_____Kita, beraneka dalam ragam_____
_______Kita, bersatu dalam ketulusan______
| Chrisye - Kisah Kasih Disekolah |
SMA N 1 Nestapa terkenal dengan murid yang nakal. Selain itu, beberapa orang juga berpikir bahwa sekolah ini penghasil cewek cantik. Tentu saja itu benar, walau begitu kecantikan mereka dibarengi dengan pakaian senonoh yang kian mendarah daging. Celana kuncup, rok pendek hingga baju sempit kurang bahan. Tetapi tetap saja ada beberapa orang yang jadi penolong sekolah ini. Mereka adalah anak pintar yang ambisius dan ditolak oleh SMA N 2 Nestapa. Mereka membenci sekolah itu dengan cara giat belajar dan berjanji suatu saat nanti akan mendahului murid Smandu. Begitulah cara dunia menyeimbangkan dirinya. Selalu ada hal baik dan buruk yang muncul berbarengan di tempat yang sama.
"Menanam jagung itu sama halnya dengan menanam kebaikan. Kalau kita merawatnya dengan hal yang baik maka hal yang kita tuai juga akan baik. Setelah jagung ini kita pupuk maka kemungkinan kita akan menuai jagung yang berkualitas. Namun, kita juga harus terus pantau karena bisa saja cuaca buruk dan faktor-faktor lainnya membuat jagungnya memburuk. Sama kayak manusia, aku pikir pertemanan dan lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang." ucap Avius bak seorang profesional dalam dunia pertanian dan filosophy hidup.
Keempat siswa lainnya menertawakan dengan sangat kencang. Mereka sempat melongo karena baru kali ini melihat Avius mengucapkan kalimat yang panjang.
"Kau terlalu serius Av." seru Josen sambil tertawa.
"Lah, kalian sendiri yang menanyakan pendapatku. Aku hanya jawab sebisaku."
"Tau gak, orang tuaku tak pernah memikirkan itu selama ini." balas Adong.
"Eh, itu Pak Anja datang.."ucap Aya mengingatkan.
Pak Anja menghampiri mereka hendak melihat hasil pekerjaan mereka. Apakah bibit jagung itu memang berkembang sebagaimana mestinya atau tidak.
"Saya yakin sih kalau ada Adong semuanya pasti beres. Kerja bagus. Mulai sekarang kalian bisa kesini untuk mengecek sesekali dan kalau rumput liar tumbuh baru kumpul lagi."
"Maksudnya kita gak perlu dua kali seminggu kesini pak?"seru Lovi antusias.
"Iya. Kalian hanya perlu kerja lagi kalau rumput liarnya tumbuh. Nanti saya kabari lagi tapi kalian juga harus punya inisiatif untuk mengecek ya."
"YESSS!!!"seru Aya penuh semangat.
Kelegaan terlihat jelas di wajah mereka. Kecuali Avius yang ekspresinya sama saja setiap waktu. Mereka keluar gerbang sekolah dan mendapati anak sekolah Smandu yang berpakaian rapi sedang berjalan dengan tumpukan buku yang sudah tidak muat di tas sekolahnya. Mereka terpaksa memegang buku-buku itu ditangannya.
"Nongkrong dulu yuk. Masa langsung pulang."tawar Adong seraya berjalan mengikuti langkah Josen yang cepat.
"Kemana?"
"Ke pasar."
Pasar adalah sebutan untuk tempat berbelanja yang cukup ramai di kota ini. Di sana cukup banyak perlengkapan yang bisa dibeli.
"Benar juga sih, aku males pulang cepat."ucap Lovi menanggapi.
"Aku punya tempat bakso langganan. Eh, kau bisa ikut kan Av"
Avius mengangguk setuju.
Dengan angkutan berwarna merah itu mereka sampai di pasar. Tempat itu masih sangat tradisional.
"Eh, aku sama Lovi mau beli komik dulu. Kalian duluan ya, aku pesen mie ayam. Kau apa Lov?"
"Aku mie ayam juga."
"Eh, jangan lama-lama ya. Entar mienya bengkak."ucap Josen.
Mereka berdua langsung berlari mencari tempat jual komik dan majalah. Buku yang dijual di sana adalah bekas jadi harganya murah. Lovi mengincar majalah gadis keluaran bulan lalu dan komik Conan episode terbaru. Beda dengan Lovi, Aya mengincar poster Smash terbaru dan majalah yang ada Smash nya. Hell, dia benar-benar fans fanatik.
"Lov, jangan bilang-bilang pacarku ya kalau aku beli beginian."
"Siapa juga yang dekat sama pacarmu. Namanya aja aku lupa Ay."
"Siapa tahu entar ketemu terus kau ngerocos aja kayak kereta api."
"Memangnya kalau dia tahu, kau akan diapain?"
"Ga papa sih, cuman bagi sebagian orang hal seperti ini tuh gak berguna."
"Ya emang sih. Hahahah."
Setelah selesai membayar, mereka berjalan ke arah belakang pasar. Di sanalah tempat mie ayam bakso Bu Murni, langganannya Adong.
"Beli apa sih?" ucap Josen mengambil benda di meja Lovi.
"Conan?"
Lovi mengangguk.
"Aku juga suka Conan. Seru banget gak sih nyariin organisasi hitam?" seru Avius.
"Wah, aku suka nih. Kita satu hobby Av." balas Lovi sambil mengulurkan tangannya hendak tos-tosan. Avius membalas tangan itu dengan kecanggungan.
"Yey, makasih bu."
"Adong, kapan-kapan bawa teman yang banyak ya. Ini saya kasih gorengan gratis."
Adong adalah magnet di dunia nyata. Di sekolah dia terkenal sebagai manusia aneh yang mungkin hidup secara kebetulan. Namun dalam masyarakat nyata, dia paling ahli bersosialisasi. Dia punya banyak teman mulai dari orang tua hingga anak kecil. Dia juga berteman antar lintas profesi mulai dari sopir, tukang bangunan hingga pegawai café.
"Oh ya, kemarin aku udah bikin grup di f*******:. Nanti kalian accept ya, kalau sempat ke warnet." seru Aya sambil menyeruput mie ayam di mejanya.
"Sekarang juga bisa Ay."ucap Adong sambil mengeluarkan ponselnya dari saku celana.
"Orang kaya bebas."ledek Josen.
"Aku bisa tebak, dalam tiga tahun di sekolah aku pasti tidak akan dibeli ponsel baru."ucap Lovi manyun.
"Bersyukur aja woiii."ucap Josen.
*****
Lovi berusaha memejamkan mata tapi tidak bisa. Kali ini guru tidak bisa hadir dan siswa di suruh menjaga kedamaian masing-masing. Rasanya muak jika tak bisa berisik. Ketua kelas 10E sangat tegas dan tak pandang bulu. Ia berbeda jauh dengan Josen yang bisa dipermainkan. Lovi membuka ponselnya dan menyambungkannya dengan headset. Ia hendak mendengarkan radio. Cukup menyenangkan karena bisa mendengar lagu westlife. Kadang-kadang ia juga request lagu melalui SMS.
"Ay lagi apa?"
"Ini koran bekas ada gambar Smash. Aku mau buat klipping artikel mereka."
"Abis itu diapain?"
"Disimpen lah. Ini tuh bakal jadi kenang-kenangan nanti kalau udah tuwir."
"Wahai wanita pemuja boyband, kau akan menyesal di masa depan."
"Bawel deh. Udah tidur aja."
"Eh, aku baru ingat. Kau pernah dengar radio Kharisma FM gak?"
"Hmmm, kadang-kadang. Tapi lebih sering dengar Prambors."
"Terus tahu acara sore yang judulnya Begu gak?"
"Engga yakin sih. Emang itu acara apa?"
"Begu itu Boleh Dengerin Lagu."
"Aku gak yakin. Aku gak terlalu peduli soalnya."
"Kau coba dengerin deh. Aku kayak kenal suaranya. Penyiarnya itu kayak gak asing Ay."
"Entar ingetin aku ya. SMSin maksudnya."
"Okey, soalnya kau lebih menebak sesuatu daripada aku."
Tak seperti kelas 10E yang damai sentosa, kelas 10D yang juga tanpa guru tampak seperti kapal pecah. Kelas yang kacau balau itu dipicu oleh ketua kelas yang sibuk pedekate. Adong mendekat ke kursi Avius. Avius yang sedari tadi sibuk membaca buku pelajaran berhasil mengalihkan pandangan karena si tukang onar, Adong Doi.
"Av, lihat deh Josen."
Josen tampak cekikikan dengan Debora, salah satu cewek cantik di kelas 10D. Entah mereka sedang membicarakan apa tapi tampaknya Debora sudah terjerat rayuan gombal Josen Prasesa. Ya, itu keahliannya.
"Dia emang rada-rada gak normal. Semua cewek didekatin."
Avius tertawa karena wajah Adong yang lucu.
"Aku heran sama dia. Padahal kau lebih ganteng daripada dia loh, tapi dia lebih playboy." ledek Adong.
"Bukannya dia dekat sama Lovi ya Dong?"
"Tuh kan, semua orang pasti mikir gitu. Mereka tuh gak lebih dari sekedar teman."
"Yakin?"
"Mereka dari kampung yang sama. Terus dari SD sampai sekarang selalu satu sekolah. Dan yang paling parah mereka sekarang serumah Av."
"Gosip aja kau. Bukannya mereka sekos doang?"
"Kok tahu?"
"Kan kemarin waktu kau nanya Josen, aku ada di sana."
"Owh iya. Hahaha. Intinya mereka tuh kayak ditakdirkan bersama tapi cuma sebatas teman."
"Kau sendiri suka sama siapa?"
"Pertanyaanmu menukik tajam kayak pedangnya Ken Arok. Aku gak yakin sedang suka sama siapa."
"Ya wajar sih, kita masih baru masuk SMA."
"Oh ya Av, sekali-kali datang ke rumahku dong. Aku sering bosan. Cuma punya adik perempuan yang cuek itu menyebalkan."
Avius hening sejenak. Ini kali pertama ada teman yang mengajaknya menginap. Sikap diam Avius sejak dulu kerap membuat orang lain takut mendekatinya. Sejak masuk sekolah ini, sudah ada beberapa yang peduli padanya. Dalam keterharuannya, ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
"Dan kau harus tahu, Aya ada-ada aja. Bikin grup f*******: dengan nama Jejak 5 Kaki. Dia benar-benar tak ahli bikin nama grup yang bagus."
Grup f*******: yang dibuat Aya dengan nama Jejak 5 Kaki itu kini sudah penuh dengan lima anggota. Grup itu berisi foto-foto blur taman jagung disamping lab biologi. Grup itu dibuat dengan kesadaran diri penuh berharap bisa menjadi penyambung komunikasi mereka. Walau sebenarnya lebih efisien menggunakan SMS tapi punya grup f*******: se-menyenangkan itu.
"Dong, aku mau ngasih tahu satu rahasiaku."
"Apa?"tanya Adong dengan wajah berbinar.