Erlangga menguntit monster kodok yang tadi memukulinya sampai mati. Ia menemukan makhluk itu sedang melompat-lompat tanpa arti di antara pepohonan. Tidak pergi ke mana-mana, hanya semacam patroli berputar-putar.
Ia menjaga jarak karena tak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Andai saja ada penjelajah lain, mungkin mereka bisa bekerja sama mengalahkan monster tersebut. Seperti saat melawan Ghoul. Tapi hal itu tidak membuatnya berkecil hati, sebab sekarang ia memiliki skill spesial. Jika ia bisa memanfaatkannya dengan baik, mungkin ia bisa bertahan hidup.
Erlangga menyiapkan ancang-ancang. Ia menarik napas dalam satu kali. Kemudian melesat. Pemuda itu berlari ke arah sang monster.
Kodok Pulau Weh menyadari kedatangannya. Makhluk itu sontak berbalik. Namun Erlangga sudah sampai di hadapannya. Pemuda itu mengepalkan tinju, yang ia layangkan sekuat tenaga.
[5]
Notifikasi itu muncul, nilai kerusakan yang dihasilkan tinju Erlangga pada Hit Point sang monster.
Kodok Pulau Weh berkuak. Ia balas menggebuk Erlangga sampai mental.
[10]
Hit Point pemuda itu berkurang.
Sang monster menerjang. Erlangga buru-buru bangkit lalu menerjang juga. Mereka saling hantam. Tinju Erlangga mengenai wajah sang monster, dan balok kayu sang monster mengenai pinggang Erlangga. Hit Point keduanya sama-sama berkurang.
Setelah mengalami efek Stagger sesaat, mereka kembali bertukar serangan. Saling pukul bergantian satu sama lain.
Jelas, Hit Point Erlangga terkikis lebih cepat. Di sisi lain Hit Point Kodok Pulai Weh masih delapan puluh persen lebih. Dan saat monster itu memberi serangan terakhir, Hit Point Erlangga habis. Tubuh pemuda itu limbung ke belakang. Pandangannya gelap. Lalu notifikasi itu muncul lagi.
[Skill Spesial Diaktifkan : Sembilan Nyawa]
Ia kembali melihat cahaya. Ia melihat Kodok Pulau Weh mendelik kaget menatapnya.
“Surprise!”
Ia membuat kuda-kuda yang mantap untuk meninju wajah makhluk itu sampai melesak ke dalam. Rasanya lembek, basah, dan menjijikkan.
[Critical!]
Nilai kerusakannya lebih tinggi dari sebelumnya. Itu adalah serangan critical, serangan ke arah titik tak terduga lawan sehingga nilainya tak dikurangi jumlah pertahanan.
Tapi itu belum cukup.
Sang kodok lekas mengembalikan kuda-kuda, lalu mengayunkan balok kayunya lagi. Serangan bertubi-tubi itu dengan cepat mengikis Hit Point Erlangga seperti air di dalam ember bocor. Tak perlu waktu lama sampai pemuda itu kehabisan Hit Pointnya dalam baku hantam.
Lalu ia bangkit lagi.
Ia terus meninju, meski di saat bersamaan tubuhnya juga menjadi samsak hidup.
Nyawanya terus berkurang, tapi ia sudah bertekad untuk tidak berhenti selama dirinya masih bernapas.
Fokusnya tak lepas dari Hit Point monster di hadapannya. Ia memperhatikan bagaimana bar hijau itu berubah menjadi kuning, lalu berubah menjadi merah.
Sampai nyawanya sisa dua. Sebagian dirinya mulai ingin lari meninggalkan pertarungan tersebut. Tapi sebagiannya yang lain tak ingin melepas sang monster. Kalau ia pergi sekarang, ia perlu waktu lama untuk memulihkan sembilan nyawanya. Dan selama menunggu bisa saja Hit Point kodok itu juga pulih.
Jadi ia terus menghantam.
Menghantam.
Menghantam.
Dan akhirnya sang monster tumbang.
[Anda mengalahkan Kodok Pulau Weh]
[Anda mendapatkan 10 exp]
[Anda naik ke level 2]
[Anda mendapatkan 3 poin status]
[Anda mendapatkan 1 poin skill]
[Anda mendapatkan bonus 1 poin status sebagai orang pertama yang mengalahkan Kodok Pulau Weh]
[Anda mendapatkan 1 Daging Kodok Mentah]
Rentetan notifikasi itu muncul memenuhi pandangan Erlangga. Ia nyaris meninggal, tapi hasilnya sepadan.
“Akhirnya—” Ia menghela napas sembari bertolak pinggang. Dadanya masih berdebar keras, tapi lebih lega. Seperti orang yang hampir ditinggal bus tapi berhasil melompat naik di saat terakhir. Ia merasa beruntung, kuat, dan tak terkalahkan.
Pemuda itu mencari pohon kelapa terdekat, lalu duduk bersandar ke batangnya. Ia cepat-cepat membuka layar status, tak sabar ingin mengecek apa saja yang ia dapatkan dari kemenangan barusan.
Ada empat status poin yang bisa dialokasikan ke dalam enam parameter—STRength, AGIlity, VITality, INTelligence, DEXterity, LUcK.
Meningkatkan strength akan menambah kekuatan serangan fisik.
Meningkatkan agility akan menambah kecepatan serangan dan kesempatan menghindari serangan.
Meningkatkan vitality akan menambah jumlah Hit Point, regenerasi Hit Point, dan tingkat pertahanan fisik.
Meningkatkan intelligence akan menambah kekuatan serangan sihir, pertahanan sihir, jumlah Mana Point, dan regenerasi Mana Point.
Meningkatkan dexterity akan menambah akurasi serangan, kekuatan senjata jarak jauh, dan kecepatan merapal sihir.
Meningkatkan luck akan menambah kesempatan melakukan serangan kritikal.
Erlangga membaca seluruh penjelasan itu baik-baik, lalu mempertimbangkan parameter status apa yang sebaiknya ia tingkatkan. Berhubung saat ini kekuatan serangannya sangat rendah, jadi ia menginvestasikan seluruh status poinnya pada STR. Sehingga sekarang parameter statusnya menjadi sebagai berikut :
[STR : 5]
[AGI : 1]
[VIT : 1]
[INT : 1]
[DEX : 1]
[LUK : 1]
Ia diam sejenak, lalu menegang-negangkan otot bisepnya seperti binaragawan. Ia tak merasakan perubahan apapun. Ia ragu apa dengan menaikkan STR pada layar status akan betul-betul meningkatkan kekuatan fisiknya.
Berikutnya ia mempelajari skill yang bisa ia buka. Skill pertama dalam daftar adalah [Claw Master], yang memiliki efek meningkatkan kekuatan serangan dengan cakar atau senjata tipe [Claw]. Karena itu satu-satunya skill yang bisa ia ambil untuk saat ini, maka ia mengambilnya. Ia tidak punya senjata yang dimaksud, tapi menyerang dengan cakar apakah berarti seperti menggaruk musuh menggunakan jari? Apa garukan jarinya akan memberi serangan yang lebih menyakitkan daripada tinjunya? Apa jarinya tidak akan patah kalau digunakan seperti itu? Ia tak yakin, harus dicoba dulu.
Dan yang terakhir ia cek adalah item yang ia dapatkan melalui jendela [Inventory].
[Daging Kodok Mentah]
[Penjelasan : Daging yang tidak enak, tapi lumayan untuk menahan lapar dan mengembalikan sedikit Hit Point]
Ia menekan item tersebut. Tiba-tiba sepotong daging kecil seukuran irisan rendang Rumah Makan Padang muncul di telapak tangannya. Daging itu benar-benar mentah, warnanya merah tua. Teksturnya lembek dan aromanya amis. Pemuda itu pun bengong.
“Aku harus makan ini?” tanyanya pada diri sendiri.
Ia menelan ludah.
“Apa mesti dimasak dulu ya?”
Tapi jelas ia tidak punya api.
“Apa aku berburu lagi ya… Siapa tahu ada monster lain, kan, yang ngejatuhin sesuatu yang lebih layak dimakan.”
Tapi energinya sudah habis. Ia merasa lemah dan lapar.
“Sial… ada cacing pitanya nggak ya…”
Ia memicingkan mata, memperhatikan dengan teliti, berusaha memastikan tak ada pergerakan mikro pada permukaan daging tersebut.
“Dimakan nanti aja apa ya…”
Ia enggan dan ragu.
Tapi ia juga mengingatkan dirinya sendiri. Kalau tidak makan, ia bisa mati.
Jadi ia memejamkan mata. Ia menahan napas, lalu memasukan irisan tersebut ke dalam mulutnya. Ia menguyah perlahan, dan rasa mual langsung menyergap. Aroma amisnya masih menusuk bahkan setelah ia menahan napas. Refleks muntahnya langsung bekerja.
“Hoekkk—”
Dagingnya jatuh ke tanah. Untungnya ia belum makan apa-apa selama dua belas jam terakhir, jadi tidak ada lagi yang keluar.
“Oek, nggak enak…” ucapnya seraya menyeka bibir. Ia ingin menyerah. “Tapi aku harus makan…”
Ia memungut irisan daging tersebut, lalu membersihkan tanah yang menempel. Bentuknya semakin abstrak.
“Anggap aja sushi.”
Ia memasukan lagi daging itu ke dalam mulutnya, kali ini dengan tekad baja. Ia mengunyah sambil memikirkan daging steak, lalu menelan.
Hit Pointnya naik sedikit.
“Haaah…” Pemuda itu mendesah seperti orang kecapekan, bahkan suaranya lebih keras daripada saat ia mengalahkan Kodok Pulau Weh. “Berhasil… Udah kayak si Bolang aja, anjir.”
***
Di waktu yang sama, para penjelajah yang berada di atas geladak utama galiung Beringin Kuning sedang bancakan menikmati hidangan yang disajikan. Lembaran daun pisang ditaruh berjejer, di atasnya ada nasi hangat yang disiram sayur nangka. Lauknya adalah ikan pindang goreng, lengkap dengan sambal ulek dan lalapan timun. Mereka melahapnya begitu liar sebagai bentuk balas dendam karena tak diberi makan apa-apa selama melewati Dungeon Tutorial.
“Makanlah, sahabat-sahabatku!” seru Saleh dari atas anjungan, menikmati pemandangan tersebut. “Sebab pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mengisi tenaga. Kalau perut kenyang, kita bisa melihat visi ke depan dengan lebih jelas!”
“Terima kasih, Jendral!” seru Udin meski mulutnya penuh. Lalu ia tersedak sampai batuk-batuk.
“Makannya yang santai, anak muda!” tukas pria di sebelahnya, sehingga beberapa dari mereka tertawa.
Saleh pun tersenyum simpul.
Namun, cuma Nabila yang sama sekali tidak bernafsu. Gadis itu memandang hamparan pangan di depannya dengan tatapan kosong.
Saleh memperhatikannya.
“Apa ada rekrutan yang menarik bagi Jendral Besar?” seorang pria tua bertubuh jangkung mendekati Saleh. Ia memakai tongkat jalan berkepala singa meski kedua kakinya tampak normal.
“Secara umumnya rekrutan bulan ini biasa-biasa saja. Kurang berpotensi. Akiknya rata-rata peringkat E dan D,” Saleh menunjukkan kekecewaan pada ekspresi wajahnya.
“Saya sepakat,” balas Murdani. “Tapi masa iya tidak ada satu pun yang menarik perhatian Anda?”
Saleh terkekeh, artinya iya.
“Dan saya rasa sudah bisa menerkanya.”
“Anda memang yang paling cermat,” Saleh masih terkekeh sembari mengetuk-ngetukkan tongkat komandonya ke telapak tangan. “Ada satu berlian yang perlu diasah.”
“Hohoho.”
Keduanya melempar pandangan pada seorang gadis yang duduk melihat makanan melimpah tanpa nafsu. Anak punk di sebelahnya menawarkan makanan, tapi gadis itu hanya menggeleng pelan.
“Tapi kelihatannya berlian kita sedang dalam keadaan memprihatinkan,” komentar Murdani.
“Tidak mengejutkan. Dungeon Tutorial bisa jadi pemandangan mengerikan bagi mereka yang terbiasa hidup nyaman. Tapi saya yakin saya bisa membantunya melupakan hal itu. Dengan bantuan Jendral Murdani, tentu saja.”
“Siap.” Murdani mengangguk. “Katakan saja apapun yang Jendral Besar butuhkan, saya siap menyediakan. Semua demi kejayaan partai.”
Saleh tersenyum bangga atas fakta bahwa dirinya memiliki tangan kanan dengan kesetiaan yang tak terbantahkan.
Keduanya pun saling menatap dalam kesepahaman, menunjukkan betapa dalam dan lama relasi yang telah ditempa di antara mereka.