“Cantik,” bisik Rahes saat itu.
Pria itu masih asyik mengamati paras paripurna Anna yang sedang terlelap di ranjangnya. Sungguh, ia tidak merasa bosan sama sekali. Gadis itu memiliki mata bulat yang menawan. Hidungnya bangir sama seperti Sanjaya, sedangkan bibirnya yang penuh mirip dengan Melisa. Perpaduan itu benar-benar membuat Rahes tak bisa menahan diri untuk tidak terpaku pada Anna. Sampai akhirnya, gadis itu bergerak dan mengubah posisi tidurnya.
Anna mengerjap ketika menyadari ia telah terlelap di kamar orang lain. Buru-buru ia bangkit dan membuat Rahes yang sejak tadi memperhatikannya terkejut.
“Astaga, aku ketiduran. Rahes, kenapa kamu enggak bangunin aku?” tanya Anna saat itu.
“Emm … ma–maaf, Nona. Non Anna pules banget tidurnya. Saya tidak berani mengganggu,” katanya.
“Aah … tapi, kan, aku udah lancang tidur di kamar kamu,” kata gadis itu.
“Enggak apa-apa, Nona.”
Anna tersenyum kecil. Pria di depannya benar-benar baik. Jika tidak, mungkin ia sudah dimanfaatkan sejak berada di penginapan kemarin.
“Ya, udah. Aku balik ke kamar, deh.”
“Iya, Nona,” sahut Rahes.
Anna kemudian beringsut ke tepi ranjang. Gadis itu mengenakan sandalnya dan berjalan pelan diekori oleh Rahes di belakang.
“Bye.”
Anna melambaikan tangan kepada Rahes saat berjalan menjauhi paviliun. Sementara pria itu hanya bisa tersenyum kecil karena tidak mau bertindak berlebihan. Rahes lantas kembali masuk ke kamarnya dan membuang tubuh ke ranjang. Lengan kirinya ia gunakan sebagai bantal demi menatap plafon ruangannya.
Pria itu membuang napasnya dengan kasar. Ia tak tahu, tapi bayangan Anna terus lewat di pelupuk matanya. Terlebih saat tadi ia terlelap. Lantas, apa yang harus ia lakukan agar tidak terbawa perasaan?
Saat Rahes hendak terlelap, aroma tubuh Anna tiba-tiba menguar. Pria itu kembali membuka mata dan melihat ke arah pintu kamarnya. Tidak ada siapa pun. Namun, kenapa aromanya tidak mau hilang?
Rahes menunduk dalam ketika sadar bahwa ranjang yang ia gunakan baru saja dipakai oleh Anna untuk tidur. Jadi, bagaimana ia bisa melupakan gadis itu jika semua yang ada pada Anna melekat di setiap tempat?
***
“Lain kali kalau datang bilang-bilang, ya. Biar aku bisa nyiapin semuanya,” kata Melisa ketika mengantar rekan-rekan sosialitanya yang tadi datang.
“Oke, deh. Ini tadi, kan, cuma mampir. Kebetulan kita lewat tadi,” jelas salah satu teman Melisa.
“Iya, deh. Nanti gantian aku yang ke tempat kalian. Siapin sesuatu yang spesial, ya,” kata Melisa lagi.
“Siap. Berondong, kan, maksud kamu?” bisik yang lain.
Para wanita paruh baya itu bersorak. Semuanya paham apa yang mereka bicarakan. Sampai akhirnya, salah satu dari mereka melihat Rahes keluar dari kamar dan menuju ke dapur karyawan.
“Eh, siapa itu, Mel?” tanyanya menunjuk Rahes yang sedang berjalan.
Melisa menoleh. Wajahnya memerah ketika ditanya siapa pria itu. Tentu saja itu kesayangannya. Pria yang telah memberikan kehangatan padanya kemarin lusa walaupun dengan sedikit paksaan.
“Dia? Emm … kasih tau enggak, ya?”
“Ih, pelit. Jangan bilang dia … aaah.”
Semuanya bersorak ketika Melisa mengedipkan matanya. Mereka semua paham mengapa wanita itu melakukan itu. Sebab Melisa berbagi semua hal dengan mereka selama ini. Termasuk bagaimana kehidupan rumah tangganya dengan sang suami. Jadi, tak heran jika kemudian ia memiliki seorang pria idaman lain dalam hidupnya.
“Bagi, dong, Mel. Kayaknya seger banget,” celetuk yang lain.
“No. Yang ini cuma buat aku seorang,” katanya.
“Ih, pelit,” ucap salah satunya.
“Sudah sana kalian pulang. Suami-suami kalian pasti sudah menunggu di rumah,” ucap Melisa.
“Iya, deh. Kita balik, ya.”
Melisa menunggu mobil rekan-rekannya berlalu, baru kemudian menghampiri Rahes yang kali ini berjalan menuju ke kamarnya usai menyantap makanan di dapur. Saat itu, pria itu tak menyadari jika Melisa mengekorinya. Sampai akhirnya ketika ia hendak masuk ke kamar, Rahes menoleh.
“Nyonya.”
“Iya, ini aku. Emm … aku mau ngajak kamu ketemu sama temen-temenku kapan-kapan,” katanya.
“Untuk apa, Nyonya?” tanya Rahes.
Bukan malah menjawab, Melisa malah mendekati sopirnya dan mengulurkan tangan demi mengusap tubuh bagian bawah Rahes dengan perlahan.
“Jangan, Nyonya,” kata pria itu seraya mundur sejengkal.
“Kenapa, Rahes? Apa aku harus memberimu obat perangsang lagi biar kamu mau melayaniku, hah? Ayolah, aku sudah tidak tahan,” ucap Melisa makin menggila.
Rahes kembali mundur. Wanita di depannya memang sudah benar-benar gila. Lantas, apa yang harus ia lakukan sekarang? Tepat saat itu, suara manis memanggil Melisa dari belakang.
“Ma, Mama ngapain?”
Melisa menoleh. Di sana, Anna berdiri dengan pakaian yang sudah rapi. Gadis itu ingin meminta Rahes mengantarnya pergi. Namun, melihat sang mama ada di sana, ia jadi penasaran.
“Anna, kamu mau ke mana?” tanya Melisa mengalihkan perhatian.
“Mau ketemu Kak Vano, Ma. Makanya ini mau minta antar Rahes,” jawab Anna.
“Oh, gitu. Mama tadi … nanyain soal obat kamu ke Rahes. Kan, ketinggalan di mobil,” alibi Melisa.
“Oh, udah Anna minum. Udah baikan juga. Makasih, ya, Ma.”
“Iya, ya, udah. Mama naik, ya. Hati-hati kalian,” ucap Melisa kemudian.
Wanita itu kemudian berlalu dengan penuh kekecewaan. Padahal, ia sudah tidak tahan lagi untuk merasakan kehangatan tubuh sang sopir tampan. Sementara itu, Rahes membuang napasnya dengan gusar. Ia benar-benar merasa lega karena Anna datang tepat waktu. Jadi, ia bisa menghindari dari si wanita gila, Melisa.
“Rahes, kamu enggak apa-apa?” tanya Anna.
“Enggak apa-apa, Non. Emm … sebentar saya ganti baju dulu,” kata Rahes.
Anna mengangguk lemah. Rahes lantas masuk ke kamarnya untuk berganti baju. Setelahnya, ia keluar dan menemui Anna yang sudah menunggunya.
“Kita pergi sekarang, Nona,” ucap pria itu.
“Iya.”
Rahes berjalan lebih dulu dan langsung membukakan pintu untuk Anna. Pria itu menjalankan perannya seperti biasa dan mengantar Anna sampai ke kampus. Hanya butuh waktu beberapa saat sampai akhirnya mereka sampai di sana.
Rahes melihat Anna dari spion sebelum turun dari mobil.
“Non Anna sudah enggak apa-apa?” tanya Rahes.
“Iya. Aku udah mendingan, kok,” jawab Anna.
Rahes kemudian turun dan membukakan pintu untuk anak majikannya. Setelah Anna keluar, ia menutup pintu dengan perlahan.
“Kamu langsung pulang saja, aku nanti akan pulang bersama temanku,” kata Anna.
“Em … begitu? Iya, Nona,” jawab Rahes ragu.
Jujur, ia tak mau Anna kenapa-napa. Aah … ralat. Sejujurnya Rahes merasa kesal ketika Anna bersama pria lain. Jadi, apa yang harus ia lakukan?
“Anna.”
Tiba-tiba keduanya mendengar panggilan dari arah kampus. Itu Vano. Anna langsung tersenyum dan melambai ke arah pria itu. Sebelum bergabung dengan pria itu, Anna menoleh ke arah Rahes yang berdiri di belakangnya.
“Sudah, kamu pulang aja. Terima kasih, Rahes,” ucap Anna.
Rahes hanya mengangguk. Ia masih belum beranjak dan menatap punggung anak majikannya menghilang di balik tembok kampus. Pria itu membuang napasnya dengan gusar. Lantas, mengusap wajahnya perlahan.
“Aku akan nunggu di sini, Nona,” bisiknya.