God Apps (Castle of Doom) Part 3

2094 Words
 Perjalanan Kriss dan kawan-kawannya masih terus berlangsung, perjalanan yang memakan waktu selama berhari-hari itu tidaklah mudah bagi mereka, karena telah banyak hal yang terjadi dari mulai yang baik dan yang buruk, namun semua itu selalu berhasil mereka hadapi. Selain dikejar dan diserang sekumpulan mobil di jalan tol, mereka juga mendapatkan beberapa serangan di tempat lain. Contohnya, ketika mereka berada di sebuah restoran, mereka hampir saja mati karena Keracunan, namun untungnya Romi membawa alat pendeteksi racun yang selalu dia celupkan dulu kepada makanan atau minuman yang akan dia konsumsi, sehingga mereka semua bisa tercegah dari bahaya mengkonsumsi racun.  Selain itu, ada juga rekayasa lalu lintas yang diberlakukan di jalanan yang sedang mereka tempuh, hingga menyebabkan mobil mereka harus beralih ke jalur alternatif, yang rupanya sangat sepi dan terpisah dari keramaian, sehingga dalam keadaan seperti itu, maka Kriss dan kawan-kawannya akan menjadi sangat rentan untuk terkepung. Namun untungnya, Romi menggunakan alat GPS yang sinyalnya akan tetap kuat walaupun sedang berada di tempat terpencil, sehingga mereka bisa beralih dari jalur alternatif yang berbahaya itu ke jalur yang lebih aman lagi.  Ada satu lagi kejadian ketika mereka sedang mengisi bensin di Rest area, Lisa yang pergi ke toilet, saat itu cukup lama tidak kembali. Tanpa disadari oleh kawan-kawannya, rupanya di dalam toilet umum tersebut, ada dua orang wanita yang menyergap dan berusaha untuk melumpuhkan Lisa, namun dengan penuh perjuangan, Lisa berusaha melawan mereka berdua di dalam toilet dengan sekuat tenaga, terutama dengan menggunakan keahlian beladiri yang dimilikinya, walaupun sangat sulit bagi Lisa untuk bisa mengalahkan mereka berdua, namun ternyata Lisa berhasil mengimbangi keahlian bertarung mereka dan bahkan membuat mereka kerepotan, karena Lisa memanfaatkan segala alat yang berada di dalam toilet itu, dia melilitkan tissue toilet ke kepala musuh, menyemprotkan air, membanting pintu ke wajah musuh, bahkan mencopot saklar listrik lalu memasukan telapak tangan musuh ke dalam saklar listrik yang kabelnya sudah terbuka itu, sehingga sang musuh seketika langsung tersetrum dan pingsan, sedangkan satu musuh lagi segera melarikan diri dengan keadaan penuh luka lebam dan basah kuyup.  Lalu ketika Lisa sudah membereskan urusannya di toilet, dia segera kembali ke mobil, dan tentu saja teman-temannya sontak merasa kaget ketika melihat wajah Lisa yang sudah dalam keadaan terluka, maka mereka semua segera bertanya dengan perasaan cemas, namun Lisa hanya menjawab dengan singkat  “Aku baik-baik saja, aku hanya mendapat sedikit masalah di toilet... Ayo jalan.” Suruh Lisa.  Kemudian Kriss segera menyalakan mesin mobil dan mereka pun mulai melanjutkan perjalanannya lagi, dan beberapa saat kemudian, ketika Kriss sedang sibuk menanyai keadaan Lisa, Romi segera berbisik kepada Beni.  “Pak Beni.”  “Ya.” Sahut Beni.  “Nanti jika aku mau ke toilet... Tolong antar aku ya?”  “Ya ampun, kau ini.” Jawab Beni sambil menyelimuti diri, lalu dia tertidur.  Walaupun perjalanan yang sedang mereka lakukan ini dipenuhi dengan bahaya, namun mereka mereka tidak terlalu peduli. Karena yang terpenting bagi mereka sekarang adalah bisa segera menangkap Jiro dan Adnan. Selain itu, mereka berempat juga memiliki kemampuan khusus masing-masing yang sangat bisa diandalkan, sehingga meremehkan mereka bukanlah sesuatu yang bijak untuk dilakukan. Dalam perjalanan itu juga, Beni sempat bertanya kepada Kriss.  “Hey Kriss.”  “Ya.”  “Ngomong-ngomong, kita kan sudah mengenal Tuan Hendry Danu, jadi kenapa kita tidak minta bantuan saja kepadanya? Sehingga mungkin kita akan dipinjami pesawat jet olehnya.” Tanya Beni.  Lau Kriss menjawab, “... Hmm, beliau itu bukan ayahku. Aku tidak bisa selalu minta bantuan kepadanya, selain itu kau tahu sendiri bahwa beliau sangat sulit untuk bisa dihubungi. Pasti beliau juga punya urusannya tersendiri.”  “Ouh... Baiklah aku mengerti. Aku hanya mewakili pertanyaan Romi saja.” Ucap Beni.  “Apa?” Kata Romi kebingungan, karena namanya baru saja dilibatkan.  Waktu telah berlalu cukup panjang, hingga akhirnya kini mereka semua sudah memasuki wilayah pesisir timur, dari kejauhan mereka sudah bisa melihat pantai yang sangat luas. Sebentar lagi mereka akan tiba di wilayah pelabuhan, dan disana mereka akan bertemu dengan kenalan Beni yang merupakan orang Papua asli yang berprofesi sebagai kapten Kapal nelayan. Kebetulan rumahnya terletak di wilayah pelabuhan, jadi nanti mereka bisa menginap terlebih dahulu setelah letih seharian melakukan perjalanan, lalu pada keesokan harinya mereka akan langsung berangkat lagi untuk melanjutkan perjalanan dengan menaiki kapal.  Mereka sampai di wilayah pelabuhan pada sore hari, di wilayah pelabuhan itu terdapat beberapa dermaga kayu dengan banyak kapal yang terikat dan berdiam disana, selain itu disana juga banyak gubuk serta tambak budidaya ikan milik penduduk, dan tentunya disana juga banyak rumah penduduk yang membuat suasana disana menjadi semakin ramai, dan semakin hidup.  Akhirnya Kriss dan kawan-kawan tiba di rumah Anton, yakni teman yang dimaksud oleh Beni. Anton adalah seorang pria berkulit hitam, dengan postur tubuhnya yang tinggi dan gagah, serta rambutnya yang plontos. Dia tinggal di sebuah rumah sederhana bersama istri dan anak laki-lakinya yang masih berusia 5 tahun. Setibanya Kriss dan kawan-kawan disana, Anton dan keluarganya segera menyambut mereka dan mempersilahkan mereka untuk masuk.  Disana mereka diperlakukan seperti tamu kehormatan, dan dilayani dengan sangat baik, beberapa saat kemudian, Lisa terlihat sedang diobati oleh istri Anton sambil ditemani oleh Romi, wajah Lisa yang mendapat sedikit luka sayat dan lebam, mendapatkan perawatan yang cukup baik dari istri Anton yang bernama Siera.  Sedangkan Kriss, Beni, dan Anton terlihat sedang duduk berbincang-bincang di ruang tamu, dengan anak Anton yang tertidur pulas di pangkuan Beni, sepertinya Beni dan keluarga Anton memiliki hubungan yang cukup dekat.  Anton menjelaskan, bahwa dirinya dulu adalah seorang kurir n*****a. Dia bekerja sebagai kurir barang haram tersebut bukan atas keinginannya sendiri, namun karena dia diajak merantau ke Jakarta oleh temannya dan dipaksa untuk menjalankan pekerjaan tersebut supaya bisa bertahan hidup. Hingga Pada suatu hari, Anton memutuskan untuk kabur dan kembali ke kampung halamannya, namun dirinya berhasil ditangkap oleh Boss nya lalu dia dipukuli sampai hampir mati. Saat itulah Beni (Yang masih berprofesi sebagai anggota Polisi), datang bersama beberapa anggota Polisi lainnya, dan mereka berhasil menghentikan proses penganiayaan tersebut sekaligus menangkap para gembong n*****a.  Lalu Anton yang dirawat di Rumah sakit dengan status sebagai tahanan, merasa sedih karena dirinya tidak bisa memberikan kabar kepada keluarga di kampung halamannya, selama ini Anton selalu memberikan kabar baik pada keluarganya, namun sekarang, karena kondisi yang tidak memungkinkan, maka Anton jadi tidak akan Bisa memberikan kabar lagi, dan hal itu bisa menyebabkan keluarganya menjadi khawatir dan bertanya-tanya.  Namun, Beni yang selalu datang untuk mejenguk Anton, turut merasa iba melihat keadaan Anton saat ini, yang sedang terluka parah, dalam keadaan menunggu persidangan, sambil khawatir akan keluarganya. Maka dari itu, Beni menawarkan bantuan kepada Anton, dia akan mengabari keluarga Anton di kampung halamannya secara berkala, dan Beni hanya akan memberikan kabar baik saja. Lalu selain itu, Beni juga bertindak sebagai saksi yang habis-habisan membela Anton di persidangan, karena Anton sesungguhnya tidak mau bekerja seperti itu, dan dia dipaksa untuk melakukan hal itu eh teman dan Boss nya. Pengakuan dan bukti-bukti yang diberikan Beni dalam persidangan itu berhasil membuat para juri mengerti, sehingga hukuman yang diterima Anton menjadi hanya 2 bulan saja. Harusnya bisa lebih lama dari itu.  Lalu selama di penjara, Beni juga selalu menjenguk Anton dan membiarkan Anton untuk menelpon keluarganya supaya mereka tidak khawatir. Dan setelah masa tahanan 2 bulan penjara telah berlalu, Beni adalah orang yang menjemput Anton dari penjara, lalu dia memberikan uang kepada Anton untuk ongkosnya pulang ke Papua.  Semenjak saat itu, Anton tidak pernah melupakan jasa Beni sama sekali, dia terus saja bertanya berkali-kali kepada Beni sambil meneteskan air mata, mengapa Beni sampai mau memberikan kepedulian yang sebegitu besarnya kepada Anton?  Kemudian Beni menjawab. “Karena jika kau mengabaikan orang yang sedang tertimpa masalah, sedang terluka, sekaligus sedang bersedih hati.... Maka itu artinya kau hanya akan membiarkan orang itu untuk mati secara perlahan. Aku sudah memberimu kesempatan kedua untuk hidup, mulai sekarang hiduplah dengan baik dan jujur.”  “Ba- baik Pak.” Ucap Anton.  Semenjak saat itu, hingga sekarang mereka masih terus saling berhubungan, baik via telepon atau secara langsung. Bahkan ketika Anton melangsungkan pernikahannya dengan Siera, Beni hadir ke acara pernikahan tersebut. Lalu sesekali, ketika Beni ada urusan di Papua, maka dia pasti akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah Anton, sehingga kini dia sangat kenal dekat dengan keluarga tersebut.  Anton menyampaikan kisahnya itu kepada Kriss dengan penuh rasa antusias, sepertinya kemanapun dia pergi, dia akan selalu menceritakan tentang jasa yang telah dilakukan oleh Beni kepadanya, walaupun Beni berkali-kali melarang hal tersebut.  Kemudian Kriss juga menanggapi cerita tersebut dengan perasaan kagum, dan dia mendengarkan Anton secara serius dari awal sampai akhir. Lalu setelah Anton selesai bercerita, Kriss segera berkata.  “Wahh, ya aku ingat, Beni juga pernah bercerita padaku mengenai dirimu. Namun versi lengkapnya baru kuketahui sekarang, secara langsung darimu.” Kata Kriss sambil tersenyum.  “Hmm, Lalu ngomong-ngomong, kenapa Pak Beni sekarang sudah tidak jadi polisi lagi?” Tanya Anton.  “Itu disebabkan oleh satu dua alasan... Lebih baik kita jangan membahasnya.” Jawab Beni.  “Banyak hal hebat yang kau lakukan semasa di kepolisian Beni.” Ucap Kriss.  “Ya, aku senang ketika kita berdua bisa menolong banyak orang.” Jawab Beni.  “Oh iya, mengenai kedatangan kalian kemari, apakah anda bisa menceritakannya kepada saya sekarang?” Tanya Anton.  Kemudian Beni dan Kriss saling menatap satu sama lain, setelah itu Beni mengangguk memberikan isyarat kepada Anton. Maka seketika itu juga, Anton langsung mengerti dan menyuruh Siera yang sudah selesai mengobati Lisa, untuk segera datang dan mengambil anaknya supaya bisa dipindahkan tidur ke kamar.  Maka setelah itu, Lisa dan Romi segera datang dan bergabung bersama Anton, Beni, dan Kriss di ruang tamu tersebut untuk membicarakan tentang misi yang harus mereka jalani saat ini. Singkat cerita, Beni langsung saja memberitahu inti ceritanya.  “Begini Anton... Aku tidak mau membahayakanmu dan keluargamu, misi yang sedang kami emban saat ini sangatlah berbahaya dan bersifat personal. Namun karena saat ini kami sedang sangat membutuhkan kapal, maka kami mendatangimu. Jadi intinya, kami ingin meminta ijin untuk menggunakan kapalmu. Apakah boleh?” Pinta Beni.  “Tentu saja boleh... Oh iya, dalam pesan yang anda kirim, anda juga menyebutkan tentang sebuah pulau, iya kan? Mohon ijinkan saya untuk menjadi orang yang membawa kalian kesana.” Anton memberikan penawaran.  “Apa? Tidak, jangan... Kami tidak ingin melibatkanmu lebih jauh lagi. Itu terlalu berbahaya.” Ucap Beni, yang disetujui oleh seluruh anggota Tim.  “Tidak apa-apa Pak Beni, pokoknya saya bersikeras. Saya harus tetap ikut.” Kata Anton dengan penuh tekad.  Lalu setelah mendengar hal itu dari Anton, maka Beni dan kawan-kawan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka harus menyetujui dan mendengarkan perkataan dari sang Kapten Kapal, yang akan membawa mereka sampai ke pulau tempat dimana Jiro berada.  Beberapa saat kemudian, tiba-tiba ponsel Anton berdering, karena ada panggilan masuk dari temannya. Lalu dengan raut wajah serius, Anton segera mengangkat dan mendengarkan laporan dari temannya itu. Sambil menempelkan ponsel di telinganya, Anton berkata. “Apa? Iya, iya, baiklah. Saya paham.” Hal itu membuat Beni dan kawan-kawan jadi sedikit kebingungan.  Kemudian setelah menutup panggilan telepon itu, Anton segera menoleh ke arah Beni dan kawan-kawan sambil menunjukan perasaan cemas. Lalu dia mulai menyampaikan apa yang sudah didengarnya.  “Pak Beni, ketika anda datang bersama teman-teman anda yang tampak kelelahan dan terluka, saya langsung menyuruh teman-teman saya yang berada di sekitar pemukiman ini untuk berjaga dan berpatroli. Lalu barusan saya baru saja mendapatkan laporan bahwa ada beberapa pria berbadan kekar dengan membawa senjata lengkap, sedang berjalan memasuki daerah ini. Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?” Tanya Anton.  Setelah mendengar hal itu, sontak saja Beni dan kawan-kawan langsung terkejut. Romi bahkan berkata, “Hmm, Jiro sudah berhasil menemukan kita lagi.”  Maka dari itu Kriss segera mengambil keputusan cepat supaya keberadaan mereka tidak terkepung disana. Dia segera memerintahkan teman-temannya untuk berkemas karena sebentar lagi mereka akan segera berangkat, menuju ke dermaga tempat dimana kapal nelayan milik Anton berada. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, dalam situasi gelap, orang-orang yang memburu mereka akan sedikit kesulitan untuk bisa menemukan mereka, apalagi orang-orang itu kemungkinan besar tidak begitu mengenal daerah tersebut, dan hanya bermodalkan titik koordinat dari Jiro saja.  Dengan sigap dan cekatan, Kriss dan kawan-kawannya sudah berkemas dan siap untuk pergi dari Rumah Anton, namun mereka masih menunggu satu orang lagi, yakni Anton yang masih sedang berpamitan dan memeluk istrinya, kemudian dia mencium kening anaknya yang sedang tidur, dan segera pergi menyusul Kriss untuk bergabung ke dalam Tim tersebut.  Di lain pihak, atau lebih tepatnya, di pihak para pemburu yang akan mengincar nyawa Kriss dan kawan-kawan, ada seorang pria yang mengenakan jaket kulit dan membawa pistol, sedang berjalan di hadapan para pemburu yang sedang berbaris, pria itu memberikan sedikit kalimat instruksi kepada mereka semua untuk sebisa mungkin jangan sampai kehilangan jejak target. Pria yang memimpin para pemburu itu tak lain tak bukan adalah Adnan, yang sekarang penampilannya jadi sedikit lebih gagah, dan berotot, karena selama ini dia sibuk meningkatkan kekuatan fisiknya. Adnan terlihat sudah tidak sabar untuk bisa segera melakukan perburuan terhadap Kriss dan kawan-kawannya.  Kira-kira apa yang akan terjadi kepada Kriss dan kawan-kawan? Apakah mereka akan bisa tertangkap oleh para pemburu dengan persenjataan lengkap itu? Ataukah Kriss dan kawan-kawan bisa mengatasi para pemburu itu lalu melanjutkan perjalanan ke pulau milik Jiro? Mau tahu bagaimana cara mereka bisa lolos dari bahaya yang sedang mengintai mereka saat ini? Terus ikuti kisahnya ya, hanya di God Apps (Castle of doom).  Berlanjut ke part 4
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD