“Jangan, Nyonya,” ucap Rahes kemudian.
“Enggak apa-apa. Aku akan tambah gaji kamu dan juga, aku akan merahasiakannya kalau kamu enggak mau orang lain tahu,” kata Melisa kemudian.
Rahes benar-benar merasa jijik pada sikap murahan yang ditunjukan oleh Melisa. Wanita itu sama sekali tidak malu dengan apa yang dikatakan dan menggunakan uang sebagai senjata. Sungguh sangat menyebalkan. Andai bisa, Rahes akan langsung menendangnya. Namun, pria itu tetap harus menahan diri. Sebentar lagi saja, setidaknya sampai ia mendapatkan surat warisan asli milik mendiang orang tuanya. Juga surat-surat berharga lain yang bisa membuat Melisa dan Sanjaya miskin seketika. Rahes mau keduanya mendapatkan hukuman setimpal dengan apa yang mereka lakukan.
“Jangan, Nyonya. Saya takut,” bisik Rahes kemudian.
Jangan, jangan sampai ia melakukan hal itu lagi dengan Melisa. Rahes benar-benar merasa kesal jika mengingat malam itu. Malam ia diberi obat perangsang dan akhirnya melampiaskan semuanya dengan Melisa. Ia bahkan merasa jijik pada dirinya sendiri setelah itu.
“Jangan takut, Sayang. Aku akan mengatur semuanya,” kata Melisa lagi.
Kali ini, tangannya pindah ke paha dalam dan langsung menyadar zipper celana Rahes. Pria itu tentu saja langsung mengelak. Ia tidak mau lagi disentuh oleh Melisa yang sudah benar-benar gila pada sentuhannya.
“Jangan. Nyonya. Tolong jangan lakukan ini,” ucap Rahes.
“Sebentar saja, Rahes. Aku akan membuatmu nikmat. Aku rindu milikmu.”
“Jangan, Nyonya. Jangan!”
Rahes masih mencoba untuk menolak kegilaan dari Melisa, ketika kemudian ponsel wanita itu berdering. Melisa membuang napasnya dengan kasar dan mundur sejengkal. Gegas ia melihat siapa yang menghubunginya dan menerima panggilan itu.
“Halo, Jeng.”
“ …. “
“OTW, ke rumah. Ya ampun, kenapa enggak bilang dulu. Oke-oke. Ini aku juga udah mau pulang, kok.”
“ …. “
“Oke, CU.”
Wanita itu menutup sambungan telepon, lalu menyimpan kembali benda elektronik itu di dalam tas.
“Kita pulang sekarang,” titah Melisa pada Rahes kemudian.
Pria itu membuang napasnya dengan kasar. Syukurlah, kali ini ia terselamatkan. Pria itu bergegas untuk melajukan mobilnya menuju kediaman Sanjaya setelah itu. Sesampainya di halaman, Melisa yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya langsung keluar. Wanita itu meninggalkan obat yang tadi ia beli untuk Anna dan berlalu. Tampaknya, Melisa sibuk memesan makanan karena rekan-rekan sosialitanya akan datang hari ini, hingga melupakan tujuannya tadi ke apotek.
Usai memarkir kendaraannya, Rahes membawa obat-obatan yang dibutuhkan Anna ke dalam. Ia menemui ART yang saat itu sedang sibuk dengan cucian piring.
“Ya, ada apa, Rahes?” tanya Marni.
“Minta tolong, berikan ini pada Non Anna, ya, Bik. Ini obat dari apotek. Sekalian, antar makan dan minuman,” kata Rahes.
“Oh, iya-iya.”
Marni segera mencuci tangannya. Gegas ia naik ke kamar Anna dan memberikan obat itu. Sementara Melisa malah sibuk memilih pakaian di dalam kamarnya.
Saat Marni mengetuk pintu, Anna segera membukanya. Gadis itu tampak pucat dan mempersilakan sang ART untuk masuk.
“Non, makan dulu. Baru minum obatnya, ya,” kata Marni.
“Kok, repot-repot, Bik? Anna bisa turun nanti.”
“Nyonya akan kedatangan tamu. Pasti nanti sampai sore. Non Anna pasti enggak nyaman kalau turun. Jadi, bibik antar makanan ke sini. Oh, iya. Ini obat dari Rahes tadi, Non,” jelas Marni.
Anna mengernyit. Bukankah tadi yang hendak membelikan obat itu sang mama. Kenapa Rahes yang malah memberikannya pada Marni?
“Tapi tadi dia pergi sama Mama, kan?” tanya Anna.
“Iya, Non. Tapi enggak tau, kok, obatnya ada di Rahes,” jawab Marni.
Anna tersenyum kecil. Ia tak memperhatikan detailnya. Namun, sang sopir memang sangat perhatian.
“Terima kasih, ya, Bik,” kata Anna kemudian.
Marni kemudian pamit untuk kembali ke dapur. Sementara Anna memilih menyantap sarapannya. Walaupun mulutnya terasa pahit dan enggan untuk menelan, tapi ia mencoba menghargai Marni dan Rahes yang telah memperhatikannya.
Usai menyantap makanan secukupnya, Anna meminum obat yang tadi dibawakan oleh Marni. Lantas, pergi ke balkon untuk mencari udara segar. Saat ia melongok keluar, Rahes tampak sibuk mengelap mobilnya. Senyum Anna terkembang sempurna saat itu. Melihat ketekunan pria itu, ia mendadak jadi kagum. Apakah Rahes benar-benar hanya sopir pengganti atau ini hanya pekerjaan sampingannya saja?
“Rahes,” panggil Anna kemudian.
Pira itu menoleh ke kiri dan kanan usai mendengar panggilan itu. Ia mencari sumber suara yang memanggilnya. Namun, tidak ada siapa pun di sana.
“Rahes, aku di sini,” kata Anna lagi.
Saat panggilan kedua itu, pria itu baru menyadari siapa yang memanggilnya. Ia tersenyum saat melihat Anna ada di balkon lantai 2. Walaupun masih sangat pucat, tapi Rahes senang bisa melihat gadis itu saat ini.
“Terima kasih obatnya,” ucap Anna lagi.
Kali ini, hanya dengan isyarat bibir karena tenaganya masih belum pulih sempurna. Sementara Rahes mengangguk lemah. Hatinya terus menghangat ketika berhadapan dengan gadis itu. Seberapa kuatnya ia menampik, tapi kenyataan mengenai perasaannya tidak bisa ia sembunyikan. Anna benar-benar telah mencuri hatinya diam-diam.
***
Siang itu, kediaman Sanjaya begitu gaduh. Rekan-rekan sosialita Melisa yang berkumpul tak henti membuat suasana rumah menjadi tidak tenang. Anna yang mencoba memejamkan mata sejak tadi hanya bisa berguling-guling di ranjang karena tidak bisa beristirahat.
Gadis itu pun akhirnya memutuskan untuk turun dan pergi ke halaman belakang. Ia memilih duduk di bangku taman sembari menikmati suasana di sana. Tak lama kemudian, mobil sang papa memasuki gerbang utama. Karena belum mau bertemu dengan pria itu, Anna akhirnya bersembunyi di paviliun. Ia tanpa permisi membuka pintu kamar paling ujung yang tak terkunci dan menutupnya. Saat ia menoleh, gadis itu terkesiap melihat Rahes yang baru saja selesai mandi. Pria itu juga terkejut karena tiba-tiba anak majikannya ada di sana. Untung saja ia telah berpakaian.
“Non Anna, ada … apa?” tanyanya ragu.
Anna masih diam. Bibirnya terbuka, tapi tidak satu kata pun keluar dari mulutnya. Ia menunjuk ke luar, tapi tentu saja Rahes tidak paham. Pria itu tersenyum kecil. Baru setelah itu, Anna bisa berbicara dengan lancar.
“Maaf, Rahes. Ada Papa di luar. Aku masih … belum mau biacra sama dia. Jadi, aku masuk ke sini,” ucapnya sambil menunduk malu.
“Enggak apa-apa, Nona. Silakan. Maaf, ruangannya kotor,” kata pria itu.
“Oh, enggak. Ini nyaman, kok,” sahut Anna.
Gadis itu sedikit merasa canggung karena masuk ke kamar seorang pria tanpa izin. Namun, mau bagaimana. Ia tak tahu harus berbuat apa tadi. Anna lantas mengempaskan tubuhnya di tepi ranjang milik Rahes. Gadis itu mengedarkan pandangan ke segala ruangan dan menilai jika pria itu sangat rapi.
“Bagaimana keadaan Non Anna?” tanya Rahes usai mengempaskan tubuh di kursi kayu yang ada di depan meja.
“Aku udah baikan. Makasih, ya.”
“Sama-sama, Non.”
Hening menyergap keduanya setelah itu. Entah kenapa, Rahes sampai kehabisan topik pembicaraan. Bukankah biasanya ia selalu punya ide mencairkan suasana? Namun, tak lama kemudian, ponselnya berdering. Darman yang menghubunginya.
“Maaf, Non. Saya izin angkat telepon dulu,” kata pria itu.
“Oh, iya. Silakan.”
Rahes pergi keluar demi bisa bicara dengan Darman, sedangkan Anna memilih merebah di kasur nyaman milik Rahes.
“Halo, Paman.”
“Halo, Rahes. Aku sudah tahu tentang kepulangan Anna yang mendadak. Jadi, apa ada yang terjadi?” tanya Darman dari seberang telepon.
“Anna tau kalau Sanjaya sudah berselingkuh, Paman.”
“Oke. Kita akan pikirkan langkah selanjutnya. Ingat, ya, Rahes. Jangan sampai kamu goyah. Kita sudah jauh,” ucap Darman.
“Iya, Paman.”
Rahes lantas kembali ke kamar usai berbicara dengan Darman. Ia mengingat ucapan pria itu untuk tidak goyah. Nyatanya, ketika ia masuk, sosok bidadari tengah terlelap di ranjangnya. Wajah Anna sangat teduh ketika tertidur. Andai ia pria b******k, Anna pasti sudah menjadi korbannya. Jadi, apakah ia akan goyah?
“Ya Tuhan, kenapa dengan diriku ini?” bisiknya pada diri sendiri.