Perekrutan (Part 2)

1242 Words
“Jadi gini, di Nusantara ada tiga partai besar yang punya visi masing-masing,” jelas Wati. “Nanti kalian bakal dikasih kesempatan satu-satu buat milih ikut yang mana. Oke?” Para penjelajah mengangguk meski belum sepenuhnya mencerna situasi. “Pertama, partai Banteng Merah. Visi kami yang paling progresif. Kami bertujuan menaklukan semua dungeon secepatnya, gimana pun caranya!” Wati mengepalkan tinju ke udara. “Pulang! Pulang! Pulang!” Para pengawal di belakangnya segera bersorak menyambut yel-yel tersebut. “Ceroboh,” Saleh mendengus seringai. “Pulang memang penting, tapi ada pepatahnya. Biar lambat asal selamat. Partai Beringin Kuning mengutamakan selamat. Kami tidak asal masuk dungeon. Kami menaikkan level dulu pelan-pelan.” “Apa gunanya kelewat pelan tapi nggak nyampe-nyampe?!” sela Wati. “Neng, kita kan sepakat untuk tidak saling menyanggah waktu penyampaian visi dan misi? Ini bukan debat!” jawab Saleh. “Huh!” Wati melengos. “Udah dong, sekarang giliran saya, ya?” ucap Furqon. “Partai Kubah Hijau berorientasi pada kemaslahatan bersama. Menaklukan dungeon memang penting, tapi nggak semua orang punya kekuatan untuk itu. Dan kita punya hak untuk menolak mempertaruhkan nyawa!” “Saleh memanglah busuk, tapi kau itu lebih parah!” potong Wati. “Makan gaji buta! Ngga mau bertarung, cuma duduk diem doang!” “Hei! Hei! Jangan saling menyela!” “Tolong dimaklumi, sahabat Furqon,” kata Saleh. “Adik satu ini sudah masuk wayahnya kawin, makanya kebelet pengen pulang.” “Oh ya?! Yang kebelet kawin itu aku atau yang selama di sini udah punya istri empat?!” Wati menunjuk empat wanita pengawal yang berdiri di belakang Furqon. Saleh yang tadinya membela Furqon malah ikut terkekeh. “Tolong, tolong, sebaiknya kita jangan buang-buang waktu lagi,” Furqon geleng-geleng kepala dengan canggung. Setelah situasi kondusif, ketiga ketua partai duduk bersampingan di kursi yang mereka bawa. Para penjelajah diminta berbaris, lalu maju satu-persatu untuk direkrut. Mereka diharuskan memperkenalkan diri dan memperlihatkan jenis cincin akik yang dimiliki. Seorang pemuda menjadi yang pertama. Ia berdiri di hadapan para ketua partai sambil memperlihatkan akiknya. “Saya Syahroni.” Saleh sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan. Matanya memicing. “Batu Kalimaya, tapi motifnya standar,” gumamnya. “Paling bagus nantinya cuma bisa pakai sihir elemental peringkat D. Banteng Merah dan Kubah Hijau berminat mengambil sahabat satu ini?” “Kurang progresif,” Wati menghela napas. “Progresif bagaimana?” Wati berpikir keras. “Progresif ya progresif. Masa gitu aja nggak ngerti.” “Kamu itu yang nggak ngerti, tapi pakai istilah aneh-aneh.” “Bukan nggak ngerti, tapi males jelasin soalnya dijelasin juga Pak Tua nggak bakalan ngerti. Intinya yang kayak gini nggak bakal berguna di garis depan. Tuh, kalau Beringin Kuning berminat.” “Sebenarnya Beringin Kuning juga sudah punya banyak yang seperti ini.” Keduanya membicarakan seseorang seolah yang dibicarakan itu tidak ada di sana. Walau kurang paham, tapi Syahroni merasa dirinya ini adalah buangan yang diping-pong karena tak ada yang mau menerima. “Jadi saudara Syahroni mau bergabung dengan partai apa?” tanya Furqon. “Kubah Hijau saja…” jawab pemuda itu karena bisa merasakan aura penolakan yang kuat dari Wati dan Saleh. “Oke, berikutnya!” kata Saleh seolah ingin cepat-cepat menyingkirkan Syahroni dari hadapannya. Proses berlanjut. Para ketua partai sudah hapal jenis-jenis akik dan langsung bisa menilai potensi yang dimilikinya. Umumnya akik digolongkan dalam lima peringkat, dari A yang terkuat sampai E yang terlemah. Akik peringkat A cenderung langka, sementara peringkat E bertebaran di mana-mana. Ketika penjelajah dengan akik peringkat E dan D diping-pong, penjelajah dengan akik peringkat C ke atas diperebutkan. Sebab mereka akan memiliki kontribusi yang lebih tinggi pada partai. Para ketua akan menawarkan berbagai fasilitas seperti hak menjelajahi dungeon, ransum, tempat tinggal, senjata langka, sampai baju-baju bagus. Lalu tibalah giliran Nabila. Gadis itu maju dengan ragu. Ekspresinya masih diliputi ketakutan. “Kyaaa, cantiknya~” Kedua mata Wati berbinar. Ia memiringkan kepala sambil mendekap kedua pipinya. “Ayo, ayo, gabung partai merah! Pasti asyik masuk dungeon sama teman seumuran. Nanti kita bisa berburu sambil ngobrol bareng!” Asyik? Nabila tidak mengerti, kenapa Wati bisa mengatakannya seenteng itu. Tidak ada yang asyik dari melihat orang lain dicabik-cabik monster. “Teman ngobrol?” Saleh geleng-geleng kepala. “Apa cuma saya yang lebih tertarik ke akik adik ini?” Nabila sendiri baru memperhatikan cincin di jari manisnya. Sebuah batu berlian yang berkilauan. “Berlian adalah satu dari dua belas batu kelahiran. Kalau diasah dengan baik, pasti bisa jadi Tank peringkat A.” “Aku—gitu doang aku juga tahu, kali!” sambar Wati padahal baru mengamati. “Siapa namamu?” “Nabila.” “Nabila, ayo kita taklukan dungeon bersama!” Mendadak Nabila gemetar. Kilas-kilas pembantaian Ghoul melintas di benaknya. Ia menggeleng. Ia tak mau lagi berhadapan dengan monster. “Lihat, dia ketakutan,” kata Furqon. “Lebih baik bergabung dengan Kubah Hijau di garis belakang.” “Jangan, nanti kau malah dijadikan istri kelima!” sahut Wati buru-buru. Nabila makin takut mendengarnya. Ia di tempat asing, tidak mengenal siapapun, dan malah mau dijadikan istri kelima? “Eh-em, kalian ini bagaimana,” Saleh geleng-geleng kepala. “Dik Nabila,” ujarnya lembut. “Saya tahu Adik pasti masih trauma. Saya juga sempat trauma waktu pertama kali tiba di sini. Tapi saya yakin Adik juga pasti ingin pulang, kan?” Nabila mengangguk. “Itu sebabnya Beringin Kuning memilih pendekatan yang berimbang. Kami memilih untuk berlatih sampai benar-benar siap secara fisik dan mental sebelum menaklukan dungeon.” “Halah, tahi kebo!” umpat Wati. “Kalian siap-siap terus tapi tidak maju-maju?” “Memangnya siapa yang anggota partainya banyak mati di dungeon?” Wati terdiam, seolah mengiyakan pertanyaan Saleh. “Huh, jadi Nabila mau gabung dengan siapa?” tanya Wati kesal. Semua terlalu mendadak. Nabila baru saja keluar dari maut, dan sekarang diharuskan memilih tiga kelompok yang sama sekali tak ia kenal. “Maaf, apa saya harus memilih?” “Sayangnya kesepakatannya demikian, Dik,” jawab Saleh. “Karena situasi dan kondisi Nusantara saat ini.” Nabila pun menimbang-nimbang. Ia tidak mau langsung dikirim ke dungeon, tapi merasa tak aman dengan Furqon. “Kalau begitu… aku pilih Beringin Kuning.” “Aaaaaaaaaa…” Wati mencengkram kepalanya seperti orang pusing, sementara Furqon tampak kecewa. “Keputusan tepat, Dik Nabila,” kata Saleh, ia langsung bangkit dari duduknya lalu merentangkan kedua tangan. “Saya yakin Beringin Kuning adalah tempat yang tepat untuk Adik. Kami memiliki akar yang kuat, dan daun-daun rimbun yang menjadi peneduh bagi orang-orang di bawahnya. Intinya Adik tidak akan menyesal bersama kami.” “Brrrrr,” Wati cemberut. Berikutnya adalah Udin. Saat mengetahui Nabila bergabung dengan Beringin Kuning, ia bersikeras memilih partai tersebut meski Saleh tak begitu terkesan padanya. Sementara mamanya Nino memilih Banteng Merah karena ingin pulang secepatnya. Mereka pun membuat perpisahan. Setelah proses perekrutan selesai, para penjelajah baru dibawa menuju kapal galiung dari masing-masing partai yang melempar jangkar di perairan lepas pantai. Mereka naik ke atas beberapa perahu dayung untuk bisa ke sana. Saleh berdiri, lalu berpidato sementara pengawal-pengawalnya mendayung. “Kalau saja tak kami jemput, sahabat-sahabat ini nantinya harus membuat rakit untuk menyebrang ke zona Aceh. Susah sekali. Sangat susah. Apalagi buat penjelajah baru. Sudah bunuh monsternya susah, drop rate materialnya juga rendah. Bagai mencari jarum dalam jerami. Sahabatku benar-benar beruntung. Saya sulit membayangkan, andai kata ada penjelajah baru yang tertinggal di Pulau Weh sendirian. Benar-benar sial.” Begitu mencapai kapal galiung, mereka berduyun-duyun naik ke atas. Pawa awak segera melaksanakan tugasnya untuk mengemudikan kapal menuju markas. Meninggalkan Erlangga yang baru saja muncul di Titik Awal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD