“Siapa kamu?” tanya Jono galak.
“Mas Angga ini yang nolong anak-anak dari dungeon,” ucap Ross buru-buru.
“Nolong gimana?” Jono mengernyitkan sebelah matanya.
“Saya kebetulan lewat terus ngeliat anak-anak itu dikepung Kelelawar Goa,” jawab Erlangga.
“Hoo… orang kuat, ya?” Jono tampaknya bisa memahami seberapa tinggi level pemuda itu. Ia melangkah mundur menjauhi Rama. “Jangan salah paham ya… Angga—saya panggil Angga aja ya? Jadi bocah ini nih yang nggak ngerti. Kami orang dewasa dari kelompok Pemuda Nusantara udah kerja keras malah nggak dianggap.”
“Iya, saya paham Bang,” kata Erlangga. “Namanya juga anak-anak.”
“Seperti yang tadi saya bilang, ini demi kebaikan mereka juga. Kalau waktu itu nggak ada Angga, mereka pasti nggak selamat,” lanjut Jono. “Makanya saya juga ingin mengucapkan terima kasih udah nolong penduduk desa kami.”
“Iya, sama-sama Bang,” balas Erlangga.
“Ngomong-ngomong kalau kamu dari mana?” tanya Jono disertai tatapan menyelidik.
“Dari Pulau Weh, Bang.”
“Hah? Kok bisa?”
Jujur, Erlangga tak begitu paham maksud Jono.
“Terus ke sini ngapain?” tanya pria itu lagi.
Maka Erlangga menceritakan perjalanannya dari awal. Mulai dari bagaimana ia sampai di Dungeon Tutorial, tiba di Pulau Weh sendirian, bertahan hidup mengumpulkan material rakit, lalu menyebrang ke Zona Aceh. Di sanalah ia bertemu Rama dan Sinta kemudian minta diantar ke desa.
Mendadak Jono tertawa terbahak-bahak.
“Ngarang kamu!” katanya. “Mana ada penjelajah baru yang bisa hidup sendirian di Pulau Weh? Lagian harusnya semua dijemput sama partai.”
Erlangga terbengong-bengong, tak paham bagian mananya yang lucu.
“Yah, pokoknya kalau kamu nggak ada maksud tertentu,” Jono mengulurkan tangannya lalu meremas bahu Erlangga. “Selamat datang di Desa Pertama!”
“Makasih, Bang.”
“Dah ya,” Jono undur diri. “Rama, Sinta, jangan nakal lagi!”
Kedua anak itu menganggukkan kepala.
Lalu Jono melirik pada sang Bunda, “Mbak Ross, biasa ya nanti malam.”
“Iya, Bang Jono.” Wanita itu mengangguk.
Jono dan kedua temannya pun pergi. Tapi setelah beberapa langkah, ia berbisik.
“Tahir, Sukma, awasi orang itu.”
“Beres, Jon,” jawab Tahir, pria tua bertubuh kurus yang rambutnya serba putih. Meski demikian, ia memiliki kumis lebat kaku serta tatapan menusuk yang mampu membuat orang lain menyeganinya. “Sukma, kamu duluan ya.”
“Kok saya duluan?” protes pria ketiga yang memiliki badan besar dan kulit sawo matang. Tapi begitu menerima tatapan Tahir, ia langsung ciut.
“Saya lagi ada urusan.”
“Iya…”
Selepas itu, suasana di antara Ross dan anak-anaknya kembali cair. Ketegangan sirna dari raut mereka.
“Oh iya, Bunda!” Rama buru-buru membuka Inventory nya. “Kami dapat makanan dari Kak Angga!” Ia menyodorkan daging-daging kelelawar yang dikumpulkannya. “Bunda kan katanya mau punya adik bayi lagi, jadi harus makan yang banyak.”
Ross tampak kaget melihat daging di tangan Rama. Ia menoleh sekilas ke arah Jono yang sudah agak jauh, lalu buru-buru menutup tangan anak itu.
“Simpan dulu, kita bagi di tenda saja.”
“I—iya Bund.”
Erlangga menggaruk-garuk pelipisnya, lalu bertanya, “Oh ya, Mbak. Buat balas budi, boleh saya minta diceritain aja semua yang saya nggak tahu? Kenapa tadi Bang Jono ketawa abis dengar cerita saya?”
“Oh… Dengan senang hati, Mas.”
Ross mulai menjelaskan mengenai tiga partai besar yang berkuasa di Nusantara, dan bagaimana setiap awal bulan mereka menjemput penjelajah baru di Titik Awal. Tujuannya tidak lain adalah untuk mencari rekrutan baru, tapi di saat yang sama juga memberi kemudahan bagi para pendatang yang masih kebingungan.
Erlangga ternganga.
Akhirnya semua benang merah terhubung.
Kenapa ia sendirian di Pulau Weh? Siapa kapal-kapal besar yang berpapasan dengannya saat menyebrangi selat? Ke mana Nabila pergi?
Istilah yang tepat untuk menggambarkan situasinya adalah ia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.
Seandainya ia keluar dari dungeon tutorial lebih cepat, ia tak akan ketinggalan jemputan.
Seandainya ia menunggu sebentar sebelum menyebrang selat, ia akan dijemput bersama penjelajah yang datang bulan ini.
Tapi tak ada guna menyesali yang sudah terjadi. Ia harus fokus pada masa depan.
“Gimana ya cara nyusul mereka?” tanyanya.
“Sulit, Mas.” Ross mengerutkan kening. “Kapal-kapal partai biasanya langsung pulang ke markas masing-masing. Yang saya tahu markas Banteng Merah di Kalimantan, Beringin Kuning di Sulawesi, dan Kubah Hijau di Jawa.”
Erlangga mengembungkan pipinya lalu menghembuskan napas.
Rakitnya cuma sekali pakai, jadi ia tak bisa kembali ke Pulau Weh. Namun satu hal yang pasti, saat ini mestinya Nabila bersama salah satu dari ketiga partai tersebut. Ia harus mencarinya.
“Bunda! Bunda!” Seorang gadis kecil berumur tujuh tahunan menggendong anak batita di perutnya dengan tergopoh-gopoh. “Ami ngompol!”
Si anak batita menangis. Celananya basah.
“Ya ampun!” Ross buru-buru mengambil alih menggendong anak itu. “Cup, cup, sayang.” Ia pamit pada Erlangga. “Saya ke tenda dulu, ya.”
“Iya, Mba.”
Setidaknya pemuda itu sudah dapat garis besar situasinya.
Ross pergi ke tenda diikuti Sinta dan anak perempuan yang satu lagi. Tinggal Rama yang masih bersama Erlangga.
“Jadi… ada apa saja di desa ini?” tanya sang pemuda sembari mengamati tempat tersebut. Dari penjelasan yang ia terima, kelihatannya Nabila tak berada di sini.
“Mau sambil saya ajak keliling, Kak?” balas Rama.
“Boleh.”
Mereka mengikuti jalan utama yang terbentuk karena sering dilewati, sementara tenda-tenda usang berdiri di kanan-kirinya.
“Katanya desa ini dibangun sama penjelajah yang pertama kali sampai Nusantara. Tadinya buat basecamp waktu naklukin dungeon Banda Aceh,” jelas Rama. “Tapi abis bos dungeon Banda Aceh kalah, penjelajah-penjelajah itu pindah ke zona Sumatera Utara. Sekarang desa ini jadi tempat tinggal orang-orang yang nggak bisa berburu.”
Erlangga bisa melihatnya. Seorang kakek duduk termenung di atas balok kayu. Seorang pria harus mengesot keluar dari tenda karena tak punya kaki. Terdengar suara batuk parah dari salah satu tenda. Penghuni pemukiman tersebut rata-rata adalah orang tua, orang sakit, dan anak-anak.
Pemuda itu sempat senang saat berpikir akhirnya bertemu peradaban, namun pemandangan ini malah membuatnya prihatin.
Kejam sekali. Siapapun dalangnya, kenapa harus mendatangkan semua orang tanpa pandang bulu? Apa desainer tempat ini tak berpikir kalau anak batita atau orang dengan disabilitas jelas tak bisa berburu monster?
Mereka berbelok di tikungan, menjelajahi sudut lain desa. Tempat itu benar-benar lebih mirip pengungsian ketimbang sebuah desa.
Kemudian sesosok yang familiar mencuri perhatian Erlangga. Ada kakek yang sangat sepuh sedang jalan mondar-mandir menelusuri jalan. Pemuda itu merasa pernah melihatnya.
“Kenapa, Kak?” tanya Rama.
Pemuda itu menelusuri klaster-klaster memorinya.
“Ah!”
Dia adalah kakek yang ditolong Erlangga saat baru tiba di Dungeon Tutorial.
“Kek! Kakek!” Erlangga mendekatinya, lalu cium tangan. “Kakek ingat saya?”
Kakek itu mengerutkan kening, kemudian menjawab dalam bahasa daerah yang tidak ia mengerti.
Benar juga, saat di Dungeon Tutorial pun Erlangga tak memahami perkataannya.
“Bisa Bahasa Indonesia, kek?”
Kakek itu tetap menjawab dengan bahasa daerah.
Erlangga menyerah. Padahal ia ingin bertanya mengenai Nabila. Seharusnya mereka sama-sama dijemput di Titik Awal.
“Kakek, saya ada sesuatu.” Erlangga mengeluarkan sisa buah kelapa yang ia dapat dari Beruk di Pulau Weh. “Buat Kakek.”
Kakek itu menatap pemberian Erlangga dengan keheranan, lalu menerimanya. Ia berbicara lagi, mungkin ucapan terima kasih. Sang pemuda mengangguk-angguk.
“Woi!”
Namun, seorang pria datang menegur Erlangga. Ia adalah Sukma, anggota Pemuda Nusantara yang tadi menemani Jono. Kedua matanya memelototi Erlangga.
“Siapa yang nyuruh bagi-bagi makanan ke penduduk?!”