“Om! Om! Lepasin!” Wati menjerit sejadi-jadinya. Ia meronta dan menjejak-jejak. Tapi cengkraman Solihin para pergelangan kakinya begitu erat. Tenaga anak kecilnya tak seberapa dibanding otot lengan pria itu. Orang-orang yang lain ikut memegangi tangan Wati. Saat ia mulai menggigit, yang lain memegangi kepalanya. Ia jadi seperti kambing yang akan disembelih. Wati terkencing-kencing, tapi tak ada yang menunjukkan simpati. Yang tak berpartisipasi pun cuma menonton dari jauh. Meski tak berani mengotori tangannya, mereka masih ingin dapat bagian. Pada saat itu, Wati bisa melihat betapa jeleknya manusia. Tatapan mata mereka sangat mengerikan. Semua hanya memikirkan dirinya sendiri dan mengorbankan yang paling lemah. Kemudian ia marah. Sangat marah. Batu akiknya menyala. “[Skill Spesial

