Bab 8. Mengalahkan Benciku

1290 Words
“Sialan! Aku jadi harus menahannya kali ini. Padahal, aku ingin sekali melakukannya saat ini,” ucap Melisa seraya naik ke kamarnya. Wanita itu merasa sangat gusar karena tidak bisa menikmati tubuh sang sopir. Tentu saja, karena Anna mendadak minta diantar. Jadi, ia harus menahan diri lagi. Tubuh Rahes memang sangat membuat candu. Entahlah, Melisa merasa bahwa tidak ada yang bisa membuatnya terpuaskan selain pria itu. Saat hendak masuk ke kamar, Melisa berpapasan dengan Sanjaya yang menatapnya dengan lekat, lalu melempar tanya. “Anna ke mana?” “Ke kampus,” jawab Melisa singkat. “Dengan sopir?” “Iya.” “Berikan nomer sopir itu padaku. Aku butuh menghubunginya,” kata Sanjaya kemudian. Melisa membuang napasnya dengan kasar. Ia sedang kesal-kesalnya tapi sang suami malah sibuk meminta nomer Rahes. Jadi, ia tetap masuk ke kamar dan mengirim kontak pria itu melalui pesan singkat. Setelah mendapatkan nomer Rahes, Sanjaya segera menghubunginya. Pria itu hanya ingin sang putri aman karena perasaannya sedang tidak baik-baik saja sekarang. Telepon tersambung tak lama kemudian. Sanjaya lantas menunggu beberapa saat sampai akhirnya suara bariton Rahes terdengar dari seberang telepon. “Halo.” “Rahes, ini aku. Sanjaya. Apa kamu sedang bersama Anna sekarang?” tanya Sanjaya tanpa basa-basi. “Emm … Non Anna masih ada di dalam kampus, Tuan. Saya menunggu di luar,” kata Rahes kemudian. Walaupun penuh emosi, tapi pria itu mencoba untuk tetap tenang dan menahan diri untuk tidak memaki. “Ok, kamu tungguin dia sampai dia pulang. Aku enggak mau Anna kenapa-napa,” kata pria itu kepada sang sopir. “Baik, Tuan,” sahut Rahes kemudian. “Ya, sudah. Simpan nomerku ini. Hubungi aku kalau ada apa-apa. Aku tutup teleponnya.” Tut-tut-tut. Rahes membuang napasnya dengan gusar. Ia mulai mengambil asumsi dari semua yang terjadi selama ini. Sanjaya sangat menyayangi Anna. Bagaimanapun, gadis itu adalah kelemahannya. Namun, menjadikan Anna umpan bukan keputusan tepat. Mana bisa gadis tidak berdosa itu ikut mendapatkan karma. Aah … Rahes mulai bermain hati. Pria itu bukan memikirkan hal itu, melainkan perasaannya terhadap Anna. Walaupun baru bertemu beberapa waktu saja, Rahes yakin jika gadis itu adalah gadis yang baik. Sayang, ia lahir dari rahim wanita yang telah berlaku jahat kepada orang tuanya. Setelah menunggu selama 3 jam, Anna akhirnya keluar. Dari kejauhan, ia bisa melihat gadis itu sedang asyik bercanda dengan Vano. Kakak tingkatnya di SMA dulu. Keduanya tampak begitu akrab, hingga tanpa sadar Rahes mengetatkan rahangnya. Pria itu mencoba untuk tenang dan membuang perasaan tak enaknya saat ini. Namun, itu begitu sulit. Rahes akhirnya keluar dan mobil dan menyapa sang nona dengan lantang. “Non Anna.” Anna yang merasa namanya dipanggil segera menoleh. Gadis itu terkesiap ketika melihat Rahes masih ada di sana tanpa beranjak sedikitpun. “Rahes, kamu kenapa masih di sini? Kan, tadi aku udah bilang, kamu pulang aja. Aku bisa pulang sama temenku,” ucap Anna. “Maaf, Nona. Kata Tuan Sanjaya, Non Anna harus pulang dengan saya,” jelas Rahes. Anna terdiam. Ia sedikit terkejut ketika papanya bahkan meminta sang sopir menunggu. Ia pikir, Sanjaya tak peduli lagi dengannya. Nyatanya, pria itu masih sama walaupun telah melakukan kesalahan. “Oh, gitu. Oke, aku pamit ke temenku dulu, ya.” Rahes mengangguk. Ia melihat Anna yang berjalan mendekati Vano yang berdiri tak jauh dari tempatnya memarkir mobil. “Maaf, ya, Kak. Lain kali aja kita pulang barengnya. Papa minta aku pulang sama sopir,” kata Anna. “Iya, enggak apa-apa. Tapi, lain kali janji, ya. Aku mau sekalian ngajak kamu makan,” kata Vano kemudian. “Oke, janji.” Anna lantas melambai pada pria itu dan menghampiri Rahes. Sang sopir tampak tegang dan memasang wajah kesal saat ini. Kendatipun tak tahu sebabnya, tapi Anna enggak bertanya karena mungkin itu adalah masalah pribadi. Rahes kemudian membukakan pintu untuk Anna. Namun, gadis itu malah menutupnya dan tersenyum pada Rahes. “Aku naik di depan aja,” katanya. Anna berlalu dan masuk sendiri ke kursi sebelah kemudi. Sementara Rahes buru-buru masuk dan duduk di belakang setir. “Emm … Non Anna enggak apa-apa duduk di sana?” tanya pria itu. “Aman,” sahut Anna. Rahes mengangguk, lantas melajukan kendaraannya menuju kediaman Sanjaya. Dalam perjalanan, Anna yang penasaran akhirnya melempar tanya pada Rahes yang sedang mengemudi. “Papa tadi bilang apa?” tanya gadis itu. “Tuan Sanjaya bilang kalau saya harus pulang bersama Non Anna. Beliau mencemaskan Non Anna,” kata Rahes. Anna mengangguk lemah. Ingatan gadis itu kembali terbang ke masa lalu, saat ia masih sangat kecil. Sanjaya adalah ayah yang sangat baik dan paling penyayang. Bahkan ketika mereka sedang dalam kesulitan. Jadi, apakah pria itu bisa berubah dengan cepat? “Dulu, waktu kita masih tinggal di rumah kontrakan, Papa sama Mama selalu memanjakanku. Walaupun hanya dengan sesuatu yang sederhana, rasanya damai banget. Tapi, setelah pindah ke rumah yang sekarang, mereka kadang sibuk. Ya, walaupun kasih sayang mereka tetap sama,” ucap Anna. Rahes berpikir sejenak. Dulu mereka tinggal di kontrakan? Apa mungkin itu sebelum Sanjaya dan Melisa mencelakai papa dan mamanya? “Aku masih enggak habis pikir Rahes, kenapa Papa sampai tega mengkhianati Mama,” ucap gadis itu. Rahes menoleh demi melihat mimik wajah Anna yang tampak muram. Gadis itu membuang napasnya dengan kasar, seolah-olah ingin menghilangkan beban yang tertumpuk di dalam dadanya. “Non Anna udah coba dengerin apa alasan Taun Sanjaya belum?” tanya Rahes. Gadis itu menggeleng kasar. Jangankan mendengarkan, melihat wajah sang papa saja Anna sudah tidak tahan. Ia ingin meluapkan emosi yang mungkin juga tersimpan di hati sang mama selama ini. “Coba Non Anna bicara baik-baik sama Tuan Sanjaya. Jangan menyela ucapanya dan tahan emosi Non Anna. Setelah semuanya jelas, beri komentar tentang apa yang Non Anna rasakan,” jelas Rahes. “Menurutmu begitu?” tanya Anna. Rahes mengangguk. Anna yang mendengar penjelasan pria itu tersenyum kecil, lalu mengomentarinya. “Pikiran kamu dewasa banget, Rahes. Sama seperti Kak Vano,” katanya. Rahes meradang. Apa-apaan ini? Kenapa ia malah dibandingkan dengan Vano? Jelas ia jauh lebih hebat daripada pria itu. “Kak Vano juga sering nasihatin aku. Dia punya banyak pengalaman dan pengetahuan. Emm … kayaknya dia tau semuanya, deh. Sama kayak kamu, Rahes,” kata Anna. “Beda, Nona. Jangan samakan,” ucap pria itu. “Tapi kamu sama dia–” Anna menjeda ucapannya ketika Rahes menatapnya dengan lekat. Mobil masih melaju, tapi tatapan pria itu malah tertuju pada sang nona yang saat ini hendak kembali membandingkannya dengan Vano. “Rahes, kita ada di jalanan,” kata Anna mulai ketakutan. “Lanjutkan apa yang tadi mau Non Anna katakan,” titah pria itu. Anna menggeleng lemah. Ia menatap ke depan dan melihat lampu merah di perempatan. “Rahes. Itu–” Anna memejamkan mata saat kemudian Rahes mengerem dan mobil tepat berhenti di belakang zebra cros. Anna masih berdebar-debar ketika pria itu kemudian membuka suara. “Vano pasti enggak bisa melakukan ini? Jadi, jangan samakan saya sama dia, ya, Non,” ucapnya. Anna masih menetralkan perasaannya, ketika kemudian senyumnya terbit seriring rasa kesalnya terhadap sang sopir. “Rahes, kamu nyebelin,” katanya. Tangan Anna memukul-mukul pelan bahu sang sopir. Sementara pria itu pura-pura kesakitan. “Eh, iya. Ampun-ampun, Non. Ampuun Non Anna,” katanya seraya menahan diri. Anna merasa sangat terhibur dengan kehadiran Rahes. Baiklah, jadi apakah rasa sedihnya sudah hilang? “Nah, gitu senyum. Non Anna cantik sekali ketika tersenyum,” ucap Rahes. Wajah Anna sontak memerah. Gadis itu tak menyangka jika pujian sopir tampannya bisa membuatnya merasa jengah. Lantas, apakah ini hanya sekadar pujian? Sementara itu, Rahes merutuki dirinya sendiri. Entah kenapa ia harus melontarkan pujian kepada gadis itu? Apakah ia sudah gila? “Makasih, Rahes,” sahut Anna. Nyatanya, senyum gadis itu menjadi yang paling indah saat ini bagi Rahes. Rasa bencinya telah kalah dengan perasaannya. Ya, perasaannya terhadap anak gadis musuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD