan saja,” imbuh Melisa yang tidak mendapatkan jawaban dari sang putri. Anna akhirnya mengangguk lemah. Ia setuju dengan usul dari Melisa. Wanita itu lantas keluar dan menemui Rahes yang sudah selesai mencuci mobilnya. “Kita ke apotek depan. Aku mau belikan obat untuk Anna,” katanya. “Iya, Nyonya,” sahut Rahes. Mendengar keadaan Anna yang tidak baik-baik saja membuat pria itu menjadi sedikit cemas. Apakah gara-gara mandi hujan kemarin atau ada sebab yang lain. Lamunan Rahes itu kemudian dipatahkan oleh Melisa yang kemudian melempar tanya. “Kamu mikirin apa, Rahes? Jangan bilang, kamu mikirin malam waktu kita bersama,” kata Melisa kemudian. Rahes hanya bisa membuang napasnya dengan kasar. Wanita itu sungguh gila, batinnya. “Sudah sampai, Nyonya,” kata Rahes yang kemudian mengalihkan pembicaraan. Melisa hanya tersenyum, lantas turun untuk membeli obat. Selang beberapa menit, wanita itu kembali. Kali ini, Melisa tidak duduk di belakang, melainkan di samping kemudi. Rahes terkesiap ketika wanita itu tiba-tiba menyentuh pahanya. “Aku beli ini juga. Kita pakai, ya,” bisiknya pada Rahes seraya menunjukan alat pengaman pada pria itu. Rahes terbelalak. Sungguh tidak waras wanita ini. Apakah Melisa pikir ia adalah pria yang bisa dimanfaatkan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD