“Ng—nggak ada yang nyuruh, Bang,” Erlangga keheranan.
“Terus kenapa ngasih-ngasih makanan?” hardik Sukma lagi.
“Ya… nggak kenapa-kenapa… Emang salah, Bang?”
“Nyari makanan buat penduduk desa itu tugas Pemuda Nusantara. Kamu nggak usah sok pahlawan pakai bagi-bagi makanan segala,” ucap Sukma galak. “Kalau kamu mau yaudah mulai sekarang kamu aja yang nyariin makanan buat penduduk!”
“Hah?”
“Nggak mau, kan?”
“Eeh…”
“Makanya!” Sukma merebut buah kelapa dari tangan si kakek dengan paksa, lalu dikembalikan ke Erlangga. “Ini!”
Pemuda itu terdiam. Otaknya gagal memproses apa yang sebenarnya terjadi.
“Iya deh, Bang.” Erlangga pun mengalah. Ia memasukan buah kelapanya ke dalam Inventory. “Maaf ya, Kek.”
Si kakek sangat kecewa, namun tak berani membantah preman di depannya.
“Dah, bubar, bubar,” usir Sukma.
Erlangga dan Rama melanjutkan tour keliling desa. Sang pemuda masih merasa aneh. Kenapa orang barusan bisa mendadak muncul? Sepertinya dia diikuti. Pantas saja tadi Ross segera menyuruh Rama menyembunyikan dagingnya.
Tapi kenapa?
“Dia kenapa, sih?” ucapnya kesal.
Rama cuma mengerutkan kening sembari jalan memperhatikan tanah. Kelihatannya ada sesuatu yang mengganjal di pikiran anak itu.
“Kak,” ucapnya.
“Ya?”
“Kak Angga levelnya tinggi, ya?”
“Yaaah… nggak juga sih,” Erlangga tak bisa menyebut level 11 sebagai ‘tinggi’. Ia bahkan kesulitan menghadapi Manananggal. “Kenapa?”
“Oh…” gumam Rama diikuti kesunyian beberapa jenak. “Nggak apa-apa, Kak.”
Erlangga tidak mengerti.
***
Malam pun tiba.
Penduduk desa berkumpul di alun-alun—yang sebenarnya cuma sebidang tanah yang tak dibangun tenda. Mereka mengantri dalam barisan, sementara orang-orang Pemuda Nusantara membagi jatah makanan.
“Ngantrinya yang bener! Semut aja bisa ngantri!” teriak seorang pemuda cempreng.
Erlangga menonton dari pinggir lapangan bersama Ross. Wanita itu menggendong Ami, sedangkan Sinta dan Aisyah bermain-main.
“Jadi ini ya, maksudnya,” kata Erlangga. “Tadi siang saya dimarahin gara-gara ngasih makanan ke penduduk.”
“Iya, Mas. Mereka itu kelompok Pemuda Nusantara yang megang wilayah ini. Mereka biasa berburu ke dungeon lalu bagi-bagi makanan tiap dua atau tiga hari sekali.”
Masuk akal, sebab penduduk desa ini kelihatannya tak bisa berburu kelelawar sendiri.
“Di sini nggak ada pertanian atau ternak gitu, Mbak?”
“Nggak ada, Mas,” Ross menggeleng. “Tanaman pangan nggak bisa berbuah, jadi cuma kayak pajangan. Makhluk hidup yang ada juga cuma monster-monster itu yang kalau diburu badannya pecah.”
“Jadi memang satu-satunya sumber makanan berasal dari drop item, ya. Sehingga kalau mau makan wajib berburu. Dan karena ada sekelompok orang yang nggak bisa berburu, sekelompok lainnya berburu untuk mereka.”
Ross mengiyakan kesimpulan yang ditarik Erlangga.
Menarik juga menyaksikan bagaimana penduduk desa ini membangun sebuah sistem mandiri. Tapi pastinya tidak mudah mencari makanan untuk orang sebanyak ini. Pantas saja Rama dan Sinta sampai nekad masuk dungeon. Mungkin anak-anak itu ingin ibu dan adik-adiknya bisa makan lebih banyak.
“Maaf, kalau anak-anak ini apakah anak Mbak Ross?”
“Bukan, Mas. Mereka ini anak-anak yang terdampar di dunia ini. Saya nggak tega ngelihat mereka nggak ada yang ngurus.”
Erlangga tersenyum. Mulia sekali wanita itu, pikirnya. Mengurus anak sebanyak itu tentunya bukan hal mudah. Apalagi kalau mereka cukup nakal untuk menjelajah ke dungeon sendirian.
“Mbak udah berapa lama di sini?” tanyanya lagi.
“Umm,” Ross berpikir sejenak. “Waktu Mas Angga ke sini, di luar tahun berapa?”
“2021.”
Wanita itu terkejut sepintas. Lalu iya berkata dengan tatapan sayu yang menyiratkan kesedihan, “Nggak kerasa ya… saya di sini dari 2019.”
“Oh…” Erlangga terdiam. Artinya Ross sudah terjebak di Nusantara dua tahun lamanya. Membuatnya takut, membayangkan jika dirinya sendiri juga akan terjebak selama itu.
“Ngomong-ngomong Rama ke mana, ya?” Ross melihat-lihat sekeliling. “Biasanya dia rajin ikutan antri untuk adik-adiknya.”
Erlangga ikut mencari, “Tadi rasanya masih di sini.”
Mereka tak tahu kalau barusan anak itu pergi untuk buang air kecil. Tapi saat mau kembali, Jono menahannya. Pria itu membawanya ke sudut desa yang jauh dari keramaian.
“Sini, nggak usah takut, kayak mau diapain aja.” Jono meremas bahu Rama, lalu mendorongnya hingga terduduk di atas balok kayu. “Masuk dungeon aja berani masa sama saya takut?”
Tahir dan Sukma mengelilinginya.
“Coba cerita, gimana sampai si Angga-Angga itu bisa nolong kamu?” tanya Jono.
Rama mulai membuka mulutnya dengan tergagap. Ia menjelaskan bagaimana dirinya dan Sinta malah masuk ke lantai dua dungeon saat dikejar gerombolan Kelelawar Goa. Erlangga datang, lalu mengalahkan sekelompok Kelelawar Goa dan satu Manananggal.
“Levelnya lumayan juga, Jon,” ucap Tahir. “Dia bisa ngelawan Manananggal sendirian.”
“Tapi jangan salah, dia juga susah payah pas ngelawannya,” balas Jono. “Iya, kan?”
Rama mengangguk, “Iya, Bang. Kayaknya, sih.”
“Oke, oke. Kita cuma mau nanya itu doang, kok. Tegang amat sih kamu ini.” Jono mengacak-acak rambut Rama sambil tertawa, diikuti kedua temannya. “Dah sana ambil jatah makanan!”
Anak itu segera berlari, lalu tersandung. Jono tertawa lagi.
“Apa orang itu mata-mata partai, ya?” tanyanya pada kedua temannya.
“Ngapain juga partai mata-matain kita, Jon?” jawab Tahir. “Selama ini juga partai nggak peduli.”
“Iya, sih… Dah lah, pusing amat mikirinnya.” Jono bangkit. “Kita happy-happy dulu, dong.”
“Nah, asyik ini!” Sukma yang sejak tadi diam saja akhirnya menunjukkan antusiasme.
***
Di lapangan, pembagian makanan masih berlangsung. Rama mendatangi Erlangga dan Ross.
“Nah ini dia anaknya,” ucap Erlangga. “Dari mana?”
“Abis kencing,” jawabnya singkat.
“Udah cuci tangan belum?”
Namun, anak itu tak menanggapi candaan Erlangga. Dahinya dibanjiri keringat. Sebelum ia bertanya lebih jauh, ia melihat tiga orang berjalan mendekat. Jono, Tahir, dan Sukma.
“Halo!” sapa Jono bersahabat.
“Bang Jono,” balas Ross.
“Panen kali ini lumayan, makanannya berlimpah,” kata Jono. “Anak-anak udah kerja keras.”
“Makasih, Bang Jono.”
“Hahaha, santai aja,” tawa Jono. “Oh ya, saya juga mau minta maaf sama Angga, tadi si Sukma ini lancang, ya?”
“Nggak apa-apa kok Bang, salah paham aja itu,” jawab Erlangga.
“Kata Rama, kamu ini juga levelnya lumayan tinggi ya, bisa ngesolo Manananggal?”
“Yah begitulah, hahaha.”
“Kalau gitu gimana kalau kita berburu bareng? Di lantai tiga Manananggalnya lebih banyak, tapi biasanya anak-anak kewalahan berburu di sana. Kalau kita ngegabungin kekuatan, mungkin bisa dapat hasil yang lumayan.”
Erlangga teringat kata-kata Sukma. Jangan-jangan ia mau direkrut Pemuda Nusantara?
Ia sendiri penasaran seperti apa berburu dalam kelompok. Selama ini ia selalu bertarung sendirian, dan satu lawan satu melawan Manananggal terbukti sulit.
“Boleh, Bang,” jawabnya kemudian.
“Sip! Besok pagi kita kumpul di gerbang desa!”
“Siap.”
“Nah, sekarang…” Jono menatap ke arah Ross. “Mbak, saya ada sisa makanan lebih, tapi tadi saya taruh di Peti Harta di tenda saya.”
“Oh iya Bang, biar saya ambil.” Wanita itu buru-buru menyerahkan Ami dari gendongannya ke Sinta. “Titip dulu ya, nanti Bunda pulang bawa makanan.”
“Iya, Bunda.”
Kemudian Ross mengikuti Jono dan teman-temannya.
“Jadi…” Erlangga menatap Rama. “Kamu nggak ikutan antri makanan?”
Tapi anak itu cuma duduk dengan kepala tertunduk. Kedua tangannya meremas lutut.