Galiung Banteng Merah melaju kencang menuju sebuah pulau yang berdiri di tengah lautan. Erlangga menyipitkan mata untuk menolak angin. Ia tak pernah mengira akan melihat tempat terkutuk itu lagi. Entah sudah berapa lama sejak ia pergi dari sana. Nahkoda melempar sauh di lepas pantai, lalu anggota partai melanjutkan perjalanan dengan perahu kecil. “Aku males jalan!” teriak Wati begitu menginjak pasir. Igor segera menepuk tangan dua kali. Seorang kader dengan sigap membuka layar Inventory. Kemudian sebuah tandu raja berlapis emas termaterialisasi di hadapannya. Tiga kader lain bergabung, masing-masing memegangi satu palang. Wati menyandarkan punggungnya dengan santai ke kursi tersebut. “Panggul yang benar, jangan sampai Sri Maharatu merasa tidak nyaman!” perintah Igor. “Satu, dua, angka

