.4. Penyiar Yang Tak Tersiar

1431 Words
_____Kita, perlahan saling bertanya____  ______Kita, perlahan saling bertukar rahasia______  | Gombloh - Di Radio Aku Dengar Lagu Kesayanganmu | Teman sekolah itu beraneka ragam. Ada yang dekat denganmu karena kecocokan dan ada juga hanya sebagai asas pemanfaatan. Ini juga berguna untuk menyeimbangkan ekosistem di dunia ini. Saat tiba di kelas 10E, Lovi menyerahkan tugas bahasa inggrisnya untuk dicontek temannya. Lagi-lagi ini demi pandangan baik orang terhadap seorang Lovitha Rasella.  "Lov, ada yang nyariin."  "HAH? Siapa?"  "Debora."  Dalam hati Lovi kebingungan. Debora, ya ia tahu bahwa cewek itu adalah gebetannya Josen. Lalu kenapa dia nyariin Lovi? Apakah ada yang tidak beres? Lovi langsung beranjak dan mendapati Debora di luar sana dengan senyuman terbaiknya. Baiklah, cewek itu tidak sedang ingin cari masalah.  "Hei, kenapa Deb?"  "Emhhh, kamu temannya Josen kan ya?"  "Iya."  "Aku boleh curhat gak?"  Selama tiga puluh menit, Lovi hanya mendengarkan cerita Debora yang dicampakkan oleh Josen. Lovi sebagai perempuan hanya bisa menyuruhnya sabar dan tabah. Sejenak dia miris, cewek secantik itu bisa bertekuk lutut dengan playboy cap kampak Josen Prasesa. Gila!  "Kau kenapa lagi sih? Harus berapa cewek yang kau sakiti?"  "Apaan sih? Kenapa tiba-tiba menghakimi?"  "Debora yang bilang sendiri."  "Ahh, gak ada. Aku gak pernah merasa nyakitin dia."  "Dasar playboy cap kampak."  "Haha, jangan gitu dong Lov."  "Jangan berantem dong. Ini diberesin dulu, entar aja urusan rumah tangganya dilanjutin."ledek Adong seraya melempar cangkul ke arah Josen. Lovi langsung bergegas membantu mengambil rumput liar yang bisa dibersihkan dengan tangan.  "Ay!"  "AYAAA!!"  "Hah, kenapa?"  "Kau kenapa sih? Bengong mulu."  "Huhhhh, aku kesal."  "Pacar?"  Aya mengangguk. Cewek bernama Cahaya Viovonny itu terlihat lesu setelah berantem dengan Reylo. Reylo adalah anak kuliah semester satu yang pulang kampung sekali sebulan. Long Distance Relationship tak bisa dihindari.  "Kau waktu putus sama Raga, gimana rasanya?"  "Hmmm, biasa aja."  "Kau cewek gila Lov."  "Aku udah lama pengen putus. Waktu kejadian ya senang aja gitu."  "Pembohong!!" teriak Adong tidak tahu diri.  "Dasar tukang nguping."seru Lovi kesel.  "Eh, bentar lagi kan mau pemilihan jurusan tuh. Kalian mau masuk apa?"tanya Aya mengalihkan pembicaraan.  Semuanya seketika hening. Sebenarnya memilih jurusan ini seakan jadi penentu masa depan nanti. Semuanya harus dipikirkan matang-matang agar tidak timbul penyesalan.  "Aku belum tahu sih. Cuma katanya kelas 11 nanti bakal dibuat kelas unggulan tiap jurusan."seru Avius.  "Hah? Beneran Av?"tanya Lovi kaget. Avius mengangguk.  "Ay, kita bakal pisah kayaknya. Aku gak mungkin masuk unggulan, kalau kamu sangat mungkin."lanjut Lovi.  "Jangan mendahului Pak Anja ya."balas Aya.  "Orangnya datang tuh."ucap Adong sambil membuat ancang-ancang yang menunjukkan bahwa ia adalah anak yang rajin.  Pak Anja tiba dengan wajah ramahnya. Dia memang terkenal ramah dan baik. Bantuannya yang seperti penyiksaan ini semata-mata karena ia tak ingin menghukum mereka. Tapi kemungkinan terbesar adalah karena Josen si ketua kelas yang tak berguna itu. Walau tak menarik di mata Lovi tapi di hadapan guru-guru ia adalah cerminan masa depan bangsa. Andaikan ada lomba ketua kelas paling hits maka Josen adalah pemenangnya. Selain fans yang banyak ia juga punya setumpuk teman yang siap menemaninya. Termasuk Adong, anak petani berdasi itu.  "Saya senang karena kerja keras kalian ini. Walau sudah masa ujian tapi kalian tetap meluangkan waktu. Dan meskipun Adong jadi telat mulu tiap hari."  Adong memang sangat pintar menggunakan kesempatan ini seefektif mungkin. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk telat seumur hidupnya. Tapi ini hanya berlaku sementara, setelah panen selesai maka semuanya kembali seperti semula.  "Pak, kayaknya bisa panen abis UAS deh." seru Adong.  "Iya, ini kan fungsinya buat jagung rebus. Nanti akan dibagi-bagi ke guru. Tentu saja buat kalian juga. Jadi mulai minggu depan kalian gak usah lagi ngurusin ini. Kalian fokus UAS aja ya."  "YEAHHHH!!!" seru Lovi dan Aya sambil tos-tosan.  "Aku pulang duluan ya. Dijemput abang."seru Aya sambil berlari ke gerbang sekolah.  "Bye Ay."  Adong mendekati Lovi yang melangkah gontai. "Lov, emang abangnya Aya sekolah dimana?"  "Ohhh, udah lulus. Sekarang kayak nyari kerja gitu Dong."  "Lov, aku mau ke warnet. Duluan aja ya entar."  Lovi mengangguk. "Aku ikut juga Jos. Av, mau ikut gak?"  "Ah, engga deh. Aku duluan ya. Aku bawa motor."  "Wuihh, enak banget ya. Sekarang bisa kemana-mana gampang. Jangan-jangan kau diam-diam sultan."seru Josen. Jarang sekali anak sekolah yang diijinkan orang tua membawa motor ke sekolah. Selain karena memang kota ini terlalu kedesa-desaan, ada juga kekhawatiran orang tua. Alangkah lebih aman jika anak mereka ke sekolah dengan kendaraan umum.  Setelah tiba di warnet Loyal XP, kini Lovi berjalan sendiri. Menyusuri trotoar yang semakin sepi. Pulang ke rumah adalah satu dan sekian hal yang baru-baru ini ia benci. Lagi-lagi tinggal bersama saudara itu benar-benar tak menyenangkan. Lovi juga tahu bahwa Adong merasakan hal yang sama. Saat Adong tiba di rumah, ia hanya mendapati rumah kosong tanpa orang tuanya. Lovi masih sedikit lebih beruntung daripada Adong.  Saat hendak melangkahkan kakinya lebih jauh, Lovi berhenti. Ia melihat Raga sedang berada di sana dengan teman-temannya. Sungguh tak nyaman jika ia lewat tanpa menyapa. Jikapun harus menyapa rasanya sudah tak pantas. Lovi bersembunyi di balik warung indomie yang sepi. Ia sedang berpikir, apakah sebaiknya ke warnet saja?  "Lov, ayok aku anter."  Kehadiran Avius seperti malaikat tak bersayap.  "Eh, tapikan kita beda arah Av."  "Gak papa, dari pada jalan sendirian."  Itu hanya ucapan basa-basi. Kesempatan ini seperti emas buatan yang melegakan. Lovi masih tidak nyaman bertemu Raga seorang diri. Walau ia tahu bahwa Raga bukan cowok yang jahat. Tapi perpisahan yang tak baik begitu melekat kuat.  "Makasih ya Av."  "Iya."  "Hati-hati di jalan."  Saat tiba di rumah, Lovi langsung rebahan di kasur. Ia ingin tidur siang tapi tak bisa. Ia hendak mendengarkan radio. Acara kesukaannya di radio Kharisma FM. Saat suara penyiar terdengar ia merasa asing. Oh kali ini bukan Vidi yang jadi penyiarnya. Ponselnya berdering pertanda SMS masuk.  Aya : Aku baru dengar acara BEGU. Menurutku suaranya gak mirip siapa-siapa.  Lovi : Eh, bukan yang itu. Hari ini penyiarnya beda. Coba dengerin besok, penyiar yang namanya Vidi.  Aya : Oke deh Lov!  ***** UAS telah tiba. Semua tampak sibuk belajar. Ujian kenaikan kelas ini menjadi begitu berarti. Lovi berusaha untuk lebih rajin lagi. Ia beruntung karena serumah dengan Josen yang pintar dan Aya teman sebangku yang juga pintar. Sejak berteman dengan Aya, mata pelajaran matematika begitu menyenangkan. Aya yang punya sifat mengayomi sering membantu Lovi kala kesulitan. Pelajaran matematika yang tadinya bak neraka j*****m kini jadi mata pelajaran kesukaan.  Walau UAS bikin deg-degan tapi ada juga keuntungannya. Murid jadi lebih cepat pulang. Setidaknya banyak waktu untuk istirahat walau ujung-ujungnya harus belajar lagi.  "Gimana ujian kalian hari ini?"tanya Lovi saat sedang menunggu mie ayam di warung bu Murni. Ujian telah berakhir dan saatnya merayakan.  "Sama aja kayak biasa."ucap Josen.  "Semoga kita semua lulus."seru Aya.  "Amin. Kita bakal pindah kelas juga semester depan."ucap Lovi sambil menyeruput mie ayam dihadapannya.  "Pada mau masuk jurusan apa jadinya?"tanya Avius.  "IPA!!!"ucap Lovi, Aya dan Josen serentak.  "Aku juga kayaknya ipa."lanjut Avius. Mereka semua sadar dan menoleh pada Adong.  "Oke, aku doang yang beda."  "Kau serius?"tanya Aya lagi.  "Aku sangat serius. Aku merasa ips lebih cocok untukku."  "Astaga bro, padahal aku masih ingin sekelas samamu."ledek Josen.  "Kita masih tetap berteman dong. Kalian jangan jadi sombong ya. Hahaha."  Begitulah kelas 10 berakhir. Sehari setelah UAS usai, akhirnya mereka panen jagung. Hasil panen itu diberikan kepada guru-guru. Wajah Pak Anja tampak berbinar-binar. Guru-guru makan jagung rebus bersama untuk mengakhiri semester ini. Sedangkan lima siswa yang terlibat memilih untuk bakar-bakar jagung bersama. Rumah Adong adalah tujuan utamanya. Selain karena sepi manusia, rumah itu juga ramah terhadap manusia.  Mereka mendengar cerita yang dijanjikan Lovi. Bagaimana ia putus dengan Raga. Ternyata cowok itu sangat protektif dan mengekang Lovi. Alasan klasik tentang kecemburuan bahwa Lovi dilarang dekat-dekat dengan Josen. Hey, Josen itu teman Lovi sejak kecil. Jika disuruh memilih maka Lovi akan memilih Josen. Rasanya tidak baik di kekang oleh pacar sendiri.  "Gak seru ah, kirain putusnya gara-gara selingkuh atau apapun yang lebih sadis."ucap Adong sesumbar.  "Kau kejam Dong."  "Tapi beneran gara-gara itu? Setelah kalian putus dia masih sering sapaan sama aku."ucap Josen heran.  "Mungkin dia menyesal haha."  "Oke-oke. Selesai dulu soal Lovi. Aku ada pertanyaan penting buat Avius."ucap Aya dan semua langsung menoleh ke cowok itu. Avius tampak bingung. Sejak berteman dekat dengan mereka, mau tidak mau ia harus jujur tentang apapun juga. Rahasia yang seharusnya dijaga itu ternyata tak selama bisa jadi rahasia.  "Kau penyiar kan?"  Adong langsung tertawa kencang.  "Kau tahu Dong?"lanjut Aya.  Adong mengangguk.  "Tunggu dulu, jangan bilang...."ucap Lovi sambil berpikir keras.  "IYA LOV!! Dia itu penyiar yang di acara BEGU."  Semua kaget kecuali Adong. Adong adalah orang pertama yang tahu tentang hal itu. Adong telah mendengar rahasia itu di kelas saat Josen sedang menggoda Debora. Dan kini sudah ada empat orang yang tahu bahwa Avius adalah Vidi di radio Kharisma FM. Ini mengejutkan. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD