God Apps (ORIGIN) part 4

2961 Words
 Kriss, Lisa, dan Beni telah membentuk sebuah tim yang akan beraksi untuk membongkar semua kejahatan AionTex dan para Oknum polisi yang berkomplot dengannya. Pertama-tama, misi yang harus mereka jalani yaitu, menyelamatkan Romi dari genggaman tangan perusahaan AionTex. Dengan bermodalkan petunjuk dari Romi berupa koordinat lokasi, yang disisipkan di dalam sebuah pesan rahasia.  Dengan koordinat tersebut, Kriss dan kawan-kawan jadi mengetahui bahwa saat ini posisi Romi sedang berada di salah satu pabrik milik AionTex, yang berada di wilayah timur kota Jakarta. Setelah berkemas dan pindah ke kediaman baru yang lebih aman, yakni sebuah rumah sederhana di kawasan sepi penduduk. Kriss mulai menyusun rencana untuk melakukan penyelamatan terhadap Romi, Kriss mengajak Lisa dan Beni untuk berkumpul dan berdiri di dekat sebuah meja, lalu Kriss menggelar peta pada meja tersebut, yang menunjukan denah dari pabrik tempat Romi sedang berada.  “Baiklah, dengarkan aku. Pabrik ini berada di suatu kawasan industri yang sangat luas, dan ingat, bahwa penjagaan di pabrik itu pastinya sangat ketat. Sehingga Kita tidak bisa masuk dan menyusup lewat depan atau samping, celah yang sempurna bagi kita untuk bisa masuk adalah lewat jalur belakang, karena penjagaan disana selalu minim ... Nanti setelah kita berhasil masuk ke dalam pabrik itu, aku dan Lisa akan berjalan di bagian depan untuk mengantisipasi musuh, sedangkan Beni akan mengikuti dari belakang, sambil mengawasi keadaan di sekitar ... Oke, apakah ada pertanyaan?”  Lalu Beni bertanya, “Ya ... Darimana kau bisa mendapatkan peta ini?”  “Pastinya bukan dari eBay.” Jawab Kriss dengan raut wajah datar.  “Aku berhasil meretas arsip lama dari database pabrik itu.” Jawab Lisa, mewakili Kriss.  “Tunggu dulu sebentar, jika denah ini kalian dapatkan dari database lama, kalau begitu ada kemungkinan bahwa sekarang denahnya sudah berubah kan?” Tanya Beni lagi.  “Ya, itu benar. Tapi tidak mungkin berubahnya secara besar-besaran kan?” Ucap Kriss. Lalu Beni melanjutkan lagi argumennya, “Iya, tapi...”  Namun Lisa segera menghentikan perkataan dari Beni, “Sudah, sudah, tak ada yang perlu dikhawatirkan. Beni, berhentilah bersikap pesimis.” Ujar Lisa.  Kemudian Kriss menjawab perkataan dari Lisa tersebut sambil tersenyum. “Hmm, kau harus terbiasa dengan sifatnya itu. Sekarang ayo kita berangkat.” Ajak Kriss kepada mereka berdua.  “Baiklah.” Ucap Beni sambil tersenyum juga.  “Ayo.”  Pada malam hari, Mereka bertiga berangkat menggunakan mobil off road milik Beni, menyusuri jalanan ibukota yang ramai dipenuhi berbagai kendaraan, menuju ke suatu kawasan industri yang terletak di wilayah timur. Setelah melihat tempat yang mereka tuju dari kejauhan, Kriss mencoba untuk memeriksa keadaan di sekitar dengan cara mengelilingi pabrik AionTex, tempat yang sesuai dengan koordinat dari Romi. Gerbang besi yang cukup tinggi dan dinding yang tebal, menjadi penghalang bagi Kriss dan kawan-kawan untuk bisa masuk kesana, ditambah dengan adanya kamera cctv yang terletak di berbagai titik dari bangunan tersebut, juga dengan adanya Beberapa Petugas keamanan yang berjaga di sekitar area, untuk memeriksa keadaan, menjaga keamanan, dan menangkap siapapun yang mencoba untuk memasuki area pabrik tanpa izin.  Hal itulah yang menjadi tantangan bagi Kriss dan kawan-kawannya supaya mereka bisa masuk kesana. Oleh karena itu, mereka harus mencari celah dengan penjagaan yang minim, dan mudah untuk dilewati, seperti yang sudah Kriss katakan ketika membahas rencana tadi, jalan terbaik bagi mereka supaya bisa masuk tanpa menimbulkan keributan adalah lewat jalur belakang, maka dari itu, setelah memastikan bahwa keadaan sudah kondusif, Kriss segera memarkirkan mobilnya di area belakang pabrik, yang merupakan tanah lapang dengan rumput tinggi yang tak terurus dan sepertinya sudah lama tidak dipotong.  Sambil terus memperhatikan layar tablet di tangannya, Lisa memastikan bahwa posisi Romi masih berada di dalam pabrik itu, atau lebih tepatnya berada di sebuah ruangan bawah tanah yang terdapat di dalam pabrik itu. Sementara Beni sedang mempersiapkan senjata dan beberapa peralatan yang tersimpan di bagasi, kemudian Lisa bertanya Kepada Kriss.  “Jika kita sudah berhasil masuk kesana, bagaimana cara kita supaya bisa menemukan ruangan bawah tanah itu?” Tanya Lisa.  “Kita akan menyekap dan menanyai salah satu penjaga, lalu setelah berhasil mendapatkan informasi tentang keberadaan Romi, maka kita segera kesana untuk menyelamatkannya.”  “Oke, aku mengerti.”  “Kalian sudah memasang alat komunikasi di telinga kalian masing-masing kan?” Tanya Kriss.  “Ya, sudah.”  “Baiklah, kalau begitu ayo berangkat.” Ajak Kriss.  Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sudah berada di bagian dinding tebal yang memagari pabrik tersebut dari dunia luar, di tempat mereka berada saat ini, tidak ada kamera cctv sama sekali, sehingga gerak-gerik mereka tidak akan diketahui oleh pengawas yang ada di dalam. Kriss dan kawan-kawan terus berjalan menyusuri tempat itu sampai akhirnya Kriss menyuruh mereka untuk berhenti, tepat setelah Kriss berhasil menemukan apa yang dia cari.  Yaitu, sebuah tempat sampah besar, dan disana terdapat lubang pada dinding yang biasa digunakan untuk membuang sampah. Kemudian, Beni yang mulai menyadari rencana dari Kriss, segera berujar kepada Kriss, dengan perasaan kaget.  “Hey Kriss, jadi kita akan masuk lewat lubang pembuangan sampah itu?”  “Ya, ini adalah jalan terbaik.” Jawab Kriss.  “Lalu untuk apa aku mandi tadi?” Gumam Beni.  Kemudian tanpa berbicara panjang lebar lagi, Kriss dan kawan-kawan mulai memasuki lubang pembuangan sampah itu, mereka masuk secara satu persatu. Saat Kriss sudah berhasil masuk ke dalam kawasan pabrik, dia segera menengok ke segala arah untuk memastikan bahwa keadaan aman, dan tidak ada satu orangpun yang menyadari keberadaan mereka disana. Setelah itu, mereka bertiga mulai berjalan secara mengendap-endap menyusuri kawasan pabrik yang luas itu, Kriss yang bertugas untuk mengawasi keadaan di depan, terlihat sangat berhati-hati dan selalu berusaha untuk menghindari pengawasan dari kamera cctv ataupun para petugas keamanan yang sedang berpatroli disana.  Lalu, ketika mereka bertiga menemukan adanya seorang petugas keamanan yang sedang terdiam seorang diri, maka Lisa mulai beraksi. Dia mendekap lalu menutup mulut petugas itu dari belakang, setelah itu Lisa membawa petugas itu ke suatu tempat bersamanya, walaupun dia sedikit kesusahan karena petugas itu terus saja berontak, namun semuanya berjalan dengan lancar karena Lisa memiliki keahlian bertarung yang cukup mumpuni.  Di sebuah ruangan rapat, yang terdapat di dalam pabrik tersebut, petugas keamanan itu sedang dipegangi oleh Beni, sedangkan Kriss berdiri dihadapannya sambil mengajak bicara. Kriss dan kawan-kawan sedang mencoba untuk mendapatkan informasi dari petugas keamanan tersebut, terutama informasi mengenai keberadaan Romi saat ini.  Dengan raut wajah yang takut dan kebingungan, petugas itu berkata, “Romi, Romi siapa? Ruangan bawah tanah apa?” Si petugas bertanya-tanya, seakan dia tidak tahu apa-apa mengenai hal yang ditanyakan oleh Kriss.  “Jangan berbohong, cepat jawab pertanyaanku.” Kriss mendesak.  “Aku benar-benar tidak tahu apa-apa, tolong jangan sakiti aku.” Si petugas mulai memohon, dengan raut wajah memelas.  Walaupun Kriss terus menerus mendesak dan memaksanya untuk memberikan informasi, namun tetap saja si Petugas tidak bisa menjawabnya, karena mungkin dia memang benar-benar tidak tahu mengenai semua hal itu. Hingga kemudian, Lisa mulai berkata.  “Kriss, mungkin saja para petugas keamanan disini tidak mengetahui tentang keberadaan Romi karena hal itu dirahasiakan.” Ucap Lisa.  Kemudian Kriss terdiam, karena dia merasa bahwa apa yang telah dikatakan oleh Lisa benar juga. Reaksi dari Kriss tersebut membuat suasana disana menjadi hening untuk sejenak, sehingga Beni yang sedang memegangi si Petugas, jadi terbawa suasana dan mulai melonggarkan genggamannya. Lalu si Petugas yang menyadari hal itu, segera memanfaatkan situasi dengan cara menyikut perut Beni, kemudian dia segera berlari tunggang langgang meninggalkan ruangan itu.  “Hey! Jangan lari!!” Teriak Kriss.  “Jangan biarkan dia lari.” Suruh Lisa, yang mulai mengejar, diikuti dengan Kriss dan Beni di belakangnya. Mereka bertiga segera berlari sekuat tenaga untuk mengejar si petugas tersebut, namun sayang sekali, karena si petugas mulai membuat kegaduhan, dengan cara berteriak-teriak dan memanggil seluruh rekan-rekannya yang sedang berjaga di sekitar sana, sehingga suasana disana mulai riuh, lalu ramai dipenuhi para petugas yang bergegas untuk meringkus Kriss dan kawan-kawan.  Lalu, sebelum mereka bertiga akan dikepung, Beni berkata. “Kita adalah kelompok penyusup yang buruk.” Setelah itu Lisa berkata, “Beni, kenapa tadi kau melepaskannya?”  “I- iya maaf.”  “Sudah, jangan dipermasalahkan lagi, sekarang kita berpencar!” Suruh Kriss.  Kemudian mereka bertiga segera berpencar dan lari ke segala arah untuk menghindari kejaran para petugas yang akan menangkap mereka. Kriss dan Beni berlari mencari tempat yang aman untuk bersembunyi dari kejaran, namun lain halnya dengan Lisa, dia mengambil inisiatif untuk pergi ke ruangan pengawas cctv.  Dikarenakan seluruh petugas kemanan kini sedang sibuk mencari-cari keberadaan Kriss dan kawan-kawan, ruangan pengawas jadi minim penjagaan dan hanya dihuni oleh satu orang petugas saja, maka dari itu, Lisa langsung masuk kesana dan menghajar si petugas sampai tak sadarkan diri, walaupun hal itu tidak mudah dan butuh sedikit perjuangan, namun Lisa berhasil. Setelah itu dia segera memperhatikan seluruh layar monitor yang jumlahnya cukup banyak disana, dia sedang berusaha untuk mencari-cari keberadaan dari ruangan bawah tanah, tempat Romi berada, Lisa sangat yakin bahwa dia bisa menemukan tempat tersebut, dia terus memeriksa dengan seksama. Hingga akhirnya dia menemukan ada seorang petugas yang muncul dari balik lantai.  Lantai tersebut diangkat bagaikan pintu, kemudian ditutup kembali setelah si petugas sudah berada diatasnya. Setelah Lisa melihat hal itu dari kamera pengawas, maka dia sudah memastikan bahwa disanalah jalan masuk menuju ke ruang bawah tanah yang sedari tadi Lisa cari-cari.  Kemudian, Lisa mencoba untuk mencari keberadaan dari kedua kawannya, lewat kamera pengawas. Lisa melihat Beni yang sedang melawan dua orang petugas, dan dia bisa menang dengan mudah. Setelah itu Lisa menghubungi Kriss dan Beni lewat alat komunikasi di telinga mereka masing-masing.  “Teman-teman, kita bertemu di Area C1.” Ucap Lisa.  Lalu, Kriss dan Beni menganggukan kepala, hal itu menandakan bahwa mereka mengerti dengan apa yang Lisa ucapkan. Mereka berdua bergegas mencari Area C1, yang merupakan area gudang penyimpanan barang siap produksi. Disana, Kriss dan Beni bertemu dengan satu sama lain. Namun bukan hanya itu saja yang mereka temui disana.  Karena sesampainya mereka berdua disana, Kriss dan Beni disambut oleh beberapa orang petugas keamanan yang sudah siap dengan tongkat pemukul mereka. Dengan adanya beberapa petugas yang berjaga disana, Hal itu semakin menegaskan bahwa ruang bawah tanah itu pasti memang ada disana.  Dan sepetinya, tidak semua petugas keamanan di pabrik itu mengetahui tentang lokasi dari ruang bawah tanah rahasia tersebut, terbukti dari minimnya penjagaan di dekat jalan masuk menuju ruang bawah tanah itu, yang hanya dijaga oleh 6 orang saja, sementara sebagian besar petugas yang lain masih sibuk mencari-cari keberadaan dari Kriss dan kawan-kawan di sekitar pabrik. Hanya petugas keamanan yang paling dipercaya dan diberi gaji paling besar saja yang ditugaskan untuk menjaga ruangan rahasia tersebut.  Salah satu petugas yang sedang berhadapan dengan Kriss dan Beni, di area C1 itu berkata. “Kami sudah menelpon Pak Adnan. Sebentar lagi dia dan pasukannya akan datang kesini untuk menangkap kalian, hahha.”  “Kalau begitu kita tidak akan berlama-lama.” Ucap Kriss sambil menepuk tubuh Beni untuk mengajaknya bertarung bersama.  Tanpa banyak bicara lagi, Kriss dan Beni langsung bertarung melawan 6 orang petugas tersebut, tak disangka mereka bisa membuat Kriss dan Beni kerepotan dengan keahlian bertarung yang mereka miliki. Tentu saja, itu karena mereka adalah petugas kepercayaan yang dibayar lebih mahal oleh pihak perusahaan AionTex, untuk mengamankan ruang bawah tanah tersebut.  Namun, Kriss dan Beni tentu saja tidak mau kalah oleh mereka, karena keahlian bertarung yang dimiliki oleh Kriss dan Beni juga jauh lebih hebat dari mereka berenam. Apalagi dengan cara bekerja sama, dan menggabungkan keahlian mereka, Kriss dan Beni mampu membalikan keadaan sehingga mereka berdua bisa mengalahkan lawannya itu satu persatu, hingga tumbang lalu tak sadarkan diri disana.  Beberapa saat kemudian, Lisa juga sudah datang kesana lalu dia merasa terkejut melihat adanya 6 orang petugas yang sudah terkapar di lantai. Setelah itu Kriss segera menyuruh Lisa untuk menunjukan dimana letak jalan rahasia menuju ke ruangan bawah tanah itu. Dan tanpa banyak bicara, Lisa segera menunjukannya, lalu mereka bertiga masuk ke dalam ruangan bawah tanah itu bersama-sama.  Disana, mereka disuguhi oleh sebuah lorong panjang yang gelap, yang mengarahkan mereka kepada sebuah pintu besi yang terkunci rapat. Setelah sampai di dekat pintu tersebut, Kriss segera mendekatkan telinganya pada pintu untuk mendengarkan situasi apa yang sedang terjadi di dalam. Lalu ekspresi wajah Kriss berubah menjadi terkejut saat dia mendengar adanya suara orang yang seperti sedang disekap dan berusaha berteriak namun mulutnya disumpal.  Oleh karena itu, Kriss segera menyuruh Beni untuk membuka pintu itu. Tanpa banyak bicara, Beni segera mengambil alat las portable dari dalam tasnya, kemudian Beni langsung saja menggunakan alat itu untuk membuka kunci pintu dari ruangan tersebut, dengan menggunakan panas yang sangat ekstrem, dia berhasil melelehkan kenop pintu sehingga pintu besi itu langsung terbuka.  Setelah itu, Kriss segera mengambil alih, dia berjalan mendahului di depan lalu masuk ke dalam ruangan tersebut untuk pertama kali. Ketika dia masuk, Kriss melihat ada meja dengan layar komputer berbagai ukuran yang masih menyala, dan di depan layar komputer tersebut, ada seseorang yang tak lain tak bukan adalah Romi. Dengan keadaan terikat dan mulut disumpal kain, Romi terlihat berusaha berteriak, seakan mau memperingatkan Kriss mengenai sesuatu.  Lalu ternyata benar Saja, secara mengejutkan, seseorang tiba-tiba saja keluar dari balik pintu di sebelah Kriss dan langsung menusuk perut Kriss menggunakan pisau, sang penusuk merupakan seorang pria yang mengenakan jaket berwarna abu-abu, dengan rambut hitam panjang yang diikat. Raut wajahnya yang dingin, menunjukan bahwa dia akan berusaha untuk menghabisi siapa saja yang masuk ke dalam sana, sehingga dia tidak segan-segan menghunuskan pisau pada orang yang baru saja memasuki ruangan itu.  Namun untungnya, tangan Kriss dengan sigap langsung memegangi pergelangan tangan pria misterius itu, sehingga pisau yang menusuk perutnya tidak masuk terlalu dalam. Kemudian, Beni yang geram dengan aksi dari si pria misterius itu, langsung saja menjauhkannya dari Kriss, lalu menghajar dan membenturkan kepala pria itu ke tembok, Sehingga dia seketika langsung ambruk tak sadarkan diri, dengan pisau berlumur darah yang jatuh tergeletak di dekatnya.  Lisa yang sempat merasa kaget melihat hal itu, juga bergegas untuk masuk dan bertanya kepada Kriss mengenai keadaannya, “Kriss, apa kau baik-baik saja?”  “Ya, ini bukan masalah, bantulah Beni.” Suruh Kriss kepada Lisa, sambil terus memegangi bagian perutnya yang terkena tusukan pisau.  Setelah itu, Lisa segera membantu Beni yang sedang berusaha melepaskan tali yang mengikat tubuh Romi, lalu setelah Romi berhasil dilepaskan, dia segera berterima kasih kepada para penyelamatnya. Romi adalah seorang Pria berusia 20 tahun, yang terlihat polos, dengan rambut pendek yang dipangkas kekinian. Saat itu dia hanya mengenakan baju lusuh serta celana pendek, dan sepertinya dia belum mandi selama beberapa hari.  “Te- terima kasih banyak, kalian semua ... Pak Kriss, apakah kau baik-baik saja?” Tanya Romi.  “Ya, aku baik-baik saja, sekarang ayo kita segera pergi dari sini.” Ajak Kriss kepada teman-temannya, yang segera mengangguk lalu bergegas pergi mengikuti Kriss.  Sambil berjalan tergesa-gesa, Beni bertanya kepada Romi, “Hey nak, tadi yang menusuk Kriss itu siapa?”  “I- itu adalah Jiro. Dia juga merupakan seorang Hacker Sama sepertiku. Dia ditugaskan untuk mengawasi pekerjaanku dan melapor jika aku melakukan tindakan yang mencurigakan.”  “Hmm, lalu bagaimana dengan proyek yang sedang kau kerjakan itu? Apakah sudah selesai?” Tanya Kriss kepada Romi.  “Proyek itu baru selesai sekitar 75%, tadi saat petugas memberitahu Jiro bahwa ada penyusup yang masuk ke pabrik ini, Jiro segera mengikat dan menyumpal mulutku, lalu dia mengirimkan semua proyek itu ke database pribadi milik perusahaan, setelah itu dia segera menghapus semua data yang ada disini, dan bersiap-siap mengambil pisau untuk menikam siapa saja yang masuk ke dalam ruangan itu.”  “Ouh, jadi begitu.”  Kemudian Lisa berkata, “Kriss, apa tidak sebaiknya kita bawa juga Jiro, karena jika dia yang mengirimkan semua proyek itu ke database AionTex, maka hanya dia juga yang bisa mengembalikannya.” Lisa memberi saran.  “Kita tidak punya banyak waktu, saat ini Adnan dan anak buahnya sedang dalam perjalanan kesini, dan sebentar lagi mereka akan sampai. Jika kita terkepung oleh mereka, maka kesempatan kita untuk bisa kabur akan semakin kecil.”  “Baiklah, aku mengerti.” Ucap Lisa.  Singkat cerita, Kriss, Romi, Beni, dan Lisa sudah berhasil menyelinap sampai ke tempat pembuangan sampah tanpa diketahui oleh para petugas yang sedang riuh mencari-cari keberadaan mereka ke seluruh penjuru pabrik. Setelah Kriss dan kawan-kawannya sudah berada di luar dinding pabrik, mereka bergegas masuk ke dalam mobil, yang sudah siap untuk membawa mereka pergi dari kawasan industri tersebut.  Tak lama setelah kepergian mereka, rombongan mobil polisi yang dipimpin oleh Adnan, datang ke lokasi terjadinya penyusupan yang dilakukan oleh Kriss dan kawan-kawan. Sayang sekali karena Adnan beserta anak buahnya terlambat datang, sehingga disana dia hanya disambut oleh kekecewaan dan kehilangan.   AionTex kini telah kehilangan salah satu asetnya, yaitu Romi, yang telah berhasil dibawa kabur oleh Kriss. Namun AionTex masih punya satu Hacker lagi, yaitu Jiro yang sebelumnya ditugaskan untuk membantu dan mengawasi Romi, dalam pengerjaan proyek prestisius milik AionTex. Adnan dan Jiro yang merupakan orang-orang kepercayaan AionTex, tentu saja sudah saling mengenal satu sama lain. Adnan yang sekarang sedang berada di ruangan bawah tanah bersama dengan Jiro, segera memberikan pertanyaan kepada sang Hacker tersebut.  “Sebenarnya apa yang sudah terjadi disini?”  “Me- mereka berjumlah tiga orang, yang satunya itu adalah Inspektur Kriss. Aku berhasil menusuknya, lalu yang berbadan besar segera membenturkan kepalaku ke tembok, sehingga aku langsung pingsan.” Kata Jiro memberi penjelasan.  “Hmm, Kriss dan Beni.”  “Lalu yang satunya lagi adalah seorang wanita, apakah kau mengenalnya?” Tanya Jiro.  “Ya, aku sudah menyelidikinya. Namanya adalah Lisa, atlet memanah, dan punya gelar sabuk hitam di bidang karate, dulu dia bekerja sebagai seorang bankir, namun dia sudah berhenti dari pekerjaannya sejak dua tahun yang lalu, dan setelah itu tidak pernah ada lagi yang tahu hal apa yang selalu dikerjakannya. Dia tidak pernah menetap di satu tempat, dan selalu berpindah-pindah, sehingga keberadaannya sangat sulit untuk ditemukan. Aku tidak tahu seberapa bahayanya perempuan ini, tapi dengan adanya dia, ditambah Beni dan Romi, sekarang Kriss menjadi orang yang sangat sulit untuk dikalahkan.”  “Jangan khawatir, AionTex punya segala macam sumber daya, kita juga pasti tidak akan kalah. Proyek yang dikerjakan oleh Romi, sudah hampir rampung, dan aku sudah mengirim semua file backup nya ke database di perusahaan AionTex pusat. Sekarang aku hanya tinggal menyempurnakannya. Maka God Apps akan segera terlahir.” Ucap Jiro sambil tersenyum.  “Hmm, dengan menggunakan God Apps, kita bisa menangkap Kriss dan kawan-kawannya dengan mudah.”  “Benar sekali.”  Jiro dan Adnan sudah membentuk sebuah koalisi yang menakutkan, antara otak dan otot. Dengan bantuan sumber daya yang dimiliki oleh AionTex, Jiro akan berusaha untuk menyempurnakan proyek yang disebut ‘God Apps’, yang awalnya diciptakan oleh Romi namun kini telah diambil alih oleh AionTex. Lalu jika proyek itu sudah selesai dikerjakan, maka giliran Adnan yang akan beraksi untuk meringkus Kriss dan kawan-kawannya. Setelah itu, tidak akan ada lagi orang yang bisa menghentikan rencana jahat AionTex.  Sementara itu Kriss, Beni, Lisa, dan Romi, kini sedang berada dalam mobil, menuju ke tempat yang aman untuk membicarakan rencana selanjutnya. Mereka belum tahu mengenai plot yang sudah disusun oleh Jiro dan Adnan. Apakah Kriss dan kawan-kawannya bisa mengantisipasi plot tersebut? Dan menghentikan rencana jahat AionTex? Lalu Kubu manakah yang akan memenangkan pertarungan?  Berlanjut ke God Apps (ORIGIN) part 5
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD