Beberapa hari kemudian. Doni keluar dari kamar dan berpapasan dengan Diana yang sibuk menata roti yang di toast ke atas meja. Doni tertegun sejenak. Dia tidak bernafsu untuk makan, tapi kenapa Diana masih bersikeras memasak? Pada akhirnya yang membuat harapan adalah Diana sendiri. Dan pada akhirnya juga Diana terluka karena ulahnya sendiri. Doni jelas-jelas sudah memperingatkannya. Tapi Doni tidak mau memusingkannya. Pria berusia duapuluh enam tahu itu berbalik dan hendak meninggalkan Diana. Tapi suara Diana yang memprovokasinya terdengar dengan lantangnya. Demi Tuhan, ini masih pagi! Batin Doni dengan geram karena tahu akan berakhir seperti apa kalau mereka mengobrol di saat seperti ini. “Kamu nggak mau sarapan? Aku bangun lebih awal dan nyiapin ini buat kamu. Tapi kamu mengabaikannya?

