Rama akhirnya sadar sudah salah arah. Bukannya sampai gerbang, ia malah bertemu persimpangan goa. Ia melihat lorong sebelah kanan, lalu yang sebelah kiri. Keduanya sama-sama gelap. Namun, dari lorong kiri muncul Kelelawar Goa lainnya. Maka ia menarik Sinta ke kanan.
“Lewat sini!”
Ia berniat mencari jalan memutar. Namun, semakin banyak persimpangan yang dilewati, rasanya malah semakin jauh dari pintu keluar. Malahan makin banyak monster kelelawar yang mengejar mereka.
Kedua anak itu mulai kehabisan stamina. Rasa lelah ekstrim memberi mereka status ailment [Exhausted], yang sedikit demi sedikit mengikis Hit Point.
“Aku—nggak kuat—lagi—” rintih Sinta hampir menangis. Kakinya sakit sekali. Dadanya seperti mau meledak. Tapi kalau berhenti lari, ia akan jadi mangsa kelelawar-kelelawar di belakangnya.
“Tahan—sedikit—lagi—” ucap Rama di antara sengal napasnya. Wajahnya pucat pasi.
“Kyah!”
Sinta tersandung. Ia jatuh terjerembab.
Rama spontan mengerem. Ia berbalik untuk menolong Sinta.
Namun, pemandangan kelalawar-kelelawar raksasa yang mengepakkan sayap di belakang Sinta membuat anak laki-laki itu terdiam kaku. Nyalinya mati. Iblis pun berbisik pada jiwanya untuk menjadikan Sinta sebagai tumbal agar ia bisa melarikan diri.
Rama mengeratkan geraham.
“Keluar dari kepalaku!” Ia menampar pelipisnya sendiri, mengusir sang iblis.
Lalu anak itu berlari memeluk Sinta seraya memejamkan mata. Ia sudah janji akan melindungi anak perempuan itu.
Sinta pun memeluk erat pinggang Rama.
Habis sudah, pikir keduanya.
Tapi setidaknya melalui kematian mereka bisa terbebas dari Nusantara yang dipenuhi monster ini.
“[Dual Scratch]!”
Mendadak kelelawar-kelelawar itu mengeluarkan jerit melengking. Selanjutnya terdengar suara pertarungan baku hantam. Seolah sesuatu menyerang monster-monster tersebut. Yang jelas, tak ada satu pun yang menyentuh Rama dan Sinta.
Pelan-pelan Rama mengintip. Dan ia melihat seorang pria bertopi kodok yang lucu sedang menghalau banyak Kelelawar Goa seorang diri. Pria itu menyerang dengan cakaran jari-jari tangannya, sambil sesekali menghindari serangan para monster. Dan ajaibnya, dua atau tiga cakarannya sudah cukup untuk menjatuhkan monster-monster itu.
Hingga akhirnya tak ada yang tersisa.
“Lumayan juga Expnya,” ucap pemuda itu sembari memperhatikan layar notifikasinya. Ia adalah Erlangga. Lalu ia berlari kecil mendekati sepasang bocah yang masih saling berpelukan. “Kalian nggak apa-apa?”
“Ka—kami nggak apa-ap—”
Baru lima detik Rama dan Sinta merasa lega, terdengar suara melengking lagi. Tapi kali ini nadanya lebih tinggi dan mengancam. Suaranya memantul-mantul di dinding goa.
Rama memperhatikan sekelilingnya. Tempat itu memiliki lorong yang lebih luas, langit-langit yang lebih tinggi, juga stalaktit-stalaktit yang lebih panjang. Pikirannya segera memahami bahwa mereka pasti tidak sengaja memasuki lantai dua dungeon. Ia pernah dengar, katanya monster-monster di lantai satu sama sekali tak ada apa-apanya dibandingkan penghuni lantai dua.
Saat mereka mendongak ke arah datangnya suara, tampak sesuatu menggantung di antara stalaktit dengan posisi tubuh terbalik. Kepalanya di bawah dan sayapnya menyelimuti tubuhnya seperti mantel.
Kemudian monster itu menjatuhkan dirinya. Tapi sebelum menghantam lantai, ia berputar. Kedua sayap hitamnya membentang lebar. Tampaklah tubuhnya yang seperti manusia dari kepala hingga pusar. Sementara dari pusar ke bawah, tidak ada apa-apa. Ia tak punya kaki. Kulitnya coklat kehitaman. Wajahnya bagaikan iblis yang marah setelah kediamannya diganggu.
[Manananggal]
Rama menggenggam tangan Sinta erat-erat. Tangan itu sangat dingin. Ia bisa melihat ketakutan dan teror menguasai anak perempuan tersebut. Kemudian cairan hangat menyentuh kaki Rama. Sinta ngompol.
“Sinta, maaf ya…” ucapnya sesenggukan. “Harusnya kita nggak ke sini...”
“Nggak apa-apa, Kak…” Sinta menangis. “Kan tadinya juga aku yang ngajak duluan…”
Mereka berpelukan erat.
Erlangga menghela napas menyaksikan drama tersebut. Mungkin bagi kedua anak itu nama Manananggal berwarna merah. Baginya juga berwarna merah sih, tapi nyawanya ada sembilan. Dan melihat betapa lemahnya monster di lantai satu, harusnya monster lantai dua tak memiliki perbedaan kekuatan yang terlalu signifikan.
“Kalian cari tempat aman,” Erlangga menepuk bahu Rama.
Detik berikutnya, ia menerjang sang Manananggal.
Monster itu juga menerjang ke arahnya.
Manananggal mengayunkan cakar, dan Erlangga dengan mudah menghindarinya dengan menundukkan badan.
[Miss]
Erlangga balas melancarkan beberapa cakaran hingga monster itu menjerit kesakitan.
Manananggal mengepakkan sayap. Ia terbang guna membuat jarak agar serangan Erlangga tak bisa mencapainya.
“Turun kau!” teriak Erlangga. Melawan monster tipe penerbang benar-benar mengesalkan.
Makhluk itu tak menghiraukan. Ia terbang mengitari Erlangga. Pemuda itu mengikuti pergerakannya, tapi kalah cepat. Tiba-tiba Manananggal melesat ke arah punggungnya.
[Backstab]
Erlangga merasakan sakit saat cakar monster itu mencabiknya.
Lalu Manananggal terbang menjauh lagi.
Ternyata melawan musuh penerbang memang merepotkan.
Pemuda itu meningkatkan konsentrasi. Jika ia tak bisa mengejar Mananaggal ke udara, maka ia harus menyerang saat sang monster sendiri yang mendatanginya.
Kemudian makhluk itu melesat lagi.
Kali ini Erlangga mengerahkan segenap ketepatannya untuk menghindari serangan.
[Miss]
Berhasil.
Cakar Manananggal menggaruk tanah, dan posisi Erlangga kini tepat di belakangnya. Ia segera memberi serangan balasan.
[Backstab]
Monster itu menjerit.
“Satu sama!” seru Erlangga.
Manananggal terbang menjauh. Erlangga mengejarnya.
Tapi kemudian sang monster berbalik seraya membuka rahangnya lebar-lebar.
[Night Cry]
Manananggal meneriakkan gelombang lengkingan yang memekakkan telinga. Kedua gendang Erlangga seketika berdenyut perih. Keseimbangannya goyah, dan tubuhnya tak bisa digerakkan.
[Anda terkena efek Paralyze]
Muncul notifikasi. Paralyze adalah efek debuff yang membuat targetnya tak bisa bergerak. Seolah ada energi tak kasat mata yang mengunci pergerakannya. Bahkan untuk hal sederhana seperti menggerakkan ujung jari pun menjadi sulit.
Manananggal memanfaatkan kesempatan itu. Ia datang mencabik d**a Erlangga beberapa kali.
“Guagh!”
Pemuda itu berusaha bertahan. Untungnya begitu terbebas dari efek paralyze, cooldown skillnya sudah selesai. Ia langsung membalas.
“[Dual Scratch]!”
Sang monster menjerit lagi.
Keduanya terlibat dalam pertarungan yang brutal. Saling serang seolah mengabaikan rasa sakit.
Rama dan Sinta terperangah menyaksikan semuanya.
“Siapa Kakak itu?” tanya Sinta.
“Nggak tahu,” Rama menggeleng. Ia sendiri baru pertama ini melihatnya. “Dia ngelawan monster pake tangan kosong.”
Namun, yang sesungguhnya menarik perhatian Sinta adalah bagaimana ketakutan sama sekali tidak tersirat dalam raut Erlangga. Seolah pemuda itu tak sedang bertarung dengan mempertaruhkan nyawanya.
Manananggal menyerang lagi. Kali ini Erlangga mencoba trik baru. Ia gagal menghindar hingga bahunya tercabik, tapi di saat yang sama ia melompat untuk menangkap sayap monster tersebut. Berkat efek Jubah Kulit Kodok, ia berhasil meraih ujung sayap monster itu, lalu menariknya sampai jatuh ke tanah. Ia menekan perutnya menggunakan lutut. Selanjutnya ia mencakar leher makhluk tersebut. Sang monster balas mencakar, lalu mengamuk. Keduanya jumpalitan dan berguling-guling di atas tanah.
Erlangga tak melepaskannya, sebab ia akan kerepotan jika membiarkan Manananggal terbang lagi.
Sampai kemudian Erlangga menghujam dadanya dan monster itu berhenti bergerak. Kemudian tubuhnya pecah menjadi fragmen kecil.
[Anda mengalahkan Manananggal]
[Anda mendapatkan 50 exp]
[Anda naik ke level 11]
[Anda mendapatkan 3 poin status]
[Anda mendapatkan 1 poin skill]
[Anda mendapatkan 1 Gigi Manananggal]
[Anda mendapatkan 1 Daging Kelelawar]
“Berhasil…”
Erlangga mengusap peluhnya. Ia sama sekali tak mengira bisa mengalahkan Manananggal tanpa menggunakan skill Sembilan Nyawa. Hit Pointnya tinggal tujuh persen, tapi kebetulan sekali monster itu yang mati duluan. Sepuh Kodok Pulau Weh jauh lebih kuat dari ini.
Ia mengecek item yang didapatkan. Daging Kelelawar. Sama seperti Daging Kodok, ukurannya cuma seirisan rendang. Dan sama seperti Daging Kodok, tekstur dan aromanya tidak membangkitkan selera.
“Iyeuh…”
Ia berpikir apa mungkin di suatu dungeon ada monster yang berbentuk seperti sapi dan menjatuhkan item berupa daging wagyu?
Tapi rupanya anak laki-laki dan perempuan yang baru diselamatkannya memiliki pendapat berbeda. Seolah lupa kalau beberapa waktu lalu mereka hampir mati, saat ini mata keduanya berbinar memandangi daging di tangan Erlangga. Bahkan air liurnya menetes di ujung bibir.
“Eh… Mau?” Erlangga menyodorkan dagingnya.
Mereka menelan ludah.
“Seriusan..?” Pemuda itu tidak percaya.
Akhirnya Erlangga memberikan daging tersebut. Jika diperhatikan, badan mereka memang sangat kurus. Memprihatinkan.
“Terima kasih, Kak!” ucap si anak laki-laki penuh suka cita. “Sinta, kita bagi dua, ya.”
“Jangan dulu, Kak Rama! Mending kita simpan buat Bunda!”
“Oh… iya bener…” Mendadak kewarasan si anak laki-laki kembali. Ia memasukkan makanan tersebut ke dalam Inventory. Lalu ia membantu Sinta berdiri.
“Kak… jangan bilang siapa-siapa, ya!” ucap anak perempuan itu dengan dahi berkerut.
“Bilang apa?” tanya Rama polos.
“Yang… yang tadi itu…”
“Apa sih?” Rama mengerutkan keningnya. “Soal kamu ngompol?”
“Iya!” Wajah Sinta memerah. “Jangan bilang siapa-siapa!”
“Iya, aku nggak bakal bilang siapa-siapa, kok.” Ekspresi Rama sangat simpatik. “Paling cuman keceplosan.”
“Ih, Kak Rama mah!” Sinta memukul-mukul anak laki-laki itu.
“Becanda! Becanda! Lagian kita kan gak boleh ngasih tahu siapa-siapa udah masuk dungeon!” seru Rama sambil menahan pukulan-pukulan Sinta.
“Eh… anu…” Erlangga mengangkat tangannya untuk meminta perhatian. Setelah semua yang terjadi, ia tak mengerti kenapa anak perempuan itu masih mengkhawatirkan hal seperti ompol. “Kalian dari mana?”
“Sinta, Sinta, diem dulu! Tuh Kakaknya nanya!” Setelah Sinta diam, Rama menjawab, “Kami dari Desa Pertama, Kak. Saya Rama, ini Sinta. Makasih ya Kak udah nolong kami.”
“Desa… Pertama?” Erlangga mengulang kata-kata tersebut. “Apa desa itu adalah sebuah ‘desa’? Maksud saya… ‘desa’ tempat tinggal manusia?”
“Manusia?” Sinta kebingungan karena kosakata yang pemuda itu gunakan.
“Iya, Kak. Ada banyak orang,” jawab Rama.
Akhirnya. Peradaban.
“Kalau begitu,” lanjut Erlangga. “Boleh anterin saya ke sana?”