Bab 9. Dari Masa Lalu

1159 Words
“Udah nyampe,” ucap Rahes usai menghentikan mobil dan mematikan mesinnya. Pria itu menoleh ke arah Anna yang terus mengulas senyum sejak tadi. Seakan-akan rasa sedihnya hilang karena guyonan yang dilempar oleh sang sopir selama di perjalanan. Gadis itu tidak langsung turun, tapi mengusap lengan Rahes perlahan. “Terima kasih sekali lagi. Kamu benar-benar menghiburku hari ini, Rahes,” ucap Anna. “Sama-sama, Nona,” jawabnya. Rahes lantas turun lebih dulu demi membukakan pintu untuk anak majikannya. Dengan senyum yang sama-sama tidak luntur sejak tadi, pria itu mempersilakan Anna untuk turun. “Selamat malam, Non Anna. Selamat beristirahat,” katanya. “Malam, Rahes. Kamu juga selamat beristirahat.” Anna tersenyum, lalu melambai pada sang sopir yang berdiri di sebelah mobil. Rahes menunggu Anna masuk ke rumah utama sebelum akhirnya ia juga masuk ke kamarnya. Saat itu, Melisa melihat keduanya dari balkon kamarnya. Ia tampak gusar melihat kedekatan Anna dan Rahes. Tentu saja, ia tak mau itu terjadi. Rahes adalah miliknya, dan hanya dia yang bisa dekat dengan pria itu. Walaupun Rahes tampak enggan. Bukankah ia butuh pekerjaan ini dan pastinya Rahes harus patuh pada majikan, dan itu adalah dirinya. Sementara itu, Anna yang baru masuk ke dalam kamar masih belum mengendurkan senyumnya. Gadis itu bersandar pada pintu kamar yang baru saja ia tutup dan membuang napasnya dengan kasar. “Rahes, kenapa dia manis banget,” bisiknya pada diri sendiri. Anna kembali mengingat momen yang baru saja mereka lewati. Rasanya perjalanan pulang tadi sangat menyenangkan. Apakah pria itu memang sengaja datang dalam hidupnya sebagai penyemangat? Sementara Rahes yang juga masuk ke kamarnya langsung membuang tubuhnya ke ranjang. Ia ingin berdusta mengenai hatinya, tapi mana bisa? Semua terjadi begitu saja dan ia tak bisa menahan semuanya. “Aku harus gimana sekarang?” bisiknya pada diri sendiri. Tak lama kemudian, ponsel pria itu berdenting. Satu pesan masuk dari Melisa. Pria itu membacanya dengan perlahan dan membuang napasnya dengan perlahan. “Mau apa lagi wanita itu? Mana bisa aku naik ke kamarnya, sedangkan Sanjaya ada di rumah sekarang?” ucap Rahes. Pria itu membalas singkat, lantas meninggalkan ponsel di ranjang, sedangkan ia pergi untuk membersihkan diri. [Maaf, Nyonya. Saya tidak berani] Melisa membuang napas kasar usai membaca selarik pesan dari Rahes. Wanita itu melempar benda elektroniknya ke ranjang dengan gusar. “Sialan. Apa yang dia takutkan? Sanjaya dan Anna pasti sudah tidur sekarang. Apa aku ke kamar Rahes aja, ya?” kata Melisa. Wanita itu menimang-nimang semuanya, lantas memutuskan untuk turun menemui Rahes di bawah. Sialnya, ketika ia keluar, Sanjaya juga keluar dan hendak menemui Rahes di kamarnya. Ia ingin memberikan perintah khusus pada pria itu untuk menjaga sang putri dengan bayaran tambahan. Karena telah melihat kedekatan mereka sejak kemarin. Tak masalah Melisa akan protes karena mulai besok pria itu akan fokus pada Anna, bukan dirinya. Sanjaya bisa mencarikan sopir lain untuk sang istri jika ia keberatan dengan keputusannya. Sanjaya hanya melirik Melisa sekilas, lalu berjalan turun melalui tangga. Melisa akhirnya tidak jadi ke kamar Rahes. Ia mencoba melihat apa yang hendak suami kerjakan karena ternyata Sanjaya menuju ke paviliun belakang. Tok-tok-tok! Rahes terkejut ketika pintu kamarnya diketuk pelan dari luar. Pria itu mendadak waspada karena bisa saja Melisa nekat datang untuk menuntaskan hasratnya yang menggila. Jadi, ia mencoba mencari tahu. “Siapa?” tanya Rahes. “Aku Sanjaya.” Mendengar suara bariton pria itu, Rahes buru-buru membuka pintu. Ia menatap Sanjaya yang berdiri di depan pintu. “Tuan,” sapanya. “Kamu sudah tidur?” tanya Sanjaya. “Belum, Tuan.” “Saya mau bicara sebentar,” katanya. Rahes berdebar-debar. Ia tak menyiapkan sikap dalam situasi yang mendadak seperti ini. Yang ia hadapi saat ini adalah pria yang telah membuatnya menderita selama ini. Jadi, apa yang Sanjaya inginkan? “Silakan masuk, Tuan.” Rahes mempersilakan pria itu masuk, lalu memintanya duduk di bangku kayu satu-satunya di sana. Sementara dirinya duduk di tepi ranjang. “Ada apa, Tuan?” tanya pria itu hati-hati. “Saya mau kamu jadi sopirnya Anna saja. Kamu antar dan jagain dia di mana pun dia berada. Saya lihat, Anna nyaman sekali denganmu,” jelas Sanjaya. Rahes mengangguk. Agaknya, ini adalah cara yang tepat untuk bisa mengambil semua yang telah dirampas darinya dan orang tuanya selama ini. Sanjaya mulai percaya padanya, bahkan untuk menjaga anak semata wayang yang paling ia sayangi. “Tapi, bagaimana dengan Nyonya Melisa?” tanya Rahes. “Kamu tenang saja. Saya yang akan mengaturnya jika dia marah,” jelas Sanjaya. Rahes mengiakan permintaan Sanjaya. Selain ia bisa selalu dekat dengan Anna, ia juga bisa menghindari Melisa yang brutal dan liar. Sanjaya akan mengcover semuanya dan ia akan aman, batinnya. “Emm … apa Anna mengatakan sesuatu tentang saya kepada kamu?” tanya Sanjaya. “Iya, Tuan. Non Anna bilang masih belum bisa bicara baik-baik dengan Tuan Sanjaya, Non Anna masih merasa kecewa,” katanya. “Tapi saya punya alasan melakukan itu.” “Ya, Tuan. Tapi Non Anna belum bisa memahami alasan Tuan,” kata Rahes. Sanjaya mengangguk lemah. Ia membuang napasnya dengan kasar seraya menatap nanar pada lantai ruangan. Sejujurnya, melihat Sanjaya sekarang membuat Rahes ragu jika pria yang tampak bijaksana di hadapannya adalah pembunuh papa dan mamanya. Namun, itulah yang ia ketahui selama ini. Jadi, mana yang harus ia percaya? Berita itu atau hatinya yang menilai semuanya? “Iya, saya tahu. Makanya, saya mau pelan-pelan memberi pengertian pada Anna. Saya tahu ini salah, tapi semuanya bukan karena nafsu. Saya bersumpah mengenai hal itu,” ucap Sanjaya. Rahes hanya mengangguk lemah. Ia tak paham hal itu. Namun, jika Sanjaya tahu Rahes pernah tidur dengan Melisa, mungkin pria itu juga akan marah. “Oh, iya. Kamu kenal Darman dari mana? Setauku dia tidak pernah ke mana-mana selama ini. Dan lagi, apa ada yang terjadi dengan keluarganya sampai dia harus mengambil cuti?” Berondongan pertanyaan dari Sanjaya membuat Rahes terkesiap. Pria itu sama sekali tidak menyangka jika Sanjaya akan bertanya mengenai Darman. Ya, ia dan Darman memang tidak punya hubungan apa-apa. Ketika mengetahui jika sopir kepercayaan almarhum papanya bekerja di sini, Rahes segera menemuinya dan menceritakan semua yang terjadi di masa lalu. Kejadian nahas yang menimpa orang tuanya membuat Darman merasa sangat bersalah. Ia pikir, kecelakaan itu memang benar kecelakaan. Namun, ternyata bukan. Ketika pertama kali bertemu dengan Rahes, Darman menangis sejadi-jadinya karena tidak menyangka jika anak dari bosnya yang lama masih hidup. Dulu, bahkan polisi telah menyerah mencari dan Rahes dinyatakan hilang. Ternyata pria itu menunggu waktu yang tepat untuk kembali dan membalas dendam. Makanya, Darman memberikan tempatnya agar pria itu bisa melancarkan rencananya terhadap keluarga Sanjaya. “Saya tetangganya, Tuan. kebetulan, saya baru saja selesai skripsi. Jadi, membutuhkan pekerjaan. Berhubung Pak Darman sedang cuti, jadi saya yang menggantikan,” jelas Rahes. “Oh, begitu. Bukan apa-apa. Saya sepertinya sudah pernah melihat kamu, bahkan bicara berdua begini seperti sudah kenal lama,” sahut Sanjaya. Rahes hanya tersenyum. Bagaimana mungkin Sanjaya tidak kenal. Ia adalah keponakan jauhnya. Anak dari seepupunya yang telah ia lenyapkan. “Apa kita pernah bertemu sebelum ini?” imbuh Sanjaya kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD