God Apps (Castle of Doom) Part 4

2759 Words
 Ketegangan mulai terasa menyelimuti seluruh daerah pemukiman penduduk di dekat pelabuhan, tempat Kriss dan kawan-kawannya sedang berada. Saat ini keberadaan mereka sedang diburu oleh para prajurit tentara bayaran dengan persenjataan lengkap yang dipimpin oleh Adnan, para prajurit tersebut terbagi ke dalam beberapa regu dan berjalan berpencar mencari Kriss dan kawan-kawan ke segala arah. Sementara di lain pihak, Kriss dan kawan-kawan saat ini juga sedang berjalan bersama-sama, mereka berjalan dengan sangat hati-hati dan waspada terhadap keadaan sekitar, sehingga keberadaan mereka tidak dapat dideteksi dengan mudah oleh pihak musuh.  Kriss dan kawan-kawan akan pergi menuju ke kapal nelayan milik Anton yang berada di dermaga, untuk selanjutnya mereka akan berlayar menuju ke pulau Jiro. Namun saat ini, mereka harus bisa selamat terlebih dahulu, dan keluar dari daerah pelabuhan ini hidup-hidup.  Sayangnya, Adnan tidak akan membiarkan hal itu terjadi, dia akan berusaha keras untuk bisa menangkap dan memburu Kriss beserta kawan-kawannya, karena mereka semua merupakan duri yang sangat mengganggu bagi rencana Jiro dan Adnan, maka dari itu mereka harus bisa segera dibereskan, hal itulah yang ada di benak Adnan.   Malam sudah semakin larut, dengan sangat berhati-hati Anton menuntun Kriss dan kawan-kawan melewati rumah demi rumah yang ada disana. Namun dalam seketika, keadaan berubah menjadi kacau, ketika salah satu anak buah Adnan berhasil melihat sosok Kriss dan kawan-kawan yang sedang berjalan mengendap-endap di tengah heningnya malam. Maka tanpa basa-basi, dia langsung menembakan peluru ke arah Kriss, namun meleset, dan tembakan itulah yang menjadi pembuka dari ajang baku tembak yang segera berlangsung disana.  Tentu saja Lisa, Beni, Kriss, dan Anton langsung membalas tembakan ke arah para pemburu mereka, yang bermunculan dan memposisikan diri mereka di segala arah, sehingga keberadaan Kriss dan kawan-kawannya seakan menjadi terkepung. Namun karena perlawanan yang diberikan oleh Kriss dan kawan-kawan sangatlah beringas, maka para musuh menjadi sangat kewalahan untuk bisa mendekati target mereka.  Kriss dan kawan-kawan berlindung di tempat seadanya, dibalik tumpukan kotak kayu, tumpukan karung, dan tembok rumah warga, mereka sedikit kesulitan untuk bisa bergerak sebab keberadaan mereka terus menerus diberondong oleh peluru dari berbagai arah, oleh karena hal itu pula, kini langkah Kriss dan kawan-kawannya harus terhenti disana dan tidak bisa kemana-mana lagi, sehingga kapal yang akan mereka gunakan sepertinya harus menunggu terlebih dahulu dalam waktu yang lama.  Di tengah aksi baku tembak tersebut, Rupanya Romi tidak tinggal diam, dia terus memperhatikan sosok para penembak yang ternyata memakai semacam alat komunikasi di telinga mereka masing-masing, yang membuat posisi mereka jadi terkoordinasi dengan baik, sehingga kelompok yang dipimpin oleh Adnan itu bisa terus memberikan serangan-serangan berbahaya terhadap Kriss dan kawan-kawan, bahkan sampai membuat mereka jadi kesulitan untuk bisa pergi kemanapun, karena tempat mereka berlindung saat ini terus menerus dihujani oleh peluru.  Romi juga tak henti-henti menatap layar tablet miliknya sambil mengoperasikan sebuah program pemancar frekuensi, yang akan mengganggu sinyal frekuensi dari alat komunikasi pada masing-masing telinga musuh. Romi sedang berusaha memanfaatkan alat komunikasi yang dipakai para musuh, untuk menyerang para musuh tersebut, sehingga dengan begitu, mungkin keadaannya bisa berbalik.  Beberapa saat kemudian, setelah persiapan yang dilakukan Romi telah selesai, Romi segera berteriak untuk memberitahu teman-temannya.  “Hey!! Bersiaplah!”  “Bersiap untuk apa?!” Teriak Beni.  “Bersiap untuk lari dan menggila.” Ucap Romi sambil menekan satu tombol pada layar tablet miliknya.  Lalu seketika itu juga, seluruh tembakan dari musuh tiba-tiba berhenti, karena mereka semua merasakan sakit pada telinga mereka masing-masing, yang disebabkan oleh alat komunikasi mereka, telinga mereka secara mengejutkan mendengar suara berdengung yang terasa sangat menyakitkan, sehingga mereka semua langsung meringis kesakitan sambil memegangi telinga masing-masing.  Dan disaat itulah, Kriss langsung memerintahkan teman-temannya untuk berlari sambil menembaki musuh yang sedang dalam keadaan berdiam diri. Lalu satu demi satu akhirnya pasukan musuh berhasil ditembak dan dilumpuhkan oleh serangan dari Kriss dan kawan-kawan, yang melesat secara cepat dan tepat. Hal itu membuat Adnan seketika menjadi kaget dan harus menyaksikan banyak anak buahnya berguguran disana, maka sontak saja Adnan berkata.  “Sial !!!”  Anton bergerak dengan gagah berani di posisi paling depan, dia menghadapi para musuh dan membukakan jalan bagi teman-temannya yang lain supaya mereka semua bisa segera sampai di tempat tujuan, sementara Beni dan Lisa bertugas untuk melumpuhkan musuh dari sisi kanan dan sisi kiri, Kriss menembak para musuh yang muncul secara acak, yang posisinya tidak disadari oleh teman-temannya yang lain, sedangkan Romi sibuk melindungi tas besarnya sambil terus berlari di dekat Kriss.  Beberapa saat kemudian, para musuh yang ingin segera menuntaskan misi mereka, mulai menggunakan senjata yang lebih berbahaya, yakni senjata mesin yang dapat meluncurkan banyak peluru sekaligus dalam sekali tembak. Hal itu membuat Kriss dan kawan-kawannya terpaksa harus bersembunyi lagi di balik tembok yang ada di sekitar mereka, supaya mereka bisa mendapatkan perlindungan dari tembakan peluru senjata mesin.  Keadaan menjadi sangat sulit bagi Kriss dan kawan-kawan, karena kini mereka tidak memiliki kesempatan untuk bisa membalas tembakan sama sekali, sedangkan jarak antara mereka dengan Dermaga sebenarnya sudah sangat dekat, hanya tinggal sedikit lagi saja mereka sudah bisa sampai, namun karena keadaan mereka yang kini sedang diberondong oleh peluru musuh, maka hal itu menyebabkan mereka harus terjebak disana.  Kriss mengintip dari sebuah lubang kecil untuk melihat dan menghitung jumlah musuh, sambil sesekali terkejut karena di dekat lubang tempatnya mengintip selalu ada peluru yang menyambar. Lalu setelah Kriss selesai mengidentifikasi, maka dia segera memberitahu teman-temannya.  “Mereka ada 7 orang, semuanya memakai senjata mesin. Dan sepertinya mereka semua juga sudah melepaskan alat komunikasi yang ada di kuping mereka, sehingga kita tidak akan bisa memakai cara yang tadi lagi ... Apakah kalian yang punya ide lain?” Tanya Kriss.  Kemudian, Beni segera melihat-lihat ke arah sekitarnya, dia mencoba untuk menemukan benda yang bisa berguna untuk mengeluarkan mereka dari situasi berbahaya tersebut. Lalu Beni tiba-tiba mendapatkan ide setelah dia melihat ada sebuah tabung gas 3 kg yang tergeletak di dekatnya, maka setelah memegang tabung gas tersebut, Beni segera menatap Kriss sambil memberikan isyarat mata yang hanya bisa dimengerti oleh Kriss seorang.  Setelah melihat Beni, Kriss sepertinya memahami apa yang Beni ingin lakukan, apalagi setelah dia melihat tangan Beni yang sedang memegang tabung gas 3 kg, maka seketika itu juga, Kriss langsung mengisi ulang peluru di pistolnya dan dia mulai mengambil posisi untuk membidik ke arah musuh. Setelah itu, Beni yang melihat Kriss sudah bersiap, segera berdiri sambil berputar-putar di tempat, hal itu dia lakukan untuk mengambil ancang-acang supaya Beni bisa melemparkan tabung gas yang ada di tangannya jauh ke arah musuh.  Setelah dirasa putarannya cukup, Beni segera melemparkan tabung gas itu ke atas, sehingga tabung gas itu langsung saja melayang di atas udara. Para musuh yang melihat adanya tabung gas melayang ke arah mereka, tiba-tiba saja menghentikan serangan tembakan dan hanya melongo saja sambil menatap ke atas, sedangkan sebagian dari mereka mulai berlarian menjauh. Lalu ketika tabung gas itu sudah akan mendarat di dekat para musuh, maka Kriss yang sudah bersiap dengan pistolnya, langsung saja melesatkan peluru ke arah tabung gas itu, sehingga seketika tabung gas itu langsung meledak dahsyat dan memporak-porandakan segala hal yang berada di dekatnya, sekaligus mengurangi jumlah para musuh yang tadinya sedang menembaki Kriss dan kawan-kawan.  Maka segera setelah ledakan itu terjadi, Kriss dan kawan-kawan lanjut berlari ke arah dermaga lagi, namun sayangnya masih ada 3 orang musuh yang selamat, dan langsung menembaki mereka dari belakang, sehingga Kriss, Lisa , dan Romi terpaksa harus berlindung lagi karena jalanan menuju ke dermaga keadaannya kosong sehingga tak ada tempat untuk berlindung dari tembakan. Tetapi untungnya Beni dan Anton sudah berhasil melewati jalan itu sehingga mereka kini sudah berada di dermaga dan bisa terus melanjutkan langkah menuju ke kapal milik Anton.  Kriss berteriak kepada Beni dan Anton. “Kalian duluan saja! Biar kami yang mengurus mereka!” Ujar Kriss. Kemudian Lisa dan Kriss segera memberikan serangan tembakan kepada para musuh, supaya mereka tidak bisa mengejar atau menembaki Beni dan Anton, yang sudah berlari sangat jauh di dermaga menuju ke kapal.  “Hai Beni.”  Namun tiba-tiba saja, langkah Beni dan Anton harus terhenti, karena Adnan ternyata sudah berada di hadapan mereka sambil menodongkan senjatanya, maka seketika itu juga Beni langsung saja mengarahkan pistolnya kepada Adnan, namun dengan cepat Adnan menembak pistol yang ada di tangan Beni hingga terjatuh. Kemudian Anton segera mengarahkan pistolnya kepada Adnan, dan dia mencoba untuk menembak Adnan, supaya jalan menuju ke kapalnya jadi tidak terhalangi.  Tetapi rupanya peluru yang ada di dalam pistol Anton sudah habis sehingga dia tidak bisa menembak Adnan. Maka seketika itu Beni dan Anton mulai terhenyak dan mereka menyadari bahwa saat ini mereka berdua sedang berada dalam situasi yang sangat berbahaya, dimana mereka sedang berdiri tanpa senjata, sedangkan dihadapan mereka ada seorang musuh yang sedang mengacungkan pistolnya tepat ke arah mereka berdua, sehingga tak ada lagi yang bisa mereka lakukan selain hanya mengangkat tangan.  Sementara itu, Lisa, Kriss, dan Romi masih sedang menghadapi musuh di belakang sehingga kemungkinan mereka akan datang untuk membantu sangatlah tipis. Adnan yang tidak mau membuang-buang waktu, sempat berbicara sedikit sebelum akan memulai tindakannya.  “Seharusnya kalian tidak perlu jauh-jauh datang kesini... Cukup diam saja di rumah kalian lalu kami akan membereskan kalian satu-persatu, namun kalian malah memilih cara yang sulit untuk mati. Baiklah kalau begitu, kuucapkan selamat tinggal untukmu Beni. Kaulah yang pertama!” Adnan mengucapkan hal itu sambil menembakan peluru ke arah Beni.  Seketika itu juga, Beni segera memejamkan mata saat dirinya akan menerima peluru yang sedang melesat ke tubuhnya, namun sesuatu yang mengejutkan terjadi, tiba-tiba saja ketika Beni kembali membuka mata, dia mendapati bahwa Anton sudah berdiri tepat di hadapannya untuk menerima peluru tersebut, sehingga yang tertembak bukanlah Beni melainkan Anton.  Anton rela mengorbankan nyawanya demi orang yang sudah sangat berjasa dalam hidupnya, baginya hal itu adalah hal yang paling benar untuk dia lakukan saat ini, supaya Beni bisa selamat dari maut. Lalu tanpa basa-basi, Adnan kembali mendaratkan beberapa peluru ke tubuh Anton yang masih sedang melindungi Beni.  Maka seketika itu Beni langsung saja berteriak, “Tidaaaaakkkk!!!”  Kemudian Beni segera memeluk tubuh Anton yang sudah berlumuran darah, dan dia terus memeluk tubuh Anton, bahkan ketika tubuh Anton mulai terkulai lemas lalu ambruk ke bawah, Beni tetap mendekap tubuh Anton dengan sangat erat.  Sedangkan Adnan masih belum berhenti untuk mencoba membunuh mereka berdua, dia akan segera menembakan lagi peluru kepada Beni. Namun untungnya sebuah tembakan melesat ke arah Adnan hingga menyebabkan Adnan menjadi kaget karena dirinya hampir tertembak. Rupanya tembakan tersebut berasal dari Kriss yang sedang berlari ke arahnya, dia bersama Romi dan Lisa baru saja sampai disana setelah berhasil membereskan seluruh anak buah Adnan yang tersisa.  Melihat hal itu, Adnan langsung saja berpaling dan melarikan diri dari tempat tersebut, supaya dirinya bisa selamat dari amukan Kriss dan Beni. Lalu Kriss yang baru saja tiba di dekat Beni, segera merasa marah dan kecewa, ketika dirinya melihat Anton yang sudah dalam keadaan bersimbah darah di dekapan Beni. Begitupun juga halnya dengan Romi dan Lisa, mereka berdua langsung merasa kaget sekaligus lemas ketika melihat keadaan Anton, bahkan wajah Romi langsung terlihat pucat.  “Oh tidak.”  Sembari berada di pelukan Beni, Anton yang terlihat sudah sangat lemah, mulai berbicara sambil menyerahkan sebuah kunci kepada Beni. “P- Pak Beni, ini kunci kapalku. Terima kasih untuk segalanya... Se- semoga kalian berhasil.” Ucap Anton, dengan darah yang terus keluar dari mulutnya.  “Jangan banyak bicara, kita akan ke Rumah sakit sekarang.” Ucap Beni, sambil memendam perasaan yang bercampur aduk, antara sedih, marah, kecewa, dan menyesal.  “A- aku tidak akan bisa selamat ... Se- sebaiknya kalian segera berangkat dan selesaikan semua ini, jika tidak, maka mereka akan terus berdatangan mengejar kalian. A- akan lebih baik jika kalian yang datang dan menghabisi mereka semua terlebih dahulu.”  “Tidak... Kau tidak boleh mati disini.” Ucap Beni yang terus saja menatap wajah Anton dengan penuh kesedihan.  “Ma- maafkan aku Pak Beni... Aku hanya bisa mengantar kalian sampai disini.” Ucap Anton, yang sekaligus menghembuskan nafas terakhirnya.  Maka seketika itu juga, Beni dan kawan-kawannya langsung kaget, bahkan Beni berkali-kali mencoba untuk membangunkan Anton, namun tidak bisa.  “Anton... Anton... Tidak, bangunlah... Kumohon.” Beni mulai menangis meratapi kepergian Anton.  Singkat cerita, Adnan saat ini sedang berada di speed boat menuju ke pulau yang menjadi markasnya bersama Jiro, dalam perjalanannya tersebut, Adnan terlihat sedang menelpon seseorang, dan orang yang sedang berbicara dengannya di telepon tak lain tak bukan adalah Jiro.  Jiro bertanya, “Apakah kau berhasil membereskan mereka semua?”  “Aku gagal, mereka memiliki orang yang tahu betul tentang seluk beluk tempat itu, sehingga mereka bisa berlindung sekaligus memberikan perlawanan yang sengit terhadap pasukanku.” Jawab Adnan.  “Kurasa kita memang harus menyambut mereka disini.”  “Ya ... Apakah mereka semua sudah siap?” Tanya Adnan.  “Tentu saja, Queensy sang ratu pembunuh bayaran, Rodriguez si penembak ulung, Boris si penghancur tulang, Arcane si pembunuh berantai, dan Master Jewel bersama para muridnya, sudah siap untuk menyambut Kriss dan kawan-kawan disini.”  “Bagus, karena saat ini Kriss dan kawan-kawannya sedang mengikuti tepat di belakangku. Sebentar lagi mereka semua akan segera sampai, dan aku juga akan bergabung untuk memeriahkan pestanya.”  “Hmm, sempurna.” Ucap Jiro, sambil tersenyum di depan layar komputernya.  Sementara itu, Kriss dan kawan-kawan saat ini sedang berlayar menggunakan kapal nelayan milik Anton. Di posisi nahkoda, ada Kriss yang sedang mengendalikan laju kapal dan mengikuti jejak Speedboat Adnan menuju ke pulau markas musuh, sedangkan Beni, Lisa, dan Romi terlihat sedang duduk dan termenung di belakang Kriss, mereka masih berduka dan menyesal atas kematian Anton, terutama Beni yang merasa sangat bersalah karena dia sudah melibatkan Anton ke dalam semua ini.  Lalu Kriss yang tidak ingin bila teman-temannya itu jadi patah semangat, mulai berbicara kepada mereka semua.  “Hey, sebentar lagi kita akan segera memasuki wilayah musuh. Kita harus bersiap, dan jangan sampai lengah.”  Kemudian Beni segera berdiri mendekati Kriss, dan dia langsung saja menarik kerah baju Kriss dengan perasaan marah.  “Dengar Kriss, Anton baru saja mati... Dan itu semua karena kesalahan kita.”  “Benar sekali, sekarang aku ingin bertanya padamu, siapa yang telah menembaknya?”  Tanpa ragu Beni menjawab, “Adnan.”  “Benar sekali, sejak awal kita sudah melarang Anton untuk ikut, karena kita semua sudah tahu konsekuensinya... Namun dia tetap bersikeras, dan menolak larangan kita. Lalu tiba-tiba Adnan datang dan menembaknya! Adnan. Orang yang sedang kita buru ... Sekarang katakan padaku apa saran terbaikmu? Apakah kau akan lari dari Adnan? Atau kau akan melanjutkan misi ini supaya kau bisa menangkap dan menghajar Adnan dengan tanganmu sendiri? Pilih salah satu Beni.” Tanya Kriss kepada Beni.  Kemudian Beni yang merasa kaget, perlahan mulai melepaskan genggamannya pada kerah baju Kriss, setelah itu dia mulaibmundur dan berkata. “A- aku tidak akan pernah memaafkan, hal yang sudah Adnan lakukan.”  “Begitupun juga denganku.” Kata Lisa.  “Ya, aku juga.” Sahut Romi.  Lalu Kriss berbicara lagi sambil tetap mengendalikan kapal, “Bagus, karena walau apapun yang terjadi, kita pasti akan menangkap b******n itu.” Ucap Kriss.  Beni kemudian juga berbicara sambil menyenderkan punggungnya ke dinding. “Adnan sempat berkata, bahwa kita tidak perlu datang menemuinya karena dia berencana untuk membunuh kita secara satu persatu di rumah kita.”  “Benarkah?”  “Ya, dia mengatakan hal itu sebelum menembakku.”  “Aku akan benar-benar menghajarnya!” Kata Kriss.  “Tidak boleh.” Ucap Beni secara singkat.  “Apa?”  “Dengarkan aku, jika salah satu dari kalian bertemu atau harus berhadapan dengan Adnan, sebaiknya kalian segera hubungi aku... Karena akulah orang yang akan membuat perhitungan dengannya.” Ucap Beni dengan penuh tekad.  Kemudian Beni segera berjalan ke belakang, meninggalkan teman-temannya yang sedang berada di ruang kemudi.  Lisa bertanya, “Beni, kau mau kemana?” Namun sambil terus berjalan, Beni tidak menjawab pertanyaan dari Lisa sama sekali.  Lalu Kriss berkata, “Biarkan saja... Biarkan dia menenangkan dirinya. Kita semua terguncang dengan apa yang sudah terjadi. Sebaiknya kalian semua istirahat, perjalanan kita masih panjang.” Ucap Kriss.  “Baiklah kalau begitu. Kurasa aku dan Romi juga memang butuh istirahat.” Jawab Lisa.  “Silahkan Kak Lisa duluan saja, aku ingin berada disini bersama Pak Kriss.” Ucap Romi.  “Oke.” Kemudian Lisa pergi.  Sehingga kini di ruang kemudi hanya tinggal ada Romi dan Kriss berdua saja. Sepertinya Romi ingin mengutarakan suatu hal yang sangat serius kepada Kriss. Maka dari itu, setelah Lisa pergi, dia mulai berbicara.  “Pak Kriss.”  “Ya.”  “Jika aku... Tidak selamat dalam misi ini, kumohon, jangan sampai God Apps tetap berada di tangan Jiro atau Adnan.” Ucap Romi, dengan raut wajah murung.  “Hmm... Dengar Romi, aku bisa mengerti perasaanmu saat ini. Tapi kita sudah pernah membahasnya, jangan merasa bersalah atas hal yang sudah kau ciptakan, karena kau tidak berniat menciptakannya untuk sesuatu yang buruk.”  “I- iya, memang begitu... Namun, aku tidak ingin jika warisan terakhirku bagi dunia ini, harus terus dimanfaatkan oleh orang-orang jahat.”  “Oleh karena itulah kita disini."  “Hah?”  “Oleh karena itu kita harus berjuang supaya hal buruk tersebut tidak terjadi... Aku tidak akan membiarkan mereka bertindak sesuka hati mereka, aku pasti akan menangkap mereka semua, dan aku membutuhkan bantuanmu dalam hal ini. Apakah kau siap membantuku??” Tanya Kriss.  “Ya, tentu saja!!” Jawab Romi, yang sekarang semangatnya sudah mulai naik lagi.  “Bagus.” Ucap Kriss dengan singkat.  Tidak ada yang pernah bilang bahwa misi mereka akan mudah, dan para penjahat yang sedang mereka incar pasti akan melakukan apa saja demi melindungi aset mereka, dan demi terus menapai segala hal yang mereka kehendaki. Namun ada Kriss dan kawan-kawannya yang sudah siap menghentikan tindakan para penjahat itu untuk selama-lamanya. Walaupun jalan yang harus mereka tempuh sangat terjal dan berliku-liku, namun Lisa, Beni, dan Romi dibawah kepemimpinan Kriss akan selalu berusaha mendobrak segala rintangan lalu berhasil memenangkan pertarungan yang sedang berlangsung antara kebaikan melawan kejahatan itu. Kira-kira hal apa lagi yang akan dihadapi oleh Kriss dan kawan-kawan berikutnya? Terus ikuti kisah mereka hanya di God Apps (Castle of doom).
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD