Tiga jam sebelum Erlangga tiba di Pulau Weh.
Nabila dan penjelajah lainnya tiba di Pulau Weh setelah mengenakan cincin akik. Ekspresi mereka lega dan sumringah begitu melihat langit yang cerah. Namun, ada pemandangan lain yang segera membuat mereka berpikir dua kali, bahwa mungkin mereka masih diculik di tempat antah-berantah. Di sekitar terdapat banyak orang asing yang mengawasi mereka.
Orang-orang itu berdiri di atas batu-batu berundak yang posisinya lebih tinggi. Yang tak biasa adalah penampilannya. Ada yang memakai zirah abad pertengahan, ada yang bertelanjang d**a seperti pendekar silat, ada juga yang mengenakan kain serba tertutup selayaknya pengembara gurun. Seperti pesta kostum di karnaval.
“Pak, di mana ini, ya?” tanya seorang penjelajah.
Lalu Nabila melihat seorang gadis—mungkin seusianya—melambaikan salam lima jari sembari naik ke atas undakan batu yang paling tinggi.
“Halo, semua! Selamat datang di Nusantara!”
Rambutnya merah panjang, memakai baju kebaya serta rok pendek dari kain jarik bermotif merah. Ia berpose melambai-lambaikan tangan, sementara tangan satunya bertolak pinggang.
“Kalian pasti masih bingung! Makanya, aku di sini biar kalian nggak bingung lagi.” Gadis itu menepuk dadanya dengan kepalan. “Namaku Wati, Ketua Tertinggi Partai Banteng Merah!”
Ketua partai? Banteng merah? Istilah-istilah itu semakin memantik kebingungan. Terlebih lagi rasanya agak di luar nalar, gadis semuda itu menjadi ketua dari orang-orang di belakangnya.
“Saya Jendral Besar Saleh.” Tiba-tiba seorang pria berdiri di atas batu besar yang bersebrangan dari Wati. “Saya Jendral Besar Partai Beringin Kuning.”
Usianya sudah menuju paruh baya. Ia mengenakan seragam militer dengan banyak bintang tanda jasa. Kacamata hitam bertengger di atas pangkal hidungnya, dan tongkat komando coklat tergenggam erat di tangannya.
“Saya Furqon, Pemimpin Agung Partai Kubah Hijau!”
Orang berikutnya yang memperkenalkan diri adalah pria jangkung umur tiga puluhan awal. Ia memelihara jenggot dan mengenakan thawb putih yang dilapisi zirah coklat keemasan model timur tengah abad pertengahan. Sebuah pedang melengkung dengan pegangan bertatahkan permata tersanding di pinggangnya.
Ketiga orang itu berdiri di sudut-sudut yang berjauhan membentuk formasi segi tiga. Dan tiap mereka dikawal beberapa orang yang juga mengenakan kostum aneh-aneh. Jadi ada semacam tiga faksi besar yang mengelilingi para penjelajah.
“Kalian ini yang nyulik kami?!” teriak Udin.
“Heh! Heh! Jangan asal ngomong!” hardik Saleh. “Punya mulut itu dijaga!”
“Kami sama kayak kalian, terjebak di dunia ini,” timpal Furqon enteng sembari tersenyum pasrah. Pernyataan itu spontan memancing reaksi terkejut orang-orang. Pria itu melanjutkan, “Yang kami tahu… eh, sekarang giliran siapa? Bukannya nggak mau, tapi bulan lalu kan sudah giliran saya yang ngasih penjelasan ke penjelajah baru.”
“Iya, iya, sekarang giliranku,” jawab Wati. Lalu ia bersuara lantang, “Semuanya dengerin, ya!”
Nabila menyimak.
“Jadi, kalian itu baru keluar dari dungeon Tutorial. Biasanya tiap bulan ada seratus orang yang diteleportasi dari dunia nyata ke dungeon tutorial. Itu tuh semacam tempat seleksi awal. Yang lolos bakal dikasih cincin akuk terus dikirim ke pulau ini. Pulau ini juga sebenarnya tempat pelatihan, tapi supaya nggak banyak makan waktu, kami biasanya datang ngejemput penjelajah baru, kayak sekarang. Terus kami bakal ngelatih kalian supaya cepat naik level biar bisa naklukin dungeon-dungeon berikutnya—”
“Dungeon berikutnya?!” Seorang penjelajah berteriak. Kedua matanya melotot. “Jangan main-main, gua mau pulang! Sekarang! Ini gak lucu!”
“Hah? Emangnya siapa yang ngelucu?!” balas Wati.
Pria itu makin gusar. Ia menuding-nuding, “Cepet pulangin gua!”
Wati menghela napas, “Susah ya ngejelasinnya, nggak ngerti-ngerti.”
Pria itu menyerbu. Ia lompat ke atas batu tempat Wati berdiri, lalu berusaha mencekik gadis tersebut. Namun, Wati bereaksi cepat. Ia menangkap pergelangan tangan pria itu, memelintir, lalu melemparnya. Ya, melempar. Bukan sekadar bantingan macam teknik bela diri judo. Ia secara harafiah melempar pria itu seperti melempar bungkus makanan ke tong sampah. Tampak mudah dan tanpa usaha, tapi tubuh pria yang jauh lebih besar darinya itu melayang hingga menabrak kerumunan. Jelas, semua tak bisa mencerna apa yang mereka lihat.
“Jangan banyak tingkah, memangnya cuma kau yang mau pulang?!” teriak Wati. Pria itu masih tergeletak mengaduh kesakitan. “Kau baru sampai saja sudah merengek, gimana kami?!”
“Anu, saya boleh bertanya?” ucap mamanya Nino. Setelah Wati mengangguk, ia melanjutkan, “Memang mbaknya sudah berapa lama di sini?”
“Ah, nggak tahu ya,” gadis itu mengerutkan kening, menghitung dalam benaknya. “Yang jelas waktu itu aku masih SD.”
Mamanya Nino langsung terperangah. Kedua kakinya lemas. Ia jatuh terduduk. Begitu pun penjelajah lainnya, mereka tak bisa mempercayai hal tersebut. Kalau gadis itu bilang dari SD, dan saat ini usianya sekitar dua puluhan awal, maka ia mungkin sudah terjebak tak kurang dari sepuluh tahunan.
“Makanya kalian tuh masih mending, nyampe-nyampe langsung dijemput,” kata Wati. “Zamanku zaman generasi pertama. Kita belajar semuanya sendiri dari nol. Malahan waktu itu yang lolos dungeon Tutorial dikit banget…”
Nabila merinding membayangkannya. Kali ini pun, kalau bukan karena Gilbert dan Erlangga, belum tentu mereka bisa mengalahkan Ghoul Besar.
“Jadi ini yang kita tahu,” lanjut Wati. “Dunia ini namanya Nusantara. Ada tiga puluh empat dungeon yang bos dungeonnya harus dikalahin supaya semua bisa pulang. Sekarang udah beres dua puluh empat. Tapi masalahnya, kita lagi mentok.”
“Mentok kenapa?”
“Bayangin aja dungeon Tutorial, tapi dungeonnya seratus kali lebih luas, monsternya seratus kali lebih banyak, udah gitu seratus kali lebih kuat,” jelas Wati. “Banyak yang gugur, belom lagi…” Ia berhenti sebentar melirik ke arah Saleh yang berdiri cuek. “Yah intinya banyak yang gugur jadi kita sulit lanjut. Makanya kita butuh rekrutan baru.”
“Ooh, jadi kami dijemput cuma buat disuruh bertarung lagi?” ucap seseorang sarkastik.
“Ya terserah, mau pulang nggak?” jawab Wati sekenanya. “Intinya selama bos tiga puluh empat dungeon belom dikalahin, nggak ada yang bisa pulang. Bukan aku yang bikin peraturan, tapi dah dari sananya.”
Bagai keluar dari mulut harimau, masuk mulut buaya. Setelah melalui teror mengerikan saat menghadapi Ghoul Besar, ternyata para penjelajah cuma dihadapkan pada dungeon-dungeon yang lain yang katanya jauh lebih berbahaya.
“Tapi tenang, kalian semua ngambil cincin akik, kan? Cincin itu punya kekuatan, makanya tadi aku bisa ngelempar orang pake satu tangan.” Wati menunjukkan cincin di jari manisnya yang memiliki batu merah delima. “Kalian nggak akan bertarung cuma modal senjata karatan kayak pas lawan Ghoul di dungeon Tutorial.”
Akhirnya ada setitik harapan. Tiap orang melihat akiknya masing-masing yang ternyata kini memiliki corak berbeda-beda. Padahal sebelumnya semua berwarna putih polos.
“Tiap akik punya skillset khusus, dari yang peringkat rendah sampai tinggi. Nanti bakal dijelasin sambil jalan. Gitu kira-kira garis besarnya. Ada yang mau nanya, nggak?”
“Udah, langsung aja ke perekrutan,” timpal Saleh seraya mengelus-elus tongkat komandonya. Pandangannya menyisir pada penjelajah baru.
“Nggak usah buru-buru, Pak Tua,” kata Wati ketus. “Tapi memang beda ya orang kalau udah bau tanah pengennya serba buru-buru.”
“Hehehe, bibirmu manis tapi omongannya kotor.”
“Hei, hei, jangan berkelahi dong, malu dilihatin penjelajah baru,” Furqon tertawa ringan sebelum Wati sempat membalas.
Gadis itu berdeham.
“Ya udah kalau ngga ada pertanyaan,” ucapnya. “Sekarang kita lanjut ke sesi perekrutan!”