Erlangga tewas, untuk yang kedua kalinya. Tubuhnya terbujur kaku.
Kodok Pulau Weh memperhatikannya. Ia menyenggol-nyenggol pinggang Erlangga memakai balok kayunya. Setelah memastikan pemuda itu tak bergerak lagi, ia melenggang pergi.
Namun, monster itu tidak tahu bahwa kesadaran Erlangga masih ada. Dalam gelap, pemuda itu melihat sebuah tulisan notifikasi yang muncul.
[Skill Spesial Diaktifkan : Sembilan Nyawa]
Hit Point yang tadinya sudah nol, tiba-tiba angkanya bertambah hingga kembali jadi seratus. Dan pemuda itu bisa membuka kelopak matanya. Ia masih hidup, terbaring di atas tanah.
“Lho?”
Ia bangkit, menatap kedua telapak tangannya, lalu bertepuk tangan. Terasa, ada suaranya. Ia belum jadi hantu.
“Skill Spesial?”
Nyawanya diukur dengan angka, dan ia bisa hidup setelah mengalami kematian. Fenomena yang di luar nalar. Ia mengusap-usap batu akiknya, menerka apakah ini ada kaitannya dengan kekuatan dari sang akik.
Tiba-tiba sebuah layar hologram muncul di hadapannya.
[Informasi Dasar]
[Nama : Erlangga]
[Akik : Cat’s Eye]
[Level : 1]
[HP : 100/100]
[MP : 10/10]
Ia mengerutkan dahi membaca informasi tersebut. Benar-benar seperti sistem dalam game.
Di sebelah [Informasi Dasar], ada kolom [Status]. Ia menggunakan telunjuknya untuk menekan layar tersebut.
[STR : 1]
[AGI : 1]
[VIT : 1]
[INT : 1]
[DEX : 1]
[LUK : 1]
Semuanya cuma satu poin, benar-benar dasar.
Di sebelahnya lagi ada kolom [Skillset]. Baru satu skill yang terdaftar di sana.
[Sembilan Nyawa]
[Penjelasan : Ketika Hit Point penjelajah menjadi 0, Skill Spesial ini akan mengembalikan Hit Pointnya menjadi utuh.]
[Nyawa Tersisa : 8/9]
[Cooldown : 59menit32detik]
Erlangga merenung sejenak. Kelihatannya ia punya kemampuan untuk hidup kembali sampai sembilan kali tiap kehabisan Hit Point. Dan persediaan nyawanya akan pulih satu tiap satu jam. Kalau benar demikian, ini menjelaskan kenapa sekarang ia masih bernapas setelah dibantai Ghoul Besar. Sebab saat itu skill spesialnya aktif ketika ia mengenakan cincin akik.
Tak masuk akal, tapi biar bagaimanapun ia beruntung.
Andai saat di Dungeon Tutorial ia menyerah, ia tak akan mendapat kesempatan ini. Garis antara hidup dan mati begitu tipis, seperti sehelai kertas.
Tengkuknya dingin.
Lalu ia memperhatikan skill-skill lainnya. Semuanya masih terkunci. Ada syarat level minimal dan juga skill point yang diperlukan untuk mempelajari setiap skill. Artinya ia harus meningkatkan level terlebih dahulu baru bisa mempelajari skill baru. Tapi pertanyaannya, bagaimana cara mengalahkan monster kodok itu?
Erlangga mendesah. Ia rebahan di rumput. Sudah susah payah keluar dari dungeon, sekarang malah terjebak di pulau tak berpenghuni. Gemuruh di perutnya makin menjadi-jadi. Kepalanya pening.
Saat ini, kekacauan mungkin mulai terjadi di dunia nyata.
Nabila tidak pulang semalaman, dan handphonenya tidak dapat dihubungi. Om Doni pasti panik. Ia akan langsung membuat laporan ke polisi.
Sementara di kantor, pegawai-pegawai Erlangga juga kebingungan karena ia tak datang dan tak bisa dikontak.
Sama sekali tidak ada petunjuk sampai tengah hari ketika seharusnya mereka check out dari motel. Pegawai akan mengecek kamar mereka, tapi pintunya terkunci. Ia akan mengetuk-ngetuk. Pegawai itu melihat motor Erlangga masih terparkir di halaman, sehingga ia membuat kesimpulan bahwa tamunya masih di kamar. Tapi setelah beberapa saat tak mendapat jawaban ia menjadi khawatir. Ia akan membuka pintu secara paksa menggunakan kunci cadangan. Dan betapa kagetnya ia saat hanya mendapati barang-barang tanpa pemilik.
Pegawai motel pun lapor polisi. Polisi datang. Berdasarkan identitas yang mereka temukan, mereka segera menghubungkan kasus itu dengan laporan orang hilang yang dibuat Om Doni. Orang tua Erlangga juga akan dihubungi. Lalu orang tua Nabila ribut dengan orang tua Erlangga, meminta pertanggungjawaban. Tentu saja orang tua Erlangga membela diri, menegaskan bahwa anaknya bukan penculik. Jadi kemungkinan lain adalah sepasang muda-mudi itu diculik, yang mana juga tidak masuk akal sebab kamar motel dikunci dari dalam dan tak ada tanda-tanda keberadaan orang ketiga.
“Sial…”
Hatinya galau, perasaannya kacau. Ia membayangkan rasa malu yang dihadapi keluarganya jika mengira Erlangga membawa kabur Nabila. Seluruh reputasi yang ia bangun selama ini akan hancur begitu saja. Om Doni akan marah padanya, lalu pertunangan mereka dibatalkan.
“Sial—sial—sial—”
Ia terus mengumpat, lalu menutupi kedua matanya dengan lengan. Gerahamnya tererat.
Masalah tak berhenti sampai di situ. Begitu berita ini bocor, kemungkinan besar akan menjadi konsumsi jagat dunia maya.
Erlangga adalah seorang CEO, founder dari perusahaan start up yang tengah mendapat perhatian masyarakat. Ia sering dianggap sebagai simbol kesuksesan oleh anak-anak muda karena berangkat dari latar belakang yang biasa saja. Di sisi lain Nabila merupakan selebgram dengan ratusan ribu pengikut. Keduanya bisa dikatakan sebagai figur publik, sehingga kasusnya kemungkinan viral di media sosial.
Beragam spekulasi akan dibuat oleh netizen. Mungkin ada yang menuduh Erlangga penculik, atau ada yang menyimpulkan ini sebagai prank padahal keduanya kawin lari, atau bisa jadi penculikan oleh pihak ketiga yang beridentitas misterius. Bisa juga pelakunya adalah rezim, atau berkaitan dengan hal-hal mistis, atau mungkin ada campur tangan alien. Sudah tentu media nasional akan mengangkatnya, dan wartawan menyerbu kediaman mereka setiap hari.
Kalau sudah begitu, rasanya Erlangga ingin menggali tanah lalu masuk ke dalam dan tak keluar-keluar lagi. Ia sudah gagal. Ia adalah pria yang gagal memegang janji pada ayah dari gadis yang ia cintai.
“Ah…” Pemuda itu meremas-remas rambutnya. “Ah…”
Ia marah pada dirinya sendiri.
“Ah…”
Ia menggaruk-garuk kepalanya seperti orang gila. Napasnya mulai memburu tak terkendali. Wajahnya kemerahan.
“Kesal! Kesal! Kes—”
“Jangan nyerah!”
Erlangga membelalak. Ia menghentikan semua gerakannya, lalu melihat sekeliling. Barusan seperti ada yang bicara padanya. Ia tak yakin itu suara sungguhan atau hanya dalam pikirannya. Yang jelas, itu adalah suara Nabila. Mendadak sosok gadis itu juga melintas di benaknya. Sosok lembut yang selalu suportif kepadanya.
“Benar juga…” gumamnya.
Ia mulai menarik napas dalam -dalam, lalu menghembuskannya.
Menarik napas lagi, lalu menghembuskan lagi.
Sampai beberapa kali.
Benar juga, ia baru ingat. Sejak kapan ia jadi sangat peduli pada tanggapan orang lain. Yang penting sekarang bukanlah opini dan asumsi yang beredar di dunia nyata. Yang penting adalah bagaimana menyelamatkan Nabila dan pergi dari dunia aneh ini. Dan tak ada yang bisa membantu, kecuali dirinya sendiri. Toh, selama ini pun ia selalu berjuang sendirian. Itu adalah jalan yang ia pilih dan akan ia tempuh sampai akhir.
Ia menarik kedua kakinya ke atas, lalu bangun berdiri dengan satu gerakan. Ia menepuk-nepuk wajahnya.
“Bisa! Bisa! Bisa!”
Tekadnya bulat.
Nusantara memang memiliki sistem yang di luar nalar, tapi sebenarnya itu bukan masalah. Erlangga cuma perlu berimprovisasi. Jika tempat ini menggunakan sistem game, maka ia pasti bisa bertahan. Ia adalah gamer, dan semua game dibuat untuk diselesaikan. Karena kalau sebuah game tak bisa diselesaikan, maka percuma saja sang desainer merancang semuanya.
Kalau kau tidak bisa mengubah sistem, yang perlu dilakukan cuma mengalahkan sistem tersebut dalam permainannya sendiri.