Erlangga memandu Rama dan Sinta keluar dari dungeon sembari membantai Kelelawar Goa yang mereka temukan.
“Kecil banget ya,” komentar pemuda itu sembari melihat daging yang dijatuhkan Kelelawar Goa. Ukurannya cuma sebesar daging di tusuk sate. Meski begitu Rama dan Sinta tetap ngiler saat melihatnya. “Ini buat kalian aja semuanya.”
Kedua anak itu tampak sangat bahagia. Menjadi sebuah pertanyaan bagi Erlangga.
“Kalian tinggal di ‘desa’, kan? Emangnya nggak ada orang dewasa yang berburu?”
Wajar kalau Erlangga yang terdampar sendirian di pulau kesulitan mencari makan. Tapi anak-anak itu tinggal dalam sebuah komunitas. Harusnya ada orang-orang dewasa yang bisa membantu mereka.
“Ada sih,” kata Rama. “Bang Jono.”
“Bang Jono?” Erlangga mengernyitkan alisnya. Ia tak tahu siapa itu Bang Jono. “Kenapa nggak Bang Jono yang berburu?”
“Itu… hmm… kurang, Om,” jawab Rama sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Ooh.”
Erlangga mengingat betapa kecilnya daging Kelelawar Goa, sedangkan Manananggal sangat berbahaya. Mungkin penduduk desa juga tidak sanggup berburu terlalu banyak.
Setelah keluar dari dungeon, mereka berjalan mengikuti jalan setapak lain tempat Rama dan Sinta berasal. Sebenarnya tidak ada aturan bahwa mereka harus melewati jalan tersebut, tapi bergerak menembus hutan adalah perbuatan yang mempersulit diri sendiri. Lagipula ada lebih banyak monster yang mendiami hutan belantara.
“Rama, Sinta, kalian bersaudara, ya?” tanya Erlangga.
“Bukan,” jawab Rama.
“Kok namanya gitu sih, cocok banget.”
“Co—cocok gimana, Kak?” sambar Sinta.
“Rama dan Sinta itu kan asalnya karakter dari cerita Ramayana,” jelas Erlangga. “Jadi Rama-Sinta itu suami istri. Ah, jangan-jangan kalian ini pacaran, ya?”
“Bukan!” teriak Sinta tiba-tiba, wajahnya merah padam. “Mana ada cewek yang mau sama orang kayak Kak Rama?!”
Rama ikut merah padam.
“Eh, daripada kamu? Emangnya ada cowok yang mau sama cewek yang nembak Fireball nya nyasar?!” balas Rama dengan nada meninggi.
“Nggak nyasar, kok! Kan kena monsternya juga!”
“Tapi kena aku juga!”
“Habis—siapa suruh Kak Ramanya nggak ngehindar?!”
“Ngehindar? Ngehindar gimana, aku kan lagi ngelindungin kamu!”
“Itu sih bukan ngelindungin, emang Kak Ramanya aja yang lagi diserang! Weeek~!”
“Daripada kamu malah bengong!”
Erlangga tidak menyangka pertanyaan isengnya malah menyulut peperangan. Tapi ia senang. Setelah sebulan terdampar tanpa interaksi manusia, akhirnya ia bisa menyaksikan dua bocah yang ribut seperti ini. Perdebatan mereka malah terdengar seperti lagu baginya.
“Kayaknya saya nggak lihat kalian di Dungeon Tutorial.” Pemuda itu mengalihkan topik sebelum terjadi pertumpahan darah.
“Kami ke Dungeon Tutorial juga, kok, Kak,” jawab Rama.
“Masa, sih?” Erlangga mengerutkan keningnya. “Kapan?”
“Dari kapan ya… Pokoknya Sinta udah di sini duluan. Kamu di sini dari kapan, Sin?”
“Aku juga lupa…”
“Hmm, coba diingat-ingat, kapan tanggal terakhir sebelum kalian dibawa ke sini?” tekan Erlangga.
“Kapan ya…” Rama berusaha keras menyelami memorinya. “Waktu itu lagi bulan puasa.”
Erlangga pun tercengang. Bulan puasa yang paling dekat saja sekitar setengah tahun yang lalu. Artinya Rama sudah berada di sini paling tidak enam bulan, dan Sinta bahkan lebih lama dari itu.
“Terus… selama ini kalian ngapain?”
“Nunggu di desa.”
“Apa nggak ada cara pulang?”
“Kata Bunda kita baru bisa pulang kalau semua bos dungeonnya udah dikalahin.”
Kepala Erlangga berputar. Ia ingat instruksi di prasasti bahwa penjelajah harus menaklukan Dungeon Banda Aceh. Kalau tiap dungeon mengambil nama ibukota provinsi di Indonesia, berarti paling tidak ada tiga puluh empat dungeon di Nusantara. Dan sepertinya sebelum dirinya pun sudah ada orang-orang yang terdampar di tempat ini, namun sampai sekarang masih belum berhasil menaklukan seluruh dungeon.
Sejauh mana perjalanan mereka? Berapa banyak lagi dungeon yang harus ditaklukan? Kapan kira-kira semua dungeon bisa ditaklukan?
Pemuda itu meneteskan keringat dingin, membayangkan masa depannya.
Apa ia akan menghabiskan hidupnya di sini, berburu monster? Bagaimana nasib perusahaannya? Apa ia akan menjadi seperti tokoh utama di film Cast Away, dianggap mati di dunia nyata, dan kehilangan segalanya saat kembali nanti?
Ah, setidaknya Nabila juga terjebak di sini.
Erlangga sepontan mencengkram keningnya. Apa yang ia pikirkan? Memang sedih kalau saat ia kembali ternyata Nabila sudah bersuami, tapi bukannya itu jauh lebih baik daripada gadis tersebut ikut terjebak di tempat berbahaya seperti ini?
Pemuda itu menepuk-nepuk pipinya untuk mengusir pikiran jahat tersebut.
“Kak Rama, itu Kak Angga kenapa?” bisik Sinta.
“Nggak tahu,” jawab Rama.
Keduanya agak menjauhkan langkah dari Erlangga.
“Kak! Kak! Itu Kak, udah sampe!” seru Rama saat melihat pemukiman di kejauhan. Tampak tenda-tenda kelabu yang berdiri di atas dataran hijau lapang. Jumlahnya tidak sedikit, mungkin ada lima puluh pucuk tenda. Angin bertiup mengibarkan bendera aneka warna yang terpasang di tiap pucuk tenda.
Erlangga terenyuh. Akhirnya ia bisa bertemu lagi dengan peradaban. Dan mungkin Nabila juga berada di sana. Ia sangat senang. Hatinya sudah tak sabar. Pemuda itu langsung berlari meninggalkan Rama dan Sinta.
“Yang terakhir sampai desa kalah!” serunya seperti bocah.
“Eee curang!” teriak Sinta.
Rama mengejar tanpa ba-bi-bu. Sinta mengikutinya. Tapi apa daya, langkah Erlangga jauh lebih cepat karena Agility nya lebih tinggi. Mustahil penjelajah level 2 bisa mengimbanginya.
Erlangga berhenti di depan gerbang desa yang lebih tampak seperti gawang. Konstruksinya cuma terdiri dari tiga batang bambu—dua di kanan dan kiri, dan satu sebagai penghubung di atasnya. Bendera merah putih kecil berkibar di atasnya. Tapi karena tidak ada pagar yang mengitari desa, gerbang itu jadi terlihat sebagai formalitas saja.
Ia menoleh ke belakang. Rama dan Sinta menyusul sampai ngos-ngosan.
Pemuda itu tertawa, “Kalian kalah!”
“Nggak sah! Kak Angga curang, lari duluan!” seru Rama kesal.
Ada seorang wanita yang berdiri tak jauh dari gerbang. Usianya mungkin di awal empat puluhan. Matanya berkantung dan rambutnya sedikit awut-awutan. Meski demikian, sepintas masih tampak sisa paras ayu masa mudanya.
Saat melihat Erlangga dan kedua bocah yang dibawanya, wanita itu berteriak.
“Rama! Sinta!”
Kedua anak itu tersentak. Saat melihat sosok wanita yang menghampirinya, mereka mematung. Ekspresinya seperti yang ingin kabur tapi sadar tak bisa pergi ke manapun.
Saat sampai di depannya, wanita itu menghardik, “Dari mana aja kalian?!”
“Anu… anu…” Rama dan Sinta menundukkan kepala. “Kami nyari makanan.”
“Makanan? Ke mana?” Wanita itu makin gusar.
“Ke… dungeon.”
Rahang wanita itu menegang. Ia mengangkat telapak tangannya.
“Bu, tungg—” Erlangga bermaksud melerai, tapi tidak jadi. Sebab sesaat kemudian wanita itu memeluk Rama dan Sinta erat-erat.
“Bunda khawatir, tahu! Bunda takut kalian kenapa-kenapa! Kalau sampai kalian nggak ada, nanti siapa yang nemenin Bunda?!”
Sinta tertegun, lalu ia balas memeluk wanita itu. Ia terisak.
“Bunda, maafin Sinta…”
Rama berusaha menahan air matanya, tapi akhirnya ia sesenggukan juga.
“Maaf… maaf…”
Erlangga menyimak. Ia teringat pada dirinya dulu saat meminta izin untuk ikut aktivitas pecinta alam. Orang tuanya melarang keras. Walau naik gunung dan masuk dungeon jelas berbeda, setidaknya pemuda itu paham bagaimana perasaan sang wanita.
“Yaudah, yang penting kalian nggak kenapa-kenapa, kan?” tanya sang wanita sembari mengamati kedua anaknya dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Nggak apa-apa, Bunda,” ucap Sinta seraya mengusap air mata. “Kak Angga yang nolong kami di dungeon.”
“Iya kah?” Wanita itu menatap pemuda yang dimaksud.
“Saya kebetulan lewat aja, Bu,” jawab Erlangga.
Sang wanita buru-buru bangun, lalu menjabat pemuda tersebut.
“Saya sangat-sangat berterima kasih Mas udah nolong anak-anak ini.”
“Iya, sama-sama, haha.”
Wanita itu memegang tangan Erlangga dengan kedua tangannya sambil didekatkan ke d**a. Mungkin maksudnya tidak buruk, tapi membuat sang pemuda salah tingkah.
“Nama saya Ross, nama Mas siapa?”
“Saya—Erlangga—”
“Gimana ya cara saya buat balas budi?”
“Ng—nggak usah…”
Erlangga berusaha menarik tangannya tapi genggaman Ross masih erat.
“Hei, hei, ada apa ini?!” Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras. Seorang pria botak kumisan dengan postur berisi mendatangi mereka. Pakaiannya—kaos, jaket, celana—serba hitam. Di samping kanan dan kirinya ada dua orang yang mendampingi.
Ross terlonjak. Ia melepas jabatannya pada Erlangga, lalu berdiri kaku. Rama dan Sinta berkumpul di belakangnya.
“Oh, bocah-bocah ini udah balik?” tanya pria itu.
“Iya Bang, syukurlah mereka pulang dengan selamat,” jawab Ross.
“Hoo,” pria itu menganggukkan kepala, ekspresinya tidak terkesan. “Tapi bukannya saya udah bilang ya, penduduk desa dilarang masuk dungeon?”
“Maaf Bang Jono,” ucap Ross. “Tapi anak-anak ini sangat menyesal. Kalian udah kapok, kan? Nggak akan ke dungeon lagi, kan?”
“Iya, Bunda.” Rama dan Sinta mengangguk bersamaan.
Mendengar nama Jono, Erlangga pun teringat kedua anak itu pernah menyebutnya.
“Sebenernya bukannya apa-apa,” lanjut Jono. “Mbak Ross juga tahu, kan, dungeon itu bahaya? Saya nggak tanggung jawab lho, kalo terjadi apa-apa sama mereka. Lagian emangnya makanan yang kita bagiin masih kurang?”
“Kurang, Bang!” sela Rama. Anak itu tampak tegang, tapi kedua matanya menyala. “Bang Jono ngasih makanannya kesedikitan, jadi kami nyari sendiri!”
Kumis Jono berkedut. Ross sendiri pucat pasi mendengar pernyataan barusan. Ia ingin menghentikan Rama, tapi nasi sudah menjadi bubur. Tiba-tiba amarah Jono meledak.
Pria itu maju dengan kasar. Ia mendorong Ross, kemudian mengangkat tangannya untuk menampar.
“Ngomong apa tadi, bocah?!” bentaknya.
Rama langsung ciut. Ia memejamkan mata.
“Tunggu! Tunggu!” Erlangga buru-buru menghalangi. “Nggak usah pakai kekerasan!”
Jono menoleh kepadanya, kedua matanya melotot.