"Kamu sakit???"Fivta kaget mendengar penjelasan Rendy."Apa kamu masih ingat tentang apa yang kamu bilang di taman,Fiv?"tanya Rendy lemah.
"Apaan sih,aku gak tahu tuh"
Belum sempat Rendy bicara,mereka lagi-lagi dipanggil guru,kali ini guru Matematika.
"Dari kemarin kalian gak pernah bisa disiplin,kenapa?"bentak Bu Vina yang mengajar di kelas mereka."Saya cuma ingin menghibur Rendy..."ujar Fivta sambil menunduk.Mata Bu Vina menatap Rendy dengan tajam."Kamu kenapa seminggu tidak masuk?Sengaja,atau karena alasan lain?"tanya Bu Vina sambil menatap Rendy tajam.
*****
Untuk kedua kalinya,mereka disetrap.Tapi itu tidak menggoyahkan semangat Fivta untuk cepat lulus,karena ia sudah tidak tahan.Ia ingin pergi sejauh-jauhnya,ia tidak ingin melihat Rendy lagi!Selain itu,ia pun harus menyelidiki,apa benar pelaku pembunuh ayahnya dari keluarga Rendy sendiri atau ada orang lain?
Tapi Fivta sengaja tidak mengatakannya pada Rendy,karena ia merasa percuma saja.Sepulang dari sekolah,ia masuk ke kamar dan menyetel lagu Westlife kesayangannya untuk menghibur dirinya.Lagu What Becomes Of The Broken Hearted mengalun dengan volume maksimal,membuat Tika merasa ada yang aneh dengan anaknya ini.
*****
Fivta menatap kalender yang tergantung di kamar tidurnya,dan menatapnya dengan mata mengerjap menahan tangis.Seandainya saja Ayah di sini sekarang,mungkin aku tidak akan seperti ini sekarang....Aku berharap Ayah ada di sini,tapi aku tahu itu tidak mungkin...Ayah,aku sudah mengikhlaskan kepergianmu....Tapi aku tetap akan mencari tahu siapa yang membunuh Ayah! batin Fivta sambil menyeka air matanya dengan tisu.
Kemudian ia keluar kamar dan menemui Tika di dapur.
"Kamu kenapa Fiv?"
"Bu,setelah aku lulus dari sini aku mau kita pindah Bu...."
"Kenapa sih?"
"Kita harus mengikhlaskan orang yang sudah meninggalkan kita kan Bu...?Kita tidak mungkin terus mengenangnya....Dan satu-satunya cara adalah kita pindah dari sini,aku perlu suasana baru"
Tatapan Fivta beralih pada masakan yang dibuat ibunya."Ibu masih ingat ini?"tanya Fivta pedih.Tika mengangguk."Kamu sudah 11 tahun,sudah waktunya kamu menentukan keputusan mau pindah ke mana",ujar Tika sambil berfokus pada masakannya.
*****
Setelah disetrap lagi,keadaan Rendy malah semakin memburuk.Tak ada seorangpun yang menghiraukan dirinya,termasuk ayahnya sendiri.Hanya pada saat ia dan Reno bertengkar hebat saja ayahnya membelanya,selebihnya ia terkesan cuek.Sementara ibunya sibuk membuat desain baju untuk menyibukkan dirinya setelah berhenti menjadi model majalah panas.Sungguh,Rendy tidak merasakan kehangatan sama sekali di keluarga ini....Padahal ia sangat berharap ada yang mencemaskan dirinya,tapi semua hanya ada dalam mimpinya semata.
"Fiv...Kamu sudah berjanji padaku,kamu harus menepati itu",gumam Rendy sambil menatap langit-langit kamarnya.Nafsu makannya menghilang selama beberapa hari terakhir,sesekali ia batuk hebat hingga napasnya sesak,dan tubuhnya terasa lemas.Ia hanya mengatakan pada Fivta bahwa ia sakit,ia tidak berani mengatakan penyakit apa yang dia derita.Ia ingin Fivta menanyakan penyakitnya,tapi ia merasa semuanya sudah tidak mungkin lagi.Perlakuan Fivta padanya berubah dingin,sungguh berbeda dengan yang ia kenal dulu....
Aku tahu dia masih sakit hati karena aku tidak hadir di pemakaman ayahnya....Tapi aku ingin dia mengerti bahwa aku punya alasan sendiri kenapa aku tidak bisa menemaninya di pemakaman ayahnya....Bisakah dia menerima penjelasanku atau malah semakin menjauhiku?pikir Rendy kalut.
*****
Ujian demi ujian di sekolah telah dilewati Fivta dan Rendy,dan kini mereka sudah hampir lulus dari sekolah.Ujian akhir membuat mereka tegang,dan dengan perjuangan yang hebat mereka berhasil melewatinya.
Kini mereka sudah berada di depan Ruang Guru,dan menanti pengumuman apakah mereka lulus atau tidak.Mereka sama-sama tegang,ingin tahu nasib mereka selanjutnya.
Setelah lebih dari 2 jam menunggu,Fivta dan Rendy akhirnya menarik napas lega karena mereka sama-sama lulus."Ren,setelah ini kita gak perlu ketemu lagi",ujar Fivta setelah memeluk Rendy."Kenapa Fiv?"tanya Rendy."Kalau memang kamu sakit,aku tidak berani mengambil resiko.Sekarang aku minta kamu jujur,kamu sakit apa?"mata Fivta begitu tajam menatap Rendy.
"Kalau kujelaskan,apakah kamu tetap akan pergi Fiv...?"tanya Rendy pelan.Fivta hanya diam mendengar pertanyaan Rendy."Udah deh,ayo jawab!!!"sahut Fivta ketus."Aku tidak bisa Fiv..."balas Rendy sambil menunduk."Kamu bilang kamu sakit,tapi kenapa kamu gak mau bilang?Kamu pura-pura sakit ya?"Fivta sangat geram mendengar jawaban Rendy."Teman itu harus saling terbuka,bukan malah jadi bikin tebak-tebak buah manggis begini!Kamu bilang kamu temanku,tapi di mana rasa empatimu sewaktu Ayah meninggal???Kamu sengaja ya gak peduli sama aku?"cecar Fivta pedas.