Solo Training (Part 1)

1107 Words
Erlangga memperhatikan baris tulisan melayang di pojok kanan atas pandangannya. [LV : 1] [HP : 100/100] [MP : 10/10] Ia mengucek mata, tapi tulisan itu tidak hilang. Saat melihat ke kanan, tulisan itu ikut bergerak ke kanan. Saat melihat ke kiri, tulisan itu ikut bergerak ke kiri. Seperti eye floaters. Aneh. Apa matanya bermasalah? Apa ada yang memasang sesuatu di matanya? Perasaannya tidak enak. Selain itu akik di jari telunjuknya kini memiliki motif. Warnanya kuning dengan garis putih tipis melintang vertikal. Mirip bentuk mata kucing. Ia mengeluarkan handphone lalu melihat jam. Pukul sepuluh lewat sedikit. Berarti ia sudah terjebak di sarang Ghoul sekitar dua belas jam. Masih tak ada sinyal. Apa karena lokasinya sangat pelosok? Tapi bukankah Pulau Weh seharusnya berpenghuni? Ataukah… Pemuda itu mulai ragu. Apa buktinya kalau tulisan di prasasti itu benar? Bahwa pulau ini adalah Pulau Weh? Bisa saja ini pulau antah-berantah, seperti Dungeon Tutorial. Satu-satunya cara untuk mencari tahu adalah dengan menjelajah. Erlangga bukan anak pramuka. Ia tak pernah belajar mencari jejak. Namun, ia bisa melihat sebuah jalan setapak dengan cetakan-cetakan tapak kaki di atas tanahnya yang lembek. Rumput di sekitarnya terbaring seperti bekas terinjak. Instingnya segera mendorongnya untuk mengikuti jalur tersebut, berharap menemukan sesuatu. Ia jalan beberapa saat hingga menemukan pesisir pantai. Di sana cetakan tapaknya semakin jelas. Ada puluhan pasang kaki yang melewati tempat itu. Kemudian jejaknya berakhir di gulungan ombak. Erlangga berpikir sejenak. Apa artinya itu? Apa mereka berenang? Mustahil. Atau mereka naik kapal? Tapi kapal siapa. Hanya saja kemungkinan yang terakhir membuat pemuda itu sedikit gelisah. Sebab kalau itu benar, berarti ia sudah ditinggal di pulau ini sendirian. Ia menggelengkan kepala, menyingkirkan imajinasi liarnya. “Jangan nethink dulu… Positif, positif ,” gumamnya. Ia memutuskan untuk menelusuri garis pantai, siapa tahu bisa bertemu nelayan yang mencari ikan atau siapapun itu. Satu jam berlalu. Kakinya pegal. Napasnya berat. Keringatnya bercucuran. Tenggorokannya kering. Entah sudah berapa kilometer jarak yang ia tempuh. Tapi sejauh mata memandang, sama sekali tak terlihat manusia lain. Lalu ada sebuah keanehan yang membuatnya makin was-was. Selain tak ada manusia, juga tak terasa kehidupan lain di sana. Kepiting kecil yang membuat lubang di pasir, burung-burung yang terbang di langit, suara-suara binatang hutan, semuanya absen. “Nggak wajar ini…” Ia mulai berteriak-teriak. “Halo!” “Ada orang?!” “Tolong!” Nihil. Tak ada jawaban. Lelah fisik dan mental itu membuat perutnya bergemuruh. Refleks ia menengadahkan kepala, mencari-cari di antara pepohonan kelapa. Tapi tidak ada juga. Pohon-pohon itu tidak ada buahnya. Ia mendesah kecewa. Ia merasa pulau itu seperti pulau buatan yang berisi replika benda mati. Namun, tiba-tiba ia mendengar kuakan yang sangat besar. Ia terlonjak. Tubuhnya sedikit merunduk sambil ia menatap waspada ke arah hutan. Ia tidak ingat binatang apa yang mengeluarkan suara menyeramkan seperti itu? Apakah binatang buas? Ia menelan ludah, kemudian mengendap-endap memasuki semak belukar. Ia memang takut, tapi juga penasaran. Ia ingin tahu makhluk hidup apa yang menghuni pulau ini. Lalu kedua matanya terbelalak. Ada makhluk menyerupai kodok, tapi ukurannya sangat besar. Seukuran anak sapi. Kulitnya coklat kasar kehitaman. Makhluk itu berdiri menggunakan dua kaki belakangnya, sementara kaki depan—atau tangan—nya memanggul balok kayu panjang. Dan yang paling membuat bergidik adalah, makhluk itu hidup. Bukan sekedar patung karya seniman dengan imajinasi liar. Ada tulisan berwarna merah yang menggantung di atas kepalanya. [Kodok Pulau Weh] Tak salah lagi, itu adalah monster, sama seperti para Ghoul di Dungeon Tutorial. Makhluk itu melompat-lompat ringan. Erlangga terus bersembunyi di antara semak belukar. Dahinya mengkerut. Nama merah artinya monster itu lebih kuat darinya. Seperti Ghoul Besar. Bagaimana cara melawannya? Apalagi saat ini ia sendirian. Namun, jika memperhatikan balok kayu yang dipanggul monster tersebut, ada kemungkinan itu adalah material yang dibutuhkan untuk membuat rakit. Jika tempat ini menggunakan sistem game, maka seharusnya demikian. Dalam game-game bergenre Role Playing Game, biasanya monster yang dikalahkan akan menjatuhkan item material. Toh ia juga tak punya kapak untuk menebang pohon. Pemuda itu tenggelam dalam pemikirannya. Ia tidak sadar si Kodok Pulau Weh sudah berhenti melompat. Makhluk ia terdiam memandang ke arahnya. Saat tatapan mereka bertemu, Erlangga baru merasakan bulu romanya bergetar. Kedua manik hitam sang monster begitu asing, tak terprediksi, dan berbahaya. Erlangga menelan ludah. Tiba-tiba monster itu berkuak keras—kuakan kodok paling mengancam yang pernah ia dengar—, lalu melompat-lompat ke arahnya. “Gawat—” Pemuda itu tak membawa senjata apapun dari Dungeon Tutorial, kecuali cincin akik yang ia kenakan. Ia spontan mengambil langkah seribu. Ia mengerahkan segenap kemampuannya, demi menyelamatkan nyawanya yang berada di ujung tanduk. Kodok Pulau Weh mengejar tepat di belakangnya. Suara kuakannya tak kunjung berhenti, tiap kali mengirim sensasi merinding pada kuduk Erlangga. Untungnya ada sedikit perbedaan pada kecepatan mereka. Langkah Erlangga sedikit lebih jauh dari lompatan sang kodok. Lama-kelamaan monster itu tertinggal. Tapi sial, sebuah cekungan kecil di tanah membuatnya tersandung. Ia jatuh terjerembap. Ia lekas berusaha berdiri, namun sang monster rupanya sudah di depan mata. Makhluk itu mengangkat balok kayunya tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya. “Aaaaah!” Erlangga menyilangkan kedua tangannya sambil memejamkan mata. Duak! Serangan itu menghantam Erlangga. Namun, terjadi satu hal yang tak semestinya. Pukulan sang kodok sakitnya tak seberapa, tidak seperti saat dicabik Ghoul Besar. Meski balok kayunya tampak padat, tapi rasanya seperti cuma digebuk memakai pipa paralon. Hanya saja, bar Hit Point di pojok kanan atas pandangannya berkurang. Dari [100/100] menjadi [90/100]. Kodok itu memukul lagi. [HP : 80/100] Dan lagi. [HP : 70/100] Seperti di dalam game, di mana nyawa karakter ditentukan oleh jumlah Hit Pointnya. Dan bila Hit Pointnya menyentuh angka nol, game over. Erlangga segera teringat Ghoul Besar yang tubuhnya hancur menjadi kepingan fragmen saat Hit Pointnya dihabisi. Ia pun membayangkan dirinya menemui akhir yang sama bila terus membiarkan sang kodok memukulinya. Maka ia mengeratkan geraham. Ia mendorong tubuhnya berguling hingga serangan Kodok Pulau Weh meleset. [Miss] Sebuah notifikasi muncul. Giliran Erlangga menerjang. Ia bangkit lalu meninju pipi sang kodok. [5] Keluar notifikasi angka lima, dan Hit Point monster tersebut berkurang sedikit sekali, sampai-sampai tak terlihat perbedaannya. Kodok Pulau Weh membalas mengayunkan baloknya perut Erlangga. Pemuda itu terjungkal. Monster itu menghujaninya dengan pentungan lagi. [HP : 40/100] “Stop! Stop!” Percuma, sang monster tak mengerti bahasa manusia. [HP : 30/100] Walau tidak sakit, tiap terpukul ada semacam efek kejut yang membuat tubuh Erlangga sulit bergerak selama sepersekian detik. Dalam game RPG, efek itu biasa disebut [Stagger]. [HP : 20/100] “Tunggu!” Padahal Erlangga baru saja secara ajaib selamat dari maut, tapi kini ia akan berjumpa kembali dengan maut. [HP : 10/100] Ia memejamkan matanya. Tapi tulisan status Hit Point di pojok kanan atas pandangannya masih saja terlihat. Dan ia menyaksikan saat angka kehidupannya berubah menjadi : [HP : 0/100]
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD