Zona Aceh (Part 6)

1183 Words
Erlangga menunggu di gerbang desa sembari meregang-regangkan tubuhnya. Setelah sebulan lebih tidur di alam terbuka, semalam ia bisa merasakan nikmatnya berbaring di kasur kapuk. Rama menawarinya tidur di tendanya. Kini badan pemuda itu sangat segar, siap menghadapi segala tantangan. Tak berapa lama, datang tiga orang yang akan berburu bersamanya. Jono, Tahir, dan Sukma. Mereka mengenakan perlengkapan tambahan seperti pelindung d**a dan sarung tangan dari kulit. Erlangga masih setia dengan topi dan jubah kodoknya. “Selamat pagi!” sapa Jono keras. “Pagi, Bang!” “Udah siap aja nih, semangat empat lima,” kelakar Jono. “Langsung cabut?” “Ayo, siap.” Keempatnya bergegas menuju Dungeon Banda Aceh. Di perjalanan, Jono mengangkat topik pembicaraan. “Angga, akikmu apa?” “Cat’s Eye.” Pemuda itu menunjukkan cincinnya. Jono mengamati batu itu lamat-lamat, lalu mendengus tertawa, “Iya bener, Cat’s Eye.” “Kenapa, Bang?” Erlangga mengerutkan keningnya. “Nggak, nggak apa-apa, bukannya ngeledek ya. Cat’s Eye nggak jelek, kok. Tapi nggak spesial juga.” “Kok nggak spesial?” Hal itu bertentangan dengan yang diketahui Erlangga. Kalau bukan karena skill spesial Sembilan Nyawa yang dimiliki akiknya, ia tak akan menyintas sampai sejauh ini. “Dengerin nih,” ucap Jono. “Yang saya tahu, skill-skill Cat’s Eye itu cuma sekitaran skill pasif untuk mengendap-endap. Jarang sekali ada skill ofensif dengan daya serang tinggi. Makanya daripada disebut Assassin, biasanya pemilik Cat’s Eye cuma jadi Scout alias pengintai tim.” Kening Erlangga makin berkerut. Benar perkataan Jono, tapi ada yang tidak sesuai. “Bukannya Cat’s Eye punya skill Sembilan Nyawa?” “Apaan tuh?” Jono menaikkan alisnya. Ia memandang kedua temannya yang sama-sama mengendikkan bahu. “Ngga pernah denger,” timpal Sukma. “Emang kamu punya skill begituan?” Jono balik bertanya. “Saya… nggak ada sih. Cuma penasaran aja kan katanya kucing punya sembilan nyawa?” “Kalau yang kayak gitu beneran ada sih pasti edan, lah!” Dari percakapan tersebut, Erlangga menduga bahwa ‘skill spesial’nya mungkin tidak umum diketahui orang lain. Tapi entah kenapa ia merasa tak ingin menjelaskan lebih jauh. Ia sendiri masih mempelajari konsep dari batu akik di dunia ini. Semalam ia sempat mengobrol dengan Rama, yang bercerita bahwa tiap orang memiliki batu berbeda dengan skillset yang berbeda-beda pula. “Kalau Bang Jono akiknya apa?” tanyanya untuk mengalihkan materi obrolan. “Giok Lumut.” Jono mengangkat tinju ke wajah Erlangga untuk memamerkan batu besar berwarna hijau lumut di jari tengahnya. “Akiknya laki-laki.” “Skillnya apa aja, Bang?” tanya sang pemuda seraya menjauhkan wajahnya dari tinju Jono. “Nanti juga lihat sendiri,” jawab pria itu disertai tawa. “Kamu kader partai mana?” “Saya nggak gabung partai, Bang. Kan kemarin saya udah cerita kalau saya ketinggalan di Pulau Weh.” “Oh iya,” Jono mengangguk. “Kamu mau gabung sama Pemuda Nusantara?” “Kayaknya nggak, Bang. Saya masih ada keperluan.” Erlangga harus mencari Nabila. “Orang sibuk, ya.” Setelah itu Jono diam, sepertinya sudah tak ada lagi yang ingin dibicarakan. Tak lama kemudian mereka tiba di gerbang Dungeon Banda Aceh. Jono, Tahir, dan Sukma mengeluarkan senjata masing-masing. Jono menggunakan pedang melengkung, Tahir membawa tombak panjang, dan Sukma memakai knuckle berkilauan. Lalu mereka memperhatikan Erlangga. “Senjatamu mana?” tanya Tahir. Pemuda itu bingung cara menjawabnya. “Saya petarung tangan kosong,” ucapnya. “Belum dapat senjata.” Sukma pun tertawa. “Yaudah kalau yakin,” kata Jono. Mereka mulai menelusuri dungeon. Ketika Kelelawar Goa muncul, Jono mempersilakan Erlangga untuk membereskannya. Ia bilang ingin beradaptasi dengan cara bertarung pemuda itu. Tapi setelah memburu beberapa monster, ia mengajukan sebuah ide. “Udahan yuk pemanasannya. Kita langsung nyari Manananggal aja. Kelelawar Goa dagingnya sedikit.” “Oke.” Jono yang sudah hapal tiap lorong dan sudut dungeon memimpin kelompok melewati jalan temurunan menuju lantai dua yang lebih luas. Erlangga menyalakan kewaspadaannya. Ia masih ingat betul perjuangannya melawan Manananggal kemarin. “Ngomong-ngomong formasi tempurnya gimana ya, Bang?” Ia bertanya pada Jono. Sebelumnya ia selalu berburu sendiri. Jika melakukannya bersama-sama, pastinya mereka harus membuat kesepakatan seperti saat melawan Ghoul di Dungeon Tutorial agar tak bentrok satu sama lain. “Kalau formasi… kamu kan akiknya Cat’s Eye, jadi jalan di depan buat mantau keadaan,” kata Jono. “Saya di belakangmu, siap tempur kalau ada musuh.” Jadi tugas Erlangga adalah mendeteksi monster untuk disergap bersama-sama. “Oke.” Pemuda itu berjalan beberapa langkah di depan yang lainnya sambil mengkombinasikan skill-skill pengintaiannya. Night Sight untuk melihat dalam goa yang remang-remang, dan Cat Walk untuk bergerak tanpa suara. “Nah, sekarang,” ucap Jono, “[Earth Splatter]!” Tiba-tiba pria itu melesat seperti atlet lompat jauh seraya mengangkat pedangnya ke udara. Lalu ia menghujamkan senjata itu secara vertikal tepat di atas Erlangga. Bahu pemuda itu tercabik pedang, dan tekanannya membuatnya jatuh berlutut. Tak hanya itu, tanah di sekitarnya pun membentuk kawah cekungan karena terkena energi dahsyat tersebut. “Ba—Bang!” Erlangga kaget bukan main. Ia menoleh. Jono menyeringai lebar. “Kenapa, Bang?!” Jono tak menjawab. Ia menarik pedangnya untuk diayunkan lagi. Erlangga berusaha menghindar, tapi langkahnya berat. [Anda terkena efek Slow] Rupanya selain memberi kerusakan parah, skill barusan juga memberi efek debuff. Jono menebas-nebaskan pedangnya, sementara Erlangga hanya bisa membuat posisi bertahan dengan menyilangkan kedua tangan. “Jangan, Bang!” Pemuda itu bingung. Wajar kalau monster ingin membunuhnya. Tapi yang ada di hadapannya ini manusia. Membuatnya terus bertanya. Kenapa? Namun, Jono malah tersenyum beringas. Erlangga sudah terbiasa menatap wajah monster yang menyerangnya tanpa alasan. Tapi manusia yang menyerangnya dengan niat membunuh? Hal itu membuat sekujur tubuhnya terasa dingin. Ia berusaha menangkis dan menghindar sebisa mungkin. Ia ingin membuat jarak lalu membuka dialog. Setidaknya ia ingin tahu kenapa tiba-tiba diserang. Sayangnya hal itu mustahil, sebab Tahir dan Sukma bergabung dari kanan dan kiri Jono. Tahir menghunuskan tombaknya ke perut Erlangga, kemudian Sukma meninju pipi pemuda itu. Erlangga terdorong mundur beberapa langkah. “Tunggu! Saya nggak mau bertarung!” serunya. Rentetan serangan barusan membuat Hit Pointnya kurang dari lima puluh persen. Jono, Tahir, dan Sukma memperhatikannya. Lalu Jono terkekeh, diikuti kedua temannya. Erlangga terbelalak menyaksikan tiga orang itu terpingkal-pingkal. “Nggak mau bertarung? Kalau mau juga emangnya kuat?!” seloroh Sukma. “Gak usah berlagak g****k!” Mendadak Jono mengumpat. “Dari kemarin sok jadi pahlawan, sekarang malah ciut!” “Hah?” “Kamu tahu, kan, Desa Pertama itu kawasannya Pemuda Nusantara?” ucap Tahir sarkastik. “Kamu bukan kader partai, nggak mau gabung Pemuda Nusantara, terus ngapain pake sok nolong-nolongin bocah? Mana sok ngasih makanan ke penduduk, lagi…” “Emangnya salah?!” “Salah!” hardik Jono. “Kamu jelas-jelas pengen ngambil alih desa, kan? Dengan kamu ngasih makanan ke penduduk, nantinya kamu mau nguasain penduduk.” “Apaan? Saya gak pernah mikir ke situ!” “Tai kotok! Kan dari dulu udah ada perjanjiannya, Pemuda Nusantara yang bertugas ngasih makan penduduk Desa Pertama, dan sebagai gantinya kita punya kuasa penuh atas penduduk Desa Pertama!” Erlangga tertegun. Pikirannya masih tak bisa mencerna. “Udah lah, gak usah pakai lama lagi,” Jono memimpin kedua temannya. “Ayo kita beresin!”   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD