Zona Aceh (Part 1)

1161 Words
Erlangga mengendap-endap bagai harimau, mengintai monster bernama Cempala Kuneng. Wujudnya seperti burung, tapi ukurannya menyamai anjing. Bulunya perpaduan antara hitam dan kuning dengan alis berwarna putih. Ia sedang berjalan-jalan mencari cacing di tanah. Saat jaraknya cukup dekat, pemuda itu menerkam. “[Dual Scratch]!” Serangan skill nya mencabik sang monster. Makhluk itu berkicau kasar, lalu mengepakkan sayapnya. “Tunggu!” Sang Cempala Kuneng tak mau menunggu. Ia terbang ke antara ranting-ranting lebat yang membentuk kanopi hutan. Erlangga mendesah. Kelihatannya perburuan solo di Pulau Weh membuat levelnya terlalu tinggi untuk hutan Zona Aceh ini. Para monster cenderung menyingkir begitu mendeteksi keberadaannya. Kecuali, monster yang tidak punya kaki. Cempaka Kuning adalah monster bertipe tumbuhan. Sekilas ia menyerupai pohon pada umumnya : memiliki batang, daun, dan bunga. Tapi saat didekati, penjelajah akan dikejutkan karena dalam kelopak bunganya terdapat barisan gigi tajam. Makhluk itu akan meliuk ganas menyerang siapa saja yang berada dalam jangkauannya. Namun, karena level Erlangga terlampau tinggi untuknya, Cempaka Kuning berusaha kabur. Sayang sekali batangnya tertancap di tanah sehingga ia tak bisa ke mana-mana. Akhirnya ia cuma pasrah ketika Erlangga mencakarnya tanpa ampun. [Anda mengalahkan Cempaka Kuning] [Anda mendapatkan 8 exp] [Anda mendapatkan 1 Bunga Kuning] [Penjelasan : Kelopak bunga berwarna kuning] Erlangga mendengus. “Expnya lebih sedikit dari Kodok Pulau Weh…” Pemuda itu mengamati item yang ia dapat, lalu menggaruk-garuk keningnya. “Apa ini bisa dimakan?” Ia melahapnya, mengunyahnya, menelannya. Perutnya tak tambah kenyang. Hit Pointnya tak bertambah. Rasanya juga hambar. “Bukan makanan,” gumamnya. Ia melanjutkan perjalanan mengikuti jalan setapak, membelah hutan alami yang seolah belum terjamah manusia. Ajaibnya ia makin terbiasa dengan kesendirian dan alam liar. Padahal dulu ia selalu bergidik tiap membaca berita mengenai pendaki yang hilang di gunung. “Hoaaam…” Pemuda itu menguap keras. Perjalanan ini mulai membosankan karena ia tak tahu masih seberapa jauh dungeon yang dimaksud… Tiba-tiba kedua matanya membelalak. Jalan setapaknya berakhir, dan di hadapannya terbentang area luas yang tak ditumbuhi sebatang pohon pun. Di tengahnya terdapat gunung batu yang amat—sangat—besar. Dan bagian depan gunung tersebut diukir menjadi gerbang raksasa—pintu masuk menuju perut gunung. Konstruksi yang mengingatkan pemuda itu pada situs bersejarah Petra di Yordania. Menakjubkan. Ada ukiran besar yang terpampang di atas gerbang, bahkan terbaca meski jaraknya sangat jauh. [Dungeon Banda Aceh] “Jadi ini dungeonnya…” Erlangga setengah takut setengah penasaran. Dalam game RPG, dungeon selalu dihuni oleh monster-monster yang lebih kuat daripada yang berkeliaran di area terbuka. Namun, ia yang sudah digembleng di Pulau Weh selama sebulan ini harusnya cukup kuat untuk menjelajahi dungeon tersebut. Tapi keraguannya muncul kala ia melihat kegelapan di balik gerbang. Ada aura pekat menjalar yang membuat kuduknya merinding. Mengingatkannya pada pembantaian Ghoul di Dungeon Tutorial. “Levelku cukup nggak ya…” Ia mulai berpikir mungkin sebaiknya ia berburu sedikit lagi guna meningkatkan satu atau dua level sebelum masuk dungeon. “Oke deh, gitu aja,” ucapnya pada diri sendiri. Ia memutuskan untuk berbalik arah. Namun, ujung matanya menangkap dua sosok yang bergerak di kejauhan. “Eh? Itu?” Dua sosok itu datang dari arah lain, berlari ke gerbang dungeon. Kalau matanya tidak salah, mereka adalah sepasang anak laki-laki dan perempuan, mungkin masih usia SMP. “Manusia?!” Erlangga mengangkat kedua tangannya, lalu berteriak, “Hei! Woi!” Kedua anak itu berhenti, mengawasi sekelilingnya. “Aku di sini!” Tapi keduanya malah buru-buru masuk dungeon seperti ketakutan dikejar sesuatu. “Ah…” Lagi-lagi panggilan Erlangga tak dihiraukan. Entah kenapa semua orang di dunia ini tidak ada yang mau berhenti untuknya. Namun, kedua anak itu adalah manusia pertama yang ia temui setelah satu bulan ini. Ia bergegas mengejar mereka, karena entah kapan kesempatan seperti ini datang lagi.   ***   Rama dan Sinta. Rama adalah anak laki-laki berusia empat belas tahun. Rambutnya diwarnai jingga, memakai baju dan celana pendek dari karung goni—setelan equip berlevel rendah—serta membawa belati kecil dan perisai kayu. Sementara Sinta anak perempuan berusia tiga belas tahun. Ia memakai kacamata bulat yang gagangnya agak miring dan mengenakan baju goni yang terusannya sampai ke atas lutut. Ia tak membawa senjata apa-apa. Rama berjalan di depan. Anak itu menggenggam belati dengan wajah tegang. Sedangkan Sinta menempel di belakangya seperti perangko. “Kak…” bisik Sinta ke telinga Rama. Anak laki-laki itu langsung merinding. “Apa sih, geli tahu!” ujarnya sewot sambil mengusap daun telinganya menggunakan bahu. “Tadi Kak Rama dengar nggak, kayak ada yang manggil?” Rama terdiam. Ia memang seperti dengar sesuatu, tapi tak yakin. “Bang Jono, bukan, ya?” lanjut Sinta. “Bukan kayaknya, gak mungkin! Kita kan ke sininya diem-diem,” jawab Rama. Ia harap demikian. “Pulang aja, yuk…” Sinta menarik-narik ujung lengan baju Rama. Tatapannya was-was menyisir gelapnya lorong dungeon. “Haduuh… Kan kita udah sepakat!” ucap Rama gusar. “Tapi kan kita dilarang ke dungeon…” “Sinta!” tegur Rama. “Kenapa nggak ngomong dari tadi sih, pas kita masih di desa?!” “Ha—habis…” Jelas sekali, suasana goa batu dengan pencahayaan minim itu yang membuat tekad si anak perempuan goyah. “Udah, jangan takut! Ada aku!” kata Rama meski matanya sendiri agak berkaca-kaca. “Yang penting kita masuknya jangan dalam-dalam—” Tiba-tiba terdengar cicitan melengking. Kedua anak itu refleks menoleh ke sumber suara. Dari antara stalaktit-stalaktit goa, sesosok hitam terbang mengepakkan sayap. [Kelelawar Goa] Monster itu bentuknya seperti kelelawar biasa, hanya saja besarnya bukan main. Rentang sayapnya tak kurang dari satu meter. Gigi-giginya runcing. Wajahnya beringas. “Huaaaaaaaaaa!!!” Rama dan Sinta teriak bareng, seolah si anak laki-laki langsung lupa dengan janjinya barusan. Monster itu terbang mendekat. Rama pun tak punya pilihan selain mengayunkan belatinya. [Miss] [Miss] [Miss] Serangannya begitu acak sehingga tak ada yang kena. Sang Kelelawar Goa bermanuver, lalu hinggap di tubuh Rama. Ia menggigit leher anak laki-laki tersebut. [20] “Aaaaaaaaaa!!!” Rama menjerit. Ia berputar-putar panik seraya berjuang mendorong si kelelawar menjauh dari tubuhnya. Namun, cengkraman monster itu sangat lengket. “Sinta! Sinta! Jangan diem aja! Tolong!” Si anak perempuan tersentak. Ia buru-buru mengangkat telapak tangannya, kemudian mengaktifkan skill. “[Fire Ball]!” Bola api melesat menghantam Rama dan Kelelawar Goa. Membakar keduanya sekaligus. “Aaaaaaaaaa!!!” Akhirnya sang kelelawar terbang menjauh akibat serangan tersebut, tapi Rama semakin panik. Ia mengibas-ngibaskan sisa api yang membara di tubuhnya. “Kok aku juga diserang?!” hardiknya sembari memelototi bar Hit Pointnya yang tinggal setengah. Sinta gelagapan tak bisa jawab. Anak perempuan itu mengetahui kesalahannya, tapi juga tak tahu bagaimana cara menyerang si kelelawar tanpa mengenai Rama. Kelelawar Goa akan menyerang lagi. Rama langsung menarik tangan Sinta. “Kabur! Kabur! Kabur!” Mereka lari sejadi-jadinya. Sang monster mengikuti di belakang. Celakanya, lorong yang gelap membuat Rama tak sadar mengambil arah yang salah. Bukannya ke gerbang dungeon, ia malah masuk semakin ke dalam. Lorong itu pun menjadi sepi. Kemudian Erlangga tiba. Ia mengamati sekelilingnya. Ia yakin sempat mendengar keributan, tapi kedua anak tadi sudah tak tampak di sana. Pemuda itu menghela napas, lalu lanjut menelusuri lorong dungeon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD