kayla memabaringkan tubuhnya yang lelah di kasur empuk miliknya, hari ini benar-benar hari yang melelahkan baginya. saat di cafe tadi semua temannya hanya sibuk dengan pacar mereka masing-masing padahal mereka yang mengajak untuk berkumpul tapi ujung-ujungnya mereka hanya sibuk dengan dunia masing-masing dasar jahat! batin kayla masih geram dengan tingkah sahabatnya.
kayla mengeluarkan ponselnya dan dilayar ponselnya sudah terpampang jelas wajah pria tampan favoritnya siapa lagi kalau bukan Jack Alexander.
kayla tersenyum manis menatap wajah jack yang juga sedang tersenyum di layar ponselnya. "andaikan aja lo nyata jack pasti gue udah nggak jomblo lagi" ucap kemudian masih menatap lekat ponselnya.
"oh my destiny! kenapa Jack harus jadi karakter webtoon sih! gumam kayla malah menyalahkan takdir.
"kenapa gue harus jatuh cinta sama dia!" kesalnya tapi kemudian malah tertawa seperti orang yang kehilangan akal.
"hahaha bercanda jack gue nggak nyesel kok suka sama lo" kayla mulai berbicara dengan layar ponselnya, dia menumpahkan semua keluh kesahnya pada ponselnya yang terdapat jack karakter favoritnya disana. menceritakan semua hal-hal konyol sampai hal-hal serius yang ingin dia lakukan bersama pria idamannya itu. andaikan saja para sahabatnya menyaksikan dirinya sekarang mungkin semuanya sudah panik dan segera membawa dirinya kerumah sakit jiwa.
"tapi gue bener bener pengen banget ketemu lo jack" ucapnya kemudian setelah lelah bercerita panjang lebar.
"gue pengeeen banget" lirihnya.
"oh my destiny berikan jack padaku dan akan kuberikan segalanya untuk itu" lirihnya lalu kemudian tertidur sembari memeluk ponselnya.
****
matahari bersinar terang, setelah muncul dari persembunyiannya. menampakkan kilauannya yang bersinar indah diatas sana. salah satu silaunya menembus di jendela yang gordennya tidak tertutup dengan sempurna. membuat gadis yang tengah tertidur lelap harus terbangun karena terpaan matahari yang menyilaukan matanya.
"huaaaam" kayla terbangun dari tidur lelapnya sembari meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit pegal.
kayla menatap ponselnya yang terdiam senyap diatas nakas "aneh, kenapa alarm ponselnya tidak berbunyi" batinnya lalu meraih benda persegi itu memeriksa apa yang salah darinya. seharusnya benda itu berbunyi untuk membangunkannya agar pergi kuliah karena hari ini dia harus masuk pagi.
kayla melirik jam dinding yang tergantung di tembok "jam 8? seharusnya alarmnya sudah berbunyi dari satu jam yang lalu" batinnya
"apakah dirinya melewatkan alarmnya?"
kayla menatap ponselnya dengan seksama dan seketika matanya terbuka lebar saat melihat tanggal disana "senin 02 Oktober? itukan kemarin" batin kayla masih dibuat kebingungan.
Dia ingat betul kemarin dia bangun jam 9 untuk mematikan alarmnya dan sengaja melewatkannya karena dia tidak suka mata kuliah di hari senin yaitu filsafat komunikasi dia tidak suka mata kuliah itu jadi sengaja melewatkannya. "tapi kenapa hari ini tiba-tiba senin lagi?" apa dia sedang bermimpi?
Plak
satu tamparan dia layangkan pada pipinya sendiri membuat dirinya sendiri meringis. sakit, kalau ini mimpi seharusnya tidak sakit kan.
akhirnya kayla mencoba menghubungi sahabatnya lea mungkin saja gadis itu tau apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
kayla membuka kontaknya mencari nomor lea disana tapi aneh sekali dia tidak dapat menemukannya, malahan dia melihat ada beberapa nama aneh yang ada di dalam ponselnya "jessy? siapa jessy? lalu dimana nomor lea?" kayla kebingungan.
dia beralih mencari nomor kedua orangtuanya dan betapa paniknya kayla karena dia tidak menemukan nama ayah ataupun ibunya disana "sebenarnya ada apa ini" dirinya masih sibuk mengutak-atik ponsel miliknya.
setelah lama tidak mendapatkan hasil akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah orangtuanya dia tidak bisa hanya berdiam diri kebingungan seperti orang bodoh disini.
kayla mengambil jaketnya dan segera berlari keluar dari kamarnya dia harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
kayla memang tinggal sendirian disebuah apartemen, meskipun tinggal di kota yang sama dengan kedua orangtuanya kayla memutuskan untuk tinggal sendiri agar lebih dekat dengan kampusnya dia juga beralasan kalau dia ingin hidup mandiri selama dirinya kuliah.
setelah menaiki sebuah taksi kayla kembali membuka ponselnya, mencoba memastikan kembali bahwa ada yang dia lewatkan sebelumnya tapi semuanya sama saja dia tidak dapat menemukan nomor siapapun di dalam ponselnya hanya ada beberapa nomor asing disana "jessy, soya, naya dan siapa ini my boy?"
kayla tidak henti-hentinya mengutak atik ponselnya walaupun dia sama sekali tidak mendapatkan hasil apapun.
taksi berhenti dialamat yang diberikan kayla.
gadis itu menutup mulutnya tidak percaya, melihat rumahnya tidak ada disana melainkan sebuah gedung besar
"bagaimana ini mungkin?"
kenapa rumah orangtuanya bisa hilang bahkan nomor mereka juga menghilang sebenarnya apa yang terjadi. kayla masih terdiam kebingungan.
kayla memanggil taksi kembali dia tidak mau menyerah begitu saja dia akhirnya pergi ke apartemen sahabatnya lea.
setelah sampai disana dengan takut-takut kayla menekan bel milik sahabatnya itu dia masih harap-harap cemas menunggu lea datang membukakan pintu, bahkan sekarang dia sedang meremasi tangannya yang berkeringat karena gugup.
setelah beberapa saat akhirnya pintu terbuka dan kayla kembali membelalakkan mata tidak percaya karena bukan lea yang membukakan pintu melainkan seorang wanita paruh baya.
"lea dimana?" tanya kayla masih dengan raut wajah berharap.
wanita paruh baya itu terdiam sejenak "lea siapa?" jawabnya kemudian.
"teman saya bu, ini apartemennya" ucap kayla meyakinkan.
"tidak ada yang namanya lea disini!" jawab ibu itu mulai kesal melihat tingkah kayla.
"ada bu, dia teman saya dan dia tinggal disini" kayla masih kekeh membuat wanita paru bayah itu kesal dan langsung menutup pintu apartemennya begitu saja.
kayla semakin panik bahkan air matanya sudah terbendung dipelupuk matanya.
kayla masih mencari cari keberadaan para sahabatnya yang lain dan hasilnya semua sama mereka semua menghilang tanpa jejak membuat kayla menangis kebingungan.
karena kelelahan akhirnya kayla pulang ke apartemen miliknya dia sudah mencari keberadaan semua orang yang dia kenal dari pagi sampai sekarang yang sudah menjelang gelap dan dia sama sekali tidak menemukan apa-apa.
Dengan langkah berat kayla berjalan menuju apartemennya. dia berjongkok didepan pintunya mengeluarkan semua tangisnya yang sedari tadi terbendung dipelupuk matanya. dia takut, cemas, dirinya kebingungan sebenarnya situasi apa yang sedang menimpa dirinya saat ini.
"kayla!"
tangis kayla langsung terhenti ketika mendengar seseorang memanggilnya.
"kenapa lo nangis disini?"tanya orang itu sembari berjongkok didepan kayla sedangkan kayla menatap pria didepannya terkejut tidak percaya dengan apa yang sedang dia saksikan.
"kayla!" pria itu mengguncang tubuh kayla yang masih diam membisu.
"jack" ucap kayla masih tidak percaya dengan apa yang sedang dia saksikan saat ini.
Jack seorang karakter webtoon kini berada tepat dihadapannya, rambut hitam kecoklatan, rahang yang tegas dan mata biru secerah langit itu sekarang sedang menatapnya sepertinya dia benar-benar sedang bermimpi.
"iya ini gue, lo ngapain nangis disini sih?" tanya Jack namun kayla masih dia mengagumi pahatan wajah sempurna pria ada dihadapannya. mulutnya bahkan hampir menganga dibuatnya.
Plakk
Jack mendaratkan sebuah tamparan sedang didahi kayla yang masih diam menatapnya wanita itu terlihat begitu terkagum kagum saat ini.
kayla yang mendapatkan sebuah tamparan seketika tersadar, walaupun tidak begitu keras tapi itu berhasil menyadarkan dirinya yang sedari tadi terpaku dengan wajah tampan milik Jack.
"loh kenapa sih aneh banget" ucap jack masih kebingungan dengan tingkah kayla.
pria itu berdiri dan tak lupa menarik serta kayla yang masih diam mematung.
lalu Jack dengan santai menekan pin di pintu kayla sedangkan kayla hanya menatap pria itu kebingungan.
"bagaimana dia tau nomor pinnya" ucap kayla membatin.
Jack menarik kayla masuk kedalam apartemen mendudukkan gadis itu di sofa dan mengambil kan gadis itu segelas air, kemudian duduk disamping kayla.
"sekarang cerita, kenapa lo nangis didepan pintu" tanya Jack membuat kayla gelagapan dia tak tau harus menjawab apa.
"anu-itu" kayla kebingungan mencari kata membuat Jack mengangkat sebelah alisnya bingung dan hal tersebut malah membuat kayla memuntahkan air yang sudah ada didalam mulutnya karena kembali terpesona dengan wajah tampan milik Jack.
"ihhh, sumpah lo aneh banget tau hari ini" cerca jack sembari melap air yang baru saja dimuntahkan kayla dari mulutnya.
pria itu terlihat telaten membersihkan air dari baju kayla dan bahkan pria itu melap bagian paha pada rok kayla yang juga terkena muncratan air sontak membuat kayla membulatkan matanya tidak percaya dengan cepat kayla merampas tissu di tangan pria itu dan membersihkan roknya sendiri.
Jack hanya menatap kayla bingung.
"lo nggak mau cerita?" ucap jack kemudian dan dengan cepat kayla mengangguk karena dia memang tidak tau harus mengatakan apa.
"yaudah" sahut jack santai lalu berjalan menuju dapur kayla.
kayla mengikuti pria itu dalam diam ada banyak hal yang menganggu pikirannya saat ini tapi dia tak tau harus melakukan apa.
kayla menatap jack yang sudah berada di dapur dengan perlengkapan masak yang dia siapkan. pria itu terlihat telaten mengolah semua bumbu-bumbu dapur yang bahkan kayla sendiri tak tau caranya yah karena wanita itu memang tidak pandai memasak.
"Lo tinggal disini?" ucap kayla masih memperhatikan Jack yang sibuk memasak.
tangan Jack yang tadinya sedang memotong sayuran seketika terhenti karena pertanyaan kayla. pria itu kembali mengangkat sebelah alisnya menatap kayla yang berdiri didepan meja dapur.
"lo mau gue tinggal disini?" ucapnya sembari tersenyum menggoda kayla namun dengan cepat gadis itu menggelengkan kepalanya dan jack hanya terkekeh pelan melihat tingkah kayla.
"jadi lo tinggal dimana?" tanya kayla lagi dan dihadiahi pukulan wortel yang memang sedang jack potong-potong saat itu.
"menurut lo gue tinggal dimana?" sambung pria itu kembali sibuk memotong wortel yang digunakannya untuk memukul kepala kayla tadi.
"nggak tau" jawab kayla singkat nembuat jack berbalik menatap kayla dan memasang wajah datarnya.
"lo hilang ingatan kay?" tanya Jack lalu menghampiri kayla dan memegang wajah gadis itu dengan kedua tangan besarnya alhasil membuat jantung kayla berdebar tidak karuan, kayla tidak pernah membayangkan dirinya akan ditatap oleh mata tajam berwarna biru itu dengan posisi sedekat ini kayla bahkan lupa untuk bernafas saking gugupnya.
"kay!" ucap jack sembari menepuk pelan pipi kayla menyadarkan gadis itu yang terdiam seperti patung.
Jack mulai khawatir saat melihat wajah gadis itu terlihat memerah.
"lo demam kay? muka lo merah panas lagi" tanyanya khawatir tapi gadis itu masih terdiam mematung. karena mendapatkan jawaban dari gadis itu dengan cepat jack menggendong kayla ala bridal style dan segera membawa gadis itu kekamarnya sedangkan kayla hanya bisa berteriak tertahan akibat perlakuan Jack padanya dia bahkan tidak pernah membayangkan dirinya akan digendong seperti sekarang ini oleh lelaki idamannya.
"lo baik-baik aja kay, bibir lo kelihatan pucat" tanya jack setelah membaringkan kayla ditempat tidurnya sedangkan kayla hanya mengangguk pelan pria ini bahkan tidak tahu kalau sebenarnya yang mebuat kayla panas dingin sampai pucat seperti sekarang adalah karena ulahnya.
"lo mau gue masakin apa?" tanya pria itu masih dengan wajah khawatirnya.
Tapi dengan cepat kayla menggeleng pelan, satu-satunya hal yang dibutuhkan dirinya sekarang adalah menjauh dari pria ini hal tersebut mungkin akan membuat dirinya menjadi lebih baik.
dia tidak kuat lagi menyaksikan pesona Jack yang membuat dirinya seperti tidak bisa bernafas dengan baik kalau dirinya tetap menatap wajah tampan pria itu.
"kalau gue tidur mungkin gue bisa baikan lagi" ucap kayla pelan.
"lo yakin" jack masih tidak tega meninggalkan kayla yang masih terlihat lemah.
kayla hanya mengangguk pelan dirinya sebenarnya ingin berteriak sekencang-kencangnya sekarang karena seorang Jack menghawatirkan dirinya tapi dia juga tidak mampu menahan pesona Jack sehingga harus menyingkirkan pria ini sesegera mungkin dari hadapannya kalau tidak dirinya mungkin angkan pingsan dibuatnya, apalagi saat ini Jack terlihat begitu perhatian padanya.
Dengan berat hati jack meninggalkan kayla dan setelah mendengarkan suara pintu apartemennya terkunci menandakan pria itu sudah pergi sekarang.
kayla langsung bangun dari tidurnya dia memegang dadanya yang masih berdetak tidak karuan dia bahkan merasakan pipinya masih bersemu merah karena tatapan yang diterimanya dari jack.
jack yang panik karena suhu tubuh kayla memanas tidak sadar kalau wanita itu tidak demam melainkan hanya tersipu.
"tenang jantung, orangnya udah nggak ada" protes kayla pada jantungnya yang masih berdetak kencang.
"gue bisa gila kalo ditatap dia terus" pekiknya lalu berbalik sembari menutupi tubuhnya dengan selimut.
kebingungan yang sedari pagi menganggu pikirannya seketika menghilang begitu saja.
kayla lupa kalau dirinya masih belum menemukan keluarga dan teman-temannya.
Dirinya terlalu sibuk terpesona oleh ketampanan wajah Jack Alexander.